sachet kopi

Habis subuh di Sukolilo.
Matahari mulai mengintip.
Naik angkot, sampai ujung jalan.
Warung kopi jadi tujuan.

[Sy = saya. Iw : ibu pemilik warung.]
Masih setengah enam. Kehidupan serius, masih nanti jam 8.00. Toh, kadang instrukturnya juga telat.

Sy : Kopi satu, bu.
Iw : Kopi item atau kopi susu ?
Sy : Kopi item, bu.

Di jalan, mulai banyak angkot lewat. Ada yang kosong. Ada yang setengah kosong. Yang penuh, juga mulai lewat. Warung semi permanen di sisi lain cukup banyak berderet. Baru satu dua yang buka.

Ketika ibu warung menyerahkan segelas kecil kopi, saya bertanya.

Sy : Kok banyak warung di jalan ini ? Siapa yang beli ? Apa penduduk di sini suka ngopi atau jajan indomie ?
Iw : Di sini banyak mahasiswa, pak. Itu sebelah timur kampung ini banyak kampus. Mahasiswa banyak yang suka kost di kampung kami. Jalan ini jalan tembus dari terminal Keputih ke terminal lainnya.

Jalan Gebang Putih memang tergolong jalan kecil. Banyak rumah penduduk dalam suasana pedesaan. Walau sudah termasuk dalam kota Surabaya, namun sepertinya itu daerah pemekaran, dan berada di bagian timur selatan.

Kampung itu seperti terkepung gedung. Sebelah barat merupakan daerah kota Surabaya yang lebih ramai. Area sebelah timur banyak gedung-gedung bertingkat dari beberapa kampus terkenal, termasuk kampus pengembangan ITS, Unair dan beberapa perguruan tinggi swasta. Sementara di sebelah barat – utara, banyak rumah-rumah mewah di tepi jalan Kertajaya maupun Dharmahusada (timur).

Sekitar pukul enam lebih sedikit, datang seorang ibu membawa satu karung. Beliau menghampiri kabel listrik yang menggantung di atas pintu dan jendela. Dengan tertib, satu persatu isi karung dipasang di kabel listrik itu. Setelah menyapa ibu warung, dan salam tempel, ibu pembawa karung itu pergi.

Hemm.. hasilnya.. sekarang tersedia beberapa sachet kopi bergelantungan menghias dinding warung, termasuk menutup jendela.🙂

Sy : Apakah ibu tadi adik ibu atau saudara barangkali ?
Iw : Bukan. Beliau tetangga.
Sy : Kalau ibu menyediakan sachet sendiri, bukankah keuntungan ibu bisa lebih banyak ?

Ibu warung (Iw) tersenyum lembut.

Iw : Hidup itu harus berbagi. Keluarga kami dengan beberapa tetangga saling membantu. Kalau keluarga kami medit (pelit, seperti yahudi), nanti kalau mati ndhak ada yang bersedia mengubur.

Sy : …….mmm…
Iw : Dulu di kampung orang tua kami, ada orang yang kaya, tapi medit. Ketika mati, harus mengongkosi tukang pikul jenazah Rp 2.5 juta per orang.

Sy : ……zzzzz…
Iw : Ketika malam, keluarga kaya itu terpaksa membayar orang untuk menunggu makam, sampai 10 juta per orang, karena makamnya takut dibongkar orang…

Sy : …..oooo…

Kopi ini terasa nikmat. Gelas tambahan sudah mulai kosong. Jam dinding warung sudah menunjukkan saat pukul 7.35. Saya pamit, lalu mencegat angkot ke arah sebaliknya. Kehidupan serius akan segera dimulai, di gedung pelatihan, di dekat asrama tempat saya dan teman-teman menginap. Ada angin kearifan lokal yang berhembus membelai awal kewajiban saya, pagi itu.

Sukolilo, 12 September 2013
Ditulis ulang, 12 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s