Tiga Hari Mereka Tak Makan

Tiga Hari Mereka Tak Makan

KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM : Kamis, 7 Mei 2009 | 17:51 WIB

KOMPAS.com — TERIRIS rasanya hati ini mendengar cerita Bu Sukirman (40-an). Bersama suami dan dua anaknya, ia mengaku terpaksa jalan kaki selama lima hari dari Bandung ke kampung halamannya di Sindang Barang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Keluarga pemulung yang lama tinggal di Bandung itu ditemui dalam perjalanan di jalan lintas selatan ruas Sindang Barang-Agrabintana, Kamis (7/5) pagi.

Sekitar pukul 09.00, Tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa Harian Kompas 2009 mulai memasuki ruas jalan rusak yang sepi kendaraan dan tak ada angkutan umum. Di depan terlihat rombongan pejalan kaki terdiri satu lelaki dewasa dan dua perempuan plus dua anak-anak. Mereka kelihatan begitu letih. Sebentar-sebentar berhenti sambil menoleh ke belakang. Ketika tim makin dekat mereka sepertinya hendak melambaikan tangan tapi ragu.

Ketika akhirnya tim berhenti, mereka masih tetap ragu melihat di bak belakang mobil Mazda BT50 Turbo diesel double cabin yang kami gunakan sudah penuh barang. Meski begitu, mereka akhirnya mau juga naik ke mobil setelah kami tawari tumpangan.

Kepada kami, Ibu Sukirman mengaku mau mengantarkan keponakannya, sebut saja namanya Neneng (18), pulang ke rumah orangtuanya di Kampung Pasirpiah, Desa Karangjati, Kecamatan Sindang Barang. “Dia mah nangis-nangis terus. Sieun jeng carogena (takut sama suaminya),” katanya.

Lanjutnya, Neneng sebenarnya sudah menikah dan tinggal di ibukota Kecamatan Sindang Barang. Tapi sang suami ringan tangan dan suka mabuk serta judi. Karena itu Neneng kemudian pergi. Kebetulan di jalan Neneng bertemu dengan Sukarmin dan anak istrinya. Ia lalu minta diantar pulang ke rumah orangtuanya.

Lima hari jalan kaki

Sukirman sendiri bukanlah keluarga berada. Keluarga ini sehari-hari hidup sebagai pemulung di Kota Bandung.

“Sapoe hanya sapuluh rebu. Malah kadang salapan rebu (Sehari hanya Rp 10.000. Malah kadang Rp 9.000),” kata Ibu Sukirman yang kami beri kesempatan duduk di jok belakang bersama Neneng dan dua anaknya. Sedangkan seorang anggota tim terpaksa menemani Sukirman di bak belakang.

Karena merasa berat tinggal di Bandung, keluarga ini memutuskan pulang kampung meski belum jelas mau kerja apa dan tinggal di mana. Ada keinginan Sukirman kerja serabutan atau buruh tani apa saja di kampung.

Untuk bisa sampai Sindang Barang, mereka berjalan kaki selama lima hari. “Teuk gaduh ongkos naik elf (tidak punya ongkos naik elf),” kata ibu dua anak itu.

Ongkos angkutan umum mikro bus yang menggunakan Isuzu Elf dari Bandung sampai Cidaun sekali jalan Rp 20.000 per orang. Dari Cidaun masih harus sekali lagi naik angkutan yang jarang lewat.

Jangankan untuk ongkos, untuk makan pun mereka hanya mengandalkan belas kasihan orang. “Tilu poe iyeu encan tuang (tiga hari belum makan),” kata Ibu Sukirman.

Meski lapar, keluarga ini tak hendak mencuri. Ketika melihat uang receh terserak di jok mobil, mereka buru-buru minta kami menyingkirkannya. Begitu pun ketika kami tawari kue-kue bekal perjalanan, mereka tak segera mengambilnya, meski kami tahu kedua anak mereka Si Ujang dan Si Eneng sangat ingin menyantapnya.

Mereka akhirnya kami turunkan di pinggir jalan kampung terdekat dengan tambahan uang secukupnya, sementara kami melanjutkan perjalanan yang masih panjang menuju Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi. MSH,AHA

sumber kompasCekat : Tiga.Hari.Mereka.Tak.Makan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s