berkat gas buang Tanjung Jabung

PLTG
Berkat Gas Buang, Tanjung Jabung Bebas dari Gelap


Listrik di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, dihasilkan dari pemanfaatan gas buang. Foto diambil awal bulan Agustus. Dalam sehari, PT Tanjung Jabung Power I dapat menghasilkan listrik sekitar 6 megawatt.

Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2008 | 01:22 WIB

Di saat sebagian penduduk negeri ini mengeluhkan terjadinya pemadaman listrik bergilir, sebagian besar masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, bisa hidup tenang. Mereka memiliki listrik yang diproduksi dari olahan sisa gas buang atau flare gas oleh Pembangkit Listrik Tenaga Gas atau PLTG Tanjung Jabung Power I.

Sudah hampir tiga bulan belakangan ini pemadaman listrik bergilir terjadi pada hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Menurut Humas PLN Jambi H Tambunan, pemadaman terjadi karena Jambi mengalami defisit listrik 36,1 megawatt (MW).

Penyebabnya adalah sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) rusak dan dalam pemeliharaan. PLTU Ombilin Unit I dan II rusak, sedangkan PLTU Tarahan Unit 4 dan PLTU Danau Singkarak dalam pemeliharaan.

Selain PLTU, sejumlah pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Bengkulu dan Jambi juga mengalami kerusakan atau tidak dapat beroperasi karena kekurangan bahan bakar minyak.

Akibatnya, PLN menetapkan kebijakan tiga jam mati dan enam jam hidup setiap hari. Pemadaman bergilir akan berlangsung hingga akhir September.

”Dalam kondisi sekarang, memang lebih enak tinggal di sini karena tidak terkena pemadaman listrik,” tutur Ratno, warga Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Gas buang yang diolah PLTG Tanjung Jabung Power I adalah gas ikutan yang terkandung dalam reservoir minyak bumi. Dalam dunia perminyakan, gas ini kerap disebut associated gas. Dinamakan flare gas karena umumnya dalam pengeboran minyak, gas ini dimanfaatkan untuk mengeluarkan minyak mentah karena tekanannya yang kuat. Jika gas sudah sampai di permukaan, lalu dibakar (flare) sehingga disebut gas buang.

Gas buang dari penambangan dalam perut bumi umumnya langsung dibuang oleh perusahaan pengolah. Namun, oleh PetroChina Tanjung Jabung Ltd, gas buang dialirkan ke pipa-pipa besar untuk diolah oleh PLTG Tanjung Jabung Power I yang merupakan kongsi antara Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan pihak swasta.

Di PLTG, gas buang disaring dari kotoran. Gas kemudian dipisahkan antara yang bertekanan tinggi dan rendah. Gas yang bertekanan tinggi difungsikan untuk pembakaran awal pada mesin, sedangkan gas yang bertekanan rendah dicampur dengan udara dan dibakar. Energi yang dihasilkan dari proses pembakaran digunakan untuk menggerakkan generator, kemudian dinaikkan tegangannya dari 11 kilovolt (KV) menjadi 22 KV. Hasilnya lalu ditransmisikan ke jaringan PLN setempat dan didistribusikan ke masyarakat.

Menurut Manajer Operasional PT Tanjung Jabung Power I Dicky Riyadi, pasokan gas buang mencapai 1.300 juta metrik british thermal unit (MMBTU) per hari. Dari jumlah itu, dapat dihasilkan sekitar 100.000 kilowatt jam (kWh) listrik per hari. Jumlah itu dapat menyediakan listrik bagi penduduk di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, khususnya Kota Kuala Tungkal, yang berlangganan listrik. Penyaluran listrik saat ini mencapai 6,3 MW.

Penggunaan gas buang sebagai sumber alternatif penghasil listrik, menurut Dicky, jauh lebih hemat biaya ketimbang bahan bakar dari batu bara dan minyak. Dengan memanfaatkan gas buang, pihaknya cukup menjual Rp 550 per kWh ke PLN. Ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan solar yang menghabiskan biaya Rp 2.000-Rp 2.500 per kWh.

Kepala Bagian Distribusi PLN Tanjung Jabung Barat Munir mengatakan, pemanfaatan gas buang menjadi listrik meningkatkan efisiensi. Menurut Munir, dulu pemkab harus mengeluarkan subsidi sebesar Rp 3 miliar per tahun untuk menutupi biaya produksi listrik di PLN.

Sekarang, pemkab tidak perlu menyubsidi lagi. Meski begitu, pasokan listrik sebesar 6,3 MW dari PLTG belum memenuhi kebutuhan seluruh warga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Masih dibutuhkan 13-14 MW agar penyaluran aman dalam kondisi beban tertingginya.

Saat ini antrean pemasangan listrik semakin panjang. ”Sekarang daftar tunggu pemasangan listrik baru sudah mencapai 2.500 orang. Padahal, hingga pertengahan tahun ini kuotanya hanya 200 pemasangan baru. Warga sebagian besar dari wilayah Merlung, Pelabuhan Dagang, dan Teluk Nilau,” tuturnya. (Irma Tambunan)

kompas-cetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s