paradoks pembohong

Seringkali berbohong dianggap dosa kecil atau perkara sepele. Namun dalam banyak kasus penyimpangan perilaku, termasuk perbuatan yang merugikan masyarakat banyak, seringkali dibungkus oleh banyak kebohongan. Hal ini banyak dilakukan oleh mereka yang termasuk ke dalam golongan yang suka ingkar.

Paradoks Pembohong
F Rahardi : Minggu, 26 Oktober 2008 | 01:46 WIB

Mereka mempersembahkan makam untukMu, O, betapa suci dan tinggiNya

Orang-orang Kreta selalu berbohong, binatang jahanam, bermalasan dan tertawa-tawa

Tetapi karyaMu tak pernah mati: Kau akan terus hidup dalam keabadian

Dalam diriMu kami hidup dan bergerak, dan bisa memaknai kehidupan kami.

Itulah terjemahan bebas bait puisi Epimenides dari Knossos, Pulau Kreta, yang hidup pada abad VI SM. Ia menulis bait puisi ini untuk memuja Zeus, Sang Maha Dewa. Pada abad XIX, salah satu baris puisinya diutak-atik orang, kata-katanya diakrobatkan, hingga menjadi premis-premis yang saling bertolak belakang, yang sebelumnya sudah sangat dikenal sebagai Paradoks Pembohong. Hingga sekarang, Epimenides dan baris puisinya seakan-akan menjadi bagian dari Paradoks Pembohong.

Paradoks Pembohong adalah paradoks paling klasik, sekaligus paling terkenal, ciptaan Eubulides dari Miletus, Yunani (abad IV SM). Selain menciptakan Paradoks Pembohong, Eubulides juga membuat enam paradoks lain. Aslinya, pernyataan dalam paradoks pembohong berbunyi: Seorang laki-laki berkata: ”Yang saya katakan sekarang ini sebuah kebohongan.” Pernyataan inilah yang pada abad XIX dihubung-hubungkan dengan bait puisi Epimenides.

Pernyataannya kemudian menjadi: Epimenides orang Kreta itu, mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong. Dari pernyataan ini, dibuat banyak premis. Di antaranya: Kalau Epimenides jujur, maka pernyataannya menjadi salah. Sebab ia juga orang Kreta, dan tidak berbohong. Kalau ia berbohong, maka pernyataannya juga tetap salah sebab semua orang Kreta bisa bukan pembohong. Akrobat kata-kata seperti ini memang hanya bisa dipahami oleh otak cerdas.

Dari etika ke nihilisme

Akrobat kata-kata dalam paradoks menjadi semakin banyak dan rumit. Paradoks Tanduk (paradoks ketujuh Eubulides) berbunyi: Kalau kau tidak kehilangan sesuatu, maka sesuatu itu masih kau miliki. Karena selama ini kau tidak pernah kehilangan tanduk, maka sekarang kau pasti masih bertanduk. Padahal, mana ada manusia bertanduk? Akrobat kata-kata, dalam paradoks, bukan sekadar untuk iseng dan lucu-lucuan. Pengaruh paradoks, dalam banyak disiplin ilmu, sungguh sangat besar.

Sampai sekarang telah terkumpul 123 paradoks. Mulai dari paradoks filsafat 13, logika 7, matematik/statistik 18, fisika 23, kimia 2, geometri 7, tak terhingga 6, kemungkinan 11, teori keputusan 7, referensi diri 13, tersamar 2, dan ekonomi 14. Ini semua berawal dari kultur Yunani, termasuk Minoan dan Kreta. Pulau Kreta sendiri terletak di tenggara jazirah Yunani. Antara Kreta dan daratan Yunani terletak Pulau Minoan, dengan masyarakatnya yang berkultur sangat tinggi.

Epimenides hidup di Kreta, jauh sebelum Sokrates dilahirkan (470 SM). Sayangnya, peradaban Minoan yang sangat tinggi itu pernah hancur ketika terjadi letusan Minoan abad 16 SM. Pulau vulkanis Minoan seluas 60 km2 sebagian besar cerai-berai dan terbang, lebih hebat dari letusan Krakatau tahun 1883. Selain Minoan, peradaban di pantai utara Kreta juga ikut hancur. Letusan dahsyat ini tercatat dalam papirus dan tembok kuil di Mesir Kuno.

Tidak semua paradoks positif. Paradoks memang berperan dalam pengembangan filsafat, dan ilmu etika (pengetahuan tentang baik dan buruk/moral). Tetapi, paradoks juga berpengaruh terhadap lahirnya nihilisme, dan atheisme. Nihilisme pertama kali dipopulerkan oleh Ivan Sergeyevich Turgenev (1818-1883), novelis dan penulis lakon Rusia. Faham ini juga sering diasosiasikan dengan Nietzsche (1844- 1900). Antara 1860-1870, nihilisme menjadi gerakan pemikiran, sekaligus genre sastra di Rusia. Sekarang nihilisme sering dikaitkan dengan terorisme.

Bunga kata dalam retorika

Kita sering mendengar dalam percakapan sehari-hari: ”Ah, caleg (calon legislatif), itu bisanya kan hanya sekadar retorika”. Artinya caleg itu hanya bisa omong besar, hanya bisa pidato yang muluk-muluk, bombastis, penuh dengan bunga-bunga kata, penuh dengan akrobat kata-kata. Tegasnya, Sang Caleg adalah pembohong. Makna retorika seperti ini berkembang agak belakangan dibanding dengan terminologi awal, yang mengartikan retorika sebagai seni menyampaikan gagasan (lisan maupun tulis), secara efektif.

Retorika lahir pada abad VI SM, dua abad sebelum lahirnya paradoks. Bidan lahirnya retorika adalah Sophism, dalam bahasa Yunani sophos atau sophia, berarti bijaksana atau kebijaksanaan. Hingga retorika, pada awalnya lebih banyak menggunakan bentuk persuasi. Bukan narasi, bukan deskripsi, bukan eksposisi, bukan pula argumentasi. Sebab pada awalnya tujuan retorika adalah agar pihak yang diajak berkomunikasi bisa segera memahami apa yang dimaksudkan, tanpa paksaan, tetapi juga tanpa dialog. Hingga efektivitas dan efisiensi diksi, frasa, kalimat menjadi sangat penting.

Secara ilmiah, studi tentang kekuatan bahasa (kata-kata) dilakukan oleh Empedocles (444 SM). Sebab pada abad V SM, retorika dalam bentuk orasi sudah menjadi tren di Yunani. Guru orasi terkenal antara lain Protagoras (481-420 SM), Gorgias (483-376 SM), dan Isocrates (436-338 SM). Pada zaman Romawi, gramer, retorika, dan logika (Trivium), bersama dengan geometri, aritmatika (berhitung), musik, dan astronomi (Quadrivium) menjadi kurikulum wajib di semua sekolah.

Retorika baru menjadi dogmatis dan politis pada zaman keemasan Eropa, sekitar abad pertengahan. Di sinilah akrobat kata-kata menjadi sampah. Kalimat persuasi ditinggalkan. Sebagai gantinya muncul kalimat indoktrinasi, bahkan provokasi. Tradisi perdebatan dalam paradoks memang tidak dikenal dalam retorika. Kalau para politisi kita, sekarang-sekarang ini lebih banyak pidato omong kosong, sebenarnya mereka sedang mengikuti pola retorika politisi, dan pemuka agama Eropa, abad pertengahan.

Akrobat dan kebohongan

Kata akrobat berasal dari bahasa Perancis acrobate, yang merupakan serapan dari kata Yunani akros (ketinggian) dan bat (berjalan). Hingga arti harfiah akrobat, berjalan di ketinggian. Frasa ini terkait dengan olahraga atletik, senam, dan permainan sirkus. Frasa akrobat kata-kata sebenarnya tidak dikenal dalam ilmu bahasa, juga dalam filsafat. Frasa ini pertama kali dilontarkan oleh Nirwan Dewanto, yang berbicara bersama Budi Darma, pada sebuah seminar sastra, dalam rangkaian Festival Seni Surabaya (FSS), di Surabaya, bulan September 2006.

Frasa akrobat kata-kata, meskipun tidak (belum) menjadi idiom baku, tetap bisa menjadi kata kiasan. Makna sebenarnya adalah paradoks, dan retorika, yang bisa bermakna positif, bisa pula negatif. Akrobat kata-kata dalam sastra juga sah-sah saja, dan belakangan ini memang menjadi tren. Tren juga bukan berarti baik atau buruk, tetapi digemari masyarakat. Dalam sastra, berarti pencipta, redaktur, dan pembacanya sedang menyenangi kecenderungan prosa, dan puisi, yang berakrobat kata-kata, baik yang bermutu maupun yang sampah.

Paradoks paling klasik adalah paradoks pembohong (kebohongan). Retorika dalam indoktrinasi, dan provokasi, juga penuh kebohongan. Dua kebohongan ini, juga kebohongan yang lain, sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan fiksi. Apa pun dalihnya, termasuk sebagai kiasan. Apabila seseorang ingin mengaitkan sesuatu yang tidak nyata, dengan kata bohong, maka yang tepat bukan kebohongan, melainkan ”bohong-bohongan”. Ini setara dengan main-mainan, pacar- pacaran, kawin-kawinan, dan kemudian punya anak ”anak- anakan”.

F Rahardi, Penyair, Wartawan

sumber:
paradoks.pembohong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s