tumbuhkan daya saing

Kompas: Selasa, 2 September 2008 | 00:39 WIB

Kekuatan terbatas
Guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, mengingatkan, kekuatan ekonomi bangsa Indonesia untuk menghadapi dampak ketergantungan pangan impor sangat terbatas. Maka, pembangunan perekonomian harus bisa menumbuhkan daya saing pangan domestik bukan sebaliknya, melumpuhkan.

”Selama ini pangan diposisikan sebagai komoditas ’pengendali’ inflasi serta ’penjamin’ upah minimum regional dan upah minimum kota yang rendah bagi industri. Dampaknya, harga pangan tertekan dan investasi lesu. Pertanian domestik pun kehilangan daya saing,” ujarnya.

Rendahnya daya saing pertanian domestik menahan laju perkembangan riset. Hal itu karena pertanian tidak menghasilkan nilai tambah. Apalagi, pemerintah juga mengabaikan investasi di bidang penelitian yang tentunya membutuhkan modal besar.

Akibatnya, bangsa makin kesulitan memenuhi peningkatan permintaan benih kualitas terbaik. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh perusahaan multinasional (MNCs).

Penumbuhan mitos TAK BERDAYA

ASEAN Business Manager DuPont Andy Gumala menyatakan, saat ini Indonesia tidak mungkin membangun industri perbenihan yang setara dengan MNCs, khususnya untuk benih nonpadi.

”Kalau industri benih padi masih mungkin karena di Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Padi Departemen Pertanian banyak tersimpan plasma nutfah atau tetua-tetua yang bisa dijadikan modal pengembangan benih padi hibrida,” katanya.

Untuk pengembangan benih hibrida, selain padi, rasanya sulit karena Indonesia sudah jauh tertinggal dalam riset dan pengumpulan tetua. MNCs sudah sejak awal tahun 1900-an mulai mengumpulkan tetua-tetua di seluruh dunia sebagai modal pengembangan bibit.

Menurut Direktur Penelitian dan Pengembangan PT SHS Niswar Syafa’at, solusi yang bisa dilakukan adalah menjalin kerja sama perakitan benih hibrida. Kerja sama dilakukan dalam bidang pemasaran, pertukaran plasma nutfah, dan pembagian royalti.

Mutu pengelolaan

Maksum lebih jauh menjelaskan, untuk komoditas pangan seharusnya ada pertimbangan keadilan dan kedaulatan diutamakan mengingat kekuatan ekonomi bangsa amat terbatas.

Paket kebijakan fiskal yang membebaskan bea masuk impor kedelai dan gandum serta menurunkan bea masuk beras 18,2 persen merupakan bentuk bunuh diri karena akan mengakibatkan matinya daya saing domestik.

Wahono Sumaryono, Deputi Bidang Agro Industri dan Bioteknologi BPPT, mengatakan, pengembangan pertanian, termasuk perbenihan, tetap mengacu pada Deptan sebagai national vocal point sesuai dengan mandat dari pemerintah. Lembaga lain pun mendukung. (HAR/NDY/YUN/MAS)

sumber:wapres.akui.riset.pertanian.masih.lemah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s