Category Archives: empowerment

proses bisnis laundry

Tiga mahasiswa berikutnya melakukan survey ke usaha kecil (UMKM) yang melakukan jasa laundry.

1. Tujuan :
Mengenal dan mempelajari home industry laundry, suatu jasa pelayanan perawatan pakaian untuk membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, anak kos ataupun anak pondok

2. Struktur Organisasi
Hasil survey tentang pembagian kerja digambarkan menjadi struktur organisasi sebagai berikut

struktur organisasi laundry

 

3. Proses Bisnis dan Arsitektur Sistem Informasi
Hasil analisis surveynya digambarkan menjadi proses bisnis dan arsitektur sistem informasi sebagai berikut :

proses bisnis dan arsitektur sistem informasi laundry

4. Uraian Proses Bisnis Utama

  • PENERIMAAN
    • Pelanggan datang ke ruko untuk memberikan pakaian kotor untuk dicuci menggunakan jasa laundry.
    • Kasir menerima pakaian kemudian di hitung jumlahnya serta ditimbang untuk menentukan harga. Kemudian kasir menulis nota rangkap dua. Nota yang satu untuk pelanggan satunya lagi untuk bagian sortir, dan pakaian diserahkan kepada bagian sortir.
  • SORTIR
    • Di bagian sortir pakaian dipilah menurut warna supaya tidak terjadi kerusakan warna, dan menghilangkan noda yang membandel dipakaian sebelum masuk mesin cuci.
  • PENGOLAHAN
    • Setelah itu pakaian diserahkan pada bagian penyuci, kemudian bagian penyuci bertanggung jawab mulai dari proses pencucian hingga pakaian kering.
    • Setelah pakaian kering lalu diserahkan pada bagian setrika untuk disetrika.
  • PACKAGING
    • Setelah pakaian rapi diserahkan pada bagian packaging untuk dikemas dan diberi pewangi, agar pakaian tetap rapi dan segar tidak apek.
  • DELIVERY
    • Setelah dikemas (packaging) pakaian diserahkan pada bagian distributor untuk diantar kepada pelanggan. Jika tidak memakai jasa delivery order distributor meletakkan pada lemari.

5. Proses bisnis dipetakan pada tiga tingkatan manajemen

Tiga tingkatan manajemen

6. Surveyor :

  • Muhammad Thoha
  • Hanin Fadilla
  • Isnaini Nur Fauziah

malang tenggara, akhir april 2017

pustaka :

https://witart.wordpress.com/2016/02/28/proses-bisnis-di-rumah-sakit/
https://witart.wordpress.com/2017/04/15/proses-bisnis-produksi-makanan-ringan/

Advertisements

proses bisnis produksi makanan ringan

Tiga mahasiswa melakukan survey ke usaha kecil (UMKM) yang memproduksi makanan ringan.

1. Tujuan : Mengenal dan mempelajari home industry stik kentang

2. Struktur Organisasi
Hasil survey tentang pembagian kerja digambarkan menjadi struktur organisasi sebagai berikut :

struktur organisasi

Bagian penggorengan bisa dikatakan sebagai bagian inti kelompok kerja pengolahan.

3. Proses Bisnis
Hasil analisis surveynya digambarkan menjadi proses bisnis sebagai berikut :

PB Produksi Makanan Ringan

4. Uraian Proses Bisnis Utama

    1. o. Penerimaan Pesanan
    1. o. Pengolahan
    1.        -. Pengadaan bahan mentah
    1.        -. Pengeringan bahan
    1.        -. Penggorengan
    1.        -. Pembumbuan
    1. o. Pengemasan / Pengepakan / Packaging
    1. o. Pemasaran

5. Surveyor :

    1. o. Dikri Erdin Ardiansyah
    1. o. Novia Nurafida
    1. o. Zhella Rizky Anggita

malang tenggara, medio april 2017

Pustaka :
https://witart.wordpress.com/2017/04/29/proses-bisnis-laundry/
https://witart.wordpress.com/2016/02/28/proses-bisnis-di-rumah-sakit/

 

membentuk usaha

Tematik pengetahuan : best-practices

Sebenarnya inti perusahaan adalah usaha. Itu di tengah kata per-usaha-an. Suatu usaha intinya mampu menukarkan manfaat dengan imbalan. Manfaat intinya memenuhi kebutuhan. Jika penukaran manfaat dengan imbalan mampu membentuk margin keuntungan, muncullah bibit perusahaan. Modal, mesin, sdm, akan datang sendiri.

Selama masih banyak manusia, mestinya akan menumbuhkan kebutuhan. Apakah kita mampu merelasikan antara kompetensi kita dengan kebutuhan itu dengan membentuk manfaat ? Mampukah membentuk kesinambungan pertukaran manfaat yang sesuai dengan imbalan ?

Lulusan perguruan tinggi seharusnya, kompetensinya akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Jadi, untuk melakukan usaha, tinggal sedikit lagi langkahnya. Jadi kenapa menganggur ? 🙂

Yah, ini hanya sekedar pemikiran. Besar kecil usaha yang berhasil dibentuk, lillahi ta’ala saja.

Semoga bermanfaat.

gunung buring, akhir oktober 2016

menjaga pelanggan

menjaga pelanggan

(Suka duka penjual daging ayam)
Di suatu “medsos punten pecel” penjual daging ayam datang terlambat.

Ibu penjual : “Nasi jagungnya tinggal setengah porsi. Gimana kalau diganti punten ?”
Penjual Daging Ayam (PDA) : “ndhak pa pa. Nasi jagung saja. Saya kurang suka punten.”
“Ayamnya habis, ya ?” tanya saya.
“Tinggal sedikit”, kata PDA. “Saya harus segera pulang lalu motong ayam lagi. Nanti di pabrik Genitri, saya punya langganan. Daging ayam hanya syarat. Tapi yang penting jerohan rempela ati, saya bisa jual 100 potong. Pabriknya hanya kecil. Pegawainya paling 50 an. Tapi setiap jual rempela ati, pasti habis. Ini khan hari Sabtu, hari gajian par pegawai itu.”
punten
Penjual bakso (PB) yang juga sarapan punten pecel menyahut. “Wah, bagus tuh, kalau sudah punya pelanggan. Harus dijaga. Meleng sedikit, bisa pindah ke lain hati mereka.”
“Ya memang”, kata PDA. “Kalau harga daging ayam lagi tinggi, repot. Keuntungan tipis. Saya tak berani ambil untung banyak. Itu demi menjaga pelanggan.”

“Harga tinggi paling dua minggu”, kata PB.
“Sekarang ?” tanya saya.
“Sekarang, lumayan. Naik turun”. Kata PDA. “Paling rendah 25.000,- paling tinggi 34.000,- Oh, ya. Saya harus ke perumahan. Ada yang pesan 1 kilo daging dada ayam. Udah tadi. Hampir lupa.”

Dan kehidupan berjalan kembali seperti seharusnya.

Malang tenggara, akhir Maret 2016

Nilai Bisnis Unggas Rp 450 Triliun

Nilai Bisnis Unggas Rp 450 Triliun
Menggiurkan untuk Kartel

JAKARTA, Baranews.co – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha M Syarkawi Rauf mengatakan, volume bisnis perunggasan dari hulu sampai hilir mencapai Rp 450 triliun per tahun. Nilai bisnis tersebut sangat menggiurkan bagi pelaku usaha untuk melakukan kartel dan monopoli.

Terbukti, kondisi bisnis perunggasan nasional dalam lima tahun terakhir sejak 2009 hingga sekarang berubah total proporsinya. Sebelum tahun 2009, usaha ternak ayam rakyat/mandiri porsinya 80 persen, sedangkan perusahaan atau integrator hanya 20 persen.

”Dalam waktu lima tahun, kondisinya berkebalikan. Peternak mandiri hanya mendapat porsi 20 persen dan 80 persennya integrator. Ini menunjukkan betapa hebatnya integrator terus menguasai produksi dan pasar,” ujar Syarkawi, Jumat (4/3), di Jakarta.

Kondisi yang sama berlaku bagi bisnis perunggasan terkait pembibitan atau produksi anak ayam (day old chicken/DOC) dan pakan. Berdasarkan data,dua perusahaan itu saja sudahmenguasai 80 persen.

Pertumbuhan dan penguasaan bisnis integrator sangat cepat, apalagi setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), yang memperbolehkan integrator masuk bisnis budidaya ayam yang sebelumnya dijalankan peternak mandiri. Selain itu, mereka juga bisa menjual ayam ke pasar tradisional yang sebelumnya diisi ayam dari peternak mandiri.

”Industri perunggasan nasional harus ditata, kalau perlu kembali ke aturan sebelum UU 18/2009,” kata Syarkawi.
Menurut Syarkawi, ada dasar instruksi Dirjen PKH Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melakukan kesepakatan pengaturan produksi bibit ayam. ”Tetapi, akan diperiksa nanti siapa yang berinisiatif melakukan pengurangan produksi,” katanya.

Fakta lain ditemukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bahwa dengan pengurangan produksi DOC, harga DOC di pasaran naik. Peternak mandiri kesulitan mendapat DOC. Kalaupun ada, kualitasnya rendah dan harganya mahal.
”Yang akan dibuktikan juga, ternyata setelah pemotongan produksi DOC, harga ayam juga jatuh. Lalu ke mana larinya DOC kalau akhirnya juga surplus produksi,” katanya.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Singgih Januratmoko mengatakan, ketika perunggasan masih bertumpu pada UU 6/1967, ada pembagian pasar dan usaha antara peternak mandiri dan integrator.
Integrator tidak masuk usaha budidaya. Pasar integrator diarahkan untuk ekspor, tidak masuk di dalam negeri, apalagi di pasar tradisional. Sebab, integrator mempunyai kemampuan, baik secara modal maupun teknologi untuk bersaing.

Menjalankan instruksi
Senior Vice President Head and Marketing Sales Feed Division PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Budiarto Soebijanto mengatakan, masalah utama yang terjadi sekarang adalah dampak dari pasokan ayam yang berlebih ke pasar. Kalau harga ayam terus rendah, peternak akan merugi sehingga apkir dini dilakukan.

Kesepakatan mengatur atau mengurangi pasokan DOC berawal dari jeritan peternak yang harga jual ayamnya terus-menerus rendah karena kelebihan pasokan DOC. Pemerintah melalui Kementan, dalam hal ini Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Muladno, menginstruksikan perusahaan bibit ayam melakukan pengurangan produksi.

Instruksi Dirjen PKH Kementan itu tertuang dalam surat tertanggal 15 Oktober 2015 tentang penyesuaian populasi induk ayam (parent stock/PS). Juga surat Dirjen PKH tanggal 23 November 2015 perihal apkir dini bibit ayam ras.
”Instruksi itu juga dengan dukungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman,” katanya.

Dalam rencana awal akan dilakukan apkir dini untuk 6 juta ekor PS dalam tiga tahap. Dengan apkir dini PS sebanyak 6 juta ekor, diharapkan kelebihan produksi DOC berkurang. Dengan demikian, pasokan ayam pedaging ke pasar akan berkurang.

Kebutuhan DOC per minggu dalam kondisi normal 45 juta ekor, adapun pada saat itu produksinya 65 juta ekor. Apkir dini PS pada tahap I sukses dengan 2 juta ekor PS dipotong. Berikutnya, tahap II apkir dini PS 2 juta ekor lagi, tetapi baru terlaksana 1 juta ekor karena KPPU menginstruksikan Dirjen PKH Kementan menghentikannya.

Menurut Budiarto, pelaku usaha tidak dalam posisi bisa memilih. Sebab, surat Dirjen PKH Kementan untuk melakukan apkir dini sifatnya segera dan harus dilakukan. Kalau apkir tidak dilakukan, perusahaan akan diberi sanksi sesuai poin ke-5 surat Dirjen PKH tertanggal 23 November 2015. ”Kami tak menjalankan instruksi salah, menjalankan instruksi dipersoalkan KPPU,” katanya.

Hal senada disampaikan Eko Parwanto, kuasa direksi PT Taat Indah Bersinar. Menurut Eko, kalau pengaturan produksi DOC memang tidak bisa dilakukan, hendaknya KPPU mengingatkan sejak awal. Jangan tiba-tiba menghentikan di jalan dan mempersoalkan apkir dini.

Segmen peternak rakyat
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina, Jumat, di Jakarta, mengatakan, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri telah mengeluarkan surat imbauan kepada 12 perusahaan besar yang bergerak di sektor peternakan ayam. Surat bernomor 213/PDN/SD/02/2016 itu telah diberikan kepada perusahaan-perusahaan itu pada 24 Februari 2016.

Dalam surat itu, pemerintah meminta perusahaan-perusahaan itu jangan mengambil segmen pasar peternak rakyat. Segmen pasar peternak rakyat sebesar 20 persen, tetapi belakangan ini segmen itu berkurang menjadi 10 persen. Kami meminta agar mereka mengambil segmen lain, seperti hotel, restoran, dan ritel di supermarket atau swalayan.

Pemerintah meminta perusahaan-perusahaan itu menjual DOC dengan harga wajar kepada peternak rakyat, dan jangan dikaitkan dengan pakan. Mereka juga diminta mengelola stok DOC dengan daya serap pasar masing-masing perusahaan.
Anjloknya harga daging ayam hingga Rp 9.000 per kilogram di kandang peternak sejak pertengahan Februari lalu di berbagai sentra produksi ayam pedaging di Indonesia merupakan yang terburuk sejak 10 tahun terakhir. Padahal, selama Januari 2016 harga ayam hidup di kandang peternak rakyat di atas Rp 25.000 per kg.

Di pasar-pasar tradisional, seperti di Kota Bandung, Serang (Banten), Blitar (Jawa Timur), dan Lampung, misalnya, harga daging ayam karkas (yang sudah dibersihkan) berkisar Rp 39.000-Rp 40.000 per kg.

Baik selama harga tinggi maupun selama empat pekan saat harga rendah, pemda dan kementerian terkait hanya bisa mengimbau. Pemerintah tidak memiliki kemampuan memberikan solusi yang tepat.

”Kami berharap KPPU bisa membantu mengatasi persoalan ini sebab usaha perunggasan ini sudah tidak sehat,” ujar Formatur Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia Waryo Sahru di Bandung, Jumat.

Seperti disampaikan dalam unjuk rasa para peternak rakyat di Jakarta, Selasa (1/3), masalah perunggasan ini telah berproses sejak Januari. Hal itu disebabkan kelebihan DOC dan kelebihan pasokan ayam pada saat panen. Akibatnya, harga ayam hidup anjlok hingga ke bawah harga pokok produksinya. (DMU/CHE/ETA/VIO/BAY/AIN/HEN/MAS)/KOMPAS cetak

Haddeh.. Be’en… Kakkeh…

Judul dari Mas Heru :
Jam kerja pedagang kecil ikan di Malang Timur..

Sarapan pagi agak kesiangan. Maklum keasyikan browsing. Warung langganan sudah tutup. Saya lihat di dekat RS Bersalin, ada warung. Ternyata masakannya boleh juga. Lodeh, bergedel tahu sama tempe Malang. Ada seorang bapak muda, ternyata mengantar istrinya sedang periksa.

Penyakit saya kambuh. Si Bapak jadi obyek wawancara saya.

Sy : Aktivitas sehari-hari apa, pak ?
Bp: Jual ikan (air tawar). Gurameh 30.000 sekilo. Mujahir 22.000 sekilo. Nila 25.000. Saya ambil ikan dari pasar Gadang, saya bawa ke desa istri saya, daerah Poncokusumo (kecamatan di lereng barat Semeru).

Sy: Jam berapa ke pasar Gadang ? Sepertinya jam 3.00 atau 4.00.
Bp: Tidak. Saya berangkat jam 10.00 malam. Jam 1.00 atau 2.00 kembali ke rumah.

Sy : Aman di jalan, kalau malam ? Daerah yang dilewati khan masih sepi ?
Bp : Yah, saya lillahi ta’ala. Selama ini aman-aman saja.

Sy : Berapa modalnya setiap hari untuk beli ikan ?
Bp : Seribu sampai seribu limaratus (maksudnya satu juta sampai satu juta lima ratus). Saya dapat sekitar 40 kg ikan segar. Saya bonceng pakai sepeda motor.

Sy : Bapak asal dari daerah mana ?
Bp : Bantur… Gondanglegi (Malang selatan). Tapi saya asal Madura, Bangkalan.

Sy : Wah, saya orang Jawa Timur, kok ndhak bisa berbahasa Madura, yah ?
Bp : Haddeh, Be’en, Kakeh…..

Sy : Maksudnya ?
Bp : Itu artinya kamu.

Sy :… Ooooo… terimakasih.

Malang Tenggara, awal Maret 2016

temuan hasil blusukan harga beras beda

Mentan Mengaku Dapat Temuan yang Berbeda dari BPS soal Harga Gabah
Kamis, 3 Maret 2016 | 11:23 WIB

harga beras
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukam kunjungan kerja ke desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Senin (29/02/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com – Dari kunjungan kerjanya di berbagai daerah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendapatkan temuan yang berbeda dari data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait harga gabah.

Melalui keterangan tertulisnya, Kamis (3/3/2016), Amran menyebutkan harga gabah di daerah-daerah tersebut lebih rendah dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Padahal, sebelumnya BPS telah merilis harga gabah sudah lebih tinggi dibandingkan HPP.

Di Sleman dan Sragen misalnya, harga gabah kering panen (GKP) pada saat dikunjungi sebesar Rp 3.400 per kilogram (Kg). Sedangkan harga GKP di Ngawi malah lebih rendah lagi, yaitu Rp 3.200 per Kg.

Sukiman, salah seorang petani Sragen mengeluh kepada Amran, jatuhnya harga GKP lantaran Bulog tidak menyerap produksi mereka.

Mendengar keluhan tersebut, Amran langsung meminta Bulog agar membeli segera gabah yang sedang dipanen petani.

“Saya minta bulog turun langsung beli gabah ke petani, saya minta diawasi oleh Dandim dan Aparat Kepolisian. Pemerintah harus hadir buat bela petani dan beri solusi,” kata Amran.

Sindir Mendag
Sementara itu, Amran menyampaikan, sejumlah petani di desa Ambarwangun, Kebumen, Jawa Tengah, mengecam keras Indonesia mengimpor beras.

Amran menyebut, salah seorang petani bernama Mujiono menghampirinya dan menyampaikan kondisi pertanian di daerah tersebut.

“Desa kami punya sawah yang melimpah, bapak bisa lihat sendiri makanya saya minta supaya pemerintah tidak impor beras,” kata Amran menirukan ucapan Mujiono.

Merespons pernyataan petani itu, Amran pun bertanya siapa yang berencana mengimpor beras. Amran bilang, Mujiono mengetahui rencana impor dari pemberitaan.

“Yang mengimpor pemerintah, Menteri Perdagangan RI, temennya bapak kan?” ucap Amran menirukan Mujiono.

Menanggapi hal tersebut, Amran pun berjanji akan mengendalikan impor beras. “Kalau bapak mendengar ada Rp 1.000 uang negara meleset, saya mundur jadi Menteri sebab swasembada ada di tangan mereka,” pungkas Amran.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/03/03/112326126/Mentan.Mengaku.Dapat.Temuan.yang.Berbeda.dari.BPS.soal.Harga.Gabah