jumlah peminat komik mengejutkan

Jika bacaan komik pun harus import terus, lalu apa yang jadi karya nyata bangsa ini ?

Import komik boleh-boleh saja, satu dua. Namun komik buatan dalam negeri, seharusnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Sungguh, kita merindukan munculnya komikus muda dari anak negeri sendiri, sekelas Jan Mintaraga, Ganes TH, Teguh, et.al..

Jumlah Peminat Komik Mengejutkan
HUT Kompas MuDa : Minggu, 30 November 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Peminat komik, baik pembaca maupun calon komikus, dari waktu ke waktu semakin bertambah. Industri komik pun berkembang dan sudah merambah pada konten yang bisa diakses dari telepon genggam. Peminatnya sampai mengejutkan operator telepon seluler.

Pelan tetapi pasti, komik akan menjadi industri kreatif yang bisa diandalkan jika digarap serius. ”Sayangnya, perkembangan ini terkendala sumber daya manusia yang tak memadai,” kata Beng Rahadian.

Komikus dari Akademi Samali itu memberikan ceramah dalam Workshop dan Demo Komik yang digelar Kompas MuDA pada Sabtu (29/11) di lobi kantor Kompas. Acara yang diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan tersebut didukung Indosat IM3, Kompas.com, majalah Hai, radio Prambors FM, radio Sonora, Kepustakaan Populer Gramedia, Nubuzz Network, Akademi Samali, dan Oishii.

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara MuDA Creativity Kompas-IM3 dalam rangka HUT ke-2 Kompas MuDA. Setelah di Jakarta, Kompas MuDA akan menggelar sejumlah workshop ke kota-kota lain, seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Info kegiatan ini bisa didapatkan di http://www.mudaers.com.

Mulai bagus

Beng Rahadian mengatakan, geliat komik di Indonesia mulai bagus. ”Tapi kalau bicara industri komik lokal, sampai sekarang bisa dibilang belum ada. Pasar masih didominasi komik terjemahan dari luar. Komikus kita belum bersaing,” katanya.

Industri belum terbentuk karena sumber daya manusia masih minim. ”Komikus belum jadi variabel penting dalam industri komik. Karya-karyanya masih sedikit,” kata Beng.

Komikus Benny Rachmadi— yang bersama Muhammad Misrad membuat karakter Benny & Mice—mengatakan ada harapan komik di masa depan. ”Ada harapan baik, cuma semangat menghasilkan karya yang kurang, padahal potensinya besar,” ujarnya saat acara Meet and Greet Benny & Mice seusai workshop.

Pengakuan menarik datang dari pihak operator telepon seluler. Menurut Tri Dewi Mustikarini dari Divisi Gaming & Content Indosat, pasar komik di Indonesia ternyata mengejutkan.

Indosat telah meluncurkan fasilitas i-comic yang bisa mengakses komik, baik teks maupun gambar, melalui telepon seluler. ”Kami mendapatkan respons yang bagus sekali untuk komik- komik lokal seperti Sukribo, Kho Ping Ho, Senopati Pamungkas, dan Ali Oncom,” kata Tri.

Kho Ping Ho, misalnya, pengaksesnya mencapai 50.000. Senopati Pamungkas mencapai 30.000. Saat ini Indosat mengaku kesulitan mendapatkan materi komik lokal.

”Ini kesempatan bagi komikus lokal untuk mengirimkan karyanya,” kata Tri.

Biaya akses i-comic untuk komik gambar Rp 5.000 (belum termasuk PPN). Nantinya pendapatan itu dibagi untuk operator, penyedia layanan konten, dan komikus. ”Rp 5.000 itu sekali unduh. Kalau dikalikan ribuan, jelas menguntungkan. Pasar komik ini luar biasa,” katanya. (AMR)

sumber : kompasCetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s