mari berdiri di atas kaki sendiri

Link : pasar domestik

Seperti melihat, kuman jauh di seberang lautan yang nampak, namun gajah di pelupuk mata tak nampak.

Pengusaha kita kelihatannya rajin mengekspor. Kenapa ? Pertama, supaya mampu mengangkat marjin keuntungan. Dengan mengekspor barang ke Singapura, lalu mengimportnya kembali, harga jual produknya menjadi lebih tinggi, sementara ongkos produknya tetap murah meriah.

Kedua, sebagai follower Korsel dan Jepang, pengusaha kita bermimpi ikutan menjadi pengekspor, namun membiarkan pasar dalam negeri diobok-obok pemasar produk luar negeri. Kalau berhasil, dana hasil ekspor lalu diparkir di luar negeri.

Sementara itu, saat ini pasar ekspor sedang amburadul, karena krisis Wall-Street, Lehman dan Madoff. Dunia sedang tertatih-tatih untuk menata ulang ekonominya. Jadi kenapa masih juga menatap ekspor, sementara negeri pembeli hasil ekspor kita belum juga siap ?

Ketiga, jika menggarap pasar dalam negeri, pengusaha cenderung menggunakan fasilitas fabrikasi dari luar, atau mengimport barang dari luar lalu diberi label made Indonesia. Mungkin ini cara mereka dalam menghadapi ekonomi biaya tinggi yang masih juga dipelihara oleh para pejabat, anggota DPR, maupun birokrat Indonesia.

Mari Berdiri di Atas Kaki Sendiri!
Kelapa Sawit : Selasa, 30 Desember 2008 | 01:23 WIB

Suplai minyak kelapa sawit mentah yang berlimpah kini seperti menjadi persoalan bagi Indonesia. Sedikitnya ada 2 juta keluarga petani dan 5 juta keluarga pekerja yang menggantungkan hidup dari kelapa sawit. Faktanya, negara pun mendapat keuntungan banyak dari pungutan ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil/CPO. Namun, longsornya harga CPO sampai 60 persen dalam kurun lima bulan sejak akhir Juni sungguh menyesakkan. Sudah saatnya kita masuk ke era agroindustri berorientasi produk hilir bernilai tambah tinggi. Jangan lagi mabuk dengan bonanza harga komoditas yang memicu kita mengekspor barang mentah atau setengah jadi karena harga mahal.

Setelah sempat menyentuh level 1.300 dollar AS per ton selama hampir sepekan pada Maret lalu, harga minyak kelapa sawit mentah terus turun. Suplai yang berlebih dan melemahnya permintaan akibat krisis memicu harga anjlok sampai 420-an dollar AS per ton. Stok minyak kelapa sawit mentah kita mencapai angka tertinggi selama dua dekade, hampir 3 juta ton per bulan.

Kelimpungan

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani pun anjlok, dari Rp 1.800 per kilogram (kg) menjadi Rp 250 per kg. Petani kelapa sawit dan produsen CPO nasional kelimpungan. Jika mereka berhenti berproduksi, pohon kelapa sawit yang tak dipanen akan rusak dan biaya menghidupkan kembali pabrik juga mahal. Di sisi lain, tangki-tangki penampung CPO sudah penuh karena hasil produksi sebelumnya tak kunjung diserap pasar.

Pasar ekspor tradisional Indonesia di Eropa dan Amerika Serikat lesu. Selain tertekan isu lingkungan, krisis di kedua kawasan dengan pendapatan per kapita tinggi itu telah melemahkan permintaan CPO. Tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga Malaysia—produsen CPO terbesar kedua dan eksportir utama dunia.

Dalam Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2008 yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Nusa Dua, Bali, awal Desember, ramai analis minyak nabati dan pelaku industri CPO meramalkan kondisi pasar masih lesu sampai tahun 2008 berakhir. Harapan masih tetap ada tahun 2009. Namun, masa-masa lonjakan harga CPO yang luar biasa jangan harap terulang kembali.

Apa yang terjadi sekarang pasti memengaruhi devisa dari ekspor CPO semester II-2008. Melemahnya permintaan dan harga CPO diperkirakan bakal membuat nilai ekspor tak jauh bergerak dari 2007, sebesar 9,6 miliar dollar AS. Kondisi ini semestinya tak terjadi jika pasar lokal lebih siap menyerap produksi domestik.

Bayangkan, dari 17,2 juta ton CPO tahun 2007 dan diprediksi menjadi 18,8 juta ton tahun 2008, pasar domestik hanya menyerap 4,5 juta ton sampai 5 juta ton CPO per tahun. Itu pun sebagian besar untuk minyak goreng yang kebutuhannya di Pulau Jawa mencapai 250.000 ton per bulan, bukan untuk bahan baku industri hilir.

Tak banyak berubah

Kalau mau jujur, perkembangan agroindustri kita tak banyak berubah dibandingkan tahun 1950-an, saat sejumlah perkebunan kelapa sawit dan karet milik asing dinasionalisasi Presiden Soekarno. Paradigma pembangunan agroindustri nasional sampai sekarang masih saja berorientasi perluasan lahan untuk meningkatkan volume produksi dan ekspor. Padahal, sudah semestinya Indonesia lebih fokus menyiapkan rencana jangka panjang pengembangan agroindustri terintegrasi, mulai dari hulu sampai pasar domestik.

Rencana strategis pengembangan industri hilir CPO yang diminta Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla seusai rapat kabinet di Departemen Perindustrian awal 2007, sampai sekarang masih samar-samar. Satu-satunya langkah konkret pemerintah dalam mendukung industri hilir adalah keputusan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mewajibkan industri, transportasi umum, dan pembangkit listrik memakai bahan bakar fosil yang dicampur biodiesel atau etanol.

Kebijakan ini mulai diuji coba sejak 1 Oktober 2008 dan akan berlaku efektif per 1 Januari 2009. Tahap pertama, kandungan biodiesel dan etanol dalam bahan bakar fosil ditetapkan sebesar 5 persen dan secara bertahap akan terus ditingkatkan. Implementasi kebijakan secara konsisten bisa menyerap CPO sedikitnya 600.000 ton per tahun dan bakal terus meningkat seiring kenaikan persentase kandungan bahan bakar nabati dalam bahan bakar fosil.

Kesuksesan terciptanya pasar bahan bakar nabati domestik berkat infrastruktur kebijakan dan fisik yang disiapkan pemerintah diharapkan bakal diikuti dengan tumbuhnya industri hilir CPO lainnya. Jangan lagi percaya bahwa pasar bisa menciptakan mekanismenya sendiri. Kekuatan perekonomian nasional tetap membutuhkan peran aktif pemerintah, sebagai regulator dan fasilitator. Selebihnya, baru serahkan kepada mekanisme pasar untuk mengeksekusi kebijakan yang sudah disiapkan.

Pasar domestik

Pertumbuhan industri hilir dalam negeri bakal mengurangi pengangguran. Semakin banyak orang yang bekerja, konsumsi domestik pasti meningkat. Jika dari 105 juta angkatan kerja, 50 persen bisa bekerja di sektor formal industri hilir domestik berpendapatan rata-rata di atas Rp 2 juta per bulan, tentu konsumsi akan naik tajam.

Negara lain, seperti China, Jepang, bahkan Korea, sudah sejak lama memandang Indonesia sebagai pasar potensial mereka. Produk elektronik, kendaraan bermotor, sampai makanan kesehatan mereka merajai pasar Indonesia, baik legal maupun selundupan. Perekonomian mereka pun cenderung stabil karena kekuatan pasar domestiknya dalam menyerap produk lokal. Jadi, apalagi yang kita tunggu sekarang? Sekadar mengekspor bahan baku setengah jadi untuk kemudian mengimpor bahan jadinya? Atau membuat kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, kemampuan industri lokal, dan mengurangi pengangguran yang bisa meningkatkan kemandirian nasional? Tolong jawab pertanyaan ini dengan bukti kerja, bukan sekadar retorika. (hamzirwan)

Mencipta lapangan kerja, meningkatkan upah pekerja, di sisi lain juga berarti menumbuhkan pasar juga…..

Pertumbuhan industri hilir dalam negeri bakal mengurangi pengangguran. Semakin banyak orang yang bekerja, konsumsi domestik pasti meningkat.

Jika dari 105 juta angkatan kerja, 50 persen bisa bekerja di sektor formal industri hilir domestik berpendapatan rata-rata di atas Rp 2 juta per bulan, tentu konsumsi akan naik tajam.

Problemnya :

jika konsumsi bisa meningkat, artinya pasar dalam negeri meningkat, lalu…. apakah kita serahkan kepada pedagang barang import….. ?

sumber:
kompasCetak

One thought on “mari berdiri di atas kaki sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s