jalan panjang pengembangan industri kreatif

Tematik : industri kreatif

The Beatles dan Harry Potter adalah ikon industri kreatif yang mendatangkan devisa bagi negeri Inggris.

Mampukah kita memberi kesempatan bagi para pelaku industri kreatif di Indonesia berkembang dengan wajar, sehingga memberikan manfaat yang nyata ?

Jalan Panjang Pengembangan Industri Kreatif
EKONOMI : Rabu, 24 Desember 2008 | 04:08 WIB

Ketika berbagai sektor jasa dan industri goyang dihantam badai krisis keuangan global, sektor industri kreatif diharapkan mampu bertahan. Pemerintah mulai melirik industri kreatif sebagai alternatif roda penggerak ekonomi yang akan terus berputar.

Industri kreatif terdiri dari ekonomi kreatif meliputi 14 subsektor, yaitu periklanan; arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain; busana; video, film, dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan peranti lunak; televisi dan radio; serta riset dan pengembangannya.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan, subsektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) adalah busana 44 persen, disusul subsektor kerajinan 28 persen, subsektor periklanan dan desain masing-masing 7 persen, subsektor arsitektur 3,2 persen, percetakan dan penerbitan 3,5 persen, musik 3 persen, radio dan televisi 2 persen, riset dan pengembangan 1 persen, dan layanan komputer serta peranti lunak 1 persen.

Subsektor yang menyumbangkan PDB kurang dari 1 persen adalah pasar barang seni 0,6 persen; permainan interaktif 0,3 persen; film, video, dan fotografi 0,3 persen; dan seni pertunjukan 0,1 persen.

Melihat angka-angka di atas, Departemen Perdagangan menyusun rencana jangka panjang pengembangan industri kreatif. Target yang harus dicapai adalah meningkatkan kontribusi industri kreatif terhadap PDB. Pada tahun 2009-2015, PDB dari sektor industri kreatif ditargetkan meningkat sebesar 7-8 persen. Sebelumnya, tahun 2002-2006, kontribusi industri kreatif terhadap PDB berkisar 6,2 persen atau senilai Rp 104,7 triliun.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam konferensi The 2nd World International Property Organization (WIPO) International Conference on Intellectual Property and The Creative Industries di Nusa Dua mengatakan, PDB Indonesia dari industri kreatif lebih kecil dibandingkan dengan negara maju seperti Inggris sebesar 7,9 persen dengan pertumbuhan per tahun 9 persen. Namun, kontribusi industri kreatif Indonesia terhadap PDB masih lebih besar dibandingkan dengan Selandia Baru sebesar 3,1 persen, dan Australia sebesar 3,3 persen.

Mari menambahkan, selama tahun 2002-2006 rata-rata industri kreatif di Indonesia mampu menyerap tenaga kerja 5,8 persen atau 5,4 juta pekerja. Nilai ekspor dari industri kreatif mencapai Rp 69,8 triliun atau 10,6 persen dari ekspor nasional.

Tahap penguatan

Menurut Mari, pada tahun 2009-2015, yang disebut tahap penguatan dasar dan fondasi, peningkatan kontribusi PDB dari industri kreatif ditargetkan sebesar 7-8 persen. Sementara peningkatan kontribusi ekspor menjadi 11-12 persen dan penyerapan tenaga kerja 6-7 persen.

Program selanjutnya adalah tahap pengembangan industri kreatif tahun 2015-2025, yaitu tahap akselerasi. Pada kurun waktu tersebut diharapkan kontribusi industri kreatif terhadap PDB mencapai 9-11 persen. Kontribusi ekspor meningkat menjadi 12-13 persen dan penyerapan tenaga kerja meningkat menjadi 9-11 persen.

Secara garis besar, Departemen Perdagangan menargetkan pengembangan industri kreatif secara signifikan pada tahun 2009-2025. Jumlah hak paten dalam negeri ditargetkan meningkat sebesar 4 persen, adapun pendaftaran hak kekayaan intelektual dalam negeri meningkat menjadi 39 persen. Pendaftaran merek dagang dalam negeri juga meningkat menjadi 6 persen dan hak desain industri dalam negeri yang terdaftar meningkat menjadi 40 persen.

Pengembangan kantong-kantong industri kreatif yang selama ini masih terbatas di Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, serta Bali akan diperluas. Sebelum tahun 2015, jumlah kantong industri kreatif meningkat dua kali lipat. Dari sejumlah kantong industri kreatif itu, akan muncul 200 merek lokal yang menembus pasar dalam negeri ataupun luar negeri.

Pada tahun 2016-2025, jumlah kantong industri kreatif akan menjadi dua kali lipat dari jumlah yang ada sampai tahun 2015. Jumlah merek lokal yang mampu menembus pasar dalam negeri dan luar negeri sebanyak 504 merek.

Departemen Perdagangan mendukung pengembangan 14 subsektor industri kreatif, tetapi hanya enam subsektor unggulan untuk ekspor dan penguatan merek, yaitu arsitektur; video, film, dan fotografi khususnya animasi; busana; musik; kerajinan; dan desain. Pertimbangannya karena keenam subsektor itu memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian.

Ridwan Kamil, Ketua Bandung Creative City Forum, mengatakan, selama ini industri kreatif berjalan sendiri dalam berkreasi sampai ke tahap promosi dan pemasaran. Para pelaku industri kreatif sangat mandiri.

Menurut Ridwan, peran pemerintah dalam mendorong dan melindungi industri kreatif sedikit terlambat. Selama ini para pelaku industri kreatif dengan sifat kemandirian yang kuat dapat menyelesaikan sendiri segala urusannya. Meskipun demikian, Ridwan menyambut baik upaya pemerintah yang menganggap industri kreatif sebagai industri yang serius.

Industri kreatif terbukti mampu bertahan hidup dalam kondisi perekonomian yang sulit. Ridwan mengatakan, ”Di Bandung, pada saat krisis ekonomi tahun 1998, hanya ada belasan distro. Sekarang jumlah distro di Bandung mencapai 400-an, coba hitung berapa miliar uang yang berputar dari distro saja.”

Menurut Ridwan, untuk mengembangkan kantong-kantong industri kreatif di kota-kota, diperlukan kebijakan pemerintah daerah yang mendukung, misalnya menyediakan ruang publik untuk berekspresi, menciptakan budaya masyarakat yang terbuka, dan selalu menjalin komunikasi dengan pelaku industri kreatif.

Industri kreatif akan menjadi industri yang menguntungkan di masa depan seiring dengan perubahan selera pasar. Populasi Indonesia yang berusia 15-29 tahun sebanyak 40,2 juta atau 18,4 persen merupakan pasar yang sangat gemuk bagi industri kreatif.

Dibutuhkan waktu yang tidak singkat untuk mengembangkan dan memperkuat industri kreatif di Indonesia. Dalam upaya tersebut, diperlukan komunikasi dan koordinasi yang erat antara pelaku industri kreatif dan pemerintah. (WAD)

sumber:
kompasCetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s