merintis pasar digital bawang merah

Merintis ‘pasar digital’ untuk petani bawang di Brebes
Christine Franciska l @cfranciska, Wartawan BBC Indonesia
24 Februari 2016

Tiga anak muda berinisiatif memasarkan produk tani secara langsung melalui internet, memotong jalur distribusi yang rumit, dan menciptakan pasar yang adil bagi petani. Berhasilkah?

Musim panen datang di Desa Klampok, Brebes, Jawa Tengah dan ibu-ibu sibuk memilah bawang merah sejak pagi di atas terpal panjang di pinggir jalan, juga di depan rumah-rumah.

Syamsul Huda, 52, petani terakhir yang panen musim ini, tampak senang melihat bawang miliknya yang merah, segar, dan melimpah di teras rumah. Sayang, beberapa rekan Syamsul yang panen duluan tidak beruntung seperti dia.

Bawang, seperti komoditas tani lain, rentan terhadap perubahan cuaca yang mendadak. “Kalau panas ekstrem, (terus) tahu-tahu mendung hujan, daunnya pecah, tidak bisa berkembang. Kita beruntung panen, tetangga-tetangga pada rusak,” katanya.

Tetapi Syamsul tidak selalu beruntung. Dia pernah membuang 4,5 ton hasil panennya karena busuk. Dan, ketika harga yang ditawarkan tengkulak jatuh, Syamsul rugi besar.

“Pengalaman sudah sering. Harga bibit 22, dijual 7 ribu, 6 ribu, rugi 50%. Setahun biasanya harga dua kali naik turun,” katanya.

Jalur distribusi yang terlalu banyak, bahkan hingga 10 rantai, menjadikan petani sebagai pihak yang paling lemah dalam urusan harga. Padahal, untuk bawang misalnya, harga per kilogram di Jakarta bisa mencapai Rp30.000, tetapi harga di petani hanya dipatok sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000.

Bagi Syamsul dan petani-petani lain di Indonesia, ada dua hal yang tampaknya mereka harus pasrahkan kepada Tuhan, yaitu cuaca dan harga jual.

Pasar digital
Namun, sejumlah anak muda percaya mereka bisa menemukan solusi, paling tidak untuk masalah yang disebut paling akhir.

limakilo

Lisa Wulandari, 26, Arif Setiawan, 25, dan Walesa Danto, 26, merintis sebuah pasar digital sehingga konsumen bisa memesan langsung hasil tani melalui situs dan aplikasi yang mereka beri nama LimaKilo.

Lewat pasar dunia maya ini, mereka ingin memutus jalur distribusi yang rumit sehingga mereka bisa membeli hasil panen dengan harga lebih tinggi dari petani sekaligus menjualnya dengan harga yang lebih murah ke konsumen.

Ide ini pertama kali mereka tawarkan dalam kompetisi Hackathon Merdeka 1.0 pada Agustus 2015 lalu yang diselenggarakan oleh Code4Nation, sebuah inisiatif yang digagas untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam memecahkan masalah-masalah nasional.

Awalnya proyek ini dikerjakan sambil kerja, tetapi akhirnya Lisa dan Arif memutuskan berhenti dari pekerjaan mereka dan fokus menggarap bisnis ini.

“(Sejak dulu) ingin sekali buat perusahaan sendiri, dan kayaknya lagi dapat momentumnya. Soalnya sudah beberapa kali juga bikin bisnis tapi termasuk gagal,” kata Arif.

Tidak mudah
Konsep yang dicetus LimaKilo tampak sederhana, namun sulit menerapkannya. Salah satu tantangan utama adalah sulitnya menemukan petani mandiri yang bisa menerima konsep pemasaran baru dan juga beradaptasi dengan teknologi.
“Banyak petani yang belum mengerti soal internet dan tidak paham tentang ponsel pintar,” kata Lisa.

Karena itulah, pertemuan mereka dengan Syamsul menjadi berkah tersendiri. Walau Syamsul tak paham dunia maya, istrinya cukup paham dengan ponsel pintar dan internet, khususnya Facebook, sementara anak-anaknya (kebetulan sekali) sekolah di jurusan ilmu komputer.

“Kalau masalah aplikasi, memang kita yang mendukung istri sama anak. Kita hanya di belakang layar karena kita cuma seorang tenaga petani,” kata Syamsul.

Sejak bekerja sama, LimaKilo sudah menjual ratusan kilogram bawang merah dari Syamsul langsung ke konsumen di Jakarta dalam paket-paket kecil 2,5 kilogram, dan memutus sekitar lima atau enam rantai perdagangan.

Perlu terobosan
Kementerian Pertanian mengatakan saat ini memang diperlukan terobosan untuk memperpendek jalur distribusi dan menyelesaikan masalah disparitas harga.

“Data BPS menyebut Jawa Tengah punya rantai terpanjang, sampai 10 pelaku, terutama untuk beras dan bawang,” kata Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, Suwandi.

“Saya pikir upaya anak muda itu bagus dan harus didorong karena akan mendobrak kekakuan sistem pasar yang ada selama ini.”

Ini memang baru tahap awal, dan penjualan produk tani di situs LimaKilo.id dan aplikasi Android mereka juga masih sangat terbatas.

Pun, Lisa dan Arif mengatakan peran tengkulak dan pengumpul tidak akan bisa digantikan penuh oleh sistem penjualan langsung mereka karena target pasarnya yang berbeda.

Tetapi mereka optimistis bahwa setidaknya LimaKilo bisa membawa perubahan dengan memberdayakan petani, sekaligus mengembangkan bisnis e-commerce mereka.

“Banyak harapan di bisnis ini dan setelah kita jalankan ternyata sangat memungkinkan, dan bagi sejumlah investor, sangat menarik,” kata Lisa.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160222_getinspired_limakilo_trensosial?ocid=socialflow_twitter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s