Nabi Orang Termiskin December 23, 2011
Posted by witart in perilaku, wawasan.Tags: Achyuta Samanta, asketisme, jalan lurus, jujur, pendidikan, Samanta, studi banding, Syafii Maarif
add a comment
Ahmad Syafii Maarif
Sumber : KOMPAS, 26 November 2011
Judul yang lengkap sebenarnya adalah ”Asketik Hindu Nabinya the Poorest of the Poor”. Ini adalah artikel refleksi kesaksian saya atas realitas spiritual seorang asketik Hindu.
Asketik berarti sederhana ekstrem. Saya mendapat undangan dari seorang asketik spiritual untuk mengunjungi kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa, India, 14-16 November 2011. Saya diajak menyaksikan proyek pendidikan, sosial, dan kemanusiaan dahsyat yang telah digelutinya sejak 20 tahun lalu.
Sosok itu bernama Dr Achyuta Samanta, lahir 20 Januari 1965. Ia berasal dari Desa Kalarabanka, salah satu tempat tinggal suku termiskin di negara bagian itu. Samanta yatim sejak berumur empat tahun. Ibunya yang kini 83 tahun tetap tinggal di desa, sementara saudara-saudaranya tak seorang pun mengikutinya.
Melalui perjalanan hidup yang sangat sulit, Samanta berhasil sekolah dan mendapatkan beasiswa untuk meraih sarjana kimia dari Universitas Utkal.
Aneh bin ajaib, ia melepaskan profesinya sebagai dosen dan kemudian beralih posisi menjadi nabinya ”the poorest of the poor” (kalangan termiskin di antara yang miskin). Nabi di sini hendaklah dipahami sebagai seorang pembebas dari ketertindasan: kasta, ekonomi, pendidikan, sosial, dan politik.
Tuan dan puan jangan kaget membaca kesaksian berikut dari saya (76) yang sudah bersyahadat sejak usia sangat dini. Senin 14 November pagi pukul 07.19, Dr Mahendra Prasad, Direktur Hubungan Internasional Universitas Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT), menjemput saya di Bandara Biju Patnaik dengan sebuah mobil cukup mewah.
Belum ada lini penerbangan internasional langsung ke Orissa. Dengan demikian, saya harus berjam-jam transit di Bandara Delhi yang sangat melelahkan.
Asketisme
Sampai jam itu saya belum dikenalkan dengan nama asketik Hindu yang fenomenal itu, otak dari semua proyek kemanusiaan yang mungkin hanya dia seorang saja di muka Bumi ini dalam makna asketisme: tak terbayangkan di tengah aset proyek ratusan juta dollar AS. Sebuah aset yang tidak akan diwariskan kepada keluarga, melainkan untuk publik, seperti yang ia tegaskan kepada saya.
Dalam perjalanan ke Hotel Trident, Prasad memberi saya beberapa informasi tercetak tentang KIIT, Kalinga Institute of Social Sciences (KISS), dan tentang Samanta. Di hotel secara selintas saya membaca informasi itu, termasuk sosok Samanta yang beberapa jam kemudian datang menemui saya di kamar hotel.
Saya terkejut bukan main, seorang humanis besar datang dengan baju putih lengan panjang, celana jeans, dan sandal lusuh. Langsung saya berucap, ”Tak ada gunanya Anda mengundang saya ke sini. Saya bukan siapa-siapa dibanding Anda.” Dengan sikap penuh hormat sambil mengangkat kedua tangan ke dahi, Samanta menjawab, ”Jangan berkata begitu.Saya mengagumi Anda.
”Terus terang saya malu sekali karena dia tak punya alasan untuk mengagumi saya. Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang berarti. Sewaktu saya tanya tentang inti filosofinya, Samanta hanya menjawab, ”Untuk membahagiakan orang lain.” Sebuah filosofi yang melawan sifat mementingkan diri sendiri.
Hari itu juga Samanta untuk kedua kalinya datang ke kamar saya. Pakaiannya tetap saja tak berganti, itu-itu saja. Ia memberikan serangkai bunga berwarna merah, lagi-lagi untuk menyatakan rasa hormat yang sebenarnya tidak patut saya terima. Saya merasa kualitas spiritual saya jauh berada di bawah.
Sore itu saya diajak keliling kota oleh pemuda Chitta Ranjan Panda, asisten liaison officer (staf penghubung) Universitas KIIT. Kami mengunjungi Candi Surya, peninggalan Kerajaan Kalinga, dan ke pantai melihat matahari terbenam dengan mobil KIIT yang cukup mewah.
Sebaliknya mobil Samanta yang sudah berusia 10 tahun tidak juga ditukar. Selasa 15 November pagi, saya diajak mengelilingi semua kampus KIIT dan KISS yang sedang membangun gedung-gedung lain untuk pengembangan lebih lanjut.
Untuk yang Miskin
Belum berumur 20 tahun, KIIT dan KISS sudah tampil sebagai salah satu universitas kelas dunia dengan 36.000 mahasiswa, termasuk mahasiswa asing. KISS dibangun untuk mendidik anak-anak termiskin dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Ada 10.000 siswa dan mahasiswa miskin ditampung dan dididik secara gratis oleh KISS.
Tuan dan puan dapat membayangkan dana yang harus tersedia untuk menghidupi lautan manusia papa itu. Samanta yang merasa hanya sebagai media Tuhan punya mimpi untuk memberdayakan 2.000.000 anak miskin dalam beberapa tahun mendatang. KIIT sekarang sudah punya 16 kampus, termasuk fakultas kedokteran dan fakultas hukum, melengkapi fakultas lain dari berbagai cabang ilmu.
Gambaran tentang sosok yang kita bincangkan ini belum lagi utuh sebelum tuan dan puan mengikuti yang berikut ini. Samanta tetap membujang, tinggal di rumah sewaan, berkantor di bawah pohon, dengan sebuah meja kuno dan beberapa kursi plastik. Jika panas menerpa ”kan – tornya ”, ia bergeser ke sisi lain. Di sinilah dia menerima tamu: presiden, menteri, gubernur, pemenang Hadiah Nobel, Hadiah Magsaysay, pejabat KIIT/KISS, dan tokoh-tokoh dunia lainnya. Semua akan sampai kepada kesimpulan: Samanta humanis yang belum ada duanya.
Pejabat-pejabat KIIT dan KISS bekerja di ruangan ber-AC, mobil mewah, dan berdasi. Samanta tetaplah Samanta, asketik Hindu. Di sebuah ruang di tempat tinggalnya, Samanta pagi-sore bersemedi. Saya diajak menengok ruang ini.
Dua kali dalam seminggu dia berpuasa. Dalam SMS-nya kepada saya tanggal 22 November, Samanta mengatakan akan tetap bertahan sebagai nabi orang miskin dalam asketisme yang membuat saya merasa malu. Samanta adalah pengikut Mahatma Gandhi, tokoh yang paling dikagumi pemikir sejarah AJ Toynbee.
Sore hari 15 November, saya bersama tamu yuris dari Inggris, Prof J Martin Hunter, dan dokter aktivis lingkungan, dr Shri Rajendra Singh, diminta berpidato di depan 15.000 siswa dan mahasiswa miskin yang berdisiplin tinggi. Acara berlangsung di lapangan terbuka kampus KISS.
Akhirnya, tentu amatlah sulit bagi kita menjadi asketik seperti Samanta dengan karya besarnya itu. Sekiranya kita mau hidup jujur dan lurus saja sudah lebih dari cukup, pasti akan banyak sekali proyek pengentasan orang miskin yang dapat kita laksanakan di Indonesia.
Mau studi banding? Temuilah Samanta di KIIT dan KISS, tak perlu ke Yunani atau negara industri lain. Jika memang mau menghalau kemiskinan dari bumi Nusantara, halaulah secara sungguhan!
http://www.maarifinstitute.org/content/view/1003/178/lang,indonesian/
Laura Ingalls Wilder Quotes December 23, 2011
Posted by witart in perilaku, wawasan.Tags: Laura Ingalls, Laura Ingalls Quotes, long winter, quote
add a comment
[1]
“When the fiddle had stopped singing Laura called out softly, “What are days of auld lang syne, Pa?”
“They are the days of a long time ago, Laura,” Pa said. “Go to sleep, now.”
But Laura lay awake a little while, listening to Pa’s fiddle softly playing and to the lonely sound of the wind in the Big Woods,…
She was glad that the cozy house, and Pa and Ma and the firelight and the music, were now. They could not be forgotten, she thought, because now is now. It can never be a long time ago.”
[2]
“If only I had some grease I could fix some kind of a light,” Ma considered. “We didn’t lack for light when I was a girl before this newfangled kerosene was ever heard of.”
“That’s so,” said Pa. “These times are too progressive. Everything has changed too fast. Railroads and telegraph and kerosene and coal stoves–they’re good things to have, but the trouble is, folks get to depend on ‘em.”
http://www.goodreads.com/author/quotes/5300.Laura_Ingalls_Wilder
Masril Koto December 16, 2011
Posted by witart in diagnosis, pangan, wawasan.Tags: pangan, petani, sumber dana
add a comment
Banker Sukses yang Tak Lulus Sekolah Dasar
24 Nov 2010
Masril Koto, Founder Ratusan Lembaga Keuangan Petani di Sumbar
Petani di Agam, Sumatera Barat, kinipunya bank khusus. Mereka bisa meminjam modal untuk pengembangan usaha. Founder-nya, Masril Koto, merupakan petani sederhana yang bahkan tak lulus SD.
IGNA ARDIANI, Jakarta
SAAT diundang tampil dalam acara Kick Andy, 3 November, penampilan Masril Koto paling sederhana dibanding tamu-tamu Andy yang lain. Mengenakan T-shirt putih dibalut jaket hitam dengan celana kain hitam. Alas kakinya sepasang sandal hitam. Masril berperawakan kecil, berkulit sawo matang, berkumis lebat, bertampang lucu, dan murah senyum.
Gara-gara wajah dan senyum itu, penonton acara taping Kick Andy di studio Metro TV dibual ger-geran. Tawa khasnya sering muncul liba-tiba di tengah perbincangan dengan Andy. Si host pun kerap tak kuasa menahantawa. “Begini-begini, Anda ini banker ya?” ujar Andy F. Noya, host Kick Andy. Di kampung halamannya, layaknya kebanyakan warga Agam, Sumatera Barat, Masril Koto menyandang profesi sebagai petani dan peternak. Namun, sejak 2006, dia menyandang profesi tambahan, menjadi banker.
Sejatinya bukan banker atau orang yang bekerja di bank-bank. Tapi, pria yang tak sampai menamatkan bangku sekolah dasar itu merupakan salah seorang bidan terbentuknya Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani, sebuah lembaga keuangan tempat para petani bisa mendapatkan pinjaman untuk tambahan modal usaha. Namun, alih-alih Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani, Masril lebih suka menyebut lembaga itu sebagai bank petani. Lebih gampang. “Kalau bilang Lembaga Keuangan Mikip Agribisnis Prima Tani, bisa bingung dia (petani, Red) tuh,” katanya.
Banyaknya petani yang sulit mencari pinjaman modal menginspirasi Masril untuk membentuk lembaga keuangan para petani tersebut Dibanding pihak lain, petani merupakan sosok yang sering kurang mendapat kepercayaan dari bank untuk mendapatkan suntikan dana. Maklum, apa yang bisa diajukan petani sebagai agunan pinjaman? Karena itu, ketika peralatan bersawah rusak, para petani biasanya akan sibuk mencari pinjaman ke sana-kemari dan belum tentu bisa mendapatkan uang dengan cepat. “Itulah kesulitan riil yang dihadapi petani di lapangan,” ungkap pria 36 tahun tersebut.
Menurut dia, lembaga keuangan khusus petani perlu ada karena masalah petani lainnya seperti soal bibit atau pupuk akan bisa diselesaikan sendiri oleh petani. Kegelisahan itu, tampaknya, mendapat banyak respons dari rekan sesama petani. Pada 2002, Masri! dan teman-temannya sesama petani mulai
bergerilya membangun lembaga tersebut. Dalam bayangan Masni, mendirikan bank bakal tidak ribet. Tinggal cari orang yang mau memberikan pelatihan, merekrut anggota, jadilah bank.
Masril bertugas mencari info pelatihan tersebut. Ayah satu anak itu rajin mengumpulkan brosur dari tiap bank. “Saya masuki semua bank. Setiap saya menanyakan informasi mengenai pelatihan membuat bank, yang saya tanyai hanya tertawa,” ungkapnya. Empat tahun kemudian, pada 2006, usaha itu membuahkan hasil. Masril dan kawan-kawan kemudian bertemu Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA). Yayasan AFTA adalah lembaga yang turun ke kenagarian (desa) di Sumatera Barat (Sumbar) untuk memberikan penyuluhan pertanian.
Yayasan AFTA memfasilitasi dengan memberikan pelatihan keuangan. Yang diajarkan adalah akuntansi sederhana seperti mencatat uang yang masuk dankeluar. Seluruh anggota mendapat pelatihan itu, meski nanti yang menjadi petugas hanya beberapa orang. Sejak itu, LKMA resmi didirikan. Supaya seperti bank betulan, para anggota juga sepakat menerbitkan saham untuk modal pendirian lembaga keuangan tersebut.
Petani boleh membelinya.
Para anggota langsung bergerak cepat melakukan sosialisasi saham. Satu lembar saham dihargai Rp 100 ribu. “Jangan tanya, sangat banyak yang masih bingung soal saham. Masak kertas begini harganya seratus ribu,” ujarnya.
Sosialisasi dilakukan dalam rapat kelompok tani, masjid, sampai lampo (warung kopi, Red) yang memang banyak bertebaran di wilayah Agam. “Warung-warung kopi di daerah kami sering dijadikan tempat rapat. Orang-orang di DPR baru mulai rapat, di lampo kami sudah selesai bahas,” tegasnya. Setahun berdiri, banyak yang mulai merasakan manfaat bank petani tersebut. Yang utama adalah kemudahan mengakses modal. Petani yang membutuhkan dana bisa langsung meminjam. Termasuk untuk kebutuhan lain seperti biaya sekolah anak, biaya pernikahan, hingga membeli kendaraan.
Manfaat lain adalah mengatasi pengangguran anak-anak petani lulusan SMA. Di antara mereka banyak yang direkrut menjadi karyawan LKMA. Rata-rata tiap LKMA memiliki lima karyawan. Dengan lebih dari 200 LKMA di Sumbar, cukup lumayan tenaga kerja yang tertampung. Banyak juga karyawan yang bisa melanjutkan kuliah dengan meminjam uang dari LKMA dan membayar cicilan pinjaman dari gaji mereka. Di sisi pendidikan, para petani serta anggota menjadi tahu cara mengelola lembaga keuangan karena semua diikutkan training saat awal pembentukan. LKMAjuga menjadi sarana penyebaran informasi terkait pertanian dengan cara mengorganisasi petani guna mengikuti training pertanian.
Meski demikian, ada pula kendala yang harus dihadapi Masril. Terutama dalam membangun rasa percaya diri para petani. Awalnya, mereka merasa tidak mampu untuk membuat serta mengelola lembaga keuangan untuk diri sendiri. “Perlu beberapa kali pertemuan untuk memotivasi mereka.” Selain itu, ketika lembaga telah terbentuk dan berjalan dengan baik, kerap terjadi gesekan antar anggota. Ada yang ingin menjadi pengurus, pengelola, dan sebagainya. Hal tersebut diatasi dengan pengaturan yang tegas soal pengurus, pengelola, serta badan pengawas. “
Pengurus adalah wakil pemilik saham, pengelola adalah anak-anak para petani. Sementara itu, badan pengawas diambilkan dari tokoh masyarakat setempat,” jelas Masril. Sebagai nasabah, petani juga tak selamanya tertib. Ada saja yang berulah nakal seperti menunggak bayar kredit. Mengingatkan mereka, kata Masril, tak gampang. Selalu ada saja alasan untuk berkelit. Tapi, dia tak kurang akal. Layaknya bank resmi, yang .berulah mendapat surat teguran. “Suratnya diketik seperti surat-surat dari bank. Karena harus hemat, surat teguran dibuat dari satu kertas folio dibagi empat,” ujarnya.
Langkah itu ampuh? Ternyata tidak selalu. Banyak yang masih membangkang. Bila sudah sampai tahap itu, Masril terpaksa menggunakan jurus andalan. Dia mencatat nama-nama nasabah bandel, lalu mengumumkannya melalui pengeras suara masjid. “Biasanya, kalau sudah diumumkan di masjid, malu dia,” tegasnya. Dengan keberhasilan tersebut, ide itu diadopsi Kementerian Pertanian (Kemen-tan) menjadi program nasional denganmencanangkan pembentukan 10 ribu lembaga keuangan pertanian di seluruh lndo-nesia.
“Saya yang bukan orang sekolahan diundang tim menteri pertanian untuk mendiskusikan hal itu di Jakarta dan Padang,” ungkap Masril mengenang.
Melalui program pengembangan usaha agrobisnis pedesaan (PUAP), akhirnya Kementan mengucurkan bantuan pembentukan LKMA melalui gabungan kelompok tani (gapoktan) sebesar Rp 100 juta per unit. Dana tersebut diambilkan dari program PMPN Mandiri di bidang pertanian. Masril saat ini sering tidak sempat mengurus kebun, sawah, dan ternaknya. Dia disibukkan oleh tugas sebagai motivator pembentukan dan pengelolaan bank-bank petani di berbagai daerah di Sumbar. Di Sumbar, berdiri 208 unit LKMA yang sampai sekarang berjalan dengan baik. Di luar itu, masih ada 50 unit LKMA yang didirikan dengan modal swadaya para petani. “LKMA terkecil saat ini beraset Rp 200 juta, sedangkan yang terbesar mencapai Rp 2 miliar,” kata
Masril.
Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Jawa Barat. Bengkulu, dan Bali bahkan mengundang Masril untuk berbagi cerita tentang pengelolaan LKMA. “Banyak juga undangan langsung dari petani,” ujarnya. Bank Indonesia Sumbar juga mengundang Masril untuk memberikan training kepada karyawan lembaga keuangan mikro (LKM) tentang pendekatan baru dalam melayani nasabah. Dia merasa bangga idenya berjalan baik dan dapat membantu para petani. Tapi, di benaknya masih banyak ide lain yang ingin
direalisasikan. Di antaranya, membuat asuransi dan dana pensiun untuk para petani. Masril juga ingin membuat skim khusus pembiayaan untuk pertanian organik. ()
http://bataviase.co.id/node/469282
Komentar:
1. Keren juga… Yang ngutang dan mau nilep, namanya diumumkan melalui
pengeras suara mesjid… he.. he.. kiat jitu. Dibanding dengan
menggunakan debt collector.
2. Anak-anak petani diberdayakan jadi pengelola bank.. He.. he.. kebayang
mirip bank-bank di koloni petani, jaman Laura Ingals.. Moga-moga
tetap berada pada jati dirinya, bank untuk petani.. Jangan sampai
bergeser makna, koloni petani lalu bergeser menjadi kolonialism. Wah..
jangan seperti itu.
3. Bank petani.. Wah, itu suatu institusi yang lahir berdasarkan kebutuhan.
Dalam hal ini petani, yang ter-marginal-kan oleh bank-bank yang eksis.
Moga-moga nggak bernafsu jadi bank besar, macam Bank Rakyat Indonesia,
yang pengin jadi bank perkotaan, dan agaknya mulai meninggalkan petani..
4. Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA). Wah…
COba kalau Alumni Perguruan Tinggi lain melakukan langkah serupa, sesuai
konteks kompetensinya.
5. Pemerintah dan Bank Indonesia mengapresiasi. Yah, memang seharusnya
seperti itu.
bank sampah ina April 18, 2011
Posted by witart in Uncategorized.Tags: bank sampah
1 comment so far
Surat dari Ina Juniarti
From: Ina Juniarti
Subject: Yuk, ciptakan lapangan pekerjaan (seri M03B04T11)
Date: 2011-04-18 01:50:13 GMT (5 hours and 14 minutes ago)
Rekan-rekan ITB77 yang tercinta,
Terima kasih atas tanggapan dan masukan rekan-rekan sekalian. Tulisan saya ini berupa rangkuman gagasan yang dapat diterapkan rekan-rekan untuk membantu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang membutuhkan. Sasarannya adalah masyarakat yang pendidikannya marginal, sekedar bisa baca tulis dan tidak memiliki modal berupa uang. Yang mereka perlu miliki adalan kemauan dan kejujuran.
Seperti yang saya targetkan minggu lalu ,minggu ini saya ingin mengulas bisnis berbahan dasar limbah…Insya Allah dengan tulisan saya setiap minggu tentang beberapa gagasan sederhana yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan secara nyata, bermanfaat.
1. Pengusaha Bank Sampah
Konsep bank sampah seperti bank pada umumnya, tetapi yang dikelola bukan uang tetapi ‘sampah’
Masing-masing sampah dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, misal gelas bekas air mineral sudah dibuang tutup plastiknya, bekas bungkus mie instant tidak disobek acak dsb. Sampah ini ada ‘kurs’ hariannya sesuai harga pasar. Misal bungkus mie instan hari ini 2300/kg. Nah sampah-sampah tersebut disetor ke bank sampah dan akan dibukukan sesuai harga pada hari tersebut. Pengambilan tabungan dapat diambil setiap awal bulan.
Bank sampah ini menerima sampah yang tidak laku ditukang loak. Misal bungkung kopi, minyak, mie instan, foam, tube odol d;; adalah sampah yang tidak laku, tetapi kita semua tahu limbah ini tidak mudah diurai tanah dalam puluhan/ratusan tahun, artinya sangat mencemari lingkungan.
=================================================
Jadi bisnis ini tidak bersaing dengan tukang loak.
=================================================
Bank sampah juga menerima sampah yang diamalkan (gratis). !!!!!Jadi Sampahmu menjadi Amalmu !!!!!. Perkembangan jasa ini sangat menarik, banyak yang menggunakannya untuk membuang barang-barang dari gudangnya, ada ban bekas yang bisa dijadikan bahan baku pot bunga, sparepart kendaraan bisa jadi berbagai interior rumah dll.
Subhanallah keuntungan bisnis bank sampah ini di atas 20%/bulan.
Modal awal berupa uang disesuaikan dengan jumlah sampah yang dikelola. tapi perputarannya harian bahkan dalam orde jam.Pembeli rebutan jadi tidak perlu upaya pemasaran yang berarti. Lahan untuk menyimpan/ menimbun sampah biasanya disediakan RT/RW/Keluarahan setempat. Tidak perlu luas supaya perputaran dipaksa cepat.
Bisnis ini dapat diterapkan dilingkungan tempat tinggal kita. Rekan-rekan juga bisa meninjau bank sampah yang sudah jalan, atau mengundang pengelolannya untuk berbagi pengalaman. Tertarik???
2. Pengusaha Kerajinan Sampah (Trash Fashion)
2.1. Kerajinan Aneka Bungkus Plastik
Produk kerajinan berupa Tas, sajadah, jas hujan, buka hias dll.
Pasar: Ekspor ke negara yang sedang menggalakkan kampanye go green.
Bagi yang berminat mengembangkan hal ini, bisa mengundang mereka untuk memberikan pelatihan.
2.2. Kerajinan Aneka Limbah Kaos
Produk kerajinan berupa Tas Gaul, tas sekolah, tempat pinsil, tempat tisu, bros
anak&remaja dll
Pasar: para remaja, untuk souvenir pengantin, ibu-ibu pengajian, ekspor
2.3. Kerajinan Limbah Kain
Produk: aneka baju gaul, kelelawar dll
Pasar: remaja
Mudah sekali pemasarannya, karena bisa dijual ditoko maupun kaki lima.
Silahkan dicoba, Insya Allah dapat membantu mengurangi pengangguran dan pengentasan kemiskinan dengan cara sederhana dan nyata.
Minggu depan akan saya sambung dengan usaha souvenir untuk pengantin dan cindera mata perusahaan
Saya juga menerima masukan ide dari rekan-rekan untuk saya uji coba, kan saya buka pelatihan bisnis keluarga setiap sabtu, jadi bisa langsung diajarkan dan diterapkan.
BERSAMA KITA BISA
Semoga tulisan ini bermanfaat…
Mohon tanggapannya…
Terimakasih
Salam,
Ina Juniarti (EL77)
Ibu Ina Juniarti hampir setiap hari Sabtu melakukan pelatihan masak gratis.
Alamat : Jl.Setra Indah no.21 Bandung (masuk dari ATM BNI Jl.Sukamulya, Pasteur)
Telepon : 022-706-29658
artikel sebelumnya:
http://witart.wordpress.com/2008/12/01/gerakan-bank-sampah-dari-bantul
Bank Ikan April 8, 2011
Posted by witart in Uncategorized.Tags: Bank Ikan, Burayak ikan, Cheilinus undulatus, Fish Repository, ikan napoleon, Komunto, napoleon fish, Saharuddin Usmi, Talombo, Unitula, Yayasan Mitra Tani Mandiri NTT
1 comment so far
Saharuddin Usmi
Mendirikan Bank Ikan
Komunitas Nelayan Tomia di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ”diam-diam” memiliki tiga bank. Mereka mempunyai bank ikan di tengah laut, di dekat Pulau Tomia. Ketiga bank itu masing-masing terdapat di Pasi Keawa, Ujua Tondo, dan Ou La Malaju. Bank ikan tersebut murni rekayasa nelayan untuk melawan kemiskinan sekaligus melestarikan biodiversitas. Bank ikan mereka bukan kajian para ilmuwan, peneliti, apalagi birokrat.
Ikan, bagi kami, adalah jaminan masa depan. Tanpa ikan, kami tidak bisa membeli apa-apa
” Ikan, bagi kami, adalah jaminan masa depan. Tanpa ikan, kami tidak bisa membeli apa-apa,” kata Koordinator Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Komunitas Nelayan Tomia (Komunto) Saharuddin Usmi, akhir Maret lalu di Jakarta.
Saharuddin menghadiri talk show di Jakarta terkait dengan penerimaan penghargaan Equator Prize 2010. Ia menerima medali penghargaan itu di American Museum of Natural History, New York, Amerika Serikat, pada 20 September 2010. Penghargaan disampaikan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/UNDP).
Atas penghargaan tersebut, Saharuddin berhak membawa pulang 5.000 dollar AS untuk komunitasnya. Komunto adalah salah satu di antara 25 penerima penghargaan tersebut dari 300 komunitas yang diseleksi UNDP. Komunitas yang diseleksi itu berasal dari 66 negara di dunia.
Dari Indonesia terdapat dua komunitas peraih Equator Prize 2010, yakni Komunto dan Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) Nusa Tenggara Timur. YMTM mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan.
Komunto didirikan pada September 2006. Kini terdapat 165 nelayan dari Pulau Tomia, Wakatobi, yang menjadi anggota Komunto. Menurut Saharuddin, sekretariatnya masih sering berpindah dari rumah anggota yang satu ke rumah anggota lain.
Kami tidak pernah mengharap bantuan dari mana-mana. Makanya, kami mengorganisasi diri ke dalam 13 kelompok dan mengerjakan apa saja yang penting serta berguna bagi kami. Salah satunya adalah bank ikan
”Kami tidak pernah mengharap bantuan dari mana-mana. Makanya, kami mengorganisasi diri ke dalam 13 kelompok dan mengerjakan apa saja yang penting serta berguna bagi kami. Salah satunya adalah bank ikan,” kata Saharuddin.
Alasan terpenting mendirikan tiga bank ikan, menurut Saharuddin, adalah memberi manfaat kehidupan bagi ikan-ikan meskipun ujung-ujungnya ikan-ikan itu nantinya memberikan sumber penghidupan bagi para nelayan setempat. ”Sederhana saja,” katanya.
Burayak ikan
Bank-bank ikan berupa lokasi himpunan terumbu karang. Di sini tersimpan burayak-burayak ikan yang berseliweran lincah, bermain dan bersembunyi di juluran lidah-lidah karang.
Kelak, burayak-burayak ikan itu tumbuh dewasa. Mereka akan menjadi ikan tangkapan para nelayan. Ikan dewasa yang datang dan masuk bank mempunyai perilaku memijah. ”Ini sangat dilarang untuk ditangkap,” ujar Saharuddin.
Dia mengatakan, bank ikan tidak begitu luas, hanya sekitar 100 meter kali 100 meter. Para nelayan dilarang memasuki area tersebut supaya tidak mengganggu perkembangan burayak-burayak ikan dan ikan-ikan yang akan bertelur.
”Tidak ada sanksi bagi anggota Komunto yang melanggar aturan itu. Kami hanya menuntut kesadaran nelayan untuk tidak melanggar area bank ikan karena itulah sumber makanan (kami),” katanya.
Menurut Saharuddin, sejauh ini belum pernah ada anggota Komunto yang melanggar area perlindungan di ketiga bank ikan tersebut meski ketiga bank ikan itu letaknya relatif berjauhan. Para nelayan juga disarankan menggunakan teknik menangkap ikan yang aman. ”Anggota Komunto disarankan menangkap ikan dengan kail,” katanya.
Dengan cara memancing, ikan-ikan yang tertangkap bisa terseleksi, yakni yang benar-benar layak konsumsi.
Saharuddin bercerita, ada kegelisahan para nelayan Tomia sebelum Komunto dibentuk. Wilayah perairan mereka dahulu dipenuhi ikan yang mudah sekali ditangkap. Namun, berangsur-angsur jumlahnya merosot.
Kerusakan terumbu karang juga menjadi akar keresahan nelayan. Praktik pengeboman ikan atau metode penangkapan ikan tak ramah lingkungan lainnya banyak menimbulkan kerusakan terumbu karang.
Ikan-ikan yang bernilai tinggi menjadi buruan utama, seperti ikan napoleon (Cheilinus undulatus). Jenis ikan ini menjadi menu konsumsi bergengsi di negara tetangga sampai Hongkong.
Saharuddin mengatakan, sebelum terlibat pembentukan Komunto, sekitar tahun 2006 nelayan sudah sulit menjumpai ikan napoleon. Padahal, ikan napoleon bermanfaat bagi kelangsungan hidup terumbu karang.
Ikan napoleon memangsa telur-telur biota bulu seribu (Acanthaster plancii). Bulu seribu merupakan hewan pemakan karang. Ikan napoleon mampu menjaga keseimbangan biota bulu seribu sehingga ledakan populasinya tak akan memusnahkan terumbu karang.
”Sayang, ikan napoleon sudah susah ditemui. Terakhir kali saya melaut dan mendapatkan hanya beberapa ekor ikan napoleon itu tahun 1998,” katanya.
Talombo dan Onitula
Saharuddin mengatakan, edukasi bagi komunitasnya merupakan hal terpenting. Komunto merealisasikan edukasi dengan membuat siaran radio komunitas Talombo FM dan Onitula FM. Ini sekaligus menjadi saluran radio hiburan bagi masyarakat Tomia.
Stasiun radio Talombo didirikan tahun 2007, sedangkan Onitula pada 2009. Kedua radio tersebut juga berguna untuk mengurai persoalan komunitas nelayan Tomia dan pembinaan bagi generasi muda. Kedua radio tersebut juga mengomunikasikan berbagai dinamika masyarakat Tomia.
Layaknya sebuah koperasi, Komunto pun menjalankan simpan pinjam uang. Komunto juga menekankan pentingnya melibatkan kaum perempuan dalam mengatur keuangan bagi rumah tangga masing-masing.
Edukasi Komunto relatif berjalan lancar melalui siaran-siaran radionya. Gerakan lokal seperti menanam mangrove juga dijalankan. Tak ada pamrih yang mereka harapkan dari dunia luar.
”Seperti ketika kami mendidik generasi muda untuk selalu memelihara dan menanam mangrove, kami sendiri tidak memahami apakah itu berdampak bagi dunia. Akan tetapi, kami memahami mangrove bermanfaat untuk ikan. Ini juga supaya kami tetap bisa hidup,” tutur Saharuddin menambahkan.
Bersama komunitasnya, Saharuddin adalah corong pembangunan. Mereka menjalani kehidupan sebagai komunitas makhluk paling berakal budi yang mencari penghidupan dengan cara terhormat: tidak merusak lingkungannya!
***
Saharuddin Usmi
-
• Lahir: Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 25 Mei 1975
-
• Istri: Nur Aisyah
-
• Anak: Muhammad Sulaiman
-
• Pendidikan:
-
- SD Tanjung Pinang, Riau
-
- SMP Negeri 2 Tomia
-
- STM Kendari, Sulawesi Tenggara
- • Kegiatan antara lain:
-
- Koordinator Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan pada Komunitas Nelayan Tomia (Komunto) sejak didirikan tahun 2006 sampai kini
-
- Mewakili penerimaan penghargaan Equator Prize 2010 untuk Komunto dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) di American Museum of Natural History, New York, Amerika Serikat, 20 September 2010
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/08/0247024/mendirikan.bank.ikan
Gesek Berarti Utang April 5, 2011
Posted by witart in perilaku.Tags: citibank, credit card, kartu kredit, utang
add a comment
Editor: Erlangga Djumena
Selasa, 5 April 2011 | 08:34 WIB
|
KOMPAS.com – Anda memiliki kartu kredit? Serasa memiliki tambahan penghasilan? Jika jawabannya adalah ya, Anda harus merekonstruksi kembali pemikiran Anda.
Kartu kredit adalah kartu untuk berutang. Setiap kali menggesek kartu kredit untuk membayar sesuatu, maka kita telah menambah utang. Prinsip utang harus dibayar. Jika tidak segera dibayar, akan ada penghitungan bunga yang ditanggung.
Coba perhatikan dengan saksama lembar penagihan kartu Anda. Pada bagian bawah tertulis suku bunga pembelanjaan dan suku bunga pengambilan tunai, yang besarannya berbeda. Biasanya, berkisar pada 3-4 persen. Bunga itu akan dikenakan apabila nasabah terlambat membayar tagihan atau membayar kurang dari total tagihan.
Pada sisi bagian atas lembar penagihan, tercantum total tagihan dan pembayaran minimum. Biasanya, pembayaran minimum besarnya 10 persen dari total tagihan.
Jangan sekali-kali terlambat membayar tagihan. Pasalnya, bunga yang dibebankan akan membuat utang membubung tinggi dan makin sulit dilunasi.
Sebagai ilustrasi, si A memiliki utang kartu kredit sebesar Rp 48 juta. Jika utang itu tak dibayar, tagihan pada bulan berikutnya menjadi Rp 49,68 juta. Rinciannya, utang awal Rp 48 juta ditambah bunga Rp 1,68 juta. Dengan asumsi, bunga yang dikenai 3,5 persen per bulan.
Pada bulan berikutnya, jika tak lagi dibayar, utang kembali bertambah menjadi Rp 51,418 juta. Jumlah itu terdiri dari utang pokok bulan kedua Rp 49,68 juta ditambah bunga Rp 1,738 juta.
Utang kartu kredit menjadi berlipat-lipat karena sistem bunga-berbunga. Utang pokok yang digunakan pada bulan berikutnya bukan utang pokok awal, melainkan pokok ditambah bunga.
Kemudahan gesek-menggesek kartu ini memang melenakan sebagian pemegang kartu kredit. Saat lembar tagihan datang, baru tersadar bahwa kemampuan finansialnya tak sanggup menutup lubang utang yang sudah dalam.
Padahal, jika sudah menunggak pembayaran kartu kredit, siap-siap berurusan dengan penerbit kartu. Lebih sial lagi, berurusan dengan penagih utang.
Sudah banyak keluhan masyarakat melalui berbagai media, mengungkapkan buruknya cara kerja penagih utang. Kata-kata kasar dan mengintimidasi. Tak hanya kepada si pengutang, bahkan hingga keluarga si pengutang.
Pekan lalu, ramai diberitakan soal tewasnya Irzen Octa, pasca-penyelesaian penagihan utang kartu kredit Citibank di Jakarta. Citibank menyatakan, perusahaan penagih yang bekerja sama dengan Citibank harus mematuhi kode etik dalam penagihan.
Seperti apa kode etik dalam penagihan dan penyelesaian utang? Bank Indonesia sebagai regulator menyatakan, penerbit harus bertanggung jawab. Pasalnya, BI tak membuat kode etik untuk itu. BI hanya mengingatkan, utamakan keamanan dan kenyamanan nasabah.
Bagi pengguna kartu kredit, ingat bahwa Anda menambah utang setiap kali menggesek kartu kredit. Usahakan melunasi selalu utang Anda sebelum jatuh tempo. Anda pasti tak mau berurusan dengan penagih utang, bukan? (Dewi Indriastuti)
Komentar:
Sebaiknya kita ukur konsumsi kita, apakah sebanding dengan pendapatan kita.
sumber artikel:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/04/05/08340529/Gesek.Berarti.Utang
link:
http://www.unpad.ac.id
peran Cost Recovery minyak bumi February 18, 2010
Posted by witart in Uncategorized.add a comment
“Cost Recovery” Meningkatkan Pendapatan Negara
Kamis, 18 Februari 2010 | 19:41 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam lima tahun terakhir ini rasio pendapatan berbanding biaya sektor hulu minyak dan gas bumi mencapai 4 banding 1. Artinya, setiap 1 dollar AS yang dibayarkan sebagai biaya operasi yang ditagihkan ke negara atau cost recovery menghasilkan penerimaan 4 dollar AS, di mana sedikitnya 67 persen di antaranya menjadi penghasilan pemerintah.
Hal ini dikemukakan Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas R Priyono dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (18/2/2010), di Gedung DPR RI, Jakarta. Acara itu juga dihadiri ol eh Menteri Keuangan Sri Mulyani serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh.
Peningkatan cost recovery ternyata menghasilkan penerimaan negara yang jauh lebih besar. Sekitar dari 50 persen dari total pengeluaran untuk pengadaan barang dan jasa dibelanjakan di dalam negeri. “Jadi, kegiatan di sektor hulu migas juga mendorong pertumbuhan industri nasional pendukung sektor migas,” ujarnya.
Namun diakui, ada sekitar 17 item dalam daftar negatif pelaksanaan cost recovery yang berpotensi menimbulkan kerugian pemerintah. Salah satunya, kontraktor kontrak kerja sama membebankan seluruh biaya berkaitan dengan pegawai kontraktor itu dalam biaya operasi termasuk di antaranya pajak penghasilan pribadi, rugi penjualan rumah dan mobil ekspatriat.
Pemberian insentif berupa bonus atau rencana insentif jangka panjang serta insentif lain yang sejenis dibebankan kontraktor sebagai biaya operasi dan diklasifikasikan sebagai pengeluaran personal. Selain itu kontraktor mempekerjakan tenaga ekspatriat melalui pihak ketiga karena jabatan ekspatriat terbatas dalam struktural kontraktor, tanpa persetujuan BP Migas padahal pembebanan biaya pekerja asing tidak dapat dibebankan sebagai biaya operasi.
Beberapa item lain adalah, biaya konsultan hukum, konsultan pajak, biaya pemasaran, biaya kehumasan, dan transaksi lain yang merugikan pemerintah. “Kami menindaklanjutinya dengan menyempurnakan pedoman tata kerja, peningkatan pengawasan operasi, serta peningkatan mekanisme audit,” kata dia menegaskan.
sumber tulisan :
Kompas Online
Iptek Pengawal Kemerdekaan August 20, 2009
Posted by witart in diagnosis, wawasan.Tags: aptikom, iptek, produksi dalam negeri
add a comment
LAPORAN IPTEK
Tiga Iptek Pengawal Kemerdekaan
NINOK LEKSONO : Rabu, 19 Agustus 2009 | 03:17 WIB
Hari Kemerdekaan Ke-64 RI baru saja kita peringati. Gemanya masih terasa, demikian pula pesan renungannya. Di antara harapan yang kita tangkap seperti halnya disampaikan dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR, Jumat (14/8), adalah bahwa Indonesia akan menjadi negara maju tahun 2025.
Setelah menjadi konsumen mobil, yang bikin macet jalanan, sekarang kita dibanjiri handphone. Kita memang bangsa konsumtif.. Sampai kapan ?
Seiring dengan itu, terdengar pula visi seniman tentang negara yang maju. Grup musik Cokelat lewat lagu ”100% Cinta Indonesia” menyanyi tentang Indonesia yang bisa membuat beragam produk seperti dikutip pada awal kolom ini. Alangkah idealnya.
Seperti kita saksikan, yang terjadi selama ini justru sebaliknya. Contoh HP, yang kini sudah digunakan sekitar 120 juta orang Indonesia. Namun, pakar yang menguasai sistem seluler kita, sebagian besar ditopang jaringan bersistem GSM (global system for mobile communication), belum banyak.
Padahal, sistem itu bisa mengalami gangguan. Manakala itu terjadi, kelangkaan ahli akan memaksa operator memanggil ahli dari luar negeri, yang lazimnya harus diberi bayaran dan fasilitas premium. Realitas inilah yang lalu melahirkan ilham bagi pakar telekomunikasi, Suryatin Setiawan, untuk menyelenggarakan pelatihan ahli GSM.
Selain ahlinya tak memadai, kontribusi Indonesia minimal atau bahkan tidak ada dalam gegap gempita industri telekomunikasi seluler. Sebagai akibatnya pada tahun 2007 saja belanja perangkat jaringan telekomunikasi nasional mencapai 2,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 27 triliun (Tempo Interaktif, 14/12/2006). Alangkah senangnya produsen HP dan berbagai perangkat penunjangnya.
Sejarah komunikasi seluler tampaknya mengulangi apa yang telah terjadi pada otomotif. Setelah lebih dari empat dekade menikmati banjir produk otomotif Jepang, Indonesia tak kunjung mampu menghasilkan karya otomotif nasional seperti halnya Malaysia membuat mobil Proton. Kalau mobil mungkin masih tergolong canggih, motor sekalipun kita belum mampu membuatnya.
Bila di kancah seluler yang kemarin ini berjaya adalah merek-merek negeri Nordik yang berukuran kecil tetapi menguasai teknologi, di kancah otomotif, Jepang seperti tak tergoyahkan, meski produsen lain kemudian bermunculan. Harus dikatakan bangsa Indonesialah—dengan pasar amat besar—yang selama ini justru ikut memakmurkan Jepang dan Finlandia karena memborong produk otomotif dan selulernya.
Itukah prestasi kemerdekaan? Itukah tujuan negara merdeka seperti digagas bapak-bapak pendiri Republik?
Memang pada era globalisasi sekarang ini tidak mungkin setiap bangsa membuat semua barang kebutuhannya. Akan ada pembagian kerja di antara bangsa-bangsa sehingga satu sama lain akan saling melengkapi atau komplementer. Namun, tetap sulit dipahami kalau bangsa Indonesia yang senang SMS dan main BlackBerry tak bisa mengembangkan rekayasa apa pun di bidang produk seluler?
Pertanyaan yang sama juga dapat dikemukakan untuk otomotif. Apakah seumur-umur bangsa ini tidak mampu membuat mobil setingkat Toyota Kijang seandainya tipe di atasnya dianggap terlalu rumit?
Dulu pada era BJ Habibie dipacu penguasaan teknologi kedirgantaraan, disertai falsafah ”memulai dari akhir, mengakhiri di awal”. Teori itu berasumsi, kalau satu bangsa bisa membuat produk canggih seperti pesawat, pastilah juga bisa membuat mobil, yang secara umum tidak serumit teknologi pesawat. Kita sudah membuktikan bisa membuat pesawat, tetapi mobil, dan kini HP, tak kunjung bisa kita buat. Ternyata rahasianya bukan dalam semata penguasaan teknologi, tetapi juga kepintaran manajemen dan pemasaran.
Iptek pengawal kemerdekaan
Ketika semangat Hari Merdeka masih hangat di dada, tepat waktulah kalau visi pembangunan iptek ini kembali diteguhkan. Masuk akal bila kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar pejuang diisi generasi penerus dengan berbagai prestasi yang akan semakin memuliakan kemerdekaan itu sendiri.
Kemerdekaan haruslah dikawal teknologi vital agar ia teguh, tambah kuat, kemudian berjaya. Kalau serta-merta ingatan orang tentang pengawalan mengarah pada teknologi pertahanan dan keamanan, itu juga tak keliru. Negara tanpa dikawal teknologi pertahanan dan keamanan yang memadai akan mudah diolok-olok musuh dan dilecehkan teroris seperti selama ini. Di sini memang belum ada pesawat pengintai dan kapal patroli yang membuat musuh potensial di perbatasan bisa berbuat semaunya. Juga belum ada aplikasi teknologi informasi-komunikasi yang sanggup memantau dan melacak akurat keberadaan musuh dan teroris.
Namun, teknologi hankam hanya merupakan basis pertama dari tiga teknologi fundamental yang harus kita miliki. Yang kedua adalah teknologi yang mampu membuat kita membuat produk industri unggulan yang hasilnya bisa meningkatkan kemakmuran rakyat. Dalam tren mutakhir, industri kreatif—ada 14 macam jenis yang telah diadopsi pemerintah—yang sebagian digali dari khazanah budaya lokal Tanah Air, dan sebagian lain dari kemajuan teknologi informasi-komunikasi, dilihat akan digerakkan lebih jauh. Bila sekarang kontribusi industri ini baru sekitar 6 persen dari produk domestik bruto, ke depan, diyakini akan lebih besar lagi.
Dari pengalaman pengembangan industri selama ini yang harus dikatakan masih gagal, ke depan, industrialisasi harus ditopang litbang tangguh disertai teknologi manajemen di segala lininya. Keberhasilan teknologi industri diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan dengan itu, salah satu tujuan kemerdekaan dapat dicapai.
Terakhir, tidak kalah pentingnya, pengembangan teknologi untuk meningkatkan citra dan karisma bangsa dan negara. Keberhasilan meluncurkan satelit dan roket buatan sendiri ke orbit adalah salah satunya. Di sini mungkin terdapat kesan ”mercusuar”. Namun, pemimpin visioner seperti Kennedy, Nehru, dan Deng Xiaoping kembali harus dikenang karena merekalah ada pencapaian besar di Amerika, India, dan China, yang membuat bangsanya dipandang hormat bangsa lain. Mereka meyakinkan bangsa, perlunya membangun roket dan meluncurkan satelit.
Kemerdekaan dirayakan, kemerdekaan dimuliakan. Namun, kemerdekaan juga harus diisi, diperkaya, dan diwarnai agar lebih indah. Teknologi—tiga jenisnya telah disinggung di atas—diyakini besar peranannya untuk mencapai maksud tersebut.
sumber:
kompasCetak