AJI Bandung Patok Gaji Minimum Wartawan

Bagaimana meningkatkan pasar dalam negeri, jika daya beli dibiarkan jeblok terus. Di sisi lain, daya beli tinggi, juga akan memancing barang import deras masuk.

Memang sebuah dilema.

AJI Bandung Patok Gaji Minimum Wartawan
Profesi : Senin, 20 Oktober 2008 | 12:14 WIB

Bandung, Kompas – Aliansi Jurnalis Indonesia atau AJI Bandung menetapkan upah layak minimum wartawan di Kota Bandung sebesar Rp 3,53 juta. Biaya hidup ini didasari laju indeks harga konsumen dan tingkat konsumsi seorang wartawan.

Demikian antara lain yang disampaikan Ketua AJI Bandung Agus Rakasiwi di sela-sela diskusi tentang upah layak wartawan di Gedung Indonesia Menggugat, Minggu (19/10). “Pada Agustus 2008, AJI Bandung juga melakukan survei tentang upah yang diterima wartawan media massa yang ada di Bandung,” ujarnya.

AJI menyurvei 20 wartawan dari 14 media massa lokal. Hasilnya, banyak wartawan masih digaji di bawah upah minimum kabupaten/kota (UMK) dan kebutuhan hidup layak (KHL). UMK Kota Bandung mencapai Rp 939.000, tetapi banyak wartawan hanya digaji Rp 500.000-Rp 700.000 per bulan.

Bahkan, ada wartawan yang diupah berdasarkan jumlah berita, yaitu Rp 10.000-Rp 20.000 per berita.

Agus mengatakan, pengupahan atau penggajian terhadap wartawan seharusnya dibedakan dengan profesi lain. Alasannya, risiko kerja wartawan tidak bisa diprediksi sebagaimana pekerjaan lain, seperti kecelakaan saat meliput dan tuntutan hukum atas berita wartawan.

Agus menambahkan, AJI mendorong perusahaan pers memberikan penghargaan yang layak bagi wartawan. Ini sesuai dengan Pasal 10 amanat Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Penghargaan ini antara lain upah layak, asuransi jiwa, bonus, dan kepemilikan saham. Eddy Suprapto dari AJI mengatakan, penentuan upah minimum ini amat penting bagi wartawan.

Sebab, sejak 1990-an perusahaan media bukan lagi dikelola sebagai perusahaan keluarga atau yayasan, melainkan telah menjadi industri.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Ridlo Eisy mengatakan belum bisa menentukan jumlah gaji yang layak bagi wartawan. Alasannya, ini membutuhkan kajian mendalam, apalagi di tengah kenaikan harga kertas yang memukul perusahaan media cetak.

Ridlo mengatakan, kondisi keuangan 70 persen perusahaan media cetak anggota SPS tidak sehat. Adapun kondisi keuangan perusahaan media cetak di luar SPS dipastikan tidak ada yang sehat. Kondisi ini memaksa perusahaan membayar rendah wartawan. (MHF)

sumber:
kompasCetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s