Sokola Rimba

tematik : upaya

Sokola Rimba
Depdiknas Harus “Belajar”dari Butet
Jumat, 5 Desember 2008 | 03:00 WIB

Saur Marlina Manurung (36) atau dikenal dengan Butet Manurung celingukan ke arah teman-temannya ketika ditanya berminat menjadi pegawai negeri sipil atau PNS atau tidak.

Pendiri perkumpulan Sokola ini celingukan, terutama karena dirinya tidak tahu apa itu kepanjangan PNS.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat tangan pendiri
perkumpulan Sokola, Saur Marlina (Butet) Manurung, sebelum
pertemuan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (4/12).

Setelah mendapat penjelasan bahwa PNS adalah singkatan dari pegawai negeri sipil, Butet yang membiarkan rambut ikalnya tergerai tersenyum.

”Saya sih enggak suka. Lagi pula, enggak cocok kali ya? Bagaimana kami bisa upacara setiap Senin pagi, sementara kami ada di ujung gunung,” ujar Butet yang semasa mahasiswi juga aktif sebagai pencinta alam Palawa Universitas Padjadjaran, Bandung, itu sambil senyum.

Jawaban Butet disampaikan saat jumpa pers setelah diterima Presiden dan Ny Ani Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (4/12). Presiden mengundang Butet untuk memberikan apresiasi dan dukungan atas upaya perkumpulan Sokola menjangkau dan mendidik anak-anak usia sekolah yang tidak terjangkau sama sekali oleh pendidikan formal.

Sokola mengembangkan metode dan kurikulum belajar yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan komunitas agar terintegrasi dengan kehidupan nyata sehari-harinya. Sokola dengan 16 relawannya melayani anak-anak di daerah terpencil dan daerah pascabencana. Butet dikenal pertama karena perjuangannya melayani anak-anak komunitas Orang Rimba, Jambi.

Butet dan empat temannya (Indit, Hari, Dodi, dan Deddy) datang di Kantor Presiden karena undangan Presiden dan Ny Ani Yudhoyono setelah mendengar Sokola akan menutup sementara dua sekolahnya. Presiden mengajak Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo saat menerima Butet.

Bambang mengakui, Depdiknas harus belajar dari Butet untuk memberi layanan warga negara sesuai prinsip education for all. ”Tidak selalu model terbaik dari pemerintah. Kami tak akan segan memakai model Sokola untuk menjangkau mereka yang terpencil,” ujarnya.

Kepada perkumpulan Sokola, Presiden memberi dana Rp 200 juta dan paket makanan standar militer jenis T2 untuk keluarga di daerah terpencil. Butet berterima kasih dan sama sekali tidak menduga, apalagi mengharapkannya.

Dalam artikel yang dimuat di majalah Time, Presiden menyebut Butet dan sukarelawan lainnya sebagai pahlawan senyap (silent heroes).

Dalam pertemuan itu, sebutan itu kembali disebut. ”Pahlawan ada di mana-mana, tidak hanya mereka yang direkam oleh media,” ujar Presiden.

Butet juga diperkenalkan program ”Indonesia Pintar” yang dirintis Ny Ani bersama istri para menteri. (WISNU NUGROHO)

My country is full of silent heroes. Butet Manurung, one of TIME’s heroes last year, had a near-impossible goal: eradicating illiteracy among the isolated tribes of the Sumatran jungle. She knew they would not come to her, so she went to them deep in the forests. At first, the tribes wanted nothing to do with her. But her resolve gained their trust, and today she continues to teach them reading and writing, living among them as if she were one of them. Butet represents the countless aid workers who wake each day to fight the odds—against malnutrition, disease, poverty. I have met teachers who walk tens of miles each day to reach their school—all for the meager reward of some $20 a month (and no doubt plenty of grief from their students). Yet they make the journey every day. They all are silent heroes. (by SBY, 2005)

sumber :
[1] kompasCetak
[2] timeAsia

2 thoughts on “Sokola Rimba

  1. Binton Nadapdap

    you are the best,you are the hero,

    hidup adalah perjuangan ini pernah saya ucapkan ke ito butet ketika kami pernah ketemu dijambi, kalau akhir2 ini kita dengar hidup adalah perbuatan, yang pasti itu butet manurung semua sudah dia lakukan (perjuangan & perbuatan), tidak mudah jaman sekarang ini menemukan seperti sosok butet, begitu org selesai kuliah langsung berlomba2 cari kerja atau kuliah S2 dikota2 besar hingga keluar negeri,bahkan langsung pengen nikah,ini semua sah2 saja,tetapi yg jauh lebih penting bukan hanya hasil ijasahnya yg banyak dgn nilai yg tinngi,tetapi apa yg sudah kita lakukan terhadap org lain sebagai aplikasi bahwa kita disebut org berpendidikan,inilah bedanya kita dgn butet,kita terlalu banyak kagum terhadap prestasi org lain,terharu,simpati,fans fanatik dll.

    pernahkah kita mencoba menjadi seorang pahlawan jawabannya ya banyak diantara kita yg mau dikenal org,dipuja,dan dikagumi,yg menjadi persoalannya sekarang sebahagian besar diantara kita justru itu yg jadi masalah utama,pengenya dikagumi dan dikenal org.

    butet saya salut dan bangga ternyata kebanggan saya yg paling besar bukan hanya banyaknya bentuk penghargaan yg kamu terima,tetapi kehebatan kamu yg luar biasa adalah kamu melakukan perbuatan yang baik tanpa tujuan pengen dikagumi dan dipuja orang,butet melakukannya jauh dipadalaman yg jauh dr penglihatan dan pengawasan org dan media,idemu,cita-cita,gagasan,dan tujuannmu sangat original dan sangat mulia.

    harapan kita semua semoga tumbuh butet, butet yg lain, dan bahkan ucok,ucok yg lain, pahlawan senyap'”Silent hero” dan menjadi”Sun hero” pahlawan yg terang seperti matahari setia menyinari bumi,dan pengaruhnya bisa dijadikan icon dimuka bumi,karena dinegara-negara lain juga banyak suku terasing yg buta hurup,mudah2an pemimpin dunia bisa mencontoh dan ini menjadi kebanggaan bangsa indonesia, jadi pengaruhnya mendunia,saya berdoa semoga butet menjadi icon kampanye pembrantasan buta hurup/pendidikan tingkat dunia.salut untuk butet dan menteri pendidikan dan Pak Presiden yg langsung menunjukkan apresiasi, bantuan dana dan moril, pak presiden semoga RAPBN pendidikan dianggarkan buat pendidikan di daerah pedalaman,butet kalau baca ini tolong no hpnya yg dulu hilang, cq bintonnadapdap@yahoo.co.id,( Pemerhati buku), oya tet kalau ketemu buku2 langka tlg kabarin ya,sekarang koleksi bukuku dari daerah2 di indonesia sudah saya buat museumnya mampir ya,sukses buat butet dan rekans semoga donatur dari BUMN yg biaya pendidikannya sudah dianggarkan tiap tahunnya kalau tidak habis penggunaannya tolong dibantu kesekolah2 yg diprakarsai butet dan rekans.maju terus tanpa uang saku,karena disana uang ngak laku, hehe.he.makanan disana tanpa beli dan tanpa pengawet dan formalin,sehat slalu panjang sabar dan panjang umur.

    Selamat pagi, Saudara Binton..
    🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s