Category Archives: qonaah

hening di bulan april

hening
sepi
kosong
kosong itu apa ?
isi
isi itu bagaimana ?

jernih
kusebut asmaMu
bening
kusebut asmaMu
sujud
kuberlindung kepadaMu

bening
beningnya hati
jernih
jernihnya pikir
lembut
lembutnya rasa
halus
halusnya nafas

tiba-tiba kudengar
derik cengkerik
suara kodok

hemm
aku masih menjejak bumi.

malang tenggara, awal april 2017

Advertisements

bumi dimandikan

Hujan datang
seperti dipanggil adzan Ashar
mulanya rintik rintik
sepuluh menit kemudian
kilat menyambar
guntur berteriak
deraslah sudah

jalan berubah menjadi sungai beraliran deras
karena selokan sudah mendangkal
di tepi kiri kanan

angin ikut meramaikan
meniup kabel transmisi
berperilaku seperti sendaren
berdengung gemuruh
seperti pesawat lewat

kukenakan jas hujan
kembali ke ruang kerja
ambil tas
pulang

bersyukurlah….
bumiku sedang dimandikan…

malang tenggara, akhir maret 2017

 

Haddeh.. Be’en… Kakkeh…

Judul dari Mas Heru :
Jam kerja pedagang kecil ikan di Malang Timur..

Sarapan pagi agak kesiangan. Maklum keasyikan browsing. Warung langganan sudah tutup. Saya lihat di dekat RS Bersalin, ada warung. Ternyata masakannya boleh juga. Lodeh, bergedel tahu sama tempe Malang. Ada seorang bapak muda, ternyata mengantar istrinya sedang periksa.

Penyakit saya kambuh. Si Bapak jadi obyek wawancara saya.

Sy : Aktivitas sehari-hari apa, pak ?
Bp: Jual ikan (air tawar). Gurameh 30.000 sekilo. Mujahir 22.000 sekilo. Nila 25.000. Saya ambil ikan dari pasar Gadang, saya bawa ke desa istri saya, daerah Poncokusumo (kecamatan di lereng barat Semeru).

Sy: Jam berapa ke pasar Gadang ? Sepertinya jam 3.00 atau 4.00.
Bp: Tidak. Saya berangkat jam 10.00 malam. Jam 1.00 atau 2.00 kembali ke rumah.

Sy : Aman di jalan, kalau malam ? Daerah yang dilewati khan masih sepi ?
Bp : Yah, saya lillahi ta’ala. Selama ini aman-aman saja.

Sy : Berapa modalnya setiap hari untuk beli ikan ?
Bp : Seribu sampai seribu limaratus (maksudnya satu juta sampai satu juta lima ratus). Saya dapat sekitar 40 kg ikan segar. Saya bonceng pakai sepeda motor.

Sy : Bapak asal dari daerah mana ?
Bp : Bantur… Gondanglegi (Malang selatan). Tapi saya asal Madura, Bangkalan.

Sy : Wah, saya orang Jawa Timur, kok ndhak bisa berbahasa Madura, yah ?
Bp : Haddeh, Be’en, Kakeh…..

Sy : Maksudnya ?
Bp : Itu artinya kamu.

Sy :… Ooooo… terimakasih.

Malang Tenggara, awal Maret 2016

teknik informatika

Teknik Informatika

Membantu mengingat
Ketika orang mulai mudah lupa dalam kesibukannya, orang tersebut mulai membutuhkan Teknik Informatika.

Orang mulai mencatat di daun lontar, di kertas, di batu, untuk membantu mengingat suatu data atau peristiwa. Dinding candi merupakan komik kehidupan pada jamannya, yang akan memudahkan orang untuk mengingat cerita.

Dalam perkembangannya, orang menggunakan tumpukan kertas yang disebut buku, untuk mengumpulkan catatan ingatan seseorang atau sekelompok orang.

Di jaman sekarang orang mencatat alamat seseorang, atau catatan suatu pendapat, menggunakan handphone. Bahkan orang menyimpan gambar pemandangan yang dilihatnya, menjadi rekaman handphone.

Jadi, saat ini orang sudah menggunakan memori elektronik untuk membantu ingatannya. Ketika itulah, Teknik Informatika mulai berkembang.

Memperpanjang pikiran
Berapa 1 + 2 = ?

Berapa 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10 + 11 + 12 + 13 + 14 + 15 = ?

Dulu orang pakai simpoa. Kemudian pakai kalkulator.

Dengan komputer, dengan Teknik Informatika, hitungan itu bisa “dipikir” dengan lebih mudah. Ketika orang belajar memerintah komputer dengan urutan perintah tertentu, ketika itu pula Teknik Informatika mulai dipelajari.

Mengkomunikasikan hasil ingatan dan pikiran
Dulu orang berkomunikasi dengan asap. Orang juga berkomunikasi menggunakan kentongan, dan merpati pos. Kemudian dengan kode morse, atau bendera semaphore. Anda mungkin ingat dengan telephon engkol.

Sekarang orang mengirimkan data dan informasi menggunakan jaringan komputer. Ini semua berkat dikembangkannya Teknik Informatika.

Abad 21 – abad digital
Sekarang abad 21. Disebut abad MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Juga disebut abad digital.

Orang sekarang bisa pesan tiket pesawat, atau tiket kereta melalui internet. Orang bisa pesan ojek melalui mobile-phone. Bahkan sekarang orang bisa pesan bawang merah melalui mobile phone pula.

Pesanan melalui internet, atau mobile phone, itu dapat terwujud karena karya anak-anak muda di bidang digital. Mereka merupakan lulusan Teknik Informatika.

Jadi, jika Anda mampu, kenapa tidak bergabung dengan mempelajari Teknik Informatika ?

Suatu renungan…
Malang tenggara, akhir februari 2016.

sachet kopi

Habis subuh di Sukolilo.
Matahari mulai mengintip.
Naik angkot, sampai ujung jalan.
Warung kopi jadi tujuan.

[Sy = saya. Iw : ibu pemilik warung.]
Masih setengah enam. Kehidupan serius, masih nanti jam 8.00. Toh, kadang instrukturnya juga telat.

Sy : Kopi satu, bu.
Iw : Kopi item atau kopi susu ?
Sy : Kopi item, bu.

Di jalan, mulai banyak angkot lewat. Ada yang kosong. Ada yang setengah kosong. Yang penuh, juga mulai lewat. Warung semi permanen di sisi lain cukup banyak berderet. Baru satu dua yang buka.

Ketika ibu warung menyerahkan segelas kecil kopi, saya bertanya.

Sy : Kok banyak warung di jalan ini ? Siapa yang beli ? Apa penduduk di sini suka ngopi atau jajan indomie ?
Iw : Di sini banyak mahasiswa, pak. Itu sebelah timur kampung ini banyak kampus. Mahasiswa banyak yang suka kost di kampung kami. Jalan ini jalan tembus dari terminal Keputih ke terminal lainnya.

Jalan Gebang Putih memang tergolong jalan kecil. Banyak rumah penduduk dalam suasana pedesaan. Walau sudah termasuk dalam kota Surabaya, namun sepertinya itu daerah pemekaran, dan berada di bagian timur selatan.

Kampung itu seperti terkepung gedung. Sebelah barat merupakan daerah kota Surabaya yang lebih ramai. Area sebelah timur banyak gedung-gedung bertingkat dari beberapa kampus terkenal, termasuk kampus pengembangan ITS, Unair dan beberapa perguruan tinggi swasta. Sementara di sebelah barat – utara, banyak rumah-rumah mewah di tepi jalan Kertajaya maupun Dharmahusada (timur).

Sekitar pukul enam lebih sedikit, datang seorang ibu membawa satu karung. Beliau menghampiri kabel listrik yang menggantung di atas pintu dan jendela. Dengan tertib, satu persatu isi karung dipasang di kabel listrik itu. Setelah menyapa ibu warung, dan salam tempel, ibu pembawa karung itu pergi.

Hemm.. hasilnya.. sekarang tersedia beberapa sachet kopi bergelantungan menghias dinding warung, termasuk menutup jendela. 🙂

Sy : Apakah ibu tadi adik ibu atau saudara barangkali ?
Iw : Bukan. Beliau tetangga.
Sy : Kalau ibu menyediakan sachet sendiri, bukankah keuntungan ibu bisa lebih banyak ?

Ibu warung (Iw) tersenyum lembut.

Iw : Hidup itu harus berbagi. Keluarga kami dengan beberapa tetangga saling membantu. Kalau keluarga kami medit (pelit, seperti yahudi), nanti kalau mati ndhak ada yang bersedia mengubur.

Sy : …….mmm…
Iw : Dulu di kampung orang tua kami, ada orang yang kaya, tapi medit. Ketika mati, harus mengongkosi tukang pikul jenazah Rp 2.5 juta per orang.

Sy : ……zzzzz…
Iw : Ketika malam, keluarga kaya itu terpaksa membayar orang untuk menunggu makam, sampai 10 juta per orang, karena makamnya takut dibongkar orang…

Sy : …..oooo…

Kopi ini terasa nikmat. Gelas tambahan sudah mulai kosong. Jam dinding warung sudah menunjukkan saat pukul 7.35. Saya pamit, lalu mencegat angkot ke arah sebaliknya. Kehidupan serius akan segera dimulai, di gedung pelatihan, di dekat asrama tempat saya dan teman-teman menginap. Ada angin kearifan lokal yang berhembus membelai awal kewajiban saya, pagi itu.

Sukolilo, 12 September 2013
Ditulis ulang, 12 Januari 2015

Ada Lembaga Survei yang Berbohong!

Ada Lembaga Survei yang Berbohong!

Kamis, 10 Juli 2014 | 06:51 WIB

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Pemilihan presiden dan wakil presiden sudah berlangsung kemarin. Semua pihak, termasuk para kandidat, menyatakan terima kasih kepada rakyat Indonesia karena Pilpres 2014 berlangsung aman. Semua lega, karena sudah melaksanakan hajat lima tahunan yang menghabiskan biaya triliunan rupiah, serta memeras tenaga dan pikiran para kandidat, tim sukses, termasuk para penggembira seperti kita.

Tetapi, rupanya kelegaan itu tak berlangsung lama. Sekira pukul 11.00 WIB, benih kekisruhan dimulai. Beberapa stasiun televisi, seperti Metro TV, TVOne, dan Kompas TV, mulai menayangkan quick count dari Indonesia timur. Awalnya, persentase perolehan suara kedua kandidat saling berkejaran, sebelum akhirnya hasil penghitungan cepat itu terbelah menjadi dua kubu.

Kubu pertama adalah Metro TV yang selama ini memang terasa berpihak ke pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Sementara kubu kedua adalah TV One dan ANTV serta MNC Grup (RCTI, Global TV, dan MNC TV) yang berpihak kepada pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Pada layar kaca Metro TV menunjukkan angka yang menempatkan Jokowi dan JK unggul, sementara TV One dkk menempatkan Prabowo dan Hatta sebagai pemenang.

Setelah pemungutan di wilayah Indonesia barat berakhir pukul 13.00 WIB, beberapa stasiun televisi pun mulai menyiarkan hasil Pilpres. Metro TV ternyata tak sendirian. Sebab, semua stasiun televisi di luar TV One dkk itu ternyata menempatkan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai pemenang.

Dari sekian lembaga survei yang muncul, maka dapat kita kelompokkan. Ada empat lembaga survei yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta dalam quick count Pilpres 2014, yakni Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia. Sementara itu, ada tujuh lembaga survei yang memenangkan Jokowi-JK, yaitu Populi Center, CSIS, Litbang Kompas, Indikator Politik Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, RRI, dan Saiful Mujani Research Center.

Melihat fakta yang berbeda dari hasil yang disajikan lembaga-lembaga survei tersebut, Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI) Jeirry Sumampow mengatakan, “Melihat hasil seperti itu, sudah pasti ada lembaga survei berbohong. Ini tentu sangat memprihatinkan. Pasti ada lembaga survei yang mengumumkan hasil sesuai kemauan yang membayarnya,” ujar Jeirry kepada Tribunnews.com, Rabu (9/7/2014).

Publik, sambung Jeirry, mengaku prihatin karena para peneliti lembaga survei mau menggadaikan ilmu dan keahliannya untuk kepentingan kandidat yang membayar. Fenomena ini sangat menyedihkan karena bisa memicu hal-hal yang tak diinginkan. Kalau kemudian ada lembaga survei yang berbohong, publik harus minta pertanggungjawaban mereka. Sebab, kebohongan dan manipulasi yang mereka lakukan bisa menimbulkan gesekan sosial di antara para pendukung pasangan calon.

Senada dengan Jeirry, pengajar jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Mada Sukmajati, mengungkapkan, setiap lembaga survei memang memiliki metodologi tersendiri dalam melakukan hitung cepat pada Pilpres 2014. Namun, jauh di atas persoalan metodologi, kredibilitas dan etiket menjadi hal yang utama yang harus dipegang lembaga survei. “Ini penting karena terkait dengan kemampuan menarik kesimpulan. Masyarakat sendiri juga bisa melacak, mana lembaga survei yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Terus terang saja, saya baru mendengar nama lembaga survei yang saat ini memenangkan Prabowo-Hatta,” ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (9/7/2014).

Sementara itu, staf pengajar Jurusan Matematika Universitas Indonesia, Titin Sumi, menyebutkan, dalam kegiatan hitung cepat saat ini, kredibilitas lembaga survei sangat dipertaruhkan. Namun, ada juga kecenderungan lembaga survei yang mendapatkan pesanan dari pihak yang membayar. “Saat ini, banyak lembaga survei yang mengeluarkan hasil tergantung pada siapa yang membayar,” ujarnya.

Terkait dengan hasil quick count yang berbeda, Titin menilai, hal itu bisa saja disebabkan oleh pengambilan sampel. “Untuk pengambilan sampel ini, memang tidak bisa disalahkan. Namun, yang pasti harus proporsional,” ujarnya.

***

Selain menunggu hasil resmi dari KPU pada 22 Juli nanti, ada baiknya kita tunggu juga hasil audit Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) yang akan mengaudit tujuh lembaga survei yang masuk dalam keanggotaan Persepi. Tujuh lembaga survei tersebut adalah Lembaga Survei Indonesia, Indikator, Saiful Mujani Research and Consulting, Cyrus Network, Populi Center, Jaringan Survei Indonesia (JSI), serta Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis).

“Semua lembaga penelitian tersebut telah menandatangani pakta integritas Persepi,” kata anggota Dewan Etik Persepi, Hamdi Muluk, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (9/7/2014).

Menurut Hamdi, perbedaan hasil survei ini dapat dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak proses pemilihan presiden.

***
Quick count atau hitung cepat hasil pemilu adalah sebuah metode verifikasi hasil pemilu yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di TPS-TPS yang dijadikan sampel. Dari sanalah kita akan mendapatkan gambaran dengan akurasi yang lebih tinggi karena quick count menghitung hasil pemilu langsung dari TPS target, bukan berdasarkan persepsi atau pengakuan responden.

Mengapa hasil quick count dapat dipercaya? Sebab, quick count dapat memperkirakan perolehan suara pemilu secara cepat sehingga dapat memverifikasi hasil resmi KPU. Lebih jauh, quick count mampu mendeteksi dan melaporkan penyimpangan, atau mengungkapkan kecurangan. Banyak contoh membuktikan quick count dapat membangun kepercayaan atas kinerja penyelenggara pemilu dan memberikan legitimasi terhadap proses pemilu.

Tentu saja, quick count tidak mendasarkan diri pada opini siapa pun, tetapi berbasis pada fakta lapangan, yaitu perolehan suara di TPS. Organisasi yang melakukan quick count mengumpulkan data dari tiap TPS, dan berusaha melakukan penghitungan cepat dari daerah pantauan yang dipilih secara acak. Para pemantau berada di TPS, dan melaporkan secara langsung proses pemungutan dan penghitungan surat suara.

Quick count adalah anak kandung dari ilmu pengetahuan yang berpijak pada kebenaran, akal, pengalaman, dan tentu saja nurani. Di dalamnya terangkum sekumpulan teori-teori yang disepakati dan dapat diuji secara sistematik dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.

Itu artinya, jika ada yang sengaja menampilkan hasil yang berbeda hanya demi menyenangkan tuannya yang membayar, bisa dipastikan akan segera terkuak jejaknya. Lembaga tersebut tak cuma mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai sebuah lembaga survei, tetapi juga mempertaruhkan martabat dan juga keamanan bangsa ini.

@JodhiY

 

sumber : http://nasional.kompas.com/read/2014/07/10/06511051/Ada.Lembaga.Survei.yang.Berbohong.

Ketika Media Tak Lagi Dipercaya

Ketika Media Tak Lagi Dipercaya

Senin, 14 Juli 2014 | 06:24 WIB

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Di tengah situasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, dunia media kita diguncang oleh beragam peristiwa. Mulai dari anjloknya beberapa saham media televisi, juga permintaan penutupan atas dua televisi dan teguran kepada beberapa stasiun televisi, berkait-paut dengan tayangan mereka yang tidak obyektif.

Pada Kamis lalu (10/7/14), tersiar kabar tentang anjloknya saham-saham PT Visi Media Asia (VIVA) milik Grup Bakrie yang menaungi TV One dan saham PT Media Nusantara Citra (MNCN) milik Hari Tanoesoedibjo yang membawahi Global TV, MNC TV, dan RCTI.

Diberitakan, merosotnya saham-saham itu disebabkan karena media-media tersebut menyiarkan hitung cepat (quick count) yang memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa. Padahal, pada saat yang sama, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang pasca-pilpres.

Pada pukul 11.40 hari itu, saham VIVA rontok sebesar 4,85 persen di posisi Rp 255 per saham. Pada saat yang sama, saham MNCN juga terkoreksi lebih dari 4 persen, tepatnya sebesar 4,21 persen menjadi Rp 2.615 per saham.

Kondisi yang sebaliknya justru terjadi pada saham PT Surya Citra Media Tbk yang membawahkan stasiun televisi SCTV. Emiten berkode SCMA ini pada waktu yang sama telah menguat sebesar 3,34 persen menjadi Rp 3.715 per saham.

Benar kata Head of Research Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menyatakan, bahwa bisnis media adalah bisnis kepercayaan.

Jika sebuah media menayangkan informasi yang tidak benar, hal itu akan memengaruhi kelanjutan bisnis dan pendapatan perusahaan.

“Turunnya saham VIVA dan MNCN, bagaimanapun, sangat berkaitan dengan hasil quick count yang dinilai tidak benar, yang memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa. Investor paham, itu tidak benar, sehingga mereka memilih melepas saham dua emiten itu,” ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (10/7/2014).

Sebagaimana diketahui, TV One, MNC TV, Global TV, dan RCTI menayangkan hasil quick count yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Hasil tersebut berkebalikan dengan hasil hitung cepat yang dilakukan beberapa lembaga survei yang lebih kredibel.

Setidaknya, ada empat lembaga survei yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta dalam quick count Pilpres 2014 yang digelar hari ini. Lembaga-lembaga itu adalah Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia.

Sementara itu, ada tujuh lembaga survei yang memenangkan Jokowi-JK, yaitu Populi Center, CSIS, Litbang Kompas, Indikator Politik Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, RRI, dan Saiful Mujani Research Center.

“Hukuman” itu bukan hanya datang dari dunia usaha, melainkan juga dari masyarakat pemirsa. Lebih dari 22.000 Orang Dukung Petisi Cabut Izin TVOne karena dianggap melakukan pembohongan publik lewat pemberitaannya selama masa pemilihan presiden (pilpres) sehingga memicu dibuatnya petisi untuk menuntut pencabutan izin siaran televisi milik Aburizal Bakrie itu.

Petisi http://www.change.org/CabutIzinTVOne diinisiasi oleh seorang pemuda asal Lhokseumawe, Teuku Kemal Fasya, telah mendulang dukungan lebih dari 22.000 suara hanya dalam tempo dua hari.

“Seruan ini kami lakukan sebagai tanggung jawab warga negara untuk mendapatkan informasi yang sehat dan benar. Untuk itu, kami menyerukan mencabut izin penyiaran TV One karena televisi yang menggunakan frekuensi berjaringan itu terbukti secara sistematis, terencana, sporadis, dan cukup lama menyebarkan kabar bohong, propaganda, dan fitnah yang bisa mengarah kepada perpecahan nasional,” kata Kemal dalam petisinya.

“Apa yang dilakukan TV One bukan saja melanggar ketentuan penyiaran, tapi juga penistaan pada prinsip utama pemilu seperti memberikan kabar bohong tentang survei Gallup, membangun opini meresahkan tentang bahaya komunisme yang mendiskreditkan salah seorang kandidat presiden Joko Widodo,” tandasnya.

Permintaan serupa tak cuma dialamatkan kepada TVOne, tetapi juga kepada Metro TV yang dinilai telah menyalahgunakan frekuensi publik. Adalah Koalisi Independen Demokratisasi Penyiaran (KIDP), yang mendesak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) segera menindaklanjuti rekomendasi Komisi Penyiaran Indonesia (KIP) mencabut izin penyelenggaraan penyiaran Metro TV dan TV One. Sebab, kedua stasiun televisi itu dianggap menyalahgunakan frekuensi publik untuk kepentingan politik peserta Pemilu Presiden 2014.

“Kami mendesak pemerintah, dalam hal ini Kemenkominfo segera merespons rekomendasi KPI agar mengevaluasi bahkan mencabut izin penyelenggaraan penyiaran Metro TV dan TV One yang mempergunakan frekuensi publik,” ujar Ketua KIDP yang merupakan perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Eko Maryadi di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (13/7/2014).

Koalisi Independen Demokratisasi Penyiaran (KIDP) meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan rekomendasi pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran kepada RCTI dan Global TV. Kedua televisi itu dinilai kerap melakukan pelanggaran selama masa kampanye pemilu yang lalu.

“KPI harus segera menjatuhkan sanksi yang sama terhadap setidaknya dua lembaga penyiaran, (yaitu) RCTI dan Global TV yang dalam amatan kami terus menerus melakukan pelanggaran,” kata Ketua KIDP yang juga merupakan perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Eko Maryadi di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (13/7/2014).

***
Media memang harus berada di tengah. Dia harus menjadi perantara antara peristiwa dengan masyarakat. Secara etimologis, media berasal dari bahasa latin yang artinya jamak, dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.

Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2002: 6) . Sebagai penyampai pesan, media hidup dan tumbuh dari fakta-fakta yang dikelolanya menjadi berita atau informasi oleh para jurnalis yang bekerja di perusahaan media. Apa yang terjadi pada hari-hari belakangan di negeri ini, adalah fakta-fakta yang dikelola dengan tidak semestinya oleh perusahaan media yang menyeret serta para jurnalisnya untuk menjadi bagian “penggelapan” fakta karena telah berpihak secara berlebihan terhadap salah satu calon presiden.

Padahal, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New York: Crown Publishers), ada sembilan elemen yang bisa menjaga kredibiltas media dan jurnalisnya sebagai penyampai pesan. Namun, saya kira, di antara sembilan elemen jurnalisme ala Bill Kovach, setidaknya ada dua elemen yang berkait langsung dengan situasi yang sedang kita hadapi saat ini. Yakni, kewajiban pada pencarian kebenaran dan loyalitas pada warga.

Kovach mengatakan, kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran. Lantas, macam apakah kebenaran itu sendiri?

Sebagai sebuah kata, kebenaran memang memiliki definisi yang sedemikian luas. Pada tahun 1920, Walter Lippmann menggunakan istilah kebenaran dan berita yang bisa saling dipertukarkan dalam “Liberty and the News“. Namun pada 1922, dia menulis begini : “Berita dan kebenaran bukanlah hal yang sama…. Fungsi berita adalah menandai suatu peristiwa”, atau membuat orang sadar akan hal itu. Sementara, “Fungsi kebenaran adalah menerangi fakta-fakta tersembunyi, menghubungkannya satu sama lain, dan membuat sebuah gambaran realitas yang dari titik itu orang bisa bertindak”.

Selang 50 tahun, kita sampai pada satu titik di mana beberapa orang menyangkal bahwa ada orang yang bisa meletakkan fakta dalam konteks yang bermakna saat membuat laporan tentang fakta tersebut.

Kesangsian bahwa tak satu kebenaran pun yang bisa dibuktikan dengan mutlak telah menyebar di semua aspek kehidupan intelektual kita, mulai dari seni, sastra, hukum, fisika, bahkan sampai sejarah. Sampai-sampai, sejarawan Colombia University Simon Schama berpendapat bahwa “kepastian kebenaran yang bisa diamati secara seksamadan bisa diverifikasi secara empiris telah mati.

Kebenaran tampaknya terlalu rumit untuk kita kejar. Atau bahkan kebenaran sesungguhnya tidak ada, mengingat kita semua individu yang subyektif.

Lalu kebenaran seperti apa sebetulnya yang dikejar oleh jurnalisme? Kovach menjawab, adalah bentuk kebenaran yang bisa dipraktikan dan fungsional. Ini bukan kebenaran dalam pengertian mutlak atau filosofis, juga bukan kebenarabn ala persamaan kimiawi. Namun jurnalisme bisa–dan harus–mengejar kebenaran di dalam pengertian yang bisa kita jalankan dari hari ke hari.

Bagi saya, kebenaran bisa diterjemahkan menjadi sangat sederhana. Adalah fakta obyektif yang tidak ditambah dan dikurangi.

Pada poin kedua, mengenai loyalitas jurnalisme kepada warga, Bill KOvach mengatakan, “Pengertian bahwa orang-orang yang mencari dan melaporkan berita tak dihalangi saat menggali dan menyampaikan kebenaran–bahkan oleh risiko terganggunya kepentingan bisnis lain dari si pemilik media– adalah syarat mutlak penyampaian berita, tidak hanya akurat tapi juga persuasif.

Pendek kata, pengumpul berita tidaklah seperti pegawai perusahaan lainnya. Mereka punya kewajiban sosial yang sesekali bisa benar-benar berseberangan dengan kepentingan  utama majikan mereka, sekalipun di sisi lain, kewajiban ini justru merupakan tambang emas si majikan.

Kesetiaan kepada warga adalah sinonim dari yang kita sebut independensi jurnalistik, yang bermakna tidak berat sebelah, ketidakterikatan dan tidak ketidakberpihakan.
***
Sungguh, peristiwa politik sekitar Pilpres 2014 telah memberikan pelajaran yang berharga kepada insan media dan juga bangsa ini. Perusahaan-perusahaan media yang dimiliki oleh mereka yang hanya berlatar bisnis ternyata belum memahami benar bahwa mengelola bisnis media sangat berbeda dengan mengelola bisnis plastik, kain, sabun, dan barang-barang serta jasa lainnya. Produk media adalah informasi yang bersandar pada fakta dan kebenaran agar masyarakat mendapatkan berita yang berimbang dan obyektif. Perusahaan media yang mengaburkan fakta demi tujuan-tujuan pribadi pemilik atau wartawannya, sesungguhnya sedang menggali kuburnya sendiri.

@JodhiY

 

sumber : http://nasional.kompas.com/read/2014/07/14/06243911/Ketika.Media.Tak.Lagi.Dipercaya