menjaga pelanggan

menjaga pelanggan

(Suka duka penjual daging ayam)
Di suatu “medsos punten pecel” penjual daging ayam datang terlambat.

Ibu penjual : “Nasi jagungnya tinggal setengah porsi. Gimana kalau diganti punten ?”
Penjual Daging Ayam (PDA) : “ndhak pa pa. Nasi jagung saja. Saya kurang suka punten.”
“Ayamnya habis, ya ?” tanya saya.
“Tinggal sedikit”, kata PDA. “Saya harus segera pulang lalu motong ayam lagi. Nanti di pabrik Genitri, saya punya langganan. Daging ayam hanya syarat. Tapi yang penting jerohan rempela ati, saya bisa jual 100 potong. Pabriknya hanya kecil. Pegawainya paling 50 an. Tapi setiap jual rempela ati, pasti habis. Ini khan hari Sabtu, hari gajian par pegawai itu.”
punten
Penjual bakso (PB) yang juga sarapan punten pecel menyahut. “Wah, bagus tuh, kalau sudah punya pelanggan. Harus dijaga. Meleng sedikit, bisa pindah ke lain hati mereka.”
“Ya memang”, kata PDA. “Kalau harga daging ayam lagi tinggi, repot. Keuntungan tipis. Saya tak berani ambil untung banyak. Itu demi menjaga pelanggan.”

“Harga tinggi paling dua minggu”, kata PB.
“Sekarang ?” tanya saya.
“Sekarang, lumayan. Naik turun”. Kata PDA. “Paling rendah 25.000,- paling tinggi 34.000,- Oh, ya. Saya harus ke perumahan. Ada yang pesan 1 kilo daging dada ayam. Udah tadi. Hampir lupa.”

Dan kehidupan berjalan kembali seperti seharusnya.

Malang tenggara, akhir Maret 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s