sektor riil tetap belum diperhatikan

Ketergantungan pangan nasional terhadap komoditas impor sangat besar sehingga Indonesia masuk dalam perangkap pangan, sementara masalah kemiskinan tetap tidak teratasi.

Impor gandum tiap tahun mencapai 100 persen atau 6,6 juta ton, kedelai 60-70 persen atau 1,1 juta ton, dan gula 30 persen.

memang parah

Eriyatno, Ketua Majelis Pakar CPR-Indonesia, mengatakan, perubahan kebiasaan makan harus dilakukan secara besar-besaran dengan kampanye untuk melawan opini publik yang dibangun oleh industri pangan berbasis impor.

setuju

”Ada pangan murah untuk apa kalau daya beli masyarakat terus merosot yang pada akhirnya melanggengkan kemiskinan,” ujar Aviliani.

pangan murah ternyata secara tersistematis akan hanya menguntungkan boss-boss dan juragan-juragan besar, yang memperoleh buruh murah. Dan buruh murah itu kehidupannya akan semakin terpuruk secara pelahan dan tersistematis pula.

Tidak ada korelasi antara naiknya produk domestik bruto (PDB) dengan pengurangan kemiskinan. Karena naiknya PDB lebih banyak disumbang sektor di luar manufaktur dan pertanian, seperti sektor transportasi dan telekomunikasi, hotel dan restoran, perdagangan, keuangan, dan jasa yang merupakan sektor padat modal, tetapi menyerap sedikit tenaga kerja

Issue Produk Domestik Bruto adalah salah satu wacana yang secara tersistematis digunakan untuk mengalihkan perhatian rakyat terhadap tidak adanya upaya penyediaan lapangan kerja yang layak dan bermartabat dan mengaburkan upaya peningkatan daya beli.

Sektor Pertanian dan Manufaktur Kurang Perhatian
Swadaya Pangan Perlu Didorong : Selasa, 23 September 2008 | 00:43 WIB

Jakarta, Kompas – Masalah kemiskinan tidak bisa diselesaikan hanya dengan menggelontorkan anggaran saja. Namun, harus ada upaya sungguh-sungguh untuk menggerakkan sektor pertanian dan manufaktur karena kedua sektor tersebut sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja. Untuk itu, swadaya pangan perlu didorong.

Menurut Wakil Ketua Center for Policy Reform (CPR) Indonesia Aviliani, Senin (22/9) di Jakarta, yang terjadi saat ini sektor pertanian dan manufaktur kurang mendapat perhatian. Indikasinya, ketergantungan pangan nasional terhadap komoditas impor sangat besar sehingga Indonesia masuk dalam perangkap pangan, sementara masalah kemiskinan tetap tidak teratasi.

Impor gandum tiap tahun mencapai 100 persen atau 6,6 juta ton, kedelai 60-70 persen atau 1,1 juta ton, dan gula 30 persen. Untuk mengatasi ketergantungan pangan ini, pemerintah membuat kebijakan menyediakan pangan murah. Bukan sebaliknya, yakni mendorong terciptanya daya beli.

”Ada pangan murah untuk apa kalau daya beli masyarakat terus merosot yang pada akhirnya melanggengkan kemiskinan,” ujar Aviliani. Akibat rendahnya perhatian pada sektor pertanian dan manufaktur, pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup tinggi tidak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan dan daya beli.

Saat ini jumlah penduduk miskin 34,96 juta orang atau turun dibandingkan dengan sebelumnya sebanyak 37,17 juta orang.

”Tidak ada korelasi antara naiknya produk domestik bruto (PDB) dengan pengurangan kemiskinan. Karena naiknya PDB lebih banyak disumbang sektor di luar manufaktur dan pertanian, seperti sektor transportasi dan telekomunikasi, hotel dan restoran, perdagangan, keuangan, dan jasa yang merupakan sektor padat modal, tetapi menyerap sedikit tenaga kerja,” katanya.

Ketergantungan Indonesia pada impor sangat tinggi. Karena itu, begitu harga pangan impor naik, perekonomian langsung terganggu karena inflasi melambung.

”Makin melemah nilai tukar, kemiskinan akan semakin banyak karena orang makin tak mampu membeli barang impor,” tuturnya.

Solusi
Ketua CPR-Indonesia BS. Kusmuljono mengatakan, ada solusi untuk mengatasi ketergantungan pangan sekaligus membuka lapangan kerja untuk mengurangi kemiskinan. Solusi itu dengan strategi pembangunan perekonomian yang berbasis demand side, dengan melakukan swadaya pangan.

Swasembada pangan, jelas Kusmuljono, lebih mengutamakan peningkatan produksi, tetapi swadaya pangan lebih fokus pada demand side.

Yang ini kurang tepat. Fokus pada demand side akan mudah dibelokkan kepada konsumsi barang-barang import. Bahkan pengusaha dari negeri China pun pernah bilang, silahkan definisikan kebutuhan negeri Anda, nanti kami akan menyediakan barangnya. Import juga khan, akhirnya ? Ini artinya hanya membuatkan pasar bagi negeri lain.

Lebih konyol lagi, jika pembuatan Demand Side lalu dilindungi oleh dokumen kontrak dengan pengusaha dari negeri importir. Lalu kertas dokumen kontrak itulah yang dijadikan senjata, jika fabrikan dalam negeri protes.

Ingat kasus tabung gas 3 kg. Begitu pasar terbentuk, itu menjadi ajang pasar bagi China, dan Thailand. Sementara fasilitas manufakture kita terbengkalai. Kenapa kita tidak bisa memanfaatkan bangkai fasilitasnya semacam Texmaco atau PT DI ? Kenapa kasusnya dibiarkan berlarut-larut ? Kenapa kita tidak mengelola ketersediaan plat baja dengan baik, sementara bahan baku untuk pembuatan plat itu di Krakatau steel masih tergantung import ?

Demand side harus diikuti dengan evaluasi level kemandirian kita, dibarengi apa kompetensi yang kita miliki, dan mana saja kompetensi yang bisa dikembangkan sendiri dan dengan semangat untuk dicukupi sendiri. Sementara “jangan bikin pasar dulu” bagi kompetensi yang kita belum mampu saat ini dan beberapa saat yang akan datang.

Bagaimana mengubah pola pangan warga agar secara pasti menekan konsumsi pangan impor. Dalam mengatasi masalah perangkap pangan, pemerintah harus menata ulang pengelolaan sumber-sumber produksi pangan, seperti tanah, hutan, air, benih, kredit, teknologi, agar lebih produktif dan berkelanjutan.

Eriyatno, Ketua Majelis Pakar CPR-Indonesia, mengatakan, perubahan kebiasaan makan harus dilakukan secara besar-besaran dengan kampanye untuk melawan opini publik yang dibangun oleh industri pangan berbasis impor. (MAS)

sumber : Kompas-cetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s