ekspresi desa

Pulang dari nengok temen dosen, yang besok rencananya menikah, kami berlima terjebak dalam mobil tua di kecamatan Tajinan, kabupaten Malang.

Motor saling berebut, saling menyilang. Truk ikut bikin kisruh. Kami merambat pelan maju, sambil menahan diri agar tidak stress.

Dari balik kaca mobil yang kami tumpangi, kami mengintip banyak anak-anak kecil, cantik-cantik, ganteng-ganteng, berseragam putih dan berkerudung putih hitam, bawa lampion indah yang berada di ujung bambu. Mereka peserta ke 67, dan berjalan dengan riang gembira membelah gelapnya malam.

Eh, di belakang mereka, peserta berikutnya ternyata ibu-ibu yang bersemangat, dengan seragam kotak-kotak, mirip punya Jokowi. Ibu-ibu itu juga ndhak mau kalah. Yang mereka bawa adalah trisula obor.

Hemm… stress kami mencair melihat semua itu. Rasanya, kami ini seperti ikan di dalam akuarium, sedang menikmati takbir yang digemakan oleh rakyat pedesaan dalam suasana riang. Di kiri kanan penduduk berdiri setia menyemangati para peserta. Ada juga satu dua anak muda yang pernah prakerin di tempat kami, menyapa kami.

Untung tadi sebelum berangkat, kami sudah shalat maghrib. Jadi, kami selama macet kami hanya khawatir, kalau-kalau kami tiba kembali ke kampus pada saat shalat ied keesokan harinya… he.. he..

Motor saling silang tiba-tiba tersingkap berkat peran petugas banser. Truk ikut merapikan posisi. Kami pun berhasil meninggalkan jebakan macet setelah berkutat lebih dari satu jam.

fuih… selamat merayakan ied dengan gembira, tenang dan damai… semoga semuanya memberikan berkah..

malang tenggara, oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s