pertanian sulit jadi penyelamat

Tematik pengetahuan : Ekonomi Makro : Krisis Finansial

Membangun agroindustri memang menarik. Namun sebaiknya jangan meminggirkan peran petani tradisional yang sudah ada. Ada baiknya membentuk kerjasama win-win solution.

Hal lain yang perlu dicermati adalah ketersediaan cadangan air tanah sebagai salah satu pendukung utama agroindustri. Tata guna lahan sebaiknya ditata yang apik. Jangan sampai air untuk pertanian para petani kesedot ke area agroindustri. Kalau begini sih, akan memunculkan masalah baru.

Pertanian Sulit Jadi Penyelamat
Titik Balik Membangun Agroindustri
Rabu, 29 Oktober 2008 | 01:41 WIB

Jakarta, Kompas – Saat krisis moneter tahun 1997/1998, sektor pertanian mampu menjadi penyelamat. Ekspor komoditas pertanian saat itu relatif baik sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Kini, saat terjadi krisis finansial global, peluang sektor pertanian menjadi penyelamat semakin mengecil.

Namun, hal itu hendaknya tidak disikapi dengan pesimistis. Akan tetapi, menjadi momentum membangun agroindustri untuk menguasai pasar domestik. Demikian disampaikan secara terpisah oleh guru besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Jember yang juga Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Rudi Wibowo, di Jakarta dan guru besar Sosial Ekonomi dan Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, di Yogyakarta, Selasa (28/10).

Ketidakmampuan sektor pertanian menjadi penyelamat pada krisis kali ini, menurut Rudi, karena permintaan pasar internasional terhadap komoditas pertanian menurun. Ekspor kopi, misalnya, saat ini terhenti.

Harga komoditas pertanian di pasar dunia pun menurun. Harga minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) hanya 700 dollar AS per ton, padahal sebelumnya di atas 1.000 dollar AS per ton. Harga karet alam Rp 5.500 per kg, sebelumnya Rp 9.500 per kg.

Situasi saat ini, menurut Rudi, berbeda dibandingkan dengan 1997/1998. Saat itu, harga komoditas perkebunan ekspor tinggi akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan permintaan pasar global relatif tinggi. Dengan demikian, petani komoditas ekspor, terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, banyak yang mendadak jadi kaya.

Namun, situasi yang menguntungkan itu, menurut Maksum, tidak bisa sepenuhnya dimanfaatkan Indonesia. Permintaan ekspor yang besar saat itu tidak sanggup dipenuhi.

Jangankan memenuhi permintaan ekspor, kebutuhan dalam negeri saja banyak yang masih dipenuhi dari impor. Oleh karena itu, Maksum menyarankan, menurunnya permintaan pasar global saat ini hendaknya jadi titik balik bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi dalam negeri berbasis lokal guna memenuhi pasar domestik. Caranya adalah dengan membangun agroindustri.

”Krisis global membuat produk ekspor pertanian tidak laku sehingga pasar domestik harus ditangkap. Berikan insentif pengembangan industri pertanian dalam negeri yang berbahan baku lokal untuk memenuhi pasar domestik,” papar Maksum.

Untuk mengembangkan agroindustri, menurut Rudi, pemerintah bisa memberikan insentif, antara lain subsidi yang dimasukkan ke faktor input. Selain, melepaskan diri dari ketergantungan terhadap impor sarana produksi.

Subsidi pupuk

Pemerintah, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso, tahun 2009 mengalokasikan anggaran untuk subsidi pupuk Rp 16 triliun, naik sekitar Rp 2 triliun dibandingkan 2008.

Dengan demikian, alokasi pupuk urea bersubsidi menjadi 4,5 juta ton dari rencana sebelumnya 4,4 juta ton, NPK 1,3 juta ton, ZA 900.000 ton, Superphos 1 juta ton, dan pupuk organik 450.000 ton. Selain itu, melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 42 Tahun 2008, per 1 Januari 2009 distribusi pupuk bersubsidi dilakukan dengan sistem tertutup. Petani yang berhak mendapat pupuk bersubsidi adalah yang lahan garapannya maksimal 2 hektar. (MAS)

sumber:
pertanian.sulit.jadi.penyelamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s