penghasilanmu adalah penghargaan dari masyarakat

“Ingatlah, penghasilanmu adalah penghargaan dari masyarakat. Karena itulah, kamu harus berterimakasih kepada mereka dan perlakukan mereka dengan kebaikan. Jika kamu melupakan itu dan kamu memperlakukan mereka dengan tidak sepantasnya, hukuman perih akan kamu alami di Hari Akhir nanti.” seperti yang tertulis dalam prasasti batu Nihonmatsu.

Isi prasasti itu diungkapkan oleh Fukushima Prefectural Police Chief of Nihonmatsu Police Station, Superintendent Hideyuki Itabashi.

“Bagi polisi seperti kami, tugas bukan hanya menuntut penambahan keterampilan kerja. Yang terpenting adalah menjalin kasih sayang dengan masyarakat….”

Minggu, 31 Agustus 2008 11:16 WIB
Menemukan ‘Polisi Indonesia’ di Fukushima
JANGAN keliru! Saya bersyukur menjadi orang Indonesia. Ada banyak hal luar biasa di sana. Tapi ada sesuatu yang baru bisa saya alami setelah berada di Jepang. Yang belum pernah saya temukan di Indonesia. Sesuatu itu adalah polisi.

Jangan salah! Saya, sebagai orang Indonesia, juga bangga memiliki korps polisi seperti Kepolisian Republik Indonesia. Bahkan salah satu paman saya adalah seorang purnawirawan Polri. Siapa yang tak bangga, memiliki korps Tri Brata yang mampu membongkar jaringan teror pelaku bom Bali dalam tempo sedemikian cepat dan luas?

Itulah sekian banyak prestasi polisi Indonesia. Yang mungkin belum pernah dicapai oleh banyak lembaga kepolisian dunia, termasuk Kepolisian Jepang. Tapi kalau sekarang saya bercerita tentang polisi-polisi Jepang, itu karena ada sensasi yang berbeda ketika bertemu mereka.

Saat mendengar kata ‘polisi’, sejak kecil saya selalu mengasosiasikannya sebagai ksatria. Petarung berbadan kekar, bertampang serius, sigap menangkapi penjahat. Pencitraan yang tidak salah, karena itulah salah satu tugas polisi: penegak hukum.

Berbeda dengan ‘petugas-petugas berseragam biru’ di Negeri Matahari Terbit ini. Dari segi postur tubuh, mereka tidak berbeda jauh dengan polisi Indonesia. Tapi untuk urusan kumis, polisi Indonesia mengungguli mitranya di sini. Namun yang paling membedakan antara polisi Indonesia dan polisi Jepang, saya pikir, justru terletak pada pencitraan yang terbangun pada diri mereka.

Pandangan saya terhadap polisi Jepang bisa disimpulkan lewat sebuah adegan sederhana, yakni ketika Fukushima Prefectural Police Chief of Nihonmatsu Police Station, Superintendent Hideyuki Itabashi, memberikan sambutannya di Chusaizo Adachi.

Dalam benak saya sebagai orang Indonesia, sudah sepantasnya apabila Pak Itabashi berbicara di atas podium. Pengeras suara di hadapan. Dikawal seorang ajudan yang kemudian menyodorkan naskah pidato yang akan dibacakan.

Ternyata Pak Itabashi berbeda. Sambutan tanpa teks disampaikannya sambil duduk, disertai senyum sepanjang alinea. Ditambah lagi gerakan tipikal Jepang: berulang kali mengangguk, sesekali membungkukkan badan.

Di mata saya, apalagi di hati saya, sungguh tidak lazim bagi seorang petinggi untuk memperkenalkan diri dengan kalimat-kalimat yang ‘merendahkan diri’. Kata Pak Itabashi, “Satu ajaran penting dalam kehidupan kami (maksudnya, sebagai polisi Jepang) tercantum pada prasasti batu di Nihonmatsu.”

Dia menyebutkan isi prasasti itu, “Ingatlah, penghasilanmu adalah penghargaan dari masyarakat. Karena itulah, kamu harus berterimakasih kepada mereka dan perlakukan mereka dengan kebaikan. Jika kamu melupakan itu dan kamu memperlakukan mereka dengan tidak sepantasnya, hukuman perih akan kamu alami di Hari Akhir nanti.”

Simpul Pak Itabashi,”Bagi polisi seperti kami, tugas bukan hanya menuntut penambahan keterampilan kerja. Yang terpenting adalah menjalin kasih sayang dengan masyarakat….”

Saya langsung teringat ilmuwan sumber daya manusia, Spencer & Spencer; ini yang disebut soft competency. Unsur mendasar untuk menjadi manusia atau pekerja yang extraordinary. Saya terkenang Profesor Farouk Muhammad; kepercayaan publik adalah senjata utama polisi. Bukan pada tampang seram, apalagi senjata dalam genggaman. Saya pun tersadar akan ajaran Islam; segala sesuatu tergantung pada niat manusia.

Bagi saya, sesi 40 menit itu bukan ‘studi banding’ atau ‘pelatihan’, yang melulu berfokus pada pengayaan isi otak saya. Juga bukan ‘pertemuan’, yang lazimnya berisikan formalitas dan pernyataan tentang kebanggaan korps belaka. Saya lebih suka menyebut acara di Chusaizo Adachi sebagai ‘silaturahim’, karena ‘bagi saya’ ada persentuhan batin di situ.

Jujur saja, saya yakin, Polri perlu sering-sering melakukan perjalanan retreat untuk membuka katub kesadaran mereka lebih lebar lagi akan pentingnya kesejiwaan antara polisi dan masyarakat. Dan perjalanan macam itulah yang saya jalani hari ini.

Saya sempat bungkukkan badan di depan perwakilan warga Nihonmatsu. Termasuk ada Pak Itabashi dan Pak Kan-ho di situ. Pak Kan-ho adalah polisi yang mengepalai Chusaizo Adachi (Pos Polisi). Saya tidak bisa mengucapkan satu kata pun dalam bahasa Jepang. Tapi, mudah-mudahan mereka mengerti, yang saya lakukan itu sesungguhnya berbunyi, “Saya, orang Indonesia, butuh polisi seperti Anda.”

Oleh Reza Indragiri Amriel, Ketua Jurusan Psikologi, Universitas Bina Nusantara, Jakarta

Opini mediaindonesia

http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MjY5MjI=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s