menghidupkan kembali Bretton Woods

Tematik pengetahuan : Ekonomi Makro

Pilar kapitalisme ternyata dibentuk dari kesepakatan dari beberapa negara pada tahun July 1944 yang disebut sistem Bretton Woods.

Dalam perjalanannya, sistem Bretton Woods diikuti dengan lahirnya negeri surga para penghindar pajak (Cayman Islands), adanya lembaga finansial yang dikecualikan dari aturan ini, begitu dominannya peran lembaga-lembaga pemeringkat terkemuka yang sangat berkuasa selama ini di pasar utang, kurangnya regulasi terhadap sepak terjang para hedge funds, gaji, bonus, dan fasilitas para eksekutif lembaga finansial yang giola-gilaan, serta kurangnya tim pengawas khusus lintas negara untuk mengawasi sepak terjang bank-bank terbesar.

Tahun 1983, Presiden Perancis Francois Mitterand, yang perekonomian negaranya limbung dihajar tiga devaluasi franc, sempat menginginkan diubahnya sistem Bretton Woods, yang kemudian bentrok dengan PM Margaret Thatcher.

Menghidupkan Kembali Bretton Woods
AP/Kompas:Jumat, 31 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Rontoknya sistem kapitalisme pasar ala Amerika Serikat dalam tsunami finansial global membangkitkan kembali desakan untuk dilakukannya perombakan radikal dan desain ulang terhadap bangunan arsitek sistem finansial global guna mencegah terulangnya krisis yang sama pada masa mendatang.

Di antara tokoh yang paling kencang menyuarakan dan paling agresif mengupayakan dukungan dari negara-negara lain adalah Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan PM Perancis Nicolas Sarkozy. Sarkozy bahkan secara eksplisit menyebut sistem itu sebagai Bretton Woods II.

Sarkozy bersama para pemimpin Eropa lainnya berhasil mendesak Presiden AS George W Bush untuk melangsungkan pertemuan darurat membahas gagasan tersebut, rencananya pada forum G-20 di Washington, 15 November. Gagasan mereformasi sistem finansial global juga mendapat dukungan kuat dari para pemimpin negara Asia dan Eropa yang hadir pada Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Eropa (Asem) di Beijing, 24-25 Oktober lalu, meski waktu itu tak disebut sebagai Bretton Woods II.

Benarkah dihidupkannya sistem Bretton Woods menjadi jawaban yang dicari guna menghindari terulangnya malapetaka finansial seperti sekarang ini? Dari yang ditangkap, para pemimpin Eropa, seperti Sarkozy, menghendaki perubahan dramatis sistem finansial global yang dinilainya sudah menyimpang jauh dari nilai-nilai paling fundamental dari kapitalisme.

Beberapa prinsip penting yang harus masuk dalam perombakan tersebut, menurut dia, tidak boleh ada satu bank pun yang di dalam portofolio dana kelolanya ada dana pemerintah boleh berurusan dengan negara-negara yang selama ini dianggap sebagai surga para penghindar pajak, seperti Cayman Islands.

”Tak boleh ada satu pun lembaga finansial yang dikecualikan dari aturan ini,” ujarnya. Ia juga menekankan perlunya dikurangi peran lembaga-lembaga pemeringkat terkemuka yang sangat berkuasa selama ini di pasar utang menyusul serangkaian skandal yang melibatkan lembaga-lembaga tersebut.

Hal lain yang juga didesakkan oleh para pemimpin Eropa adalah diterapkannya regulasi lebih ketat terhadap sepak terjang para hedge funds, dibatasnya gaji, bonus, dan fasilitas para eksekutif lembaga finansial. Gordon Brown bahkan mendesak dibentuknya barisan tim pengawas khusus lintas negara untuk mengawasi sepak terjang 30 bank-bank terbesar dunia.

Timbul tenggelam

Wacana menghidupkan kembali sistem Bretton Woods bukan baru kali ini muncul. Hampir setiap kali terjadi krisis besar, wacana ini muncul untuk kemudian tenggelam dan terlupakan lagi.

Sebelum ini, terakhir gagasan menghidupkan kembali Bretton Woods dilontarkan oleh Menkeu AS Donald Regan ketika krisis utang berkecamuk di Amerika Latin tahun 1982.

Tahun berikutnya, Presiden Perancis Francois Mitterand, yang perekonomian negaranya terhuyung-huyung karena dihajar tiga devaluasi franc, ganti berapi-api memperjuangkan ditegakkannya kembali sistem Bretton Woods, sebelum akhirnya PM Margaret Thatcher ”membungkamnya” tahun 1985 dengan mengecam gagasan itu sebagai gagasan iseng.

Di ambang krisis finansial Asia 1997-1998, nostalgia Bretton Woods berusaha kembali dibangkitkan oleh rezim pemerintahan Inggris pasca-Thatcher. ”Kita tak seharusnya takut berpikir radikal dan fundamental. Kita harus berkomitmen membangun suatu Bretton Woods baru untuk milenium mendatang,” ujar PM (waktu itu) Tony Blair.

Dari pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan terlihat para pemimpin Eropa menghendaki reformasi yang dilakukan tak sebatas dengan memperketat pengawasan dan regulasi, tetapi juga harus menyentuh ke persoalan-persoalan lebih mendasar, termasuk dominasi AS yang terlalu kuat selama ini.

AS di bawah kepemimpinan Bush, yang akan segera berakhir masa jabatannya dalam waktu dekat, sendiri tampaknya tak banyak cingcong untuk berargumen terhadap gagasan yang secara de facto semacam kudeta terhadap dominasi AS dalam sistem finansial global selama ini.

Ada kesan Bush ingin meninggalkan kesan baik setelah kebijakan ekonominya banyak dituding sebagai sumber utama penyebab krisis finansial global yang menyengsarakan banyak negara lain.

Bush hanya mengatakan, kapitalisme global yang sudah mendatangkan kemakmuran bagi banyak masyarakat dunia jangan sampai dipotong karena risiko isolasi ekonomi bagi ekonomi global akan sangat besar.

Dengan perubahan peta kekuatan geopolitis dan ekonomi dunia dewasa ini, di mana AS sebagai adidaya ekonomi mulai redup dan tak lagi menjadi satu-satunya kekuatan dominan, forum pertemuan yang membahas reformasi sistem finansial kemungkinan harus menyepakati suatu tata dunia baru berdasarkan realitas yang ada saat ini.

Forum ini akan menjadi ajang negosiasi semua kekuatan ekonomi baru memperjuangkan kepentingan ekonominya yang lebih besar di dalam negeri dan juga kawasan.

Para pengamat sendiri berpendapat, terlalu ambisius dan tak realistis untuk berharap pertemuan G-20 di Washington akan menghasilkan kesepakatan substansial menyangkut langkah reformasi sistem finansial global.

Selain timing-nya sendiri tidak mendukung—karena dilangsungkan hanya 11 hari setelah presiden baru AS terpilih dan sebelum Bush bertolak untuk perjalanan resmi terakhirnya ke luar negeri—dari pengalaman penyusunan sistem Bretton Woods tahun 1944 diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan sebuah sistem seperti itu. Sebelum itu terjadi, mungkin euforia Bretton Woods keburu tenggelam lagi dan orang lupa sampai akhirnya terjadi krisis baru lagi.(tat)

sumber :
[1] KompasCetak
[2] Wiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s