wawasan strategis CEO BUMN menghadapi krisis finansial

Tidak banyak pimpinan puncak BUMN yang berani membuka jurus-jurusnya, dalam menghadapi krisis finansial seperti yang terjadi saat ini. Satu dari yang berani itu, adalah Triharyo, atau yang oleh sahabat-sahabatnya dipanggil Hengki.

Ada baiknya kita belajar dari pemikiran beliau.

Apa yang saya lakukan di perusahaan kami pada saat finansial krisis seperti ini

Rabu, 08 Oktober 08 – oleh : Triharyo (Hengki)

Setelah bertemu dengan banyak CEO, baik di Indonesia maupun diskusi dengan beberapa CEO dunia, ternyata semua resep mereka untuk mengatasi krisis kali ini hampir sama, yaitu “….jaga arus kas (cash flow)”. Karena menurut mereka arus kas adalah ”darah” perusahaan.

Para sahabat-sahabat saya semua serempak berpendapat bahwa jangan sampai perusahaan kita ditransfusi, artinya perusahaan harus mencari pinjaman ke bank untuk beroperasi. Menjaga arus kas berarti mengejar piutang dan mencari pembayaran dari customer yang fundamental bisnisnya kuat.


Selain itu, saya ingin mengingatkan kepada para pengelola perusahaan, tentang teori kuno, cara mengelola sebuah perusahaan yang bernama”Balance score card” (oleh Kaplan & Norton).

Sebagaimana diketahui, teori Balance score card mencakup pengendalian 4 (empat) perspektif dalam mengelola sebuah perusahaan yaitu Financial, Customer, Business process, Learning & Growth. Sebisa mungkin, setiap saat ke-empat perspektif tersebut harus imbang (balance) dikendalikan dan dikelola oleh seorang CEO.

Nah…setelah saya renung-renungkan ternyata 4 perspektif ini perlu dikembangkan dengan memasukan “unsur waktu”. Jadi menurut saya, Financial perspective sifatnya emergency term (sangat urgent), Customer perspective sifatnya short term (jangka pendek), Business process sifatnya Medium term (jangka menengah) dan Learning and Growth sifatnya long term (jangka panjang).

Dalam bahasa sederhana, yang emergency adalah financial (mengejar uang masuk dan profit), lalu mengejar customer (kontrak atau proyek), kemudian memperbaiki proses bisnis (membuat produk yang sama dengan harga yang lebih murah atau kualitas lebih baik) dan terakhir baru pengembangan (misalnya membuat produk baru).

Jadi sekali lagi……………yang urgent adalah mengejar uang masuk dan menjaga arus kas. Tapi juga jangan lupa dengan 3 perspektif lainnya.

Salam, Hengki

catatan : Hengki, alias Triharyo, saat ini menjabat Direktur Utama Rekayasa Industri, BUMN.

sumber:
situs karya nyata
balance scorecard basic
balance scorecard measurement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s