mengkritisi e-voting

e-Voting Memang Canggih, Tapi…
Susetyo Dwi Prihadi – detikinet
Rabu, 07/11/2012 10:12 WIB

Amerika Serikat – Sebagai negara besar dan maju, proses pemilihan presiden di beberapa negara bagian Amerika Serikat sudah meninggalkan cara tradisional dan beralih menggunakan elektronik voting (e-voting). Memang cara ini praktis dan canggih, tetapi bukan berarti tanpa masalah.

e-Voting memang dibuat semudah mungkin agar warga AS antusias menggunakan hak suaranya. Selain di tempat pemungutan suara, mesin voting elektronik diletakkan di sejumlah tempat strategis.

Tak perlu kertas suara, alat pencoblos atau tinta jari. Cukup masukkan identitas, centang pilihannya dan hasilnya langsung terkirim semudah mengirim email.

Akan tetapi menurut Kepala Departemen Ilmu Komputer di Princenton Andrew Appel, voting elektronik sejatinya mempunyai satu masalah yang umum, yakni kerap dianggap tidak transparan.

Suatu kasus pernah terjadi, sebuah mesin e-voting di Pennsylvania, AS, menolak untuk menerima suara untuk kandidat incumbent Barack Obama. Dan kepercayaan dari beberapa pemilih di Ohio telah terkikis yang disebabkan potensi niat jahat di menit terakhir update perangkat lunak dari suara mesin di Negeri Paman Sam.


Pemilu AS (Reuters/Matt Sullivan)

Appel tidak sendirian. Banyak rekan-rekannya yang menggeluti bidang keamanan komputer telah menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk memastikan bahwa suara tidak ‘dirusak’ adalah tetap memilih menggunakan kertas suara, setelah itu baru direkam oleh komputer.

Dengan begitu, jika ada pertanyaan apakah mesin voting menjadi sasaran gangguan, atau bahkan bug pada software, selalu ada catatan fisik yang dapat diverifikasi oleh pengawas pesta demokrasi itu.

“Dalam kasus pemungutan suara elektronik, Anda memiliki pembalikan peran normal dimana orang-orang yang paling dekat dengan teknologi memperingatkan bahwa mungkin ada beberapa perangkap yang membuat Anda harus berhati-hati,” kata Matt Blaze, Direktur di University of Pennsylvania, seperti dilansir Qz, Rabu (7/11/2012).

Beberapa negara seperti Swiss, Spanyol, Brasil, Australia, dan India telah mengadopsi pemungutan suara elektronik. Di Kanada, misalnya, beberapa pihak berpendapat bahwa voting melalui internet akan meningkatkan partisipasi pemilih. Itu mungkin benar, tetapi kata Blaze, jenis suara masih mungkin pula terjadi kesalahan.

“Sayangnya kita tidak tahu bagaimana membangun sistem pemungutan suara elektronik yang cukup handal untuk mengetahui apa yang telah dilakukan dengan benar dan belum dirusak,” kata Blaze.

“Hal yang paling penting dalam pemilihan adalah bahwa kita memiliki keyakinan dalam hasilnya. Dimana kita telah menghitung suara dengan benar dan pemenang yang diumumkan adalah mereka yang benar-benar mendapat mayoritas suara,” tandasnya.

( tyo / ash )

sumber:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s