daging ayam termahal di dunia

Harga Daging Ayam di Indonesia yang Termahal di Dunia
Cetak | 17 Februari 2016

Kasihan rakyat Indonesia. Berpuluh tahun mereka harus membeli daging ayam yang harganya tergolong paling tinggi di dunia. Bangsa Nusantara yang pendapatan per kapitanya sekitar Rp 36 juta harus mengeluarkan Rp 36.000-Rp 39.000 untuk memperoleh 1 kilogram daging ayam.

Padahal, di Malaysia yang pendapatan per kapitanya Rp 104 juta, membeli daging ayam hanya Rp 13.500 per kg dan rakyat Thailand bisa mendapatkan daging ayam Rp 14.000 per kg. Di republik ini tingginya harga daging ayam yang melebihi tingkat keekonomiannya itu terkait erat dengan tidak sehatnya tata niaga komoditas ini.
“Semua itu terjadi akibat tidak ada kendali terhadap praktik kartel industri perunggasan yang sudah berjalan puluhan tahun,” kata Ketua Umum Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia Ade M Zulkarnen.

Malah monopoli dan kartelisasi perunggasan “didukung” Undang-Undang No 18/2009 (jo UU No 41/2014) tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang membolehkan perusahaan integrasi. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mendeteksi sejumlah perusahaan yang diduga melakukan praktik kartel pengaturan stok ayam.

Praktik ini ditengarai sebagai penyebab meroketnya harga ayam. Saat bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memantau tingginya harga daging di pasar Cihaurgeulis, Bandung, akhir Januari, Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf membenarkan, mereka terindikasi melakukan kesepakatan untuk memusnahkan parent stock (PS/indukan).

Akhir tahun lalu, perusahaan unggas integrasi melakukan pemusnahan PS hingga 40 persen kebutuhan nasional. Dengan demikian, produksi anak ayam (DOC) turun dari 60 juta ekor menjadi 40 juta ekor per minggu. Dari jumlah itu, sebagian besar masuk ke kandang kelompok integrator beserta para mitranya.

“Harga DOC pun naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.500 per ekor sampai di kandang peternak mencapai harga Rp 6.000 per ekor,” kata Formatur Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) Waryo Sahru.

Hal ini terbukti dari hasil panen ayam, sebagian besar datang dari kandang perusahaan integrator. Hasil panen dari peternak rakyat yang jumlahnya puluhan juta orang sedikit sekali karena tidak mendapatkan DOC. Dampaknya harga ayam di kandang melonjak mencapai Rp 23.000 per kg hidup. Di pasar harga karkas ayam rata-rata Rp 40.000 per kg.

Monopoli
Perusahaan integrator mendapat dua keuntungan dengan pemusnahan ayam indukan. Pertama diperoleh dari selisih Rp 1.500 dari harga DOC Rp 4.000 menjadi Rp 5.500. Kedua dari keuntungan kandang budidayanya. Jika harga DOC Rp 5.500 dan harga pakan Rp 7.000 per kg, kandang tertutup usia 33 hari, panen berat 1,8 kg-2 kg per ekor, mortalitas 3 persen, maka break event point-nya Rp 15.000. Dengan harga jual Rp 21.000 kg hidup, untungnya Rp 11.000-Rp 12.000 per ekor.

Luar biasa besar karena total untungnya bisa menjadi Rp 12.500-Rp.13.500 per kg bergantung pada berat ayam dan fluktuasi harga. “Padahal, breeding farm nonintegrasi yang tidak punya budidaya hanya untung Rp 1.500. Ini jelas tidak sehat,” tutur Waryo Sahru.

Pada situasi DOC terbatas, integrator dapat melakukan monopoli dalam penjualan pakan. Sistemnya melalui sistem paket jual DOC harus mengambil pakan 2,5 kg-3 kg per ekor DOC. “Pola ini sudah melanggar dua poin, yaitu monopoli pasar pakan dengan merebut konsumen dari pakan tepung nonintegrator. Menekan paksa konsumen dengan membeli paket DOC bersama pakan,” ujar Sekjen PPUI Ashwin Pulungan.

Perusahaan-perusahaan itu tergabung dalam Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas dan Perusahaan Bibit, Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (GAPPI).

Penanaman Modal Asing (PMA) integrasi saja sudah menguasai hampir 80 persen pangsa pasar Nasional. Jika mereka melakukan kesepakatan menaikkan harga DOC atau pakan secara bersama-sama (kenaikan harga DOC dari Rp 4.000 ke Rp 5.500 per ekor dan kenaikan harga pakan Rp 250 dan Rp 200 per kg secara bersama-sama), praktik ini sudah dapat dikatakan monopoli dan kartel.

Perusahaan integrator melakukan kegiatan usaha importasi bahan baku pakan dan bibit, pabrikan pakan, pembibitan, dan pabrikan obat. Mereka juga masuk ke budidaya unggas, pengolahan rumah potong ayam (RPA), cold storage, fastfood, minimarket/gerai toko daging unggas, bahkan sampai perbankan. Produksi budidayanya 80-100 persen masuk pasar tradisional. Mereka bertarung keras dengan produk peternakan rakyat yang membeli sarana produksi dari integrator.

“Ini juga sebuah persaingan yang sangat tidak sehat,” ujar Aswhin.

Dumping
Karena sudah memonopoli produksi dan mendominasi pasar, harga ayam lebih banyak ditentukan para integrator sendiri. Di kala harga ayam turun jauh di bawah kalkulasi biaya produksi, terindikasi ada upaya dumping.
Praktik itu dengan mudah menghancurkan peternak rakyat, perunggasan PMDN, pembibitan dan pabrikan pakan nonintegrator. Pasalnya, produksi ayam ras ini 1,5 juta ton per tahun dengan nilai produksi dan perdagangannya Rp 70 triliun.

PPUI mengakui, masih ada peternak rakyat yang panen ketika harga ayam tinggi, tetapi jumlahnya sangat kecil. Oleh karena itu, dalam jangka panjang, praktik kartel dan monopoli ini akan mematikan semua peternakan rakyat. Dengan praktik itu, otomatis perusahaan ini pun tidak akan bisa tumbuh, bahkan ikut mati juga. Fakta-fakta persaingan tidak sehat itulah yang ditemukan KPPU.

“Semua pihak harus mendorong KPPU agar temuan adanya praktik monopoli dan kartel bisa terbukti dan ditindak sesuai hukum yang berlaku,” ujar Waryo.

Penegakan hukum terhadap praktik ini dimaksudkan untuk menumbuhkan keadilan dalam berusaha yang pada gilirannya bisa menyejahterakan rakyat. Seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, kebijakan pangan harus menyejahterakan masyarakat.

Arti menyejahterakan ini bukan hanya cukup, melainkan persediaannya terjamin dan harganya terjangkau. Kemudian memberikan kesempatan berusaha dan lapangan kerja yang seluas-luasnya bagi rakyat.
Kini bola liar yang terus menggelinding sejak puluhan tahun itu ada di tangan KPPU. Namun, untuk membuktikan semua itu, KPPU tidak bisa jalan sendiri. (DEDI MUHTADI)

http://finance.detik.com/…/kppu-sebut-2-perusahaan-besar-di…
Jakarta -Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut 2 perusahaan besar diduga terlibat kartel ayam. Menurut Ketua KPPU, Syarkawi Rauf, kartel ini telah membuat harga ayam di tingkat peternak jatuh.
“Mereka kuasai semua proses dari hulu hingga ke hilir. Nilai bisnis unggas Rp 400 triliun dari hulu sampai hilir. Ini namanya penguasaan pasar, duopoli oleh 2 perusahaan besar,” ujar Syarkawi usai acara diskusi di kantor INDEF, Jakarta Selatan, Senin (22/2/2016).
Sejumlah peternak terkena dampak dari praktik kartel tersebut, contohnya di Semarang dan Bandung. Syarkawi mengungkapkan di Semarang ada disparitas biaya produksi sebesar Rp 18.000/kg, sedangkan harga pokok di tingkat peternak hanya sekitar Rp 8.500/kg-Rp 10.000/kg.
Kondisi serupa juga dialami peternak ayam di Bandung.
“Yang paling terdampak adalah di Bandung dan Semarang karena pembentukan harga seperti itu,” ujar Syarkawi.
Dia menambahkan, saat ini KPPU sedang memeriksa 12 perusahaan yang diduga terlibat kartel ayam.
“12 perusahaan sudah kita perkarakan di KPPU. Kita juga investigasi dugaan pelanggaran lain, apakah ada praktik yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk mematikan peternak kecil,” kata Syarkawi.
(hns/feb)

http://print.kompas.com/baca/2016/02/17/Harga-Daging-Ayam-di-Indonesia-yang-Termahal-di-Du

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s