pengetatan impor barang

Tematik pengetahuan : Berdayakan sektor riil.

Latar belakang :

Adanya krisis bursa saham alias dunia finansial di ujung tahun ini, berakibat ekonomi dunia terpuruk. Pasar ekspor kita menurun karena masing-masing negara yang secara tradisional mengimport produk dari negeri kita, sekarang sedang membenahi ekonomi dalam negeri mereka. Banyak pabrik di negeri kita terancam tutup, atau mungkin ikutan memanfaatkan situasi untuk mengurangi karyawannya.

Di sisi lain, negeri-negeri luar mengincar negeri kita sebagai pasar potensial bagi produk-produk mereka. Kalau perlu mereka membanting harga untuk bersaing dengan produk-produk yang dibuat oleh buruh-buruh di negeri kita, yang merupakan rakyat kita juga. Pengangguran mengancam dengan adanya kondisi ini.

Pemerintah agaknya mulai tanggap. Lima sektor industri harus diproteksi melalui pengetatan impor. Depperin bahkan akan menambah empat sektor lagi. Pemerintah agaknya melihat bahwa sektor-sektor itu akan potensial memicu meledakkan lebih banyak lagi pengangguran.

Yang menjadi pertanyaan menarik adalah :

Apakah kita masih menggunakan produk-produk dari luar negeri, untuk kebutuhan alas kaki, garmen, mainan anak, makanan dan minuman kita ? Apakah kita merupakan konsumen setia untuk produk kosmetik, keramik, furnitur dan baja dari luar negeri ? Kalau jawabannya adalah ya, maka berarti kita memang sedang memasang bom waktu di negeri sendiri. Artinya, kita mendukung makin banyaknya pengangguran, yang ujung-ujungnya akan membuat fragil (rapuh) lingkungan hidup kita sendiri.

Untuk apa kita memperkaya orang lain di negeri orang, sementara di sekitar kita makin banyak orang-orang jobless ? Mari kita cintai produk dalam negeri, yang diproduksi oleh saudara-saudara kita sendiri, tetangga kita sendiri, dan bangsa kita sendiri. Kepastian penghasilan bagi mereka, akan membuat hidup kita menjadi lebih nyaman, sambil beramal tanpa harus jauh-jauh ke negeri seberang.

Artikel aslinya :

Perluas Pengetatan Impor Barang
Selasa, 11 November 2008

JAKARTA – Pemerintah telah memutuskan lima sektor industri yang harus diproteksi melalui pengetatan impor. Yakni industri alas kaki, garmen, mainan anak, makanan dan minuman. Nah, Departemen Perindustrian (Depperin) rencananya akan menambah empat sektor industri lagi untuk diperketat importasinya. Yakni kosmetik, keramik, furnitur dan baja.

Usulan pengetatan import itu, menurut Dirjen Industri Agro dan Kimia (IAK) Departemen Perindustrian, Benny Wachjudi, merupakan bagian dari pengamanan industri domestik. Depeprin meminta importasi keempat produk itu hanya dilakukan oleh Importir Terdaftar (IT). “Masih digodok. Minggu depan ada pertemuan lanjutan soal ini,” jelas Benny.

Menteri Perindustrian, Fahmi Idris mengaku, kalau pihaknya masih menunggu persetujuan Kementerian Koordinator Perekonomian untuk memperluas pengamanan importasi di sektor tertentu. “Depperin sangat antusias dalam hal pengamanan produk, khususnya yang terkait kesehatan dan keselamatan masyarakat. Maka produk impor yang rentan seperti kosmetika, itu penting untuk diawasi,” ungkap Fahmi.

Seperti diketahui, pemerintah baru saja mengeluarkan ketentuan impor barang tertentu untuk mencegah membanjirnya produk impor di pasar dalam negeri. Melalui Permendag Nomor 44 Tahun 2008, pemerintah menetapkan bahwa importasi lima produk hanya boleh dilakukan oleh IT, dan hanya boleh melalui lima pelabuhan sudah ditentukan.

Depperin mewaspadai, produk impor non-standar sudah membanjir sejak semester pertama 2008. Akibat krisis finansial di Amerika Serikat (AS), sejumlah negara mulai mengalihkan pasar ekspornya dari AS dan Eropa ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Untuk produk baja, Direktur Industri Logam Depperin, I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan tiga instrumen demi mengendalikan suplai impor baja. Kondisi itu terjadi akibat melemahnya permintaan dunia, seiring merosotnya harga minyak dunia. “Ketiga usulan itu berupa pembenahan tata niaga perdagangan baja, yakni verifikasi terhadap industri, antidumping, dan safeguard atau pengamanan perdagangan,” jelasnya. (wir/bas)

sumber:
[1] jawaPos
[2] kompasCetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s