menggugat integritas

Menggugat Integritas Industri Keuangan Kita
Investasi : Selasa, 10 Februari 2009 | 01:46 WIB
Oleh Reinhard Nainggolan

Kasus penyelewengan dana nasabah di Bank Century dan Sarijaya Permana Sekuritas telah menimbulkan berbagai persoalan baru dalam kehidupan sehari-hari para korban. Lebih dari itu, masyarakat semakin gencar mempertanyakan integritas industri keuangan kita. Kepercayaan adalah sebuah taruhan teramat besar bila kedua kasus ini tak kunjung selesai.

“Masihkan kami dapat percaya pada lembaga keuangan di Indonesia? Kami sudah lelah, kami sedih, kami gelisah.”

Sepenggal surat elektronik itu dikirim oleh Hana, seorang nasabah Bank Century. Belakangan ini ia selalu cemas akan nasib ratusan juta rupiah uangnya di bank tersebut.

Bagi Hana, uang sebanyak itu cukup besar karena merupakan tabungan selama 10 tahun lebih dan rencananya akan digunakan membeli rumah. Namun, cita- citanya itu terpaksa batal karena sampai saat ini pengembalian dana ratusan nasabah Bank Century senilai Rp 1,45 triliun tidak jelas.

Jika Hana selalu cemas, maka Yulia, seorang korban lainnya, mengaku sejak dua bulan terakhir terjangkit insomnia. Hampir setiap malam nenek berusia 60 tahun itu tidak bisa tidur memikirkan bagaimana cara memberi tahu sang suami bahwa uang mereka di Bank Century sebesar Rp 1 miliar lebih telah digelapkan.

Di usia yang tidak lagi produktif, bunga dari uang hasil jerih payah selama 30 tahun itu merupakan satu-satunya sumber pembiayaan hidup mereka sehari-hari. ”Karena itu, saya tidak tega memberi tahu suami saya,” kata Yulia.

Belum lagi kasus Bank Century lekang dari pemberitaan media massa, masyarakat kembali dikejutkan kasus penggelapan dana nasabah di PT Sarijaya Permana Sekuritas senilai Rp 245 miliar. Kasus Sarijaya ini kembali memaksa mereka untuk mempertanyakan integritas industri keuangan negeri ini. Mereka tidak lagi mempersoalkan kerugian akibat anjloknya harga saham hingga 50 persen menyusul krisis keuangan global, melainkan kerugian akibat kejahatan yang timbul karena lemahnya pengawasan.

“Kejadian ini sudah pasti menurunkan kepercayaan saya untuk berinvestasi di pasar modal. Saya mungkin akan berinvestasi lagi kalau otoritas mampu membuktikan bahwa dana nasabah bisa kembali,” kata Nata Pringgasta, seorang nasabah Sarijaya.

Seakan lepas tangan

Sampai saat ini pemerintah belum pernah menjelaskan apakah dana nasabah Bank Century dan Sarijaya dapat kembali atau tidak. Pejabat Bank Indonesia serta Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) malah seakan lepas tangan dengan menyatakan masalah dana nasabah sedang ditangani kepolisian karena merupakan tindak pidana.

Bagaikan tidak bersalah ketika membujuk para nasabah untuk membeli produk fiktif, Bank Century juga menolak bertanggung jawab. Jajaran direksinya menilai reksa dana fiktif itu bukan produk Bank Century, melainkan produk pasar modal yang dikeluarkan Antaboga Deltasekuritas Indonesia.

Di pihak lain, Bapepam-LK membantah reksa dana itu sebagai produk pasar modal karena tidak pernah terdaftar. Bantahan itu cukup logis, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan, apakah pengawasan terhadap produk-produk investasi fiktif bukan merupakan tugas Bapepam-LK? Lantas bagaimana dengan Sarijaya yang resmi terdaftar?

Menanggapi pertanyaan itu, Bapepam-LK hanya menyatakan, masyarakat harus selalu hati-hati membeli produk investasi karena tidak dapat sepenuhnya diawasi. “Amerika yang sistem dan peraturannya sudah sedemikian maju saja bisa dibobol si Maddof,” kata Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany.

Ironis

Bagi para korban Bank Century dan Sarijaya, berbagai pernyataan otoritas keuangan di atas sungguh sebuah ironi. Di mata mereka, perbankan dan pasar modal merupakan institusi yang patut dipercaya karena selama ini otoritas selalu mengklaim telah melakukan pengawasan dengan ketat dan benar.

Seorang korban Bank Century di Makassar, Sulawesi Selatan, menceritakan, satu waktu ia membeli pasir sebanyak satu mobil pick up untuk keperluan renovasi pagar rumah. Keesokan harinya, petugas tata kota sudah tiba di depan mata sambil menanyakan surat izin mendirikan bangunan (IMB).

“Bagaimana pemerintah bisa tidak mengetahui kecurangan yang sudah berlangsung enam tahun. Baru satu hari tumpukan pasir di depan rumah, petugas IMB sudah datang,” kata Herman yang menanamkan Rp 3 miliar lebih dananya di Bank Century.

Kelalaian

Anggota Komisi XI DPR Drajad H Wibowo mengatakan, penyelewengan dana di Bank Century dan Sarijaya jelas karena kelalaian BI dan Bapepam-LK. “Kalau BI dan Bapepam menjalankan fungsi pengawasannya dengan baik, tentu produk fiktif yang beredar luas di masyarakat itu sudah diketahui sejak lama,” katanya.

Adapun bagi pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, berbagai pernyataan otoritas di atas hanyalah untuk mencari pembenaran, bahwa apa yang terjadi di Bank Century dan Sarijaya adalah hal yang biasa. Namun, pernyataan tersebut justru menunjukkan lemahnya pengawasan serta ketidakberdayaan oto- ritas mengantisipasi berbagai praktik kecurangan yang selama ini terjadi di industri keuangan kita.

Asuransi rekening efek

Bukti yang cukup sederhana adalah tidak ditegakkannya Peraturan Bapepam-LK Nomor VI.A.3 yang mewajibkan perusahaan sekuritas dan bank kustodian mengasuransikan rekening efek nasabah. Jika peraturan itu ditegakkan, nasabah Sarijaya tidak perlu khawatir terhadap pengembalian dananya karena dijamin asuransi. Sayangnya, sejak peraturan itu dikeluarkan tahun 2000, tidak satu pun rekening efek di Indonesia diasuransikan.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Saat ini, bagi nasabah Bank Century dan Sarijaya, yang penting bukanlah pembelaan- pembelaan diri otoritas, melainkan bukti bahwa dana mereka bisa kembali utuh.

Bukti itulah yang mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa dana yang ditempatkan di institusi keuangan resmi akan aman karena diawasi oleh otoritas yang profesional dan bertanggung jawab. Tanpa itu, masyarakat tidak akan pernah berhenti menggugat integritas industri keuangan negeri ini.

sumber:
kompasCetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s