Media Sosial Pecel Punten

Media Sosial Pecel Punten

Pagi sarapan pecel punten. Punten, di Jawa Barat merupakan ucapan sampurasun. Di Blitar merupakan nama semacam lontong atau ketupat. Gurih rasanya. Cara masak, beras direbus (di-karu) dengan santan dan garam. Baru dikukus. Setelah masak jadi nasi gurih atau nasi uduk. Lalu ditumbuk. Sampai lengket seperti lontong atau ketupat.

Yang jual, si ibu, ternyata bukan orang Blitar. Asli Dampit (Malang Selatan, ke timur, arah Lumajang, atau daerah selatan Semeru). Di Dampit, punten merupakan kue, yang dihidangkan begitu saja, tanpa pecel. Yang berasal dari Blitar ternyata si bapak.

pecel punten

Ndhak masalah. Yang penting tiap pagi saya, jika pengin, bisa sarapan nasi punten pecel atau pecel punten.

Si ibu, sudah usia 58 tahun. Si bapak 17 tahun lebih tua. Tanpa sadar, saya perhatikan, apa yang membuat pasangan itu tetap bersemangat setiap pagi, berjualan pecel punten, sepiring hanya 6.000,- perak, ditambah rempeyek dan goreng tempe goreng.

pecel punten 2

Sy (saya) : Berapa bu, harga ayam sekarang ? Katanya murah sekali.
Ib (si ibu penjual pecel punten) : udah naik, sekarang 28.000,- Turun kan beberapa hari yang lalu, sekitar 24.000,-

Sy : cepet banget naiknya.

Seorang ibu muda turun dari mobil mampir, beli pecel punten dan nasi jagung.

  • Sambil memilih lauknya, si ibu muda itu cerita. Ayah beliau, yang sudah uzur, jalan keluar rumah, kehujanan, lalu terperosok ke kubangan air, nyaris tenggelam. Untung ada tetangga yang lewat, menolong. Si ibu penjual, pun bertukar cerita, tetangganya hanyut terbawa banjir, tidak tertolong.

    Lalu kedua ibu (beda generasi) itu bertukar cerita lain tentang kerabatnya, tentang perkembangan harga pasar, tentang pak RT yang suka dimarahi tetangganya, karena menolong seorang janda. Si ibu penjual pun meracik pesanannya pelan-pelan, sambil menyahut cerita si ibu muda.

Cerita berlanjut dengan asyik, ndhak beda jauh dengan diskusi di media sosial. Sampai-sampai beberapa ibu lainnya, yang merapat ke warung itu, berdiri antri, diabaikan, harus sabar menunggu.

Jadi kalau di bilang perkembangan media sosial di Indonesia baru terbentuk setelah ada internet, adalah salah besar. Media sosial itu sudah ada sejak nenek moyang kita. Media sosial itu berbentuk tempat ketemu di warung makanan, warung bahan pangan, pasar kecil (pasar templek, menempel di tepi perumahan), atau kadang media sosial itu berupa pertemuan ibu rumah tangga dengan tetangganya, ketika mencegat penjual sayur atau penjual ayam potong keliling.

Dan yang aneh, ketika ibu muda pertama pergi, ibu berikutnya, yang menunggu sejak tadi sambil berdiri, ganti melempar issue, berita dan cerita lain. Kemudian disahut ibu muda yang lainnya lagi yang juga menunggu, lalu si ibu penjual pecel punten pun sambil meracik pecel punten, bertindak sebagai “moderator”.

🙂

Sy : bothok ontong satu (pepes bunga pisang dan tahu), kopi dua, tambah rempeyek (kasreng) empat, bu.
Ib : 13.000,-

Sy (bathin) : Alhamdulillah, masih terbeli.

Malang tenggara, medio Maret 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s