jangan mengorbankan kreativitas petani

dialog – 1:

Jangan Mengorbankan Kreativitas Petani
PT SHI: Silakan Buktikan kalau Ada Pelanggaran
Rabu, 10 September 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Kreativitas petani untuk menghasilkan benih padi varietas baru yang unggul untuk mendukung ketahanan pangan jangan dimatikan. Kasus Super Toy HL-2 merupakan cermin sikap pemerintah yang gagap merespons kelambanan penemuan varietas padi yang spektakuler di tengah ancaman krisis pangan.

Hal itu diungkapkan guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, dan Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia yang juga guru besar sosial ekonomi pertanian Universitas Jember, Rudi Wibowo, saat dihubungi terpisah di Jakarta dan Surabaya, Selasa (9/9).

Menurut Rudi, semangat petani-pemulia untuk menghasilkan calon varietas unggul Super Toy HL-2 patut diapresiasi, apalagi itu bermuara pada bangkitnya kreativitas petani untuk menghasilkan padi varietas unggul. Sayangnya, semangat dan kreativitas petani penemu calon varietas Super Toy HL-2 dinodai sikap komersialisasi benih yang berlebihan oleh pengembang, dalam hal ini PT Sarana Harapan Indopangan (PT SHI).

Adapun Maksum mengungkapkan, upaya mengomersialisasi benih secara prematur dan memolitisasi benih ini tidak saja menimpa calon varietas Super Toy HL-2, tetapi juga terhadap calon varietas lain, seperti benih padi hibrida impor yang sekarang ini sedang marak.

”Kreativitas patut dihargai. Namun, apabila kreativitas tersebut sudah melibatkan masyarakat untuk menanam, itu ada prosedur sertifikasi dan legal yang harus ditempuh,” katanya.

Seharusnya sebelum dikomersialisasi, calon varietas diuji lokasi dan disertifikasi agar mendapat legitimasi secara akademik dan riset. Namun, langkah ini dilewati. ”Ini masuk kriminalisasi akademik,” ujar Maksum.

Di Makassar, guru besar pertanian Universitas Hasanuddin, Saleh S Ali, menilai, munculnya kasus Super Toy HL-2 membuktikan betapa lemahnya politik pertanian dan politik pangan negara ini.

Saleh menambahkan, selaku negara agraris, Indonesia mestinya tidak mudah dirambah benih tanaman apa pun yang strategis bagi kehidupan rakyat tanpa terlebih dulu disertifikasi oleh lembaga yang sahih. Dalam hal ini, Departemen Pertanian harus berada di garda terdepan kebijakan pertanian dan tidak membiarkan Presiden disusupi kepentingan pertanian yang sesat.

PT SHI: Silakan buktikan

Di Jakarta, CEO PT SHI Iswahyudi mengemukakan, pihaknya sudah menyelesaikan masalah yang muncul dan membayar ganti rugi seperti diminta petani terkait uji coba benih Super Toy HL-2 di Desa Grabag, Purworejo, Jawa Tengah. Kalau dinilai melanggar aturan, SHI mempersilakan pembuktian adanya pelanggaran itu.

”Masalah SHI dengan petani sudah selesai dan sudah diserahkan ke Bupati Purworejo. Tidak ada tuntutan. Soal dugaan komersialisasi, silakan dibuktikan saja ada atau tidak. Benih diedarkan tidak untuk tujuan komersial, tetapi dalam rangka percobaan dan tidak ada yang dirugikan,” ujar Iswahyudi.

Bupati Purworejo Kelik Sumrahadi juga mengaku sudah menerima cek dari PT SHI senilai Rp 1.649.472.500. Dana dari cek yang diberikan oleh Iswahyudi ini akan segera dicairkan dan diperkirakan dapat dibayarkan kepada petani hari Minggu mendatang.

Belum bisa diterapkan

Tauyung Supriyadi (30), petani-pemulia pembuat benih padi calon varietas Super Toy HL-2, beberapa waktu lalu menuturkan, benih padi temuannya itu belum tentu bisa diterapkan di semua jenis sawah, seperti sawah gambut atau sawah tadah hujan.

Tauyung (bukan Tuyung atau Toyong) bahkan menjelaskan, penggunaan benih itu di sawah gambut sulit dilakukan karena kadar keasaman (ph) yang rendah, yakni 3,7-5,5.

Menurut Tauyung, benih padi Super Toy HL-2 masih membutuhkan pengujian yang terus- menerus, serta diimbangi dengan teknologi pengolahan tanah dan penerapan pola tanam yang tepat sehingga hasilnya maksimal.

Tauyung menambahkan, penemuan benih Super Toy HL-2 merupakan rangkaian panjang penyempurnaan dan perbaikan sel benih hasil persilangan dari benih varietas padi penghasil beras merek Rojolele dan Pandanwangi.

Penemuan atas benih Super Toy berawal pada November 2006, yang diberi nama Super Toy HL-1. Selanjutnya, benih disempurnakan dan diberi nama Super Toy HL-2. Saat ini, Tauyung mengaku sedang mengembangkan Super Toy HL-3, HL-3A, dan HL-3B.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Suyamto mengatakan, tugas pemulia yang benar adalah menghasilkan varietas. Baik dengan melakukan penyilangan, penyinaran, maupun pendekatan bioteknologi modern atau yang paling mudah dengan melakukan seleksi untuk menghasilkan varietas unggul.

Pada tingkat yang paling sederhana, seperti petani-pemulia, juga berupa menghasilkan varietas baru dengan kualitas dan produktivitas lebih baik untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Pemberdayaan penyuluh

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan, untuk mencegah terulangnya kasus kegagalan panen petani pemakai benih padi Super Toy HL-2 di Purworejo, peran petugas penyuluh lapangan (PPL) harus diberdayakan kembali. Peran PPL sangat penting untuk memberikan pengarahan kepada petani tentang benih apa yang seharusnya dan tak seharusnya ditanam.

”Seharusnya petani memahami benih apa yang layak. Di sinilah perlunya peran PPL untuk menjelaskan kepada petani. Dalam kasus Super Toy ini, tak ada yang mengendalikan karena PPL-nya tak diberdayakan,” ujar Bibit Waluyo.

Kasus Super Toy itu, lanjut Bibit, harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama petani dan dinas pertanian. Pada masa mendatang, petani harus memahami dalam menggunakan benih. ”Gunakan benih yang benar-benar teruji,” kata Bibit. (MAS/LKT/INU/EGI/NAR/HAN)

sumber : kompas-cetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s