10 persen vs 100 persen

Mentan: Petani Saja Ambil Untung Hanya 10 Persen, Masa Pedagang Mau 100 Persen…

Rabu, 27 Januari 2016 | 12:34 WIB

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman saat melakukan Operasi Pasar di Pasar Induk Berllas dan Palawija Cipinang Rabu (6/1/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com – Kebijakan pemerintah khususnya dalam hal ini yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian dinilai sebagai sebuah lagu lama. Setidaknya itulah yang dirasakan petani sekaligus pedagang beras asal Sragen, Parmin Jafar, yang merasa apa yang disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berbeda jauh dengan fakta yang dialami di lapangan.

Dalam diskusi bertajuk “Beras dan Kedaulatan Pangan” digelar KAGAMA dan harian Kompas, Sabtu (23/5/2015).

Jafar mengatakan, selama ini permasalahan yang dihadapi oleh para petani masih sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya, di antaranya berkurangnya lahan pertanian, penyaluran pupuk yang tidak tepat waktu, hingga penyerapan oleh Bulog yang terkesan setengah hati, dan meleset dari masa panen raya.

Menurut dia, kondisi tersebut diperburuk dengan risiko tanaman saat ini yang mudah sekali terserang penyakit. Belum lagi faktor musim, yang memaksa para petani untuk merogoh ongkos produksi lebih dalam.

“Biayanya tinggi di musim kemarau, karena untuk memompa air. Per hektare antara Rp 10-Rp 12 juta,” kata Jafar.

Sementara itu, perbaikan penyaluran pupuk yang didengungkan Menteri Amran pun, tidak dilihatnya pada kondisi riil.

Petani terpaksa membeli pupuk dari toko-toko dengan harga hingga Rp 135.000, jauh lebih mahal dibandingkan pupuk subsidi, yang harganya hanya Rp 95.000.

“Waktu mau memupuk, tidak ada pupuk,” kata Jafar. Soal produktivitas, Jafar juga menyampaikan kondisi di lapangan rasanya mustahil dari yang disampaikan Menteri Amran.

Amran dalam berbagai kesempatan menyatakan, produktivitas gabah kering panen (GKP) bisa digenjot hingga mencapai 7 ton per hektare.

Di sawahnya, Sragen, rata-rata produktivitas hanya mencapai 6,4 hingga 7 ton per hektare, untuk gabah basah.

“Pak Menteri mungkin bisa bilang 1 ha 7 ton gabah kering, tetapi mungkin bukan di tempat saya. 7 ton per ha gabah basah itu sudah maksimal,” ucap Jafar.

Lebih lanjut dia bilang, untuk penyerapan dari Bulog, petani berharap gabah dan beras bisa diserap setara dengan penyerapan pasar, dan tidak hanya menjadi aktivitas “gotong royong”.

“Jadi, apa yang dikatakan Bapak Menteri, pembantunya Presiden itu cerita lagu lama. Halah wes ora kaget. Petani dibohongi Pak. Cangkemmu!” ujar Jafar.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : Desy Afrianti

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/01/27/123400026/Mentan.Petani.Saja.Ambil.Untung.Hanya.10.Persen.Pedagang.100.Persen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s