Category Archives: perilaku

menjaga pelanggan

menjaga pelanggan

(Suka duka penjual daging ayam)
Di suatu “medsos punten pecel” penjual daging ayam datang terlambat.

Ibu penjual : “Nasi jagungnya tinggal setengah porsi. Gimana kalau diganti punten ?”
Penjual Daging Ayam (PDA) : “ndhak pa pa. Nasi jagung saja. Saya kurang suka punten.”
“Ayamnya habis, ya ?” tanya saya.
“Tinggal sedikit”, kata PDA. “Saya harus segera pulang lalu motong ayam lagi. Nanti di pabrik Genitri, saya punya langganan. Daging ayam hanya syarat. Tapi yang penting jerohan rempela ati, saya bisa jual 100 potong. Pabriknya hanya kecil. Pegawainya paling 50 an. Tapi setiap jual rempela ati, pasti habis. Ini khan hari Sabtu, hari gajian par pegawai itu.”
punten
Penjual bakso (PB) yang juga sarapan punten pecel menyahut. “Wah, bagus tuh, kalau sudah punya pelanggan. Harus dijaga. Meleng sedikit, bisa pindah ke lain hati mereka.”
“Ya memang”, kata PDA. “Kalau harga daging ayam lagi tinggi, repot. Keuntungan tipis. Saya tak berani ambil untung banyak. Itu demi menjaga pelanggan.”

“Harga tinggi paling dua minggu”, kata PB.
“Sekarang ?” tanya saya.
“Sekarang, lumayan. Naik turun”. Kata PDA. “Paling rendah 25.000,- paling tinggi 34.000,- Oh, ya. Saya harus ke perumahan. Ada yang pesan 1 kilo daging dada ayam. Udah tadi. Hampir lupa.”

Dan kehidupan berjalan kembali seperti seharusnya.

Malang tenggara, akhir Maret 2016

Advertisements

Media Sosial Pecel Punten

Media Sosial Pecel Punten

Pagi sarapan pecel punten. Punten, di Jawa Barat merupakan ucapan sampurasun. Di Blitar merupakan nama semacam lontong atau ketupat. Gurih rasanya. Cara masak, beras direbus (di-karu) dengan santan dan garam. Baru dikukus. Setelah masak jadi nasi gurih atau nasi uduk. Lalu ditumbuk. Sampai lengket seperti lontong atau ketupat.

Yang jual, si ibu, ternyata bukan orang Blitar. Asli Dampit (Malang Selatan, ke timur, arah Lumajang, atau daerah selatan Semeru). Di Dampit, punten merupakan kue, yang dihidangkan begitu saja, tanpa pecel. Yang berasal dari Blitar ternyata si bapak.

pecel punten

Ndhak masalah. Yang penting tiap pagi saya, jika pengin, bisa sarapan nasi punten pecel atau pecel punten.

Si ibu, sudah usia 58 tahun. Si bapak 17 tahun lebih tua. Tanpa sadar, saya perhatikan, apa yang membuat pasangan itu tetap bersemangat setiap pagi, berjualan pecel punten, sepiring hanya 6.000,- perak, ditambah rempeyek dan goreng tempe goreng.

pecel punten 2

Sy (saya) : Berapa bu, harga ayam sekarang ? Katanya murah sekali.
Ib (si ibu penjual pecel punten) : udah naik, sekarang 28.000,- Turun kan beberapa hari yang lalu, sekitar 24.000,-

Sy : cepet banget naiknya.

Seorang ibu muda turun dari mobil mampir, beli pecel punten dan nasi jagung.

  • Sambil memilih lauknya, si ibu muda itu cerita. Ayah beliau, yang sudah uzur, jalan keluar rumah, kehujanan, lalu terperosok ke kubangan air, nyaris tenggelam. Untung ada tetangga yang lewat, menolong. Si ibu penjual, pun bertukar cerita, tetangganya hanyut terbawa banjir, tidak tertolong.

    Lalu kedua ibu (beda generasi) itu bertukar cerita lain tentang kerabatnya, tentang perkembangan harga pasar, tentang pak RT yang suka dimarahi tetangganya, karena menolong seorang janda. Si ibu penjual pun meracik pesanannya pelan-pelan, sambil menyahut cerita si ibu muda.

Cerita berlanjut dengan asyik, ndhak beda jauh dengan diskusi di media sosial. Sampai-sampai beberapa ibu lainnya, yang merapat ke warung itu, berdiri antri, diabaikan, harus sabar menunggu.

Jadi kalau di bilang perkembangan media sosial di Indonesia baru terbentuk setelah ada internet, adalah salah besar. Media sosial itu sudah ada sejak nenek moyang kita. Media sosial itu berbentuk tempat ketemu di warung makanan, warung bahan pangan, pasar kecil (pasar templek, menempel di tepi perumahan), atau kadang media sosial itu berupa pertemuan ibu rumah tangga dengan tetangganya, ketika mencegat penjual sayur atau penjual ayam potong keliling.

Dan yang aneh, ketika ibu muda pertama pergi, ibu berikutnya, yang menunggu sejak tadi sambil berdiri, ganti melempar issue, berita dan cerita lain. Kemudian disahut ibu muda yang lainnya lagi yang juga menunggu, lalu si ibu penjual pecel punten pun sambil meracik pecel punten, bertindak sebagai “moderator”.

🙂

Sy : bothok ontong satu (pepes bunga pisang dan tahu), kopi dua, tambah rempeyek (kasreng) empat, bu.
Ib : 13.000,-

Sy (bathin) : Alhamdulillah, masih terbeli.

Malang tenggara, medio Maret 2016.

kartel pangan

Kartel Pangan
Jumat, 11 Maret 2016
DWI ANDREAS SANTOSA

Gejolak harga pangan merupakan hal rutin yang terjadi di Indonesia. Meski demikian, sejak awal 2015 hingga awal 2016 ini peningkatan harga pangan yang terjadi tergolong tinggi justru di tengah inflasi yang cukup rendah (3,35 persen) serta merosotnya harga-harga komoditas di dunia termasuk komoditas pangan.

Rata-rata harga beras medium nasional tercatat naik 13,2 persen atau hampir empat kali inflasi, telur ayam ras 9,5 persen, daging sapi 6,1 persen, dan ayam pedaging 3,0 persen. Rata-rata kenaikan harga pangan justru lebih tinggi dibandingkan tahun 2014 di mana inflasi tercatat sebesar 8,36 persen. Kenaikan harga pangan ternyata tidak diikuti oleh peningkatan kesejahteraan petani kecil.

Dalam enam bulan awal pemerintahan tercatat 570.000 petani jatuh miskin. Harga gabah di tingkat usaha tani di musim panen Februari-Maret 2015 di banyak tempat tercatat hanya Rp 3.100 hingga Rp 3.300, jauh lebih rendah dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen sebesar Rp 3.700 per kilogram. Kejadian tersebut berulang pada musim panen tahun ini. Meskipun panen baru sedikit dan sporadis di berbagai tempat, dari laporan jaringan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia di hari-hari ini harga gabah di tingkat petani sudah terjerembab ke angka Rp 2.900-Rp 3.700 per kg dengan rata-rata di sekitar Rp 3.400 per kg di banyak tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sangat ironis karena harga beras medium rata-rata nasional justru meningkat menjadi Rp 10.933 per kg (7/3) yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata Februari 2016 (Rp 10.801 per kg), Januari 2016 (Rp 10.799 per kg), dan Desember 2015 (Rp 10.744). Harga sempat tertekan sedikit ketika ada pengumuman seremonial panen raya (28/2), tetapi sehari setelahnya (29/2) harga sudah naik kembali bahkan melebihi sebelumnya. Pada tingkat harga beras tersebut seharusnya harga gabah di tingkat usaha tani masih berada di sekitar angka Rp 4.500 sampai Rp 5.000 per kg.

Gejolak harga tidak hanya terjadi di beras, tetapi juga jagung, daging sapi, daging ayam, dan telur. Untuk bawang merah dan cabai karena sifatnya yang musiman dan tidak tahan penyimpanan gejolak harga yang terjadi lebih dahsyat. Melihat kecenderungan seperti itu banyak pihak berkesimpulan bahwa mafia, spekulan, dan kartel pangan bermain di belakang layar.

Gerakan harga pangan berdasarkan berbagai literatur yang ada disebabkan beberapa faktor utama, yaitu (1) nisbah stok dibandingkan konsumsi pangan, (2) harga minyak bumi, (3) nilai tukar mata uang, (4) tingkat suku bunga, (5) iklim yang tidak menguntungkan, (6) kebijakan fiskal dan moneter, (7) peningkatan pendapatan dan populasi kelas menengah yang meningkatkan kebutuhan daging, (8) konversi pangan untuk energi (biofuel) di negara-negara maju, serta (9) spekulasi finansial di pasar komoditas.

Nisbah stok/konsumsi, harga minyak bumi serta nilai tukar mata uang merupakan penyebab utama yang membentuk harga pangan (Baffes dan Dennis, 2013). Nisbah stok/konsumsi dibentuk oleh tingkat produksi pangan, konversi komoditas pangan menjadi bahan bakar nabati, serta pendapatan masyarakat.

Permainan kartel
Di dalam terminologi pembentukan harga pangan dikenal istilah spekulasi finansial. M Lagi dan kawan-kawan (New England Complex System Institute, 2011) menyimpulkan bahwa spekulasi finansial merupakan penyebab utama krisis pangan dunia tahun 2007/2008 dan 2010/2012. Meski demikian, hal tersebut dibantah oleh Paul Krugman, pemenang Nobel Ekonomi, yang menyimpulkan bahwa spekulan pangan tidak memiliki pengaruh terhadap pembentukan harga karena investor dalam future market tidak memegang barang.

Spekulasi finansial berbeda dengan kartel. Kartel adalah struktur pasar yang terbentuk akibat perilaku oligopoli kolusif. Oligolopi kolusif adalah model pasar oligopolistik di mana beberapa pelaku usaha memproduksi produk atau jasa yang sama atau mirip dan melakukan monopoli di pasar.

Perjanjian dibuat di antara perusahaan-perusahaan oligopoli yang menguasai bagian terbesar pasar. Perjanjian dalam bentuk kerja sama dan aksi bersama tersebut kemudian memunculkan struktur pasar yang disebut sebagai kartel. Perjanjian kartel meliputi harga produksi yang sama dan bersifat monopolistik, kuantitas produksi, dan pembagian teritorial pasar (Severova dan Bendl, 2013).

Kartel cederung untuk menaikkan harga atau membatasi kuantitas produksi untuk memaksimalkan keuntungan. Dengan demikian, fenomena kartel pangan tampaknya sulit digunakan sebagai pisau analisis untuk membedah gejolak harga pangan di Indonesia, meskipun saat ini kartel yang terdiri atas 12 perusahaan sedang disidik intensif karena diduga melakukan pengaturan stok ayam (Kompas, 6/2).

Di komoditas beras, penggilingan padi merupakan rantai penting di dalam pembentukan harga beras. Jumlah total penggilingan padi sebanyak 182.184 yang sebagian besar merupakan penggilingan padi skala kecil dengan kapasitas kurang dari 3 ton per jam. Penggilingan besar berjumlah 2.075 perusahaan (Bulog, 2016). Dengan jumlah perusahaan yang sedemikian banyak, kemungkinan terbentuknya kartel di beras juga sulit terjadi.

Data produksi
Bila demikian apa yang menentukan harga pangan? Nisbah stok/konsumsi tampaknya merupakan faktor pembentuk harga yang dominan di pasar tidak hanya untuk beras, tetapi juga komoditas pangan lainnya. Nisbah stok/konsumsi terutama disusun oleh produksi pangan domestik dan impor.

Sangat disayangkan, bila pisau analisis tersebut digunakan untuk memahami pergerakan harga pangan di Indonesia, akan dihasilkan data yang ambigu. Berdasarkan angka sementara yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) produksi gabah kering giling mencapai 75,36 juta ton atau meningkat 6,37 persen. Setelah dikurangi dengan penggunaan gabah sebanyak 2 persen, dan kehilangan gabah sebanyak 5 persen, akan dihasilkan produksi neto setara beras sebesar 44,045 juta ton. Ditambah dengan impor sebesar 0,862 juta ton dan stok awal tahun sebesar 5,501 juta ton, maka total ketersediaan beras tahun 2015 sebanyak 50,408 juta ton.

Dengan menggunakan angka ketersediaan beras untuk konsumsi sebesar 124,89 kg/kapita/tahun (Kementerian Pertanian), penggunaan beras untuk keperluan lain sebanyak 0,9 persen dan kehilangan beras sebanyak 2,5 persen, maka akan menghasilkan surplus 16,8 juta ton beras pada 2015 yang menjadi stok awal 2016. Dengan penambahan stok yang luar biasa besar tersebut, maka dengan menggunakan formula nisbah stok/konsumsi harga beras awal 2016 akan turun sebesar 60 persen dibandingkan harga beras di awal 2015 atau hanya Rp 3.858 per kg beras medium.

Dengan menggunakan “teori kartel” sangat sulit dipahami di mana beras yang jumlahnya 16,8 juta ton tersebut berada. Apabila beras tersebut benar ada di tangan penggilingan ataupun pedagang, mereka akan mengalami kerugian sangat besar karena stok tersebut tidak akan pernah bisa dilepas ke pasar karena harga beras akan terjun bebas apalagi sebentar lagi panen raya. Di sisi lainnya, bila tren produksi masih berlanjut, maka dalam lima tahun Indonesia akan surplus beras sebesar 52 juta ton, jumlah yang sama sekali tidak masuk akal.

Dengan demikian, terdapat masalah besar terkait dengan data produksi pangan yang juga sering diulas di harian ini. Akibat kesalahan data tersebut, semua pisau analisis untuk memahami pergerakan harga pangan di Indonesia menjadi tumpul yang sekaligus mengacaukan tata kelola pangan di Indonesia. Perilaku kartel, bila itu terbukti, memang harus ditindak tegas karena merugikan baik produsen maupun konsumen dan mengacaukan sistem pangan di Indonesia.

Pemerintah saat ini dituntut fokus untuk melindungi produsen pangan terutama petani kecil melalui perlindungan harga di tingkat usaha tani. HPP gabah di tingkat usaha tani harus dinaikkan, karena HPP saat ini hanya meningkat 10-12 persen sejak 2012 sedangkan inflasi sudah meningkat 25 persen. Perlindungan harga di tingkat konsumen dapat dicapai melalui kebijakan stabilisasi harga yang bisa ditempuh melalui dua kebijakan utama, yaitu meningkatkan stok pangan pemerintah dan kebijakan perdagangan internasional yang berlandaskan data akurat.

Selain itu, upaya untuk membentuk saling percaya (trust) antarpelaku usaha swasta dan pemerintah yang saat ini berada pada titik nadir perlu dibangun kembali. Melalui berbagai upaya tersebut diharapkan gejolak pangan 2015 hanya menjadi sebuah kenangan dan pembelajaran penting untuk mengelola pangan di masa datang.

DWI ANDREAS SANTOSA, GURU BESAR FAKULTAS PERTANIAN IPB; KETUA UMUM ASOSIASI BANK BENIH DAN TEKNOLOGI TANI INDONESIA (AB2TI)

Haddeh.. Be’en… Kakkeh…

Judul dari Mas Heru :
Jam kerja pedagang kecil ikan di Malang Timur..

Sarapan pagi agak kesiangan. Maklum keasyikan browsing. Warung langganan sudah tutup. Saya lihat di dekat RS Bersalin, ada warung. Ternyata masakannya boleh juga. Lodeh, bergedel tahu sama tempe Malang. Ada seorang bapak muda, ternyata mengantar istrinya sedang periksa.

Penyakit saya kambuh. Si Bapak jadi obyek wawancara saya.

Sy : Aktivitas sehari-hari apa, pak ?
Bp: Jual ikan (air tawar). Gurameh 30.000 sekilo. Mujahir 22.000 sekilo. Nila 25.000. Saya ambil ikan dari pasar Gadang, saya bawa ke desa istri saya, daerah Poncokusumo (kecamatan di lereng barat Semeru).

Sy: Jam berapa ke pasar Gadang ? Sepertinya jam 3.00 atau 4.00.
Bp: Tidak. Saya berangkat jam 10.00 malam. Jam 1.00 atau 2.00 kembali ke rumah.

Sy : Aman di jalan, kalau malam ? Daerah yang dilewati khan masih sepi ?
Bp : Yah, saya lillahi ta’ala. Selama ini aman-aman saja.

Sy : Berapa modalnya setiap hari untuk beli ikan ?
Bp : Seribu sampai seribu limaratus (maksudnya satu juta sampai satu juta lima ratus). Saya dapat sekitar 40 kg ikan segar. Saya bonceng pakai sepeda motor.

Sy : Bapak asal dari daerah mana ?
Bp : Bantur… Gondanglegi (Malang selatan). Tapi saya asal Madura, Bangkalan.

Sy : Wah, saya orang Jawa Timur, kok ndhak bisa berbahasa Madura, yah ?
Bp : Haddeh, Be’en, Kakeh…..

Sy : Maksudnya ?
Bp : Itu artinya kamu.

Sy :… Ooooo… terimakasih.

Malang Tenggara, awal Maret 2016

proses bisnis di rumah sakit

proses bisnis di rumah sakit

Tematik pengetahuan : best-practices

Proses bisnis di suatu instansi, organisasi atau perusahaan merupakan gambaran dekomposisi tahapan aktivitas tertentu di instansi, organisasi atau perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, proses bisnis di instansi tumah sakit. Tergantung fokus dan kedalaman pengamatan yang dilakukan.

Proses bisnis pelayanan pasien sederhana
Jika fokusnya adalah proses bisnis pelayanan pasien, dan kedalaman pengamatannya sekilas saja, model proses bisnisnya sebagai berikut :

rs01

Proses aktivitas yang teramati, sekilas hanya tiga, yaitu pendaftaran, diagnosa oleh dokter kemudian proses tagihan.

Proses bisnis pelayanan pasien kompleks
Jika proses bisnis tersebut diamati lebih teliti, lebih dalam, model proses bisnisnya seperti di bawah ini :

rs03

Fokus pengamatan dapat dialihkan pada kegiatan yang lain, misal pada proses bisnis penyiapan ranjang pasien rumah sakit. Pada fokus kali ini, diasumsikan, gedung sudah siap.

Proses bisnis penyiapan ranjang pasien sederhana

rs03

Proses bisnis penyiapan ranjang pasien kompleks

Pada fokus yang sama, dengan kedalaman yang lebih teliti, model proses bisnisnya dapat menjadi seperti di bawah ini :

rs04

Bagaimana ? Mudah bukan dalam membuat proses bisnis ?

Malang tenggara, akhir februari 2016

merintis pasar digital bawang merah

Merintis ‘pasar digital’ untuk petani bawang di Brebes
Christine Franciska l @cfranciska, Wartawan BBC Indonesia
24 Februari 2016

Tiga anak muda berinisiatif memasarkan produk tani secara langsung melalui internet, memotong jalur distribusi yang rumit, dan menciptakan pasar yang adil bagi petani. Berhasilkah?

Musim panen datang di Desa Klampok, Brebes, Jawa Tengah dan ibu-ibu sibuk memilah bawang merah sejak pagi di atas terpal panjang di pinggir jalan, juga di depan rumah-rumah.

Syamsul Huda, 52, petani terakhir yang panen musim ini, tampak senang melihat bawang miliknya yang merah, segar, dan melimpah di teras rumah. Sayang, beberapa rekan Syamsul yang panen duluan tidak beruntung seperti dia.

Bawang, seperti komoditas tani lain, rentan terhadap perubahan cuaca yang mendadak. “Kalau panas ekstrem, (terus) tahu-tahu mendung hujan, daunnya pecah, tidak bisa berkembang. Kita beruntung panen, tetangga-tetangga pada rusak,” katanya.

Tetapi Syamsul tidak selalu beruntung. Dia pernah membuang 4,5 ton hasil panennya karena busuk. Dan, ketika harga yang ditawarkan tengkulak jatuh, Syamsul rugi besar.

“Pengalaman sudah sering. Harga bibit 22, dijual 7 ribu, 6 ribu, rugi 50%. Setahun biasanya harga dua kali naik turun,” katanya.

Jalur distribusi yang terlalu banyak, bahkan hingga 10 rantai, menjadikan petani sebagai pihak yang paling lemah dalam urusan harga. Padahal, untuk bawang misalnya, harga per kilogram di Jakarta bisa mencapai Rp30.000, tetapi harga di petani hanya dipatok sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000.

Bagi Syamsul dan petani-petani lain di Indonesia, ada dua hal yang tampaknya mereka harus pasrahkan kepada Tuhan, yaitu cuaca dan harga jual.

Pasar digital
Namun, sejumlah anak muda percaya mereka bisa menemukan solusi, paling tidak untuk masalah yang disebut paling akhir.

limakilo

Lisa Wulandari, 26, Arif Setiawan, 25, dan Walesa Danto, 26, merintis sebuah pasar digital sehingga konsumen bisa memesan langsung hasil tani melalui situs dan aplikasi yang mereka beri nama LimaKilo.

Lewat pasar dunia maya ini, mereka ingin memutus jalur distribusi yang rumit sehingga mereka bisa membeli hasil panen dengan harga lebih tinggi dari petani sekaligus menjualnya dengan harga yang lebih murah ke konsumen.

Ide ini pertama kali mereka tawarkan dalam kompetisi Hackathon Merdeka 1.0 pada Agustus 2015 lalu yang diselenggarakan oleh Code4Nation, sebuah inisiatif yang digagas untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam memecahkan masalah-masalah nasional.

Awalnya proyek ini dikerjakan sambil kerja, tetapi akhirnya Lisa dan Arif memutuskan berhenti dari pekerjaan mereka dan fokus menggarap bisnis ini.

“(Sejak dulu) ingin sekali buat perusahaan sendiri, dan kayaknya lagi dapat momentumnya. Soalnya sudah beberapa kali juga bikin bisnis tapi termasuk gagal,” kata Arif.

Tidak mudah
Konsep yang dicetus LimaKilo tampak sederhana, namun sulit menerapkannya. Salah satu tantangan utama adalah sulitnya menemukan petani mandiri yang bisa menerima konsep pemasaran baru dan juga beradaptasi dengan teknologi.
“Banyak petani yang belum mengerti soal internet dan tidak paham tentang ponsel pintar,” kata Lisa.

Karena itulah, pertemuan mereka dengan Syamsul menjadi berkah tersendiri. Walau Syamsul tak paham dunia maya, istrinya cukup paham dengan ponsel pintar dan internet, khususnya Facebook, sementara anak-anaknya (kebetulan sekali) sekolah di jurusan ilmu komputer.

“Kalau masalah aplikasi, memang kita yang mendukung istri sama anak. Kita hanya di belakang layar karena kita cuma seorang tenaga petani,” kata Syamsul.

Sejak bekerja sama, LimaKilo sudah menjual ratusan kilogram bawang merah dari Syamsul langsung ke konsumen di Jakarta dalam paket-paket kecil 2,5 kilogram, dan memutus sekitar lima atau enam rantai perdagangan.

Perlu terobosan
Kementerian Pertanian mengatakan saat ini memang diperlukan terobosan untuk memperpendek jalur distribusi dan menyelesaikan masalah disparitas harga.

“Data BPS menyebut Jawa Tengah punya rantai terpanjang, sampai 10 pelaku, terutama untuk beras dan bawang,” kata Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, Suwandi.

“Saya pikir upaya anak muda itu bagus dan harus didorong karena akan mendobrak kekakuan sistem pasar yang ada selama ini.”

Ini memang baru tahap awal, dan penjualan produk tani di situs LimaKilo.id dan aplikasi Android mereka juga masih sangat terbatas.

Pun, Lisa dan Arif mengatakan peran tengkulak dan pengumpul tidak akan bisa digantikan penuh oleh sistem penjualan langsung mereka karena target pasarnya yang berbeda.

Tetapi mereka optimistis bahwa setidaknya LimaKilo bisa membawa perubahan dengan memberdayakan petani, sekaligus mengembangkan bisnis e-commerce mereka.

“Banyak harapan di bisnis ini dan setelah kita jalankan ternyata sangat memungkinkan, dan bagi sejumlah investor, sangat menarik,” kata Lisa.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160222_getinspired_limakilo_trensosial?ocid=socialflow_twitter

aplikasi potong rantai pasokan pangan

Mendag Siapkan Aplikasi Digital untuk Potong Rantai Pasokan Pangan
Michael Agustinus – detikfinance
Selasa, 23/02/2016 21:15 WIB

Jakarta -Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong mengungkapkan saat ini pihaknya tengah menyiapkan aplikasi digital untuk memotong rantai pasokan pangan dari petani ke pembeli. Aplikasi ini sedang disiapkan dan akan mulai diuji coba dalam beberapa bulan ke depan.

Uji coba pertama untuk distribusi bawang merah.

“Kita sudah memulai kerjasama tapi masih persiapan, mungkin beberapa bulan lalu ada pilot, petani bawang menjual langsung ke pembelinya di Jakarta. Bawang merah dulu,” ujar Lembong saat ditemui di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (23/2/2016).

bawang

Aplikasi ini merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan para pemenang lomba aplikasi Hackathon. Melalui aplikasi digital, petani bisa memasukkan data hasil produksinya, waktu panen, dan harga yang diharapkan.

Situs aplikasi : limakilo

Pembeli juga bisa memasukkan jumlah pangan yang ingin dibeli dan harga yang diharapkan. Aplikasi akan mempertemukan petani dengan pembeli. Dengan aplikasi ini, jumlah panen dan harga pangan di seluruh Indonesia menjadi transparan, petani juga bisa langsung menjual ke pembeli tanpa melalui perantara.

“Aplikasi-aplikasi hasil perlombaan gamers yang menciptakan aplikasi untuk pangan, misalnya untuk petani bawang. Petani bisa mengunduh dan memasukkan input angka-angka produksi, timing panen, harga yang diharapkan. Pembeli juga bisa memasukkan berapa jumlah yang mau dibeli, harga yang diharapkan, sehingga tercipta transparansi harga,” papar Lembong.

Selain aplikasi untuk mempertemukan petani dengan pembeli, ada juga aplikasi untuk pemantauan harga pangan yang sedang disiapkan. “Kami sekarang bekerjasama dengan 5 pemenang perlombaan Hackathon, ada 1 yang fokusnya ke petani bawang merah dan pembeli. Ada juga yang untuk pemantauan harga pangan,” tuturnya.

Dengan aplikasi-aplikasi digital ini, sulit bagi para pedagang perantara untuk menekan dan memainkan harga pangan, semuanya menjadi transparan. “Harga-harga pangan yang diperoleh Kemendag dari berbagai daerah, kita mulai buka aplikasi itu sebagai data awal. Setelah itu akan ditambah data-data dari user,” ucap Lembong.

Perbedaan harga pangan yang mencolok di satu daerah dengan daerah lainnya juga akan semakin hilang karena semuanya menjadi transparan. “Itu bisa mengurangi disparitas harga antar daerah, bisa memperlancar perdagangan antar daerah karena dengan demikian semua harga terungkap,” pungkasnya.
(hns/hns)

http://finance.detik.com/read/2016/02/23/211554/3149444/4/mendag-siapkan-aplikasi-digital-untuk-potong-rantai-pasokan-pangan