dugaan plagiat

Benarkah ada dugaan plagiat di instansi penelitian ? Jika benar, itu cermin longgarnya pengawasan terhadap plagiarisme dan budaya mencontek, sejak dari kampus-kampus…

Dugaan Plagiat Kepala BMKGM, Kredibilitas BMKG Bisa Jatuh
SP: 21 nopember 2008

[JAKARTA] Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal diminta menyelidiki sejumlah kasus yang belakangan ini menimpa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Dua kasus di institusi BMKG yang ramai diberitakan di media massa saat ini, yakni dugaan plagiat karya ilmiah yang dilakukan Kepala BMKG, Dr Ir Sri Woro Budiati Harijono MSc, dan pergeseran sejumlah pejabat di lembaga itu yang dinilai tidak memiliki kapasitas dan tak sesuai dengan bidangnya.

Anggota Komisi V DPR, Mangara Siahaan, di Jakarta, Kamis (20/11), mengatakan, sikap yang lamban dinilai akan menurunkan kredibilitas dan kapasitas BMKG sebagai lembaga ilmiah dan institusi negara terdepan dalam memprediksi perkembangan meteorologi, klimatologi, dan geofisika di tanah air.

Kepala BMKG, Dr Sri Woro Budiati Harijono dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Selasa (18/11), oleh mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG, Prof Dr Mezak Arnold Ratag dengan tuduhan melakukan plagiat karya ilmiah dan pemalsuan tanda tangan.

Sebelumnya, Prof Mezak Ratag, Jumat (14/11), secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya terkait kasus dugaan plagiat tersebut dan penggantian sejumlah pejabat yang dinilai tidak normal. Sebagai pengganti Prof Mezak, ditunjuk Drs Sunaryo MSc yang tidak memiliki latar belakang peneliti.

Mangara mengemukakan, kasus dugaan plagiat secepatnya diselesaikan lewat mekanisme pertanggungjawaban ilmiah, sementara soal sejumlah pergeseran pejabat akan dipertanyakan dalam rapat kerja antara Komisi V dan BMKG. “Saya pasti tanyakan persoalan ini. Sangat berbahaya kalau orang yang tidak pernah meneliti, duduk di kursi kepala penelitian. Pengolahan data dan analisisnya nanti bisa kacau dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Mangara.

Prof Mezak Ratag kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/11), menyampaikan, buku yang ditulis tahun 2007 oleh Dr Sri Woro yang berjudul Less Greenhouse Gas Emission Technologies in the Context of Climate Change, isinya 95 persen sama dengan tulisan makalah Prof Mezak yang berjudul Development of Modalities to Acquire and Implement Less GHGs Emission Technologies in Energy Sector yang diterbitkan sebagai buku berjudul Identification of Less Greenhouse Gasses Emission Technologies in Indonesia yang dipublikasikan Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup tahun 2001. “Kata-kata sampai titik koma yang ada di makalah saya tahun 2001 sama persis dengan buku yang ditulis Ibu Sri Woro tahun 2007,” ujar Prof Mezak.

Tanda Tangan Palsu

Menurutnya, dengan adanya buku itu, Dr Sri Woro memperoleh tambahan kredit penelitian yang memampukannya naik peringkat menjadi golongan IV/a. Dengan naiknya golongan peneliti itu, Dr Sri Woro yang seharusnya pensiun 1 September 2007 lalu pada usia 56 tahun, masa pensiun penelitinya diperpanjang sampai usia 65 tahun. “Untuk memuluskan itu, tiga surat yang dikeluarkan kepada Ketua Tim Penilai Pusat LIPI adalah bertanda tangan palsu. Saya tidak pernah menandatangani surat usulan tambahan kredit jabatan peneliti itu,” katanya.

Kuasa Hukum Mezak, Zen Smith, mengatakan, perbuatan plagiat merupakan tindakan yang paling memalukan yang dilakukan seorang peneliti ilmiah. “Saya tidak habis pikir, kenapa sampai Kepala BMKG melakukan plagiat ini,” ujarnya.

Ketua Tim Penilai Pusat LIPI, Prof Lukman Hakim, mengatakan, pihaknya masih melakukan pembicaraan dengan Prof Mezak mengenai tuduhan ini.

Tim juga akan menunggu kesediaan Prof Mezak untuk hadir dalam sidang yang khusus dilakukan untuk menilai tuduhan plagiat tersebut.

Sementara itu, Dr Sri Woro Budiati Harijono kepada Antara, membantah telah melakukan plagiat terhadap karya ilmiah Prof Mezak Ratag. “Saya tidak pernah melakukan hal itu (plagiat). Ini adalah fitnah yang luar biasa dan telah merusak nama baik saya,” ujarnya.

Sri Woro menegaskan, dirinya bisa menunjukkan bukti bahwa tuduhan tersebut tidak benar. “Kita buktikan saja di laboratorium,” tambahnya. Ia menganggap tuduhan tersebut merupakan hal yang aneh karena masalah utama dirinya dengan Prof Mezak adalah masalah kekecewaan Mezak karena tidak diangkat menjadi Deputi di BMG. Sri Woro juga mempersilakan Prof Mezak melapor ke polisi karena ia juga akan melaporkan balik. “Apa untungnya melakukan plagiat. Kenapa dikatakan seolah saya mengejar umur sampai 65 tahun. Tetap saja saya pensiun cepat kok,” katanya. [E-7]

sumber :
suaraPembaruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s