proses bisnis produksi makanan ringan

Tiga mahasiswa melakukan survey ke usaha kecil (UMKM) yang memproduksi makanan ringan.

1. Tujuan : Mengenal dan mempelajari home industry stik kentang

2. Struktur Organisasi
Hasil survey tentang pembagian kerja digambarkan menjadi struktur organisasi sebagai berikut :

struktur organisasi

Bagian penggorengan bisa dikatakan sebagai bagian inti kelompok kerja pengolahan.

3. Proses Bisnis
Hasil analisis surveynya digambarkan menjadi proses bisnis sebagai berikut :

PB Produksi Makanan Ringan

4. Uraian Proses Bisnis Utama

      o. Penerimaan Pesanan
      o. Pengolahan
             -. Pengadaan bahan mentah
             -. Pengeringan bahan
             -. Penggorengan
             -. Pembumbuan
      o. Pengemasan / Pengepakan / Packaging
      o. Pemasaran

5. Surveyor :

      o. Dikri Erdin Ardiansyah
      o. Novia Nurafida
      o. Zhella Rizky Anggita

malang tenggara, medio april 2017

bumi dimandikan

Hujan datang
seperti dipanggil adzan Ashar
mulanya rintik rintik
sepuluh menit kemudian
kilat menyambar
guntur berteriak
deraslah sudah

jalan berubah menjadi sungai beraliran deras
karena selokan sudah mendangkal
di tepi kiri kanan

angin ikut meramaikan
meniup kabel transmisi
berperilaku seperti sendaren
berdengung gemuruh
seperti pesawat lewat

kukenakan jas hujan
kembali ke ruang kerja
ambil tas
pulang

bersyukurlah….
bumiku sedang dimandikan…

malang tenggara, akhir maret 2017

 

membentuk usaha

Tematik pengetahuan : best-practices

Sebenarnya inti perusahaan adalah usaha. Itu di tengah kata per-usaha-an. Suatu usaha intinya mampu menukarkan manfaat dengan imbalan. Manfaat intinya memenuhi kebutuhan. Jika penukaran manfaat dengan imbalan mampu membentuk margin keuntungan, muncullah bibit perusahaan. Modal, mesin, sdm, akan datang sendiri.

Selama masih banyak manusia, mestinya akan menumbuhkan kebutuhan. Apakah kita mampu merelasikan antara kompetensi kita dengan kebutuhan itu dengan membentuk manfaat ? Mampukah membentuk kesinambungan pertukaran manfaat yang sesuai dengan imbalan ?

Lulusan perguruan tinggi seharusnya, kompetensinya akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Jadi, untuk melakukan usaha, tinggal sedikit lagi langkahnya. Jadi kenapa menganggur ? 🙂

Yah, ini hanya sekedar pemikiran. Besar kecil usaha yang berhasil dibentuk, lillahi ta’ala saja.

Semoga bermanfaat.

gunung buring, akhir oktober 2016

menjaga pelanggan

menjaga pelanggan

(Suka duka penjual daging ayam)
Di suatu “medsos punten pecel” penjual daging ayam datang terlambat.

Ibu penjual : “Nasi jagungnya tinggal setengah porsi. Gimana kalau diganti punten ?”
Penjual Daging Ayam (PDA) : “ndhak pa pa. Nasi jagung saja. Saya kurang suka punten.”
“Ayamnya habis, ya ?” tanya saya.
“Tinggal sedikit”, kata PDA. “Saya harus segera pulang lalu motong ayam lagi. Nanti di pabrik Genitri, saya punya langganan. Daging ayam hanya syarat. Tapi yang penting jerohan rempela ati, saya bisa jual 100 potong. Pabriknya hanya kecil. Pegawainya paling 50 an. Tapi setiap jual rempela ati, pasti habis. Ini khan hari Sabtu, hari gajian par pegawai itu.”
punten
Penjual bakso (PB) yang juga sarapan punten pecel menyahut. “Wah, bagus tuh, kalau sudah punya pelanggan. Harus dijaga. Meleng sedikit, bisa pindah ke lain hati mereka.”
“Ya memang”, kata PDA. “Kalau harga daging ayam lagi tinggi, repot. Keuntungan tipis. Saya tak berani ambil untung banyak. Itu demi menjaga pelanggan.”

“Harga tinggi paling dua minggu”, kata PB.
“Sekarang ?” tanya saya.
“Sekarang, lumayan. Naik turun”. Kata PDA. “Paling rendah 25.000,- paling tinggi 34.000,- Oh, ya. Saya harus ke perumahan. Ada yang pesan 1 kilo daging dada ayam. Udah tadi. Hampir lupa.”

Dan kehidupan berjalan kembali seperti seharusnya.

Malang tenggara, akhir Maret 2016

Media Sosial Pecel Punten

Media Sosial Pecel Punten

Pagi sarapan pecel punten. Punten, di Jawa Barat merupakan ucapan sampurasun. Di Blitar merupakan nama semacam lontong atau ketupat. Gurih rasanya. Cara masak, beras direbus (di-karu) dengan santan dan garam. Baru dikukus. Setelah masak jadi nasi gurih atau nasi uduk. Lalu ditumbuk. Sampai lengket seperti lontong atau ketupat.

Yang jual, si ibu, ternyata bukan orang Blitar. Asli Dampit (Malang Selatan, ke timur, arah Lumajang, atau daerah selatan Semeru). Di Dampit, punten merupakan kue, yang dihidangkan begitu saja, tanpa pecel. Yang berasal dari Blitar ternyata si bapak.

pecel punten

Ndhak masalah. Yang penting tiap pagi saya, jika pengin, bisa sarapan nasi punten pecel atau pecel punten.

Si ibu, sudah usia 58 tahun. Si bapak 17 tahun lebih tua. Tanpa sadar, saya perhatikan, apa yang membuat pasangan itu tetap bersemangat setiap pagi, berjualan pecel punten, sepiring hanya 6.000,- perak, ditambah rempeyek dan goreng tempe goreng.

pecel punten 2

Sy (saya) : Berapa bu, harga ayam sekarang ? Katanya murah sekali.
Ib (si ibu penjual pecel punten) : udah naik, sekarang 28.000,- Turun kan beberapa hari yang lalu, sekitar 24.000,-

Sy : cepet banget naiknya.

Seorang ibu muda turun dari mobil mampir, beli pecel punten dan nasi jagung.

  • Sambil memilih lauknya, si ibu muda itu cerita. Ayah beliau, yang sudah uzur, jalan keluar rumah, kehujanan, lalu terperosok ke kubangan air, nyaris tenggelam. Untung ada tetangga yang lewat, menolong. Si ibu penjual, pun bertukar cerita, tetangganya hanyut terbawa banjir, tidak tertolong.

    Lalu kedua ibu (beda generasi) itu bertukar cerita lain tentang kerabatnya, tentang perkembangan harga pasar, tentang pak RT yang suka dimarahi tetangganya, karena menolong seorang janda. Si ibu penjual pun meracik pesanannya pelan-pelan, sambil menyahut cerita si ibu muda.

Cerita berlanjut dengan asyik, ndhak beda jauh dengan diskusi di media sosial. Sampai-sampai beberapa ibu lainnya, yang merapat ke warung itu, berdiri antri, diabaikan, harus sabar menunggu.

Jadi kalau di bilang perkembangan media sosial di Indonesia baru terbentuk setelah ada internet, adalah salah besar. Media sosial itu sudah ada sejak nenek moyang kita. Media sosial itu berbentuk tempat ketemu di warung makanan, warung bahan pangan, pasar kecil (pasar templek, menempel di tepi perumahan), atau kadang media sosial itu berupa pertemuan ibu rumah tangga dengan tetangganya, ketika mencegat penjual sayur atau penjual ayam potong keliling.

Dan yang aneh, ketika ibu muda pertama pergi, ibu berikutnya, yang menunggu sejak tadi sambil berdiri, ganti melempar issue, berita dan cerita lain. Kemudian disahut ibu muda yang lainnya lagi yang juga menunggu, lalu si ibu penjual pecel punten pun sambil meracik pecel punten, bertindak sebagai “moderator”.

🙂

Sy : bothok ontong satu (pepes bunga pisang dan tahu), kopi dua, tambah rempeyek (kasreng) empat, bu.
Ib : 13.000,-

Sy (bathin) : Alhamdulillah, masih terbeli.

Malang tenggara, medio Maret 2016.