Greed Street…

Tematik pengetahuan : Ekonomi Makro : Krisis Finansial

Greed Street… (Ngerepotin aja….)

Bermula dari Wall Street..
Orang SaoPaolo dididik jadi Pialang..
Orang Mexico diminta membeli banyak Monitor..

Orang Frankfurt mesti beli Papan Kurva Elektronik..
Orang Jepang diminta menulisi Kaca etalase kantor/toko-nya..
Semua diajari bikin gelembung..

Lalu..
Pessssssssssshhhhzzzzz..
Semua diajari meletus bareng-bareng..

Wall Street

Narasi sebagai musik latar :

Menggelembung untuk Meletus Lalu Gelap
Kompas/Yuniadhi Agung : Sabtu, 11 Oktober 2008 | 06:26 WIB

INGAT Gunung Galunggung di Jawa Barat yang meletus tahun 1982? Lebih kurang, seperti itulah yang terjadi dalam krisis keuangan sekarang ini. Sebelum meletus, magma menumpuk di pucuk Galunggung, dan pada saatnya magma itu muncrat dan membuat gelap kawasan sekitar, hingga menyelimuti Jakarta dan sekitarnya.

Magma di sektor keuangan global dimulai di sektor perumahan AS tahun 2001 sejak perusahaan-perusahaan dotkom di AS ambruk, blasss…! Perumahan laku keras, termasuk karena ditopang pinjaman murah. Suku bunga dipatok Bank Sentral AS, bahkan mencapai 1 persen.

Pembeli rumah pada awal 2000-an pun untung. Setelah dibeli, tak lama kemudian harga rumah melambung tinggi. Rata- rata harga rumah melambung dan mencapai puncaknya pada Juli 2006, dengan harga rata-rata nasional 230.200 dollar AS (sekitar Rp 2,070 miliar). Pada awal 2000-an, rata-rata harga rumah baru 125.000 dollar AS. Artinya, dalam lima atau enam tahun terjadi kenaikan harga sekitar 50 persen (setelah disesuaikan dengan inflasi).

Keuntungan 50 persen dalam lima tahun, di negara dengan angka rata-rata inflasi di bawah 3 persen per tahun, adalah sesuatu yang besar dan dahsyat. Bandingkanlah tingkat keuntungan itu dengan keuntungan dari simpanan di bank, yang tak sampai 3 persen setahun. Keuntungan dahsyat ini membuat warga AS terpicu membeli rumah, bukan saja menjadi tempat tinggal, bahkan menjadi sarana investasi.

Warga yang membeli rumah ditawari lagi pinjaman dari bank, dengan agunan rumah, yang masih dicicil. Pada awal 2000-an terjadi fenomena, beli rumah bisa membuat warga kaya mendadak.

Juga terjadi, warga yang membeli rumah pada awal-awalnya bisa melunasi pinjaman bank itu dari rumah yang kemudian dijual. Untung dapat, pinjaman pun lunas.

Begitulah keadaannya, dan terjadilah iklan dari mulut ke mulut. Terjadilah eforia dan semangat tinggi membeli perumahan. Bank-bank di Eropa pun turut berlomba memberi pinjaman bagi warga yang membeli rumah. Lembaga perbankan tak mau ketinggalan menambang emas di sektor perumahan AS.

Terjadilah penumpukan pinjaman bank mencapai 1 triliun dollar AS di perumahan AS. Inilah magma yang sudah ditumpuk itu.

Tak bisa lagi naik

Namun, akhirnya terjadi letusan. Harga rumah tidak bisa lagi lebih tinggi dari puncaknya pada 2006. Pembeli rumah yang masuk belakangan, dengan harapan dapat untung, malah dipaksa membayar cicilan rumah. Padahal, mereka juga harus membayar pinjaman.

Niat membeli rumah untuk investasi dan menernakkan uang dengan harapan bisa kaya mendadak sudah tak bisa terwujud. Saat bersamaan terjadi pula penurunan kegiatan ekonomi.

Terjadilah ledakan gagal bayar dari warga AS. Terjadilah rentetan kebangkrutan perbankan dunia di sektor perumahan AS.

”Sudah lama saya peringatkan bahwa gelembung ini akan meledak, dan saya sudah bicara di mana-mana,” kata Kirby Daley, ekonom, di Hongkong, Jumat (10/10), kepada CNN.

sumber : kompasOnline


Tematik pengetahuan : Ekonomi Makro : Krisis Finansial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s