repo and top-up

Tematik pengetahuan : Ekonomi Makro : Krisis Finansial

Dalam posisinya sebagai penanggung jawab suatu perusahaan dengan asset yang bagus, seringkali Hengki memperoleh pengalaman yang belum tentu dialami oleh setiap orang.

Dalam kesempatan ini, beliau memberikan sharing tentang produk Repo dan Top-Up, yang biasa ditawarkan para investment banking.

Apa sih itu Repo & Top-up ? – yang menurut saya menjadi penyebab terjadinya suspensi BEI
Jumat, 10 Oktober 08 – oleh : Triharyo (Hengki)

Sebagai pengelola perusahaan dengan perputaran uang sekitar US $ 35 s/d US $ 50 juta per bulan, kami sering mendapat penawaran dari para pialang saham untuk melakukan investasi dana tersebut. Adapun salah satu bentuk investasinya adalah investasi “Repo”. Apakah sebenarnya investasi Repo ini ?

Repo adalah sebuah cara meminjam uang dengan menggunakan jaminan obligasi atau saham. Jadi sederhananya kira-kira begini. Sang peminjam (biasanya perusahaan sekuritas yang terkenal) berjanji kepada pemilik uang, bahwa uang yang dipinjam akan dikembalikan dengan nilai yang jauh lebih besar dari bunga bank. Dimana pinjaman tersebut dijamin dengan memakai saham yang nilainya sama atau bahkan lebih. Seluruh transaksi ini dilakukan secara legal melalui kontrak yang disebut Repurchase agreement (Repo).

Di atas kertas, proposal ini menjadi sangat menarik bila saham-saham yang dijaminkan oleh sang pialang adalah saham-saham yang relatif terkenal bagus dan liquid (“blue chip”). Saham-saham yang pernah ditawarkan kepada saya, antara lain saham PT Astra Internasional, PT Astra agro lestari, PT Antam, PT Telkom, PT Bukit Asam, PT Bumi resources, PT United tractor dll. Yang lebih membuat tawaran tersebut semakin menarik adalah sang pialang menawarkan kepada kami, bahwa bila nilai jaminannya turun (karena nilai sahamnya turun), maka sang pialang berjanji akan langsung menutup kekurangannya dengan tambahan jaminan saham baru. Sehingga jaminan pinjaman (dalam bentuk saham ataupun obligasi), akan selalu lebih besar nilainya dari uang yang dipinjam. Istilah ini disebut “top up”

Jadi kalau dilihat selintas, tawaran investasi Repo ini begitu menarik :

  • Karena transaksinya dituangkan dalam kontrak, yang menjamin pengembalian pinjaman dengan nilai pengembalian diatas bunga bank (biasanya signifikan diatas)
  • Kontrak tersebut ditanda-tangani oleh perusahaan sekuritas yang relatif terkenal dan baik
  • Pinjaman uang diberi jaminan dengan saham yang bagus dengan nilai agunan yang jauh diatas jumlah pinjaman.>/li>

Namun karena perusahaan kami tidak membolehkan penggunaan uang perusahaan untuk transaksi seperti ini dan juga karena saya sangat tidak percaya dengan konsep penciptaan nilai yang sifatnya instant, maka biasanya tawaran-tawaran seperti ini saya tolak. Tapi saya tahu bahwa pasti banyak CEO yang mengambil opsi ini untuk mendapatkan keuntungan yang relatif cepat. Karena Repo dapat dilakukan dalam hitungan jam (overnight).

….Nah masalahnya, bagaimana kalau nilai saham tiba-tiba meluncur turun dengan drastis. Tentunya sang pialang tidak sempat dan mungkin juga tidak mampu untuk melakukan ”top-up”. Akibatnya, sang pemilik uang yang saat ini hanya memegang jaminan saham, pasti ingin sesegera mungkin mencairkan jaminannya karena khawatir uangnya akan semakin hilang nilainya. Bila ini terjadi dalam skala besar dan serempak maka ujung-ujungnya bisa mengakibatkan penurunan indeks saham yang dramatis.

Inilah menurut saya penyebab terjadinya suspensi di Bursa Efek Indonesia Senin lalu, data-data awal berikut mendukung analisa saya :

  • BEI ”baru” meminta para broker untuk melaporkan saham yang di-repo (dijaminkan). Berarti sebelumnya transaksi Repo ini tidak pernah terkendali oleh BEI. Perbankan mungkin saat ini sudah relatif ”strict” dalam melakukan risk management. Tapi bagaimana risk management transaksi Repo di BEI kalau baru sekarang minta laporan ?.
  • Kenapa perusahaan-perusahaan yang relatif kuat fundamentalnya justru terjungkal ?. Kenapa nama-nama perusahaan tersebut mirip dengan nama-nama perusahaan yang sering ditawarkan ke saya sebagai jaminan untuk pinjaman Repo.
  • Kenapa secara khusus BEI meminta penjelasan Bakrie mengenai gagal bayar Repo

Jadi menurut saya, untuk mengembalikan kepercayaan pasar modal, saran awam saya adalah mengendalikan transaksi Repo lebih ”strict”. Inilah pengamatan saya.

Salam
Hengki

Nb : saya tulis pengamatan ini di milis ITB untuk mengingatkan bahwa value creation (peningkatan nilai tambah) yang paling nyata adalah melalui karya-karya keinsinyuran seperti yang saya sering ulas di http://www.triharyo.com. Uang yang diperoleh dari pasar modal, seharusnya digunakan untuk menciptakan karya-karya yang meningkatkan kemaslahatan umat, dan bukan untuk berpialang lagi.

sumber:
[1] situs karyanyata
[2] wealthindonesia.com


Tematik pengetahuan : Ekonomi Makro : Krisis Finansial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s