Gesek Berarti Utang

Editor: Erlangga Djumena
Selasa, 5 April 2011 | 08:34 WIB

KOMPAS.com – Anda memiliki kartu kredit? Serasa memiliki tambahan penghasilan? Jika jawabannya adalah ya, Anda harus merekonstruksi kembali pemikiran Anda.

Kartu kredit adalah kartu untuk berutang. Setiap kali menggesek kartu kredit untuk membayar sesuatu, maka kita telah menambah utang. Prinsip utang harus dibayar. Jika tidak segera dibayar, akan ada penghitungan bunga yang ditanggung.

Coba perhatikan dengan saksama lembar penagihan kartu Anda. Pada bagian bawah tertulis suku bunga pembelanjaan dan suku bunga pengambilan tunai, yang besarannya berbeda. Biasanya, berkisar pada 3-4 persen. Bunga itu akan dikenakan apabila nasabah terlambat membayar tagihan atau membayar kurang dari total tagihan.

Pada sisi bagian atas lembar penagihan, tercantum total tagihan dan pembayaran minimum. Biasanya, pembayaran minimum besarnya 10 persen dari total tagihan.

Jangan sekali-kali terlambat membayar tagihan. Pasalnya, bunga yang dibebankan akan membuat utang membubung tinggi dan makin sulit dilunasi.

Sebagai ilustrasi, si A memiliki utang kartu kredit sebesar Rp 48 juta. Jika utang itu tak dibayar, tagihan pada bulan berikutnya menjadi Rp 49,68 juta. Rinciannya, utang awal Rp 48 juta ditambah bunga Rp 1,68 juta. Dengan asumsi, bunga yang dikenai 3,5 persen per bulan.

Pada bulan berikutnya, jika tak lagi dibayar, utang kembali bertambah menjadi Rp 51,418 juta. Jumlah itu terdiri dari utang pokok bulan kedua Rp 49,68 juta ditambah bunga Rp 1,738 juta.

Utang kartu kredit menjadi berlipat-lipat karena sistem bunga-berbunga. Utang pokok yang digunakan pada bulan berikutnya bukan utang pokok awal, melainkan pokok ditambah bunga.

Kemudahan gesek-menggesek kartu ini memang melenakan sebagian pemegang kartu kredit. Saat lembar tagihan datang, baru tersadar bahwa kemampuan finansialnya tak sanggup menutup lubang utang yang sudah dalam.

Padahal, jika sudah menunggak pembayaran kartu kredit, siap-siap berurusan dengan penerbit kartu. Lebih sial lagi, berurusan dengan penagih utang.

Sudah banyak keluhan masyarakat melalui berbagai media, mengungkapkan buruknya cara kerja penagih utang. Kata-kata kasar dan mengintimidasi. Tak hanya kepada si pengutang, bahkan hingga keluarga si pengutang.

Pekan lalu, ramai diberitakan soal tewasnya Irzen Octa, pasca-penyelesaian penagihan utang kartu kredit Citibank di Jakarta. Citibank menyatakan, perusahaan penagih yang bekerja sama dengan Citibank harus mematuhi kode etik dalam penagihan.

Seperti apa kode etik dalam penagihan dan penyelesaian utang? Bank Indonesia sebagai regulator menyatakan, penerbit harus bertanggung jawab. Pasalnya, BI tak membuat kode etik untuk itu. BI hanya mengingatkan, utamakan keamanan dan kenyamanan nasabah.

Bagi pengguna kartu kredit, ingat bahwa Anda menambah utang setiap kali menggesek kartu kredit. Usahakan melunasi selalu utang Anda sebelum jatuh tempo. Anda pasti tak mau berurusan dengan penagih utang, bukan? (Dewi Indriastuti)

Komentar:

Sebaiknya kita ukur konsumsi kita, apakah sebanding dengan pendapatan kita.

sumber artikel:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/04/05/08340529/Gesek.Berarti.Utang

link:
http://www.unpad.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s