Tag Archives: pangan

menjaga pelanggan

menjaga pelanggan

(Suka duka penjual daging ayam)
Di suatu “medsos punten pecel” penjual daging ayam datang terlambat.

Ibu penjual : “Nasi jagungnya tinggal setengah porsi. Gimana kalau diganti punten ?”
Penjual Daging Ayam (PDA) : “ndhak pa pa. Nasi jagung saja. Saya kurang suka punten.”
“Ayamnya habis, ya ?” tanya saya.
“Tinggal sedikit”, kata PDA. “Saya harus segera pulang lalu motong ayam lagi. Nanti di pabrik Genitri, saya punya langganan. Daging ayam hanya syarat. Tapi yang penting jerohan rempela ati, saya bisa jual 100 potong. Pabriknya hanya kecil. Pegawainya paling 50 an. Tapi setiap jual rempela ati, pasti habis. Ini khan hari Sabtu, hari gajian par pegawai itu.”
punten
Penjual bakso (PB) yang juga sarapan punten pecel menyahut. “Wah, bagus tuh, kalau sudah punya pelanggan. Harus dijaga. Meleng sedikit, bisa pindah ke lain hati mereka.”
“Ya memang”, kata PDA. “Kalau harga daging ayam lagi tinggi, repot. Keuntungan tipis. Saya tak berani ambil untung banyak. Itu demi menjaga pelanggan.”

“Harga tinggi paling dua minggu”, kata PB.
“Sekarang ?” tanya saya.
“Sekarang, lumayan. Naik turun”. Kata PDA. “Paling rendah 25.000,- paling tinggi 34.000,- Oh, ya. Saya harus ke perumahan. Ada yang pesan 1 kilo daging dada ayam. Udah tadi. Hampir lupa.”

Dan kehidupan berjalan kembali seperti seharusnya.

Malang tenggara, akhir Maret 2016

Advertisements

Media Sosial Pecel Punten

Media Sosial Pecel Punten

Pagi sarapan pecel punten. Punten, di Jawa Barat merupakan ucapan sampurasun. Di Blitar merupakan nama semacam lontong atau ketupat. Gurih rasanya. Cara masak, beras direbus (di-karu) dengan santan dan garam. Baru dikukus. Setelah masak jadi nasi gurih atau nasi uduk. Lalu ditumbuk. Sampai lengket seperti lontong atau ketupat.

Yang jual, si ibu, ternyata bukan orang Blitar. Asli Dampit (Malang Selatan, ke timur, arah Lumajang, atau daerah selatan Semeru). Di Dampit, punten merupakan kue, yang dihidangkan begitu saja, tanpa pecel. Yang berasal dari Blitar ternyata si bapak.

pecel punten

Ndhak masalah. Yang penting tiap pagi saya, jika pengin, bisa sarapan nasi punten pecel atau pecel punten.

Si ibu, sudah usia 58 tahun. Si bapak 17 tahun lebih tua. Tanpa sadar, saya perhatikan, apa yang membuat pasangan itu tetap bersemangat setiap pagi, berjualan pecel punten, sepiring hanya 6.000,- perak, ditambah rempeyek dan goreng tempe goreng.

pecel punten 2

Sy (saya) : Berapa bu, harga ayam sekarang ? Katanya murah sekali.
Ib (si ibu penjual pecel punten) : udah naik, sekarang 28.000,- Turun kan beberapa hari yang lalu, sekitar 24.000,-

Sy : cepet banget naiknya.

Seorang ibu muda turun dari mobil mampir, beli pecel punten dan nasi jagung.

  • Sambil memilih lauknya, si ibu muda itu cerita. Ayah beliau, yang sudah uzur, jalan keluar rumah, kehujanan, lalu terperosok ke kubangan air, nyaris tenggelam. Untung ada tetangga yang lewat, menolong. Si ibu penjual, pun bertukar cerita, tetangganya hanyut terbawa banjir, tidak tertolong.

    Lalu kedua ibu (beda generasi) itu bertukar cerita lain tentang kerabatnya, tentang perkembangan harga pasar, tentang pak RT yang suka dimarahi tetangganya, karena menolong seorang janda. Si ibu penjual pun meracik pesanannya pelan-pelan, sambil menyahut cerita si ibu muda.

Cerita berlanjut dengan asyik, ndhak beda jauh dengan diskusi di media sosial. Sampai-sampai beberapa ibu lainnya, yang merapat ke warung itu, berdiri antri, diabaikan, harus sabar menunggu.

Jadi kalau di bilang perkembangan media sosial di Indonesia baru terbentuk setelah ada internet, adalah salah besar. Media sosial itu sudah ada sejak nenek moyang kita. Media sosial itu berbentuk tempat ketemu di warung makanan, warung bahan pangan, pasar kecil (pasar templek, menempel di tepi perumahan), atau kadang media sosial itu berupa pertemuan ibu rumah tangga dengan tetangganya, ketika mencegat penjual sayur atau penjual ayam potong keliling.

Dan yang aneh, ketika ibu muda pertama pergi, ibu berikutnya, yang menunggu sejak tadi sambil berdiri, ganti melempar issue, berita dan cerita lain. Kemudian disahut ibu muda yang lainnya lagi yang juga menunggu, lalu si ibu penjual pecel punten pun sambil meracik pecel punten, bertindak sebagai “moderator”.

🙂

Sy : bothok ontong satu (pepes bunga pisang dan tahu), kopi dua, tambah rempeyek (kasreng) empat, bu.
Ib : 13.000,-

Sy (bathin) : Alhamdulillah, masih terbeli.

Malang tenggara, medio Maret 2016.

Masril Koto

Banker Sukses yang Tak Lulus Sekolah Dasar
24 Nov 2010

Masril Koto, Founder Ratusan Lembaga Keuangan Petani di Sumbar

Petani di Agam, Sumatera Barat, kinipunya bank khusus. Mereka bisa meminjam modal untuk pengembangan usaha. Founder-nya, Masril Koto, merupakan petani sederhana yang bahkan tak lulus SD.

IGNA ARDIANI, Jakarta

SAAT diundang tampil dalam acara Kick Andy, 3 November, penampilan Masril Koto paling sederhana dibanding tamu-tamu Andy yang lain. Mengenakan T-shirt putih dibalut jaket hitam dengan celana kain hitam. Alas kakinya sepasang sandal hitam. Masril berperawakan kecil, berkulit sawo matang, berkumis lebat, bertampang lucu, dan murah senyum.

Gara-gara wajah dan senyum itu, penonton acara taping Kick Andy di studio Metro TV dibual ger-geran. Tawa khasnya sering muncul liba-tiba di tengah perbincangan dengan Andy. Si host pun kerap tak kuasa menahantawa. “Begini-begini, Anda ini banker ya?” ujar Andy F. Noya, host Kick Andy. Di kampung halamannya, layaknya kebanyakan warga Agam, Sumatera Barat, Masril Koto menyandang profesi sebagai petani dan peternak. Namun, sejak 2006, dia menyandang profesi tambahan, menjadi banker.

Sejatinya bukan banker atau orang yang bekerja di bank-bank. Tapi, pria yang tak sampai menamatkan bangku sekolah dasar itu merupakan salah seorang bidan terbentuknya Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani, sebuah lembaga keuangan tempat para petani bisa mendapatkan pinjaman untuk tambahan modal usaha. Namun, alih-alih Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani, Masril lebih suka menyebut lembaga itu sebagai bank petani. Lebih gampang. “Kalau bilang Lembaga Keuangan Mikip Agribisnis Prima Tani, bisa bingung dia (petani, Red) tuh,” katanya.

Banyaknya petani yang sulit mencari pinjaman modal menginspirasi Masril untuk membentuk lembaga keuangan para petani tersebut Dibanding pihak lain, petani merupakan sosok yang sering kurang mendapat kepercayaan dari bank untuk mendapatkan suntikan dana. Maklum, apa yang bisa diajukan petani sebagai agunan pinjaman? Karena itu, ketika peralatan bersawah rusak, para petani biasanya akan sibuk mencari pinjaman ke sana-kemari dan belum tentu bisa mendapatkan uang dengan cepat. “Itulah kesulitan riil yang dihadapi petani di lapangan,” ungkap pria 36 tahun tersebut.

Menurut dia, lembaga keuangan khusus petani perlu ada karena masalah petani lainnya seperti soal bibit atau pupuk akan bisa diselesaikan sendiri oleh petani. Kegelisahan itu, tampaknya, mendapat banyak respons dari rekan sesama petani. Pada 2002, Masri! dan teman-temannya sesama petani mulai
bergerilya membangun lembaga tersebut. Dalam bayangan Masni, mendirikan bank bakal tidak ribet. Tinggal cari orang yang mau memberikan pelatihan, merekrut anggota, jadilah bank.

Masril bertugas mencari info pelatihan tersebut. Ayah satu anak itu rajin mengumpulkan brosur dari tiap bank. “Saya masuki semua bank. Setiap saya menanyakan informasi mengenai pelatihan membuat bank, yang saya tanyai hanya tertawa,” ungkapnya. Empat tahun kemudian, pada 2006, usaha itu membuahkan hasil. Masril dan kawan-kawan kemudian bertemu Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA). Yayasan AFTA adalah lembaga yang turun ke kenagarian (desa) di Sumatera Barat (Sumbar) untuk memberikan penyuluhan pertanian.

Yayasan AFTA memfasilitasi dengan memberikan pelatihan keuangan. Yang diajarkan adalah akuntansi sederhana seperti mencatat uang yang masuk dankeluar. Seluruh anggota mendapat pelatihan itu, meski nanti yang menjadi petugas hanya beberapa orang. Sejak itu, LKMA resmi didirikan. Supaya seperti bank betulan, para anggota juga sepakat menerbitkan saham untuk modal pendirian lembaga keuangan tersebut.

Petani boleh membelinya.
Para anggota langsung bergerak cepat melakukan sosialisasi saham. Satu lembar saham dihargai Rp 100 ribu. “Jangan tanya, sangat banyak yang masih bingung soal saham. Masak kertas begini harganya seratus ribu,” ujarnya.

Sosialisasi dilakukan dalam rapat kelompok tani, masjid, sampai lampo (warung kopi, Red) yang memang banyak bertebaran di wilayah Agam. “Warung-warung kopi di daerah kami sering dijadikan tempat rapat. Orang-orang di DPR baru mulai rapat, di lampo kami sudah selesai bahas,” tegasnya. Setahun berdiri, banyak yang mulai merasakan manfaat bank petani tersebut. Yang utama adalah kemudahan mengakses modal. Petani yang membutuhkan dana bisa langsung meminjam. Termasuk untuk kebutuhan lain seperti biaya sekolah anak, biaya pernikahan, hingga membeli kendaraan.

Manfaat lain adalah mengatasi pengangguran anak-anak petani lulusan SMA. Di antara mereka banyak yang direkrut menjadi karyawan LKMA. Rata-rata tiap LKMA memiliki lima karyawan. Dengan lebih dari 200 LKMA di Sumbar, cukup lumayan tenaga kerja yang tertampung. Banyak juga karyawan yang bisa melanjutkan kuliah dengan meminjam uang dari LKMA dan membayar cicilan pinjaman dari gaji mereka. Di sisi pendidikan, para petani serta anggota menjadi tahu cara mengelola lembaga keuangan karena semua diikutkan training saat awal pembentukan. LKMAjuga menjadi sarana penyebaran informasi terkait pertanian dengan cara mengorganisasi petani guna mengikuti training pertanian.

Meski demikian, ada pula kendala yang harus dihadapi Masril. Terutama dalam membangun rasa percaya diri para petani. Awalnya, mereka merasa tidak mampu untuk membuat serta mengelola lembaga keuangan untuk diri sendiri. “Perlu beberapa kali pertemuan untuk memotivasi mereka.” Selain itu, ketika lembaga telah terbentuk dan berjalan dengan baik, kerap terjadi gesekan antar anggota. Ada yang ingin menjadi pengurus, pengelola, dan sebagainya. Hal tersebut diatasi dengan pengaturan yang tegas soal pengurus, pengelola, serta badan pengawas. ”

Pengurus adalah wakil pemilik saham, pengelola adalah anak-anak para petani. Sementara itu, badan pengawas diambilkan dari tokoh masyarakat setempat,” jelas Masril. Sebagai nasabah, petani juga tak selamanya tertib. Ada saja yang berulah nakal seperti menunggak bayar kredit. Mengingatkan mereka, kata Masril, tak gampang. Selalu ada saja alasan untuk berkelit. Tapi, dia tak kurang akal. Layaknya bank resmi, yang .berulah mendapat surat teguran. “Suratnya diketik seperti surat-surat dari bank. Karena harus hemat, surat teguran dibuat dari satu kertas folio dibagi empat,” ujarnya.

Langkah itu ampuh? Ternyata tidak selalu. Banyak yang masih membangkang. Bila sudah sampai tahap itu, Masril terpaksa menggunakan jurus andalan. Dia mencatat nama-nama nasabah bandel, lalu mengumumkannya melalui pengeras suara masjid. “Biasanya, kalau sudah diumumkan di masjid, malu dia,” tegasnya. Dengan keberhasilan tersebut, ide itu diadopsi Kementerian Pertanian (Kemen-tan) menjadi program nasional denganmencanangkan pembentukan 10 ribu lembaga keuangan pertanian di seluruh lndo-nesia.
“Saya yang bukan orang sekolahan diundang tim menteri pertanian untuk mendiskusikan hal itu di Jakarta dan Padang,” ungkap Masril mengenang.

Melalui program pengembangan usaha agrobisnis pedesaan (PUAP), akhirnya Kementan mengucurkan bantuan pembentukan LKMA melalui gabungan kelompok tani (gapoktan) sebesar Rp 100 juta per unit. Dana tersebut diambilkan dari program PMPN Mandiri di bidang pertanian. Masril saat ini sering tidak sempat mengurus kebun, sawah, dan ternaknya. Dia disibukkan oleh tugas sebagai motivator pembentukan dan pengelolaan bank-bank petani di berbagai daerah di Sumbar. Di Sumbar, berdiri 208 unit LKMA yang sampai sekarang berjalan dengan baik. Di luar itu, masih ada 50 unit LKMA yang didirikan dengan modal swadaya para petani. “LKMA terkecil saat ini beraset Rp 200 juta, sedangkan yang terbesar mencapai Rp 2 miliar,” kata
Masril.

Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Jawa Barat. Bengkulu, dan Bali bahkan mengundang Masril untuk berbagi cerita tentang pengelolaan LKMA. “Banyak juga undangan langsung dari petani,” ujarnya. Bank Indonesia Sumbar juga mengundang Masril untuk memberikan training kepada karyawan lembaga keuangan mikro (LKM) tentang pendekatan baru dalam melayani nasabah. Dia merasa bangga idenya berjalan baik dan dapat membantu para petani. Tapi, di benaknya masih banyak ide lain yang ingin
direalisasikan. Di antaranya, membuat asuransi dan dana pensiun untuk para petani. Masril juga ingin membuat skim khusus pembiayaan untuk pertanian organik. ()

http://bataviase.co.id/node/469282

Komentar:
1. Keren juga… Yang ngutang dan mau nilep, namanya diumumkan melalui
pengeras suara mesjid… he.. he.. kiat jitu. Dibanding dengan
menggunakan debt collector.

2. Anak-anak petani diberdayakan jadi pengelola bank.. He.. he.. kebayang
mirip bank-bank di koloni petani, jaman Laura Ingals.. Moga-moga
tetap berada pada jati dirinya, bank untuk petani.. Jangan sampai
bergeser makna, koloni petani lalu bergeser menjadi kolonialism. Wah..
jangan seperti itu.

3. Bank petani.. Wah, itu suatu institusi yang lahir berdasarkan kebutuhan.
Dalam hal ini petani, yang ter-marginal-kan oleh bank-bank yang eksis.
Moga-moga nggak bernafsu jadi bank besar, macam Bank Rakyat Indonesia,
yang pengin jadi bank perkotaan, dan agaknya mulai meninggalkan petani..

4. Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA). Wah…
COba kalau Alumni Perguruan Tinggi lain melakukan langkah serupa, sesuai
konteks kompetensinya.

5. Pemerintah dan Bank Indonesia mengapresiasi. Yah, memang seharusnya
seperti itu.

rame-rame panen padi organik

Padi organik merupakan salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan petani padi kepada pupuk kimia dan lebih hemat air. Produktivitasnya menarik. Tanah menjadi lebih sehat. Yang makan nasi dari berasnya juga akan lebih sehat. Harga jual berasnya juga kompetitif, tidak asal murah meriah…

Bupati Kudus Awali Panen Padi Organik
15 Juli 2008

Bupati Musthofa usai melakukan penen perdana menyampaikan apresiasi positif kepada para petani yang telah berhasil mengembangkan sektor pertanian dengan menanam padi.

Kepala Desa Unda’an Kiduf, Hadi Sucahyono menyatakan, dengan keberhasilan menanan, padi organik, ke depan pihaknya akan berupaya menjadikan Unda’an Kidul sebagai pusat pengembangan pertanian di Unda’an.

Harga beras organik menarik:

Dengan menanam padi organik hasilnya bisa dirasakan petani lebih menggembirakan. Selain anti berbagai macam penyakit, beras dari padi organik juga bernilai jual tinggi yaKni 8 ribu rupiah per kilogram.

Hambatan:

Hanya saja di akui hingga sejauh ini, untuk pengembangan ke arah itu masih menemui beberapa hambatan di antaranya masih minimnya keinginan petani untuk menanam padi oraganik. Karenanya itu di butuhkan peran penyuluh pertanian untuk memberikan penyadaran kepada para petani bahwa menanam padi organik lebih banyak manfaatnya. (purwati shn)

jawatengah

Pertamina CSR News
GM UP VI Panen Padi Organik

GM_UP_VI_Panen_Padi_Organik BALONGAN – GM UP VI Irianto Ginting pada 26 Maret 2008 melakukan panen padi organik jenis legowo 2 di areal perumahan Bumi Patra. Tanaman padi tersebut merupakan hasil dari pelatihan pola tanam terpadu bagi petani binaan UP VI yang tergabung dalam Kelompok Tani Patra Mekar.


Pola tanam ini dikembangkan UP VI bersama dengan Tim Peduli Ekonomi Indonesia (TPEI) serta didukung oleh PT Paskindo, PT Saputra, PT E-Farm dan Fumure. Irianto Ginting dalam kesempatan tersebut mengatakan, panen ini merupakan salah satu bukti bahwa UP VI peduli terhadap masyarakat sekitar wilayah operasinya, khususnya petani. Hal ini sesuai dengan pesan Bupati Indramayu untuk untuk selalu memerhatikan kepada masyarakat.

Sementara, ketua Kelompok Tani Patra Mekar Solihin mengucapkan terima kasih kepada UP VI yang telah mengimplementasikan program CSR-nya melalui program ini, sehingga dapat meringankan beban ekonomi masyarakat.

Saat ini, petani yang mengelola tanah penyangga di wilayah Perumahan Bumi Patra difasilitasi secara langsung berkoordinasi di bawah binaan PKBL UP VI. Saat ini mereka tengah mengembangkan tanaman padi non pestisida yang ramah lingkungan dengan harga bersaing. Untuk meningkatkan pengetahuan para petani penggarap, mereka telah diikutkan pelatihan agribisnis terpadu.

Melalui program ini, para petani sudah dapat merasakan hasilnya. Taraf hidup dan perekonomian mereka meningkat dan relatif lebih stabil. Mereka juga dapat menyejahterakan keluarga dan meningkatkan kualitas pendidikan anakanaknya. Di samping itu, mereka mengakui bahwa gagasan memajukan dan mengembangkan keahlian agribisnis petani lokal ini dirasakan telah tepat sasaran.•UP VI/RO

pertamina.com

Wapres akan Panen Padi Organik
31/03/2008 18:46

INILAH.COM, Yogyakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla akan melakukan panen raya padi organik di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (4/4).

Panen raya itu akan dilaksanakan di Bulak Serut, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Bulak Serut merupakan areal percontohan penanaman padi organik di Kabupaten Bantul.

Tingkat keberhasilannya sudah diakui dengan produktivitas padi dalam satu hektare mencapai 7,2 ton gabah kering pungut..

Karena itu, lanjut Edy, Bulak Serut yang kemudian dipilih dengan harapan bisa menjadi percontohan bagi pertanian padi lainnya. [R1]

wapres akan panen padi organik

MENYEIMBANGKAN EKOSISTEM DAN MERAIH UNTUNG

Cuaca cerah pagi itu. Matahari bersinar hangat, angin sepoi-sepoi, dan kicau burung mengiringi belasan petani yang sibuk memanen padi di lahan seluas 200 tumbak di Kampung Pintu, Desa Cijambe, Kec. Cijambe, Kab. Subang, awal Agustus lalu. Tangan-tangan dengan lincah memotong tanaman padi, mengumpulkannya, merontokkan biji-biji padi dengan alat perontok, dan menimbangnya. Ada yang lain dalam suasana panen pagi itu. Senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah para petani. Kebahagiaan itu disebabkan hasil panen yang melimpah kali itu.

“Hebat neng, dulu biasanya satu hektare hasil panen cuma 5,5 ton, sekarang bisa sampai 8,5 ton,” kata Endang Rahmat, pemilik sawah sekaligus Kepala Desa Cijambe.

Naiknya produktivitas padi di sawah Rahmat kali itu disebabkan sistem penanaman padi secara organik yang diterapkan sejak empat bulan yang lalu. “Tidak hanya itu, bobot bulir gabah organik juga lebih tinggi. Biasanya satu karung penuh gabah beratnya 50 kg, yang ini baru 3/4 karung beratnya sudah 50 kg,” ujar Mang Ara (58), seorang petani yang membantu panen.

Sistem bertanam padi secara organik yang diterapkan di Desa Cijambe itu adalah SRI (system of rice intensification), yang diperkenalkan satu komunitas yang menamakan diri Agribisnis Ganesha. Sama seperti sistem organik pada umumnya, SRI sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam perawatannya. Mulai dari pupuk hingga pestisida menggunakan bahan-bahan alami dan ramah lingkungan.

agribisnis-ganesha

ada apa dengan supertoy …

A. Di Balik Kasus Padi Super Toy
Oleh Suyamto : Senin, 15 September 2008 | 00:18 WIB

Belakangan ini kita disuguhi berita tentang pro dan kontra padi Super Toy. Di satu pihak, petani dirugikan karena tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Tetapi, kita perlu memberi penghargaan kepada petani/masyarakat yang kreatif mengutak-atik padi agar menjadi tanaman yang lebih baik.

Di balik itu semua, sebelum disebar ke masyarakat, ada tata cara dan aturan yang harus diikuti sebelum melepas varietas dan menyertifikasi benih.

Proses pembuatan

Varietas unggul adalah varietas tanaman yang resmi dilepas pemerintah (Menteri Pertanian). Varietas itu memiliki keunggulan dalam hasil atau sifat lainnya. Untuk dapat menghasilkan varietas unggul, dilakukan serangkaian penelitian dan pengujian.

Varietas unggul dapat dihasilkan melalui penyilangan antartetua terpilih sesuai target/sifat yang diinginkan. Cara ini umum dilakukan di balai-balai penelitian. Cara penyilangannya pun dilakukan melalui kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penyilangan disebut galur dan jumlahnya bisa ribuan. Galur-galur itu lalu diobservasi, diseleksi, diuji daya hasil pendahuluan, diuji daya hasil lanjutan/uji multilokasi. Akhirnya, beberapa galur harapan akan terpilih dan diusulkan menjadi calon varietas unggul.

Selain persilangan, pemuliaan tanaman dapat dilakukan dengan radiasi (seperti dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional/Batan), atau menggunakan bioteknologi modern (marka molekuler, transfer gen, dan lainnya). Hasil kegiatan ini juga masih berupa galur, kemudian mengikuti proses seperti diuraikan di awal. Dari situ akan terpilih beberapa galur harapan yang siap diusulkan menjadi varietas unggul.

Mengapa varietas unggul harus dilepas pemerintah?

Pelepasan varietas merupakan pengakuan pemerintah sekaligus jaminan bagi masyarakat pada suatu varietas baru hasil pemuliaan atau introduksi. Aturan pelepasan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan, dan Penarikan Varietas.

Dalam aturan itu dinyatakan, varietas akan dilepas bila memiliki keunggulan tertentu serta tidak merugikan masyarakat dan lingkungan. Permentan ini merupakan implementasi UU No 12/1992 tentang Budidaya Tanaman dan Peraturan Pemerintah No 44/1994 tentang Perbenihan Tanaman.

Calon varietas berupa galur/hibrida/mutan/transgenik/ varietas lokal yang diusulkan untuk dapat dilepas harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu stabil dalam karakter, seragam (homogen), serta memiliki keunggulan yang nyata dibanding dengan varietas unggul yang telah dilepas sebelumnya.

Calon varietas unggul harus diuji melalui serangkaian pengujian di laboratorium maupun lapangan. Pengujian lapangan dilakukan dalam satu atau dua musim, di beberapa lokasi pengembangan. Jumlah lokasi pengujian disesuaikan jenis tanamannya. Untuk padi, paling tidak 16 lokasi dalam dua musim tanam.

Untuk calon varietas transgenik, selain memenuhi ketentuan sesuai prosedur baku, juga harus memenuhi ketentuan keamanan pangan dan keamanan hayati. Agar dapat dilepas sebagai varietas unggul, varietas lokal harus memenuhi ketentuan, selain menjadi varietas yang sudah berkembang di masyarakat dan mempunyai keunggulan, juga telah dibudidayakan lebih dari lima tahun waktu panen.

Setelah melalui proses seleksi dan pengujian, calon varietas terpilih diajukan ke Badan Benih Nasional (BBN). Penilaian layak tidaknya calon varietas itu dilepas sebagai varietas unggul dilakukan Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V), tim ini di bawah BBN.

Apabila disetujui, Ketua BBN mengusulkan pelepasan varietas kepada Menteri Pertanian untuk dapat diterbitkan SK Pelepasan Varietas. Apabila telah dilepas, varietas siap dikomersiilkan dan dikembangkan kepada masyarakat.

Sertifikasi benih

Peredaran atau distribusi benih adalah rangkaian penyebaran benih di suatu wilayah di mana benih yang dapat diedarkan atau disalurkan kepada masyarakat adalah benih bina yang varietasnya telah dilepas oleh pemerintah dan wajib diberi label/besertifikat. Benih (contoh padi nonhibrida) dibagi beberapa kelas benih yakni benih penjenis (BS) dengan label kuning, benih dasar (BD) dengan label putih, benih pokok (BP) dengan label ungu dan benih sebar (BR) dengan label biru. Benih penjenis diproduksi oleh pemulia/lembaga yang memiliki varietas unggul, sementara BD, BP, dan BR diproduksi Balai Benih, BUMN, swasta, maupun penangkar benih. Kelas-kelas benih itu tidak berlaku untuk varietas hibrida.

Sertifikasi benih dilakukan untuk menjamin mutu benih yang beredar, sertifikat benih ini dikeluarkan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) yang ada di tiap provinsi dan/atau oleh produsen benih sendiri jika sudah menerapkan sistem manajemen mutu (SMM). Jadi, BPSB tidak akan memberikan sertifikat/label benih varietas-varietas yang belum dilepas.

Suyamto Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan; Ketua Tim Penilai dan Pelepas Varietas, Deptan


B. Hikmah di Balik Super Toy HL-2
Oleh Gatot Irianto : Senin, 15 September 2008 | 00:19 WIB

Hikmah apa yang berada di balik kontroversi dan polemik Super Toy HL-2? Paling tidak ada dua manfaat yang bisa dipetik. Pertama, masyarakat dididik bagaimana menghasilkan varietas unggul dengan risiko finansial dan sosial yang harus ditanggung inventor. Kedua, kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam merakit varietas baru dengan bahan induk (tetua) yang amat menakjubkan.

Masyarakat bisa mengetahui betapa panjang dan lama sebuah varietas padi unggul dihasilkan, termasuk biaya, tenaga, dan waktu. Sebagai gambaran, satu varietas baru dihasilkan dari screening terstruktur 40-50 galur (calon varietas) sehingga seorang pemulia padi (perakit varietas baru) harus menyiapkan kombinasi persilangan yang banyak untuk diuji di lapangan.

Diperlukan koleksi plasma nutfah (bank gen) yang memadai agar pemulia padi dapat mengintegrasikan sifat-sifat unggul untuk mengatasi berbagai masalah budidaya. Ketahanan terhadap cekaman lingkungan (kekeringan, kebanjiran), daya hasil yang tinggi, umur pendek, tahan hama dan penyakit utama (penggerek batang, wereng batang coklat), rasa pulen, kandungan vitamin tinggi, dan banyak lagi.

Menariknya, Super Toy HL-2 dihasilkan oleh seorang petani lulusan STM, padahal tugas itu biasanya dilakukan oleh pemulia (breeder) dengan pendidikan S-2 bahkan S-3.

Lokal genius varietas unggul

Penggunaan tetua tanaman padi lokal oleh Tauyung Supriyadi dalam pengembangan Super Toy HL-2 dimaksudkan agar kearifan lokal (local wisdom) yang ada pada varietas unggul lokal, seperti Rojolele, Pandan Wangi, dan varietas lain dapat diintegrasikan untuk menghasilkan galur unggul baru (calon varietas). Harapannya, integrasi beberapa kearifan lokal dapat menghasilkan genius lokal (local genius) sehingga spektrum adaptasi agroekosistemnya lebih luas.

Galur hasil silangan varietas Rojolele, Pandan Wangi, dan silangan lain kemudian diuji daya adaptasi dan daya hasilnya di lapangan sampai sifat unggul yang dihasilkan stabil kinerjanya. Berdasarkan pengalaman, diperlukan 4-6 tahun sebuah galur untuk mencapai stabilitas produktivitas dan daya adaptasinya. Untuk padi irigasi harus diuji di 12 lokasi berbeda agroekosistem.

Setelah stabil, lalu dilakukan uji multilokasi minimal di dua musim: musim hujan dan kemarau. Setelah mantap, pemulia bisa mengusulkan calon varietas dengan deskripsi tanamannya kepada Badan Benih Nasional (BBN) untuk dilepas.

Deskripsi, antara lain, memuat sifat unggul calon varietas baru, misalnya produktivitas, ketahanan terhadap hama dan penyakit, rasa, kandungan vitamin, ciri-ciri morfologi.

Selanjutnya BBN meminta Tim Pelepasan Varietas untuk menilai dokumen yang diusulkan pemilik calon varietas. Jika memenuhi syarat, seperti ditetapkan dalam pelepasan varietas, Kepala BBN membuat rekomendasi kepada Menteri Pertanian untuk dapat melepas varietas itu kepada masyarakat. Prosedur ini untuk melindungi petani dari pemalsuan sehingga benih yang ditanam benar-benar sesuai deskripsinya.

Pemuliaan partisipatif

Kemampuan masyarakat dalam menghasilkan varietas unggul baru harus diapresiasi karena merupakan kekayaan intelektual tidak ternilai. Kearifan lokal dan local genius ini merupakan benteng pertahanan kemandirian produksi benih dan pangan yang kini sedang digempur oleh perusahaan multinasional (MNC).
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian telah dan terus mendorong kearifan lokal dan genius lokal dalam program pemuliaan partisipatif (participatory breeding) baik untuk komoditas tanaman pangan, hortikultura, sayuran, buah-buahan, peternakan, dan perkebunan.

Selain dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak secara nasional, hal itu juga dapat meningkatkan mutu genetik komoditas pertanian. Melalui program pemuliaan partisipatif dengan melibatkan petani secara in situ, Indonesia secara build in melakukan natural protection atas serbuan benih dan bibit impor MNC, bahkan belakangan kian mencemaskan dominasinya.

Peningkatan ketergantungan atas benih produksi MNC akan memosisikan membawa Indonesia kian terjebak masalah pangan. Mengingat bidang garapan pemuliaan partisipatif amat luas, diperlukan sumber daya manusia, dana, dan waktu besar. Kita memerlukan banyak Tauyung agar sumber daya genetika nasional bisa dieksplorasi maksimal guna mencapai swasembada pangan bahkan ekspor pangan.

Satu hal yang belum dapat dilakukan pemerintah hingga kini adalah pemberian penghargaan terhadap pemulia. Ketimpangan ini pernah dikemukakan seorang profesor yang kebetulan pemulia dengan membandingkan penghargaan yang diterima atlet olahraga dengan gemerlap hadiah seusai tampil sebagai juara.

Sementara itu, seorang pemulia berjuang 7-8 tahun dan belum tentu menghasilkan varietas unggul baru. Kalaupun berhasil, begitu varietas unggul dilepas, peneliti tidak mendapat penghargaan selayaknya. Inilah gambaran nasib pemulia yang kurang beruntung di negeri agraris yang banyak menggunakan jasanya.

Gatot Irianto Kepala Badan Litbang Pertanian

industri dan jasa gagal

Perangkap Pangan
Industri dan Jasa Gagal Menopang Pertanian
Kamis, 4 September 2008 | 00:20 WIB

Jakarta, Kompas – Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan, bangsa Indonesia harus merumuskan kembali strategi pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan ekonomi ke depan harus berbasis pertanian dan pangan.

”Masih banyak peluang yang bisa dilakukan kalau kita mau maju. Selama ini konsep pembangunan ekonomi, khususnya sektor jasa dan industri, salah arah dan gagal menopang sektor pertanian untuk meningkatkan nilai tambah,” kata Bungaran, Rabu (3/9) di Bogor, Jawa Barat.

Selama ini semua solusi mengenai lapangan kerja dibebankan kepada pertanian. Peningkatan kesejahteraan masyarakat desa juga menjadi tanggung jawab sektor pertanian. Akibatnya, ruang gerak pertanian menjadi amat terbatas sebagai dampak dari beban yang begitu berat. Padahal, sektor pertanian baru akan tumbuh dengan baik dan cepat kalau ada dukungan yang memadai dari sektor industri dan jasa.

Menjauh dari pertanian

Namun, arah kebijakan pembangunan sektor industri dan jasa justru bukan untuk menopang sektor pertanian. Industri perbankan, misalnya, malah menjauh dari pertanian. Kredit pertanian sulit diakses oleh petani.

Sektor industri pengolahan juga tidak mampu menumbuhkan pabrik-pabrik besar yang bisa bersaing dengan perusahaan multinasional, yang bahan bakunya ditopang produk domestik. Namun, sebaliknya produk pangan negara maju dan negara tetangga menyerbu pasar Indonesia.

”Sektor pertanian tak seburuk yang dibayangkan,” kata Bungaran.

Data Departemen Pertanian menunjukkan, produksi komoditas pertanian utama, seperti padi, jagung, karet, kelapa sawit, dan jambu mete, terus meningkat sebesar 4,85 persen-14,45 persen. Ekspor komoditas pertanian, khususnya perkebunan, seperti produk kelapa sawit, karet, kakao, dan kopi, juga terus naik. Neraca ekspor-impor subsektor perkebunan tahun 2006, misalnya, naik menjadi 12,29 miliar dollar AS dibandingkan tahun 2003 yang hanya 7,78 miliar dollar AS. Tahun 2007 dan 2008 nilai ekspor subsektor perkebunan meningkat tajam karena kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO), karet, kakao, dan kopi di pasar dunia.

Guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, mengungkapkan, sudah saatnya pemerintah melakukan perombakan pembangunan ekonomi nasional dari yang sebelumnya mengorbankan sektor pertanian menjadi propertanian.

Dalam wawancara sebelumnya, Maksum mengungkapkan, industri hilir pertanian, seperti industri pengolahan produk pertanian, tidak tumbuh untuk meningkatkan daya saing pertanian. Ekspor komoditas pertanian hanya pada komoditas mentah, seperti karet, biji kopi, biji kakao, dan CPO.

Tidak ada langkah strategis dari pemerintah untuk menumbuhkan industri pengolahan produk pertanian yang bisa memberikan nilai tambah. Padahal, tumbuhnya industri pengolahan berbasis bahan baku domestik akan menyerap lebih banyak tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

”Pemerintah selalu terjebak dalam nafsu kebijakan jangka pendek yang kerap membuat harga pangan dan produk pertanian menjadi murah. Kebijakan fiskal dan moneter pun tidak prosektor pertanian,” katanya.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri MS Hidayat mengatakan, sejak Kadin Indonesia menyusun roadmap industri, orientasi strategi industri Indonesia memang didorong untuk segera diubah secara besar-besaran. Artinya, Indonesia tidak bisa lagi hanya berbangga pada besarnya nilai ekspor, melainkan perlu menggenjot perolehan nilai tambah setiap produk ekspornya.

Kebijakan strategis

”Untuk membangun processing plant sangat dibutuhkan modal. Di Malaysia, perencanaan pembangunan industri sangat didukung pemerintah melalui kebijakan strategis maupun permodalan,” kata Hidayat.

Menurut dia, perencanaan proses industri yang menghasilkan nilai tambah secara konkret perlu dilakukan, pertama-tama, dengan menyeleksi pemain-pemain di bidang industri. Pemain ini mesti mempunyai kemampuan dalam membangun industri manufaktur yang mengolah hasil pertanian, seperti kopi, kakao, dan karet.

Soal permodalannya, Hidayat mengatakan, pembangunan industri manufaktur membutuhkan dukungan konsorsium perbankan nasional. Atau, bisa juga dana itu disepakati pemerintah untuk kebutuhan jangka panjang ekspor produk Indonesia. Dia menyayangkan, selama ini nilai tambah produk Indonesia dinikmati negara lain, sedangkan Indonesia hanya sebatas meningkatkan nilai ekspor produk mentah.

Pemain global

Bungaran menambahkan, untuk komoditas perkebunan, Indonesia sudah menjadi pemain utama di pasar global. Saat ini Indonesia menjadi produsen utama minyak sawit dunia. Pasar minyak kedelai, jagung, dan biji bunga matahari semua dikalahkan oleh minyak sawit. Produksi CPO tahun 2007 bahkan mencapai 17,8 juta ton. Luas lahan sawit juga meningkat. Tahun 2000 seluas 2 juta hektar, 2004 sebesar 4 juta ha, dan sekarang mencapai 6 juta ha.

Produksi karet alam Indonesia nomor dua terbesar di dunia, begitu juga dengan kakao menjadi nomor tiga terbesar. Rempah-rempah Indonesia juga pemain utama, begitu pula dengan kopi robusta dan minyak asiri. Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, mengatakan, sampai saat ini perbankan masih menganggap pertanian sebagai sektor berisiko tinggi untuk dibiayai. Salah satunya karena harga yang tak stabil.

Pernah muncul wacana agar pemerintah mendirikan bank khusus pertanian sehingga pembiayaannya menjadi lebih fokus. Gubernur BI Boediono menyambut baik jika pemerintah mendirikan bank khusus pertanian. (MAS/OSA/FAJ)

sumber : Kompas cetak

tumbuhkan daya saing

Kompas: Selasa, 2 September 2008 | 00:39 WIB

Kekuatan terbatas
Guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, mengingatkan, kekuatan ekonomi bangsa Indonesia untuk menghadapi dampak ketergantungan pangan impor sangat terbatas. Maka, pembangunan perekonomian harus bisa menumbuhkan daya saing pangan domestik bukan sebaliknya, melumpuhkan.

”Selama ini pangan diposisikan sebagai komoditas ’pengendali’ inflasi serta ’penjamin’ upah minimum regional dan upah minimum kota yang rendah bagi industri. Dampaknya, harga pangan tertekan dan investasi lesu. Pertanian domestik pun kehilangan daya saing,” ujarnya.

Rendahnya daya saing pertanian domestik menahan laju perkembangan riset. Hal itu karena pertanian tidak menghasilkan nilai tambah. Apalagi, pemerintah juga mengabaikan investasi di bidang penelitian yang tentunya membutuhkan modal besar.

Akibatnya, bangsa makin kesulitan memenuhi peningkatan permintaan benih kualitas terbaik. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh perusahaan multinasional (MNCs).

Penumbuhan mitos TAK BERDAYA

ASEAN Business Manager DuPont Andy Gumala menyatakan, saat ini Indonesia tidak mungkin membangun industri perbenihan yang setara dengan MNCs, khususnya untuk benih nonpadi.

”Kalau industri benih padi masih mungkin karena di Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Padi Departemen Pertanian banyak tersimpan plasma nutfah atau tetua-tetua yang bisa dijadikan modal pengembangan benih padi hibrida,” katanya.

Untuk pengembangan benih hibrida, selain padi, rasanya sulit karena Indonesia sudah jauh tertinggal dalam riset dan pengumpulan tetua. MNCs sudah sejak awal tahun 1900-an mulai mengumpulkan tetua-tetua di seluruh dunia sebagai modal pengembangan bibit.

Menurut Direktur Penelitian dan Pengembangan PT SHS Niswar Syafa’at, solusi yang bisa dilakukan adalah menjalin kerja sama perakitan benih hibrida. Kerja sama dilakukan dalam bidang pemasaran, pertukaran plasma nutfah, dan pembagian royalti.

Mutu pengelolaan

Maksum lebih jauh menjelaskan, untuk komoditas pangan seharusnya ada pertimbangan keadilan dan kedaulatan diutamakan mengingat kekuatan ekonomi bangsa amat terbatas.

Paket kebijakan fiskal yang membebaskan bea masuk impor kedelai dan gandum serta menurunkan bea masuk beras 18,2 persen merupakan bentuk bunuh diri karena akan mengakibatkan matinya daya saing domestik.

Wahono Sumaryono, Deputi Bidang Agro Industri dan Bioteknologi BPPT, mengatakan, pengembangan pertanian, termasuk perbenihan, tetap mengacu pada Deptan sebagai national vocal point sesuai dengan mandat dari pemerintah. Lembaga lain pun mendukung. (HAR/NDY/YUN/MAS)

sumber:wapres.akui.riset.pertanian.masih.lemah