bagi-bagi untung di saat bangkrut

Apakah orang yang sudah kaya masih juga bernafsu pengin lebih kaya lagi ?

Bail Out Ke Sektor Keuangan Bukan Jawaban
Sabtu, 29 November 2008 | 15:38 WIB

JAKARTA,SABTU – Bantuan likuiditas (bail out) ke sektor keuangan dan perbankan dinilai bukan jawaban yang tepat pada situasi krisis yang melanda Indonesia, termasuk keputusan Bank Indonesia untuk menggelontorkan dana untuk menyelamatkan Bank Century dengan bail out adalah keputusan yang kurang tepat.

“Kita melihat ada bail out yang lebih besar di sektor keuangan. Padahal yang paling penting dibantu adalah sektor riil dan daya beli tetap ada,” tutur Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Yanuar Rizky dalam diskusi panel bertajuk Ekonomi Indonesia Di Tengah Krisis Keuangan Global: Beda Bail Out Ala Amerika dan Indonesia di Galeri Cafe Taman Ismail Marzuki, Sabtu (29/11).

Menurut Yanuar, pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman masa lalu ketika bantuan likuiditas BI digelontorkan yang masih menyisakan beban baik di APBN maupun dalam hukum. “BLBI tidak menolong institusi,” ujar Yanuar.

Seharusnya, jika ada dana baik out dari pemerintah, seharusnya sektor-sektor yang menghasilkan barang puliklah yang prioritas untuk didorong karena di dalamnya termuat daya beli masyarakat dan para pekerja atau buruh. menurut Yanuar, jika sektor riilnya ditolong dan menjadi baik, maka sektor perbankan dan keuangan pun akan bergerak membaik.

“Ingat beberapa tahun lalu, pensiun dini banyak sekali. Memang ada pesangon besar tapi kan nggak jadi jaminan, mereka (pekerja) akan cari pekerjaan lagi,” tandas Yanuar.

sumber : kompasOnline

Kok ya masih ada pakai logika jongkok. Perusahaan terancam bangkrut, minta tolong dana talangan yang notabene dari uang pajak rakyat, kok eksekutifnya lalu bagi-bagi untung.

Bonus Dikembalikan (setelah rakyat pembayar pajak marah)
UBS Perbaiki Sistem Bonus Eksekutif : Jumat, 28 November 2008 | 03:00 WIB

Luzern, Kamis – Para mantan pejabat senior bank terbesar di Swiss, UBS, mengembalikan uang sebesar 70 juta franc Swiss atau setara dengan Rp 734 miliar yang merupakan bonus dan gaji yang diterima. Demikian diungkapkan Chief Executive Officer UBS Peter Kurer di Luzern, Swiss, Kamis (27/11).


Marcel Ospel

Jumlah dana itu termasuk yang dikembalikan oleh mantan CEO Marcel Ospel dan dua petinggi lainnya, yaitu Stephan Haeringer dan Marco Suter, yang mengembalikan sekitar 33 juta franc Swiss kepada UBS. Bank besar itu mengalami guncangan hebat akibat hantaman krisis finansial.

”Seluruhnya ada 70 juta franc atau setara dengan 58,28 juta dollar AS uang bonus itu dikembalikan oleh para eksekutif yang telah meninggalkan bank ini,” ujar Kurer kepada para pemegang saham pada saat menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa.

”Sekali lagi, UBS merupakan pelopor dalam hal ini. Tidak banyak pemimpin bank yang melakukan ini,” lanjutnya.

Rakyat marah

Kemarahan masyarakat atas jumlah bonus yang diterima para eksekutif di bidang keuangan terjadi setelah UBS terpaksa meminta paket penyelamatan sebesar 60 miliar dollar AS dari negara karena kerugian besar akibat terjadinya krisis keuangan. Di sisi lain, bonus dan gaji yang diterima petinggi bank atau perusahaan finansial sangat besar.

Kritik terhadap petinggi bank itu terutama kepada Ospel. Tabloid setempat, Blick, bahkan berkampanye agar Ospel mengembalikan bonus kepada UBS.

Awal bulan ini Peter Wuffli, mantan Dewan Eksekutif UBS, menjadi pelopor dalam merelakan bonus miliknya yang sebesar 12 juta franc atau setara dengan Rp 126 miliar. Tindakannya ini diikuti Ospel dan dua anggota dewan eksekutif lainnya.

Beberapa mantan eksekutif senior juga tidak mengambil gaji dan bonus dengan nilai total 22 juta franc, demikian pernyataan UBS tanpa menyebutkan siapa saja yang telah merelakan bonus dan gajinya dipangkas.

Sebelumnya, UBS juga menyatakan, ”Pola kompensasi baru di UBS akan dikaitkan dengan kinerja jangka panjang dan perolehan laba.”

Langkah UBS ini dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan Swiss Hans Rudolph Merz yang mengatakan bahwa pemberian bonus yang berlebihan telah menjadi penyebab kekacauan korporasi.

Selain UBS, eksekutif utama Goldman Sachs, Lloyd Blankfein, dan enam eksekutif puncak lainnya memutuskan untuk tidak menerima bonus. ”Ini langkah tepat,” kata juru bicara Goldman Sachs, Lukas van Praag.


Lloyd Blankfein,

Tahun lalu Blankfein menerima bonus Rp 840 miliar. Tahun ini dia sepakat ”hanya” menerima gaji sebesar Rp 7,2 miliar. (AP/AFP/joe)

sumber: kompasCetak

sumber lain :
[1] Swiss bank UBS to scrap chairman’s bonus for 2008

[2] Lloyd Blankfein, Goldman Sach Deputies Decide to Forgo Bonuses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s