Iptek Pengawal Kemerdekaan August 20, 2009
Posted by witart in diagnosis, wawasan.Tags: aptikom, iptek, produksi dalam negeri
add a comment
LAPORAN IPTEK
Tiga Iptek Pengawal Kemerdekaan
NINOK LEKSONO : Rabu, 19 Agustus 2009 | 03:17 WIB
Hari Kemerdekaan Ke-64 RI baru saja kita peringati. Gemanya masih terasa, demikian pula pesan renungannya. Di antara harapan yang kita tangkap seperti halnya disampaikan dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR, Jumat (14/8), adalah bahwa Indonesia akan menjadi negara maju tahun 2025.
Setelah menjadi konsumen mobil, yang bikin macet jalanan, sekarang kita dibanjiri handphone. Kita memang bangsa konsumtif.. Sampai kapan ?
Seiring dengan itu, terdengar pula visi seniman tentang negara yang maju. Grup musik Cokelat lewat lagu ”100% Cinta Indonesia” menyanyi tentang Indonesia yang bisa membuat beragam produk seperti dikutip pada awal kolom ini. Alangkah idealnya.
Seperti kita saksikan, yang terjadi selama ini justru sebaliknya. Contoh HP, yang kini sudah digunakan sekitar 120 juta orang Indonesia. Namun, pakar yang menguasai sistem seluler kita, sebagian besar ditopang jaringan bersistem GSM (global system for mobile communication), belum banyak.
Padahal, sistem itu bisa mengalami gangguan. Manakala itu terjadi, kelangkaan ahli akan memaksa operator memanggil ahli dari luar negeri, yang lazimnya harus diberi bayaran dan fasilitas premium. Realitas inilah yang lalu melahirkan ilham bagi pakar telekomunikasi, Suryatin Setiawan, untuk menyelenggarakan pelatihan ahli GSM.
Selain ahlinya tak memadai, kontribusi Indonesia minimal atau bahkan tidak ada dalam gegap gempita industri telekomunikasi seluler. Sebagai akibatnya pada tahun 2007 saja belanja perangkat jaringan telekomunikasi nasional mencapai 2,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 27 triliun (Tempo Interaktif, 14/12/2006). Alangkah senangnya produsen HP dan berbagai perangkat penunjangnya.
Sejarah komunikasi seluler tampaknya mengulangi apa yang telah terjadi pada otomotif. Setelah lebih dari empat dekade menikmati banjir produk otomotif Jepang, Indonesia tak kunjung mampu menghasilkan karya otomotif nasional seperti halnya Malaysia membuat mobil Proton. Kalau mobil mungkin masih tergolong canggih, motor sekalipun kita belum mampu membuatnya.
Bila di kancah seluler yang kemarin ini berjaya adalah merek-merek negeri Nordik yang berukuran kecil tetapi menguasai teknologi, di kancah otomotif, Jepang seperti tak tergoyahkan, meski produsen lain kemudian bermunculan. Harus dikatakan bangsa Indonesialah—dengan pasar amat besar—yang selama ini justru ikut memakmurkan Jepang dan Finlandia karena memborong produk otomotif dan selulernya.
Itukah prestasi kemerdekaan? Itukah tujuan negara merdeka seperti digagas bapak-bapak pendiri Republik?
Memang pada era globalisasi sekarang ini tidak mungkin setiap bangsa membuat semua barang kebutuhannya. Akan ada pembagian kerja di antara bangsa-bangsa sehingga satu sama lain akan saling melengkapi atau komplementer. Namun, tetap sulit dipahami kalau bangsa Indonesia yang senang SMS dan main BlackBerry tak bisa mengembangkan rekayasa apa pun di bidang produk seluler?
Pertanyaan yang sama juga dapat dikemukakan untuk otomotif. Apakah seumur-umur bangsa ini tidak mampu membuat mobil setingkat Toyota Kijang seandainya tipe di atasnya dianggap terlalu rumit?
Dulu pada era BJ Habibie dipacu penguasaan teknologi kedirgantaraan, disertai falsafah ”memulai dari akhir, mengakhiri di awal”. Teori itu berasumsi, kalau satu bangsa bisa membuat produk canggih seperti pesawat, pastilah juga bisa membuat mobil, yang secara umum tidak serumit teknologi pesawat. Kita sudah membuktikan bisa membuat pesawat, tetapi mobil, dan kini HP, tak kunjung bisa kita buat. Ternyata rahasianya bukan dalam semata penguasaan teknologi, tetapi juga kepintaran manajemen dan pemasaran.
Iptek pengawal kemerdekaan
Ketika semangat Hari Merdeka masih hangat di dada, tepat waktulah kalau visi pembangunan iptek ini kembali diteguhkan. Masuk akal bila kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar pejuang diisi generasi penerus dengan berbagai prestasi yang akan semakin memuliakan kemerdekaan itu sendiri.
Kemerdekaan haruslah dikawal teknologi vital agar ia teguh, tambah kuat, kemudian berjaya. Kalau serta-merta ingatan orang tentang pengawalan mengarah pada teknologi pertahanan dan keamanan, itu juga tak keliru. Negara tanpa dikawal teknologi pertahanan dan keamanan yang memadai akan mudah diolok-olok musuh dan dilecehkan teroris seperti selama ini. Di sini memang belum ada pesawat pengintai dan kapal patroli yang membuat musuh potensial di perbatasan bisa berbuat semaunya. Juga belum ada aplikasi teknologi informasi-komunikasi yang sanggup memantau dan melacak akurat keberadaan musuh dan teroris.
Namun, teknologi hankam hanya merupakan basis pertama dari tiga teknologi fundamental yang harus kita miliki. Yang kedua adalah teknologi yang mampu membuat kita membuat produk industri unggulan yang hasilnya bisa meningkatkan kemakmuran rakyat. Dalam tren mutakhir, industri kreatif—ada 14 macam jenis yang telah diadopsi pemerintah—yang sebagian digali dari khazanah budaya lokal Tanah Air, dan sebagian lain dari kemajuan teknologi informasi-komunikasi, dilihat akan digerakkan lebih jauh. Bila sekarang kontribusi industri ini baru sekitar 6 persen dari produk domestik bruto, ke depan, diyakini akan lebih besar lagi.
Dari pengalaman pengembangan industri selama ini yang harus dikatakan masih gagal, ke depan, industrialisasi harus ditopang litbang tangguh disertai teknologi manajemen di segala lininya. Keberhasilan teknologi industri diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan dengan itu, salah satu tujuan kemerdekaan dapat dicapai.
Terakhir, tidak kalah pentingnya, pengembangan teknologi untuk meningkatkan citra dan karisma bangsa dan negara. Keberhasilan meluncurkan satelit dan roket buatan sendiri ke orbit adalah salah satunya. Di sini mungkin terdapat kesan ”mercusuar”. Namun, pemimpin visioner seperti Kennedy, Nehru, dan Deng Xiaoping kembali harus dikenang karena merekalah ada pencapaian besar di Amerika, India, dan China, yang membuat bangsanya dipandang hormat bangsa lain. Mereka meyakinkan bangsa, perlunya membangun roket dan meluncurkan satelit.
Kemerdekaan dirayakan, kemerdekaan dimuliakan. Namun, kemerdekaan juga harus diisi, diperkaya, dan diwarnai agar lebih indah. Teknologi—tiga jenisnya telah disinggung di atas—diyakini besar peranannya untuk mencapai maksud tersebut.
sumber:
kompasCetak
Sembilan Jurnal Terakreditasi Internasional August 20, 2009
Posted by witart in diagnosis, wawasan.Tags: aptikom, dosen, jurnal, jurnal ilmiah
2 comments
link tulisan terkait : jurnal
Minim, Jurnal Terakreditasi
Baru Sembilan Jurnal Terakreditasi Internasional
Kamis, 20 Agustus 2009 | 03:53 WIB
Jakarta, Kompas – Dari sekitar 400 jurnal ilmiah yang diterbitkan perguruan tinggi dan organisasi profesi, baru sekitar 116 jurnal ilmiah yang terakreditasi nasional. Selain itu, baru ada sembilan jurnal ilmiah yang terakreditasi secara internasional.
Selebihnya, berdasarkan pendataan Rabu (19/8), banyak jurnal ilmiah yang tidak terbit lagi secara reguler.
”Padahal, hidupnya jurnal-jurnal ilmiah, terutama yang terakreditasi secara internasional, penting bagi Indonesia untuk mengenalkan hasil-hasil penelitian yang berkembang di negara ini,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal. Selain itu, jurnal ilmiah internasional bisa menambah poin bagi perguruan tinggi Indonesia untuk masuk dalam perguruan tinggi kelas dunia.
”Jika jurnal ilmiah di Indonesia yang terakreditasi internasional bisa mencapai 30-40 jurnal saja, citation index Indonesia bisa naik. Sekarang penerbitan jurnal ilmiah di Indonesia sangat rendah masih 0,8 artikel per 1 juta penduduk,” kata Fasli.
Kondisi Indonesia itu jauh tertinggal dengan India yang bisa menerbitkan 12,3 artikel per satu juta penduduk atau Malaysia yang mampu menerbitkan 23 artikel per satu juta penduduk. Karena itu, dukungan untuk berkembangnya jurnal ilmiah mulai menjadi perhatian pemerintah.
Kultur belum tumbuh
Secara terpisah, dosen sekaligus pengamat filsafat dan politik pendidikan, Mohammad Abduhzen, mengatakan, penghargaan terhadap karya ilmiah di Tanah Air masih rendah.
”Kultur akademik di kalangan pengajar belum tumbuh,” kata Abduhzen, yang juga Ketua Departemen Litbang Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia.
Para dosen lebih suka memublikasikan pemikiran dan penelitiannya lewat artikel di media massa. Sejumlah dosen juga lebih tertarik menyampaikan pemikirannya dalam seminar.
Arif Satria, Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor, mengungkapkan, selama ini publikasi hasil riset dan pemikiran di jurnal ilmiah belum menjadi tradisi di kalangan dosen.
”Memasukkan tulisan ke jurnal ilmiah, penulis bukan dibayar, melainkan harus membayar,” ujarnya.
Di jurnal internasional, misalnya, harus membayar sekitar 700 dollar AS atau sekitar Rp 7 juta untuk 10 halaman. Naskah bisa dikoreksi dua-tiga kali bolak- balik dan antre selama dua tahun baru dipublikasikan.
”Keuntungan memublikasikan karya di jurnal ilmiah memang tidak secara langsung dirasakan karena biasanya berbentuk pengakuan dari para ilmuwan lain di bidang tersebut,” ujarnya.
Fasli menjelaskan, untuk tahun ini ada 200 jurnal ilmiah yang diberi bantuan dana dalam bentuk block grant supaya naik kualifikasinya menjadi terakreditasi nasional. Bantuan diberikan selama beberapa tahun dengan besaran Rp 50 juta per jurnal ilmiah.
Adapun jurnal ilmiah yang sudah terakreditasi nasional dibantu supaya bisa meraih akreditasi internasional. Ada 30 jurnal ilmiah dari berbagai perguruan tinggi yang mendapat bantuan dana Rp 150 juta. (INE/ELN)
sumber:
kompasCetak
Jurnal Ilmiah Belum Menjadi Pilihan August 19, 2009
Posted by witart in diagnosis, wawasan.Tags: aptikom, dosen, jurnal, jurnal ilmiah
1 comment so far
Dosen Lebih Suka Membuat Artikel
Jurnal Ilmiah Belum Menjadi Pilihan
Selasa, 18 Agustus 2009 | 03:58 WIB
Jakarta, Kompas – Jurnal ilmiah belum menjadi wadah utama para dosen dan peneliti untuk memublikasikan hasil penelitian dan pemikiran-pemikiran mereka. Dosen lebih suka menulis untuk bahan seminar atau artikel di media massa yang lebih mudah penggarapannya.
I’m floating in a sea of strange believers
Where do I belong?
Where do we go from here?
I wish I would disappear
– Anastacia…
Seperti diungkapkan dosen Planologi Universitas Trisakti, Jakarta, sekaligus Ketua Bidang Kajian dan Perencanaan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia, Yayat Supriatna, Jumat (14/8), menulis di jurnal ilmiah harus berdasarkan riset atau kajian. Secara umum, kenyataannya, dana riset terbatas. Sebagian riset biasanya merupakan proyek kerja sama peneliti di perguruan tinggi dengan berbagai instansi. ”Penulisan hasil riset proyek tersebut masih harus dimodifikasi untuk dapat termuat di jurnal ilmiah,” ujarnya.
Di sisi lain riset membutuhkan waktu penyusunan dan dana penelitian yang tidak sedikit. Di tengah minimnya kesejahteraan para pengajar, kerja ilmiah dan publikasi tersebut menjadi terkesampingkan. Pemikiran-pemikiran akademisi akhirnya lebih banyak disalurkan lewat seminar yang menempatkan mereka sebagai pakar. Sebagian dosen dan peneliti juga menyampaikan gagasan dan pemikirannya lewat artikel di media massa.
”Begitu terjadi banjir, misalnya, yang muncul kemudian ’banjir’ seminar dan terhenti di situ tanpa implementasi dan pemanfaatan hasil riset sesungguhnya,” ujarnya.
Tambahan penghasilan
Tidak dapat dimungkiri, kerja penelitian proyek, menjadi pembicara dalam seminar, dan menjadi penulis di media memberikan tambahan penghasilan yang sangat dibutuhkan para pengajar di perguruan tinggi. Tidak sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk peningkatan keilmuan mereka.
Hal senada diungkapkan dosen sekaligus pengamat filsafat dan politik pendidikan, Mohammad Abduhzen. Ketua Departemen Litbang Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tersebut mengatakan, publikasi ilmiah berbasis riset membutuhkan biaya besar. ”Pemikiran akhirnya lebih banyak dituangkan dalam bentuk artikel,” ujar Abduhzen.
Secara umum, Abduhzen berpendapat, penghargaan terhadap karya ilmiah di Tanah Air masih sangat rendah. Kultur akademik belum tumbuh dan belum membudaya di kalangan para akademisi. (INE/ELN)
sumber:
kompasCetak
Cory Aquino August 2, 2009
Posted by witart in perilaku, wawasan.Tags: cory aquino, filipina, people power
add a comment
Cory Aquino, Dari Ibu Rumah Tangga Hingga Presiden
backsound:
Move yourself
You always live your life
Never thinking of the future
Prove yourself
You are the move you make
Take your chances win or loserSee yourself
You are the steps you take
You and you – and thats the only wayYes : Owner of a lonely heart
http://www.youtube.com/watch?v=2B6WtP66gQo
|
AP PHOTO : Corazon Aquino |
Sabtu, 1 Agustus 2009 | 17:14 WIB
KOMPAS.com – Mantan presiden Filipina Corazon “Cory” Aquino, yang meninggal Sabtu pada usia 76 tahun, dulu merupakan orang yang enggan menjadi pemimpin, kendati ia memimpin revolusi yang memulihkan negaranya menuju demokrasi pada 1986.
Selama tiga hari pada Februari tahun itu, dunia menjadi saksi saat perempuan yang berpakaian kuning terang tersebut memimpin jutaan orang dalam pemberontakan damai yang menggulingkan diktator Ferdinand Marcos, yang telah memerintah dengan tangan besi selama dua dasawarsa.
Selama enam tahun berikutnya, Corazon –pemeluk kuat Katolik Roma– mengubah undang-undang dasar.
Namun masa jabatan kepresidenannya, menurut kantor berita Prancis, AFP, dikotori oleh sedikitnya enam upaya kudeta gagal oleh militer, pertikaian militer, serangan gerilyawan dan kegagalannya mengubah sistem politik yang didominasi oleh suku keluarga elit.
Majalah Times menjadikan Corazon sebagai “woman of the year”-nya pada 1986 dan pada 2006 menjadikan dia sebagai salah seorang pahlawan Asia, dan memuji dia sebagai “keberanian yang tenang” serta menggambarkan dia sebagai “lambang Kekuatan Rakyat dan aspirasi bagi orang lain yang sedang berjuang melawan tirani di seluruh dunia”.
Corazon (76), yang menderita kanker usus besar, menolak perawatan medis lebih lanjut setelah ia masuk ke satu rumah sakit Manila pada penghujung Juni, dan anggota keluarganya menemaninya dan penduduk di negara tersebut berdoa bagi kesembuhannya.
Corazon, yang dilahirkan di Cojuangco di provinsi Tarlac di bagian utara Filipina pada 25 Januari 1933, berasal dari keluarga yang istimewa, berkuasa dan kaya.
Ia mengenyam pendidikan di Amerika Serikat dan Manila, dan tak memiliki ambisi politik, tapi semua itu berubah ketika ia bertemu dan menikah dengan Benigno “Ninoy” Aquiona, wartawan muda yang memiliki reputasi besar dan juga berasal dari suku Tarlac, pada 1954.
Ninoy dipandang oleh banyak orang sebagai calon presiden, tapi buat Marcos, yang saat itu menjadi senator, ia menjadi ancaman.
Pada September 1972, Marcos mengumumkan keadaan darurat dan memenjarakan ratusan pengeritik dan penentangnya, termasuk Ninoy, yang kemudian hidup di pengasingan karena alasan medis.
Corazon Aquino membantu oposisi bertahan hidup, dan berbicara lantang atas nama suaminya serta menuntut perubahan.
Pada 1983, Ninoy –yang tak mengacuhkan saran teman-temannya– terbang kembali ke Filipina dari pengasingan di Boston untuk bertemu dengan Marcos, yang sedang sakit.
Namun bahkan sebelum ia keluar dari pesawat, ia ditembak oleh beberapa pembunuh. Jandanya, yang dirundung sedih, terbang kembali ke Filipina, tempat ia secara menceburkan diri untuk menyatukan kubu oposisi.
“Saya tak berusaha melakukan pembalasan, hanya keadilan, bukan hanya buat Ninoy tapi buat rakyat Filipina yang menderita,” kata Corazon saat ia dengan terpaksa menerima pencalonannya.
Setelah Marcos menang dalam pemilihan umum, yang dinodai oleh kecurangan besar, pihak oposisi –yang dipimpin oleh Corazon dan didukung oleh gereja Katolik– segera mengumpulkan sebanyak satu juta orang di jalan.
“Kekuatan Rakyat” telah lahir, Marcos segera terguling dan Corazon diambil sumpahnya sebagai presiden.
Ia segera membentuk satu komite guna merancang undang-undang dasar baru, melucuti kroni Marcos yang menguasai ekonomi dan membebaskan sejumlah pegiat politik.
Corazon juga memulai pembicaraan dengan gerilyawan Muslim dan komunis, tapi upayanya segera kandas oleh berbagai masalah di dalam koalisi pemerintah yang ia bangun. Ia belakangan lolos dari serangkaian upaya kudeta berdarah.
Selama menjalani masa pensiun, dan sampai ia menderita sakit, Corazon tetap tampil di hadapan umum, dan seringkali berbicara lantang menentang pelecehan yang diduga terjadi di dalam pemerintah.
Ia menjadi pengeritik lantang Presiden Gloria Arroy, yang keluarganya telah dituduh melakukan korupsi besar, dan bergabung dengan protes di jalan guna menentang Arroyo sampai ia didiagnosis menderita kanker usus besar pada Maret tahun lalu.
Corazon pernahan mengatakan, “Saya menyadari bahwa saya dapat membuat keadaan jadi lebih mudah buat diri saya kalau saya telah melakukan tindakan yang terkenal, dan bukan menyakitkan tapi tindakan yang lebih baik dalam jangka panjang. Namun, dalam jangka panjang, saya takkan ada untuk dipersalahkan.”
sumber: kompasOnline
Pertanian Berbasis SMS July 21, 2009
Posted by witart in pangan.Tags: aptikom, it, petani, rantai nilai, sistem informasi, sms, value chain
add a comment
Pertanian Berbasis IT
BANDUNG, (PR).- Selasa, 21 Juli 2009
Selama ini para pedagang dan tengkulak yang merajai rantai nilai (value chain) tata niaga produk pertanian, terutama karena adanya jaringan komunikasi antar mereka. Nasib petani menjadi terpinggirkan.
Nah, apakah dengan membuat jaringan komunikasi antar petani, akan mampu menggeser penguasaan rantai nilai kepada petani sebagai produsen utama ?
Mari kita lihat dampaknya….
Kadin Kabupaten Sukabumi mengembangkan sistem pertanian terpadu, dengan basis teknologi informasi. Selain dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan petani, upaya ini diharapkan bisa menjadi model pengembangan ketahanan pangan Jawa Barat.
“Kami mengembangkan ini sudah bertahun-tahun, tetapi mencoba mengintegrasikan sistemnya secara terpadu dengan tambahan teknologi informasi (TI) baru dua tahunan,” ujar Ketua Kadin Kabupaten Sukabumi, H.M. Azis, saat ditemui di kantor Kadin Jabar, akhir pekan lalu.
Dikatakan, pihaknya mengembangkan sistem terpadu itu di komunitas petani Sapa (Sentra Pelayanan Agribisnis) di Sukaraja, Sukabumi. Intinya, berbagai kebutuhan petani mulai dari pembiayaan untuk membeli alat dan saprodi (sarana produksi pertanian), pengelolaan pascapanen, dan dukungan sistem informasi ditangani di satu tempat.
Menurut Azis, sejauh ini apa yang menjadi tujuan pengembangan sistem terpadu itu sudah mulai menampakkan hasilnya. Di antaranya peningkatan produksi padi, peningkatan kualitas beras, dan peningkatan taraf hidup petani.
Sementara itu, Ketua Sapa, Luwarso mengatakan, saat ini ada 1.000 ha dan 5.000 petani yang sedang dikembangkan Sapa. Dengan sepuluh tenaga pendamping dan pabrik penggilingan padi berkapasitas 4 ton/hari, petani-petani Sapa sedikit demi sedikit membaik tingkat kesejahteraannya.
Dijelaskan, dengan pengembangan sistem informasi berbasis selular, berbagai kebutuhan petani bisa terukur dengan benar. Misalnya untuk kebutuhan pupuk, dengan kepastian jumlah yang diperlukan, Sapa bisa membeli langsung dari distributor dan petani mendapatkan pupuk dengan harga distributor.
“Untuk kebutuhan pupuk dan benih, petani cukup mengirim SMS ke server sapa. Begitupun untuk mendapatkan informasi harga pupuk, harga gabah, dsb., cukup dengan mengirim SMS. Dengan bantuan dari Fakultas Elektro ITB, tarif SMS di Sapa hanya Rp 9,00 per SMS,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kadin Jabar, Agung Suryamal Sutisno, menyambut baik dan mendukung upaya yang dilakukan Kadin Kab. Sukabumi itu. Dia meyakini jika bersama-sama mendukung penyempurnaan sistem yang sedang dikembangkan Kadin Kab Sukabumi tersebut, Jabar bisa mendapatkan formula yang pas untuk pengembangan pertanian.
“Jika Kabupaten Sukabumi berhasil nantinya, bisa kita bangun model-model serupa di daerah lain,” katanya. (A-135)***
sumber:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=87783
yang mengubah dunia June 27, 2009
Posted by witart in wawasan.Tags: inovasi, invention
add a comment
ILMU PENGETAHUAN
10 Obyek Ilmiah yang Mengubah Dunia
Sabtu, 27 Juni 2009 | 03:49 WIB
Perjalanan sejarah manusia sudah ada puluhan ribu tahun lalu. Sebagai makhluk berpikir manusia terus- menerus berusaha menyingkap rahasia dunia. Para kurator Science Museum di London baru-baru ini memilih 10 koleksinya yang dinilai punya pengaruh ilmiah terbesar dalam sejarah manusia abad ini.
Kapsul Apollo 11
Empat puluh tahun yang lalu, manusia berhasil mengelilingi dan menjejakkan kakinya di bulan. Kapsul yang diluncurkan dalam pendaratan di bulan oleh Apollo 11 ditempatkan di Science Museum pada Juli mendatang. Misi Apollo tidak hanya menunjukkan kemajuan teknologi ruang angkasa, tetapi juga telah menginspirasi orang tentang upaya mengetahui jagat raya ini.
Mesin atmosfer
Mesin atmosfer ditemukan oleh Thomas Newcomen pada tahun 1712. Model ini lalu dibangun oleh Francis Thompson di Derbyshire, Inggris, pada tahun 1791. Mesin atmosfer mengatasi krisis energi yang disebut-sebut mengawali Revolusi Industri. Temuan ini membuka cadangan batu bara yang tidak terjangkau dengan memompa air dari tambang di dalam tanah. Walaupun secara teknik masih dapat dibantah sebagai penanda era industri, temuan ini juga menandai dimulainya ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil.
Telegraf listrik
Charles Wheatstone dan William Cooke mematenkan peralatan telekom. Alat ini menjadi alat komunikasi elektrik paling sukses pada 1837. Telegraf itu merupakan penggunaan listrik secara praktis untuk komunikasi jarak jauh dan merupakan jaringan komunikasi publik yang pertama. Jaringan itu lalu berkembang kekuatannya, kapasitasnya, dan menjadi temuan penting.
Model T Ford
Melalui rintisan ide baru tentang produksi massa, perusahaan motor Ford membawa motoring untuk meraih pasar baru yang besar. Ketika itu berkembang istilah ”Fordisme” yang menjadi metafor untuk produksi skala besar. Filosofi ini berlaku hingga sekarang di dunia bisnis.
Komputer ACE
Salah satu pemanfaatan umum dari komputer elektronik pertama adalah Pilot ACE yang programnya mulai dijalankan pada 10 Mei 1950. Pada saat itu, komputer ini merupakan komputer yang tercepat di dunia.
Desain komputer tersebut merupakan versi yang lebih kecil daripada desain komputer pendahulunya Alan Turing.
ACE dipilih karena ini merupakan komputer generasi pertama yang mirip dengan mesin komputer yang ada di sekitar kita sekarang.
Mesin roket V2
Meskipun kalah dalam Perang Dunia Kedua, mesin V2 yang ditemukan tahun 1942 membentuk dunia untuk dekade-dekade mendatang. Pencipta V2, Wernher von Braun, pindah ke AS setelah PD II. Ia bekerja pada program missile balistik antarbenua. Ia lalu bekerja pada NASA, menjadi otak di belakang penciptaan roket Saturn V yang kemudian digunakan untuk membawa Apollo 11 ke bulan pada 1969.
Penisilin
Spora jamur yang menutupi jendela-jendela di kota London telah menginspirasi Alexander Fleming untuk melakukan penelitian yang membawanya pada penemuan antibiotika pertama pada 1928. Menjelang pertengahan 1940-an, penelitian di Inggris dan AS menuntun pada pemberian penisilin pada pasien. Penemuan itu telah membawa pada penemuan-penemuan lain yang membuat ancaman infeksi bakteri tidak lagi terlalu mengancam hidup kita seperti pada zaman sebelumnya.
DNA ”double helix”
Model konstruksi DNA pertama ini mengandung beberapa bagian orisinal yang digunakan oleh Crick dan Watson pada 1953. Terobosan penemuan model DNA ini memungkinkan manusia memahami bagaimana organisme mendistribusi sifat- sifat menurunnya dan bagaimana pengaturan kerja sel. Struktur yang telah dikenal luas saat ini masih menjadi jantung pencapaian ilmiah terbesar yang menuntun perkembangan bioteknologi hingga praktik yang bermanfaat di dunia kriminal.
Mesin sinar X
Penemuan sinar X oleh ahli fisika Jerman, Wilhelm Röntgen, pada 1895, menuntun manusia sampai pada pembuatan alat diagnostik yang sangat baru bagi para dokter. Perangkat sinar X lalu dibuat oleh Russel Reynolds sebulan setelah Röntgen membuat terobosan.
Teknologi ini adalah teknologi yang tertua di dunia yang mampu untuk melakukan perekaman bagian dalam tubuh manusia tanpa menggunakan pisau bedah.
Roket Stephenson
Dengan memecahkan rekor kecepatan untuk memenangkan uji coba roket di Rainhill pada tahun 1829 di Manchester, Inggris, penemuan ini lalu berkembang menjadi penemuan mesin bergerak (mobile power). Mesin bergerak lalu menggantikan mesin yang dihidupkan dengan ditarik tali.
Prinsip desain dasar ini menjadi standar yang membawa manusia dan barang mengelilingi dunia 150 tahun kemudian. Penemuan ini juga mengubah sejarah. Lokomotif yang dinamai Lucky telah membuktikan kemampuan roket hasil penemuan awal tersebut. (NEWSCIENTIST.COM/YUN/ISW)
sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/27/03493868/10.obyek.ilmiah.yang.mengubah.dunia
Benzema June 22, 2009
Posted by witart in wawasan.Tags: karakter, pribadi berkarakter
1 comment so far
Demi “Les Bleus”, Benzema Tolak “Setan Merah”
AFP/FRANCK FIFE : Senin, 22/6/2009 | 23:31 WIB
|
PARIS, KOMPAS.com – Agen Karim Benzema, Karim Djaziri mengatakan, kliennya menolak pindah ke Manchester United (MU) musim depan. Menurutnya, Benzema ingin tetap di Lyon setidaknya semusim lagi demi persiapan Piala Dunia 2010 bersama tim nasional Perancis.
Bila tetap tinggal, Benzema tidak akan menghadapi masalah adaptasi. Ia juga bisa mengasah kemampuannya dengan turun teratur di kompetisi Ligue-1. Dengan begitu, ia bisa tampil optimal untuk “Les Blues”.
Sebaliknya, jika pindah ke Old Trafford, fokus Benzema untuk timnas Perancis akan terpecah. Di MU, ia dituntut menyesuaikan diri dan berebut tampat reguler. Masalahnya, manajemen Lyon sudah menyatakan tidak akan ngotot mempertahankan Benzema. Apalagi, bila MU atau klub lain datang dengan penawaran tinggi.
MU sendiri sedang diburu waktu untuk secepatnya mendapatkan penyerang baru. Mereka membutuhkan Benzema untuk menjaga keseimbangan tim, menyusul hengkangnya Cristiano Ronaldo dan Carlos Tevez. Untuk itu, MU siap membayar 30 juta poundsterling atau sekitar Rp 512 miliar.
Djaziri menyatakan, kliennya mengerti bahwa nasibnya tidak terletak di tangannya sendiri. Namun, Djaziri tetap berharap, MU bisa menghargai keinginan Benzema.
“Karim sedang liburan saat ini dan ia tidak berpikir untuk pindah. Ia ingin tetap di Perancis untuk satu musim lagi supaya bisa bersiap untuk Piala Dunia. Saya pikir, Sir Alex mengerti hal ini,” papar Djaziri.
“Mungkin, ia ingin membuat tawaran untuk Lyon. Bila itu terjadi, maka Karim akan memikirkannya. Tetapi, sampai semuanya jelas, Karim ingin tetap bersama Lyon semusim lagi,” tambahnya. (SKY)
Tiga Hari Mereka Tak Makan May 7, 2009
Posted by witart in wawasan.Tags: Garut, lapar, pantai selatan, pemulung
add a comment
Tiga Hari Mereka Tak Makan
KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM : Kamis, 7 Mei 2009 | 17:51 WIB
KOMPAS.com — TERIRIS rasanya hati ini mendengar cerita Bu Sukirman (40-an). Bersama suami dan dua anaknya, ia mengaku terpaksa jalan kaki selama lima hari dari Bandung ke kampung halamannya di Sindang Barang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Keluarga pemulung yang lama tinggal di Bandung itu ditemui dalam perjalanan di jalan lintas selatan ruas Sindang Barang-Agrabintana, Kamis (7/5) pagi.
Sekitar pukul 09.00, Tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa Harian Kompas 2009 mulai memasuki ruas jalan rusak yang sepi kendaraan dan tak ada angkutan umum. Di depan terlihat rombongan pejalan kaki terdiri satu lelaki dewasa dan dua perempuan plus dua anak-anak. Mereka kelihatan begitu letih. Sebentar-sebentar berhenti sambil menoleh ke belakang. Ketika tim makin dekat mereka sepertinya hendak melambaikan tangan tapi ragu.
Ketika akhirnya tim berhenti, mereka masih tetap ragu melihat di bak belakang mobil Mazda BT50 Turbo diesel double cabin yang kami gunakan sudah penuh barang. Meski begitu, mereka akhirnya mau juga naik ke mobil setelah kami tawari tumpangan.
Kepada kami, Ibu Sukirman mengaku mau mengantarkan keponakannya, sebut saja namanya Neneng (18), pulang ke rumah orangtuanya di Kampung Pasirpiah, Desa Karangjati, Kecamatan Sindang Barang. “Dia mah nangis-nangis terus. Sieun jeng carogena (takut sama suaminya),” katanya.
Lanjutnya, Neneng sebenarnya sudah menikah dan tinggal di ibukota Kecamatan Sindang Barang. Tapi sang suami ringan tangan dan suka mabuk serta judi. Karena itu Neneng kemudian pergi. Kebetulan di jalan Neneng bertemu dengan Sukarmin dan anak istrinya. Ia lalu minta diantar pulang ke rumah orangtuanya.
Lima hari jalan kaki
Sukirman sendiri bukanlah keluarga berada. Keluarga ini sehari-hari hidup sebagai pemulung di Kota Bandung.
“Sapoe hanya sapuluh rebu. Malah kadang salapan rebu (Sehari hanya Rp 10.000. Malah kadang Rp 9.000),” kata Ibu Sukirman yang kami beri kesempatan duduk di jok belakang bersama Neneng dan dua anaknya. Sedangkan seorang anggota tim terpaksa menemani Sukirman di bak belakang.
Karena merasa berat tinggal di Bandung, keluarga ini memutuskan pulang kampung meski belum jelas mau kerja apa dan tinggal di mana. Ada keinginan Sukirman kerja serabutan atau buruh tani apa saja di kampung.
Untuk bisa sampai Sindang Barang, mereka berjalan kaki selama lima hari. “Teuk gaduh ongkos naik elf (tidak punya ongkos naik elf),” kata ibu dua anak itu.
Ongkos angkutan umum mikro bus yang menggunakan Isuzu Elf dari Bandung sampai Cidaun sekali jalan Rp 20.000 per orang. Dari Cidaun masih harus sekali lagi naik angkutan yang jarang lewat.
Jangankan untuk ongkos, untuk makan pun mereka hanya mengandalkan belas kasihan orang. “Tilu poe iyeu encan tuang (tiga hari belum makan),” kata Ibu Sukirman.
Meski lapar, keluarga ini tak hendak mencuri. Ketika melihat uang receh terserak di jok mobil, mereka buru-buru minta kami menyingkirkannya. Begitu pun ketika kami tawari kue-kue bekal perjalanan, mereka tak segera mengambilnya, meski kami tahu kedua anak mereka Si Ujang dan Si Eneng sangat ingin menyantapnya.
Mereka akhirnya kami turunkan di pinggir jalan kampung terdekat dengan tambahan uang secukupnya, sementara kami melanjutkan perjalanan yang masih panjang menuju Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi. MSH,AHA
Seharusnya Software Lokal Diutamakan May 7, 2009
Posted by witart in sistem informasi, wawasan.Tags: aptikom, IGOS, produksi dalam negeri, software
add a comment
Pengambil keputusan tender senang dengan barang import, kemungkinan karena memudahkan mark-up proyek, yang lebih sulit untuk dilacak.
Seharusnya Software Lokal Diutamakan
Kompas/Priyambodo
Perangkat lunak Indonesia Go Open Source (IGOS) Nusantara 2006 dan Repositori: IGOS-Source diluncurkan bersamaan peresmian Laboratorium Test Bed IGOS di BPPT Jakarta pada pengujung 2006.
Tender Software Pendidikan Tidak Ramah Industri Lokal
Kamis, 7 Mei 2009 | 19:35 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah didesak memberikan dukungan penuh terhadap perkembangan industri software lokal agar tak kalah di negeri sendiri. Desakan tersebut disampaikan sejumlah elemen masyarakat yang selama ini peduli terhadap perkembangan industri teknologi informasi di tanah air.
Indonesia memiliki sumber daya dan kemampuan untuk unggul dalam pengembangan software atau piranti lunak bidang kebudayaan, pendidikan, pariwisata, dan e-government yang mendunia. Namun, sampai saat ini kebijakan di dalam negeri belum mendukung sepenuhnya potensi yang mulai dikembangkan anak-anak bangsa tersebut untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Bahkan, pemakaian piranti lunak oleh institusi pemerintah sampai saat ini ditengarai masih mengarah kepada produk-produk asing. Padahal, tanpa komitmen nyata pemerintah untuk memakai piranti lunak karya anak bangsa, perkembangan industri kreatif dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri akan jalan di tempat atau mati.
Djarot Subiantoro, Presiden Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia mengatakan pemakaian software asing tidak mungkin dihindarkan dalam era pasar bebas sekarang ini. Tetapi pemerintah dapat melakukan dukungan secara sistem untuk mendukung tumbuhnya pemakaian software dalam negeri.
Seperti di Filipina, kata Djarot, perusahaan software asing bisa masuk, tetapi dikenai pajak lebih mahal sebesar 30 persen. Sebaliknya, jika menggandeng patner perusahaan lokal hanya dikenai pajak sekitar tiga persen.
“Pemerintahnya ingin ada transfer keahlian dan ilmu dari masuknya sofware asing di negara itu. Kebijakan seperti itu kan sebagai wujud dukungan yang nyata. Di Indonesia, masih baru sebatas wacana, belum pada dukungan nyata,” kata Djarot.
Keberpihakan untuk memakai software Indonesia itu jangan diartikan sebagai belas kasihan. Tetap, yang namanya kompetensi yang sesuai kualifiaksi dibutuhkan jadi pertimbangan utama. Tetapi untuk mendukung keunggulan sumber daya pengembangan software Indonesia yang sudah ada, utamanya harus dijadikan tuan rumah dulu di negeri sendiri.
“Masa software pendidikan kita di luar negeri diakui, tetapi di dalam negeri tidak dipakai secara luas dengan dukungan pemerintah,” kata Hari Sungkari, Sekretaris Jenderal Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia.
Keprihatinan soal dukungan pemerintah yang setengah hati kepada priranti lunak dalam negeri itu mengemuka terkait dengan adanya dugaan tender software pendidikan senilai Rp 15 miliar di Departemen Pendidikan Nasional yang mengarah kepada software dari luar negeri.
Persyaratan yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan software sains Virtual Lab di jenjang SMP itu dinilai menutup peluang pemakaian software pendidikan yang sudah ada di dalam negeri, bahkan sudah diakui di mancanegara. Depdiknas dinilai tak mendukung konten lokal yang sebenarnya sudah dikuasai Indonesia. ELN
Pastikan Nama Anda di DPT Pilpres April 12, 2009
Posted by witart in diagnosis, perilaku, sistem informasi, wawasan.add a comment
Pastikan Nama Anda di DPT Pilpres Sebelum 20 April
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Pegawai di kantor Kelurahan Bendungan Hilir, |
JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Pemilihan Umum memberi batas waktu hingga 20 April 2009 kepada warga masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam pemilihan presiden 2009 namun belum terdaftar. Data baru tersebut akan ditambahkan ke dalam DPS (daftar pemilih sementara) pilpres 2009 yang akan diumumkan melalui kelurahan dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di seluruh Indonesia.
“Masyarakat atau petugas KPPS dapat mendaftarkan warga sebelum 20 April agar bisa tercatat dalam DPT untuk pilpres,” kata anggota KPU Andi Nurpati kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/4) malam.
Berdasarkan Peraturan KPU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Tata Cara dan Program Pilpres, maka proses perbaikan DPS pilpres hasil tanggapan masyarakat berlangsung tanggal 8-20 April 2009. DPS pilpres tersebut akan diambil dari DPT pemilu legislatif yang telah berlangsung 9 April lalu.
Selanjutnya, data tersebut akan direkapitulasi di tingkat kabupaten/kota dan ditetapkan sebagai DPT pilpres pada 25-28 April. Tahapan selanjutnya adalah rekapitulasi DPT di tingkat provinsi pada 1-5 Mei dan penetapan DPT di tingkat nasional pada 6-13 Mei.
Pilpres 2009 itu sendiri akan berlangsung pada 8 Juli 2009 dan bila ada putaran kedua akan dilaksanakan pada 8 September 2009. “Pada pilpres putaran kedua tidak ada lagi perbaikan DPT,” kata Andi.
Selain itu, KPU juga mengajak berbagai pihak termasuk panitia pengawas pemilu untuk bersama-sama mengawasi pendaftaran pemilih ini agar keluhan banyaknya warga yang tidak tercatat dalam DPT tidak lagi terjadi dalam pilpres. (WAH)
sumber:
[1] kompasCetak