PTS Ambruk

Mungkin ini akibat kebanyakan yayasan pendiri PTS menganggap bahwa lembaga pendidikan merupakan usaha bisnis. Sangat jarang yayasan-yayasan itu yang memberi hibah kepada lembaga PTS-nya, namun malah lebih sering mengambil “untung” dari dana masyarakat yang diterima melalui SPP mahasiswa. Kalau tidak salah ini melanggar UU 16/2001 tentang yayasan sebagai organisasi sosial yang nirlaba.

Paradigma hukum menyangkut Yayasan menurut UU No 16/2001 adalah organisasi sosial nirlaba, dan amat berbeda dengan BHP yang menurut PP No 61/1999 yang dikelola secara profesional seperti layaknya sebuah badan usaha. Kontradiksi menambah dunia pendidikan kita semakin ruwet, dan carut marut. atmajaya files

Nah, ketika student body dari PTS itu menyusut, kalangkabut-lah para pengelola PTS, karena itu sumber pendapatan mereka yang utama. Mengharapkan dana hibah dari Yayasan ? Eh, sepertinya tidak semua yayasan PTS mau melakukannya, walau janji mereka tercantum dalam statuta.

salam,

wa

Ambruknya PTS Kita
Agus Suwignyo: Kamis, 21 Agustus 2008 | 00:27 WIB

Di tengah gencarnya ikhtiar menjawab tantangan global, banyak perguruan tinggi swasta di Indonesia yang nyaris ambruk.

Berita Kompas dua pekan lalu menyebutkan, hanya 50 persen dari 2.756 PTS di Indonesia saat ini yang dinyatakan ”sehat” dalam hal jumlah mahasiswa, rasio dosen- mahasiswa, dan ketersediaan fasilitas. Di Jawa Tengah 174 dari 323 PTS terancam ditutup karena kurang diminati mahasiswa. Di Yogyakarta jumlah mahasiswa baru PTS cenderung turun. Situasi ini sangat memprihatinkan!

Ambruknya sejumlah PTS merupakan efek privatisasi dan deregulasi pendidikan. Di sisi lain, kondisi ini mencerminkan mutu manajemen pendidikan tinggi kita, khususnya PTS, amat buruk.

Seberapa siap PT(S) di Indonesia menghadapi persaingan yang semakin terbuka? Pantaskah pemerintah berdiam diri menyaksikan ratusan PTS sekarat?

Melalui pergeseran skema pembiayaan, pemerintah mengurangi subsidi. Inilah yang membuat perguruan tinggi negeri (PTN) harus mencari biaya sendiri. Bersamaan dengan itu, syarat pendirian program relatif tidak diperketat. Tak peduli sudah berapa jumlah suatu program studi pada PTS di sebuah wilayah, PTN ”bebas” mendirikan program yang sama dan menentukan benchmark akuntabilitasnya masing-masing.

Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan Malang, universitas bekas IKIP membuka berbagai program studi yang sudah dimiliki universitas di kota-kota tersebut dan nyaris tanpa perbedaan kekhasan program. Sementara itu, universitas-universitas badan hukum milik negara (BHMN) memperluas seleksi mahasiswa melalui aneka jenjang pendidikan.

Akibatnya, peluang PTS memperoleh mahasiswa susut karena pasar calon mahasiswa relatif tetap. Namun, di berbagai jenjang jumlah program studi yang sama semakin besar. Dalam konteks ini, PTS yang (nyaris) ambruk adalah korban langsung deregulasi dan persaingan memperebutkan calon mahasiswa.

Karena itu, pemerintah harus segera mengendalikan ”ekspansi” PT BHMN dan universitas-universitas bekas IKIP. Selain itu, pemerintah sebaiknya mengambil alih PTS yang sekarat! Diperlukan terobosan kebijakan untuk merevitalisasi PTS, misalnya melalui program bantuan likuidasi PTS.

Revitalisasi PTS perlu diintegrasikan dengan rencana restrukturisasi SMA dan SMK. Di banyak negara maju, jumlah universitas dibatasi dan seleksi mahasiswa diatur berdasarkan jenis sekolah menengah.

Jika di Indonesia lulusan SMK hanya dapat melanjutkan studi ke akademi ataupun politeknik, maka nasib lembaga-lembaga perguruan tinggi vokasional tersebut akan terselamatkan. Selain itu, mutu kevokasionalan lulusan dipastikan meningkat karena kesinambungan pendidikan kejuruan tingkat menengah dan perguruan tinggi.

Pada sisi lain, jika universitas hanya menerima lulusan SMA dan tidak menyelenggarakan pendidikan vokasional, peluang mengembangkan riset bermutu di universitas semakin besar.

Rangkaian panjang
Di luar itu harus disadari bahwa privatisasi yang kita saksikan saat ini merupakan rangkaian panjang desakan global dan tuntutan negara berkembang pascakolonial.

Berawal dari kesadaran pentingnya memperkuat semangat kebangsaan, pengelolaan perguruan tinggi dirasakan perlu dilakukan secara mandiri dan berdaya saing. Maka, belum satu dekade Proklamasi Kemerdekaan, gagasan privatisasi telah dibabarkan melalui sebuah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) 1953. Selama puluhan tahun berikutnya, gagasan pembentukan BHP raib akibat kuatnya politik ideologi penguasa.

Namun, tahun 1990-an karena skema pinjaman lembaga-lembaga donor, pemerintah meratifikasi The General Agreements on Trade in Services (GATS) tentang layanan pendidikan. Dengan itu, pemerintah menghidupkan kembali gagasan privatisasi.

Tahun 2000 privatisasi ”diujicobakan” melalui pemberian status BHMN kepada empat PTN, yang disusul dengan PTN lain. Dalam rentang 1990-2000-an pula IKIP ramai-ramai diubah menjadi universitas.

Tidak jelas apakah pemerintah sempat memikirkan dampak kebijakan-kebijakan tersebut bagi PTS. Yang jelas, privatisasi justru akan dimasifkan melalui UU BHP yang rancangannya sedang diolah DPR.

Jika UU BHP diberlakukan, PTS dipastikan mengalami guncangan lebih dahsyat daripada sekarang. Kendati demikian, upaya membendung gelombang pasar bebas pendidikan merupakan utopia karena ketergantungan pada GATS-WTO dan tahap-tahap privatisasi yang telah dilalui dunia pendidikan Indonesia.

Selain privatisasi, ada dua penyebab ambruknya PTS kita. Pertama, krisis ekonomi berkepanjangan melemahkan daya beli masyarakat atas layanan perguruan tinggi dan daya tahan finansial yayasan- yayasan penyelenggara PTS.

Kedua, sikap latah pengelola PTS. Misalnya, setelah wabah ”universitas riset”, akhir-akhir ini sejumlah pengelola PT(S) mencanangkan institusinya menjadi universitas kepengusahaan. Namun, apa maksudnya dan mengapa memilih visi tersebut tidak dikaji mendalam.

Agus Suwignyo Pedagog FIB UGM, Menulis Pendidikan Tinggi dan Goncangan Perubahan (2008), Sedang Meneliti Sejarah Pendidikan Guru

sumber: kompas cetak

One thought on “PTS Ambruk

  1. asep

    PTS sebagian sekarang? pemaparan di atas sebagian ada benarnya secara teori diatas kertas dan menurut ilmu management bisnis atau birokrasi..
    tapi apakah hanya dengan itu yg membuat pts ambruk? menurut pendapat ku sendiri penyebabnya sebenarnya PTS itu sendiri yang membuat dirinya ambruk dengan sikap misalnya :

    Lebih berfikir urusan income yang diperoleh yayasan, membuka berbagai trik pola pendidikan tanpa berfikir lebih dulu bagaimana cara mengatasi permasalahan yg tibul (contohnya paket kilat,, apakah mutunya ok?) setahu aku sih lebih besar ajang bisnisnya..🙂

    Kang Asep, mari kita berdo’a, agar nasib guru maupun dosen yang sebenarnya guru juga, segera menjadi lebih baik. Jangan hanya dikejar-kejar suruh bikin ini, bikin itu, dan sekarang dikejar-kejar sertifikat…

    rasa tanggung jawab baik akademik maupun dosen dalam pola pendidikan yang semakin kurang. mau contoh ?

    Dosen sering tidak masuk, kadang dengan bangganya berkata lg banyak proyek jadi ga bisa ngajar, apa dengan begitu ingin menampilkan bahwa ia cukup pintar? menurut aku sih justru menampilkan rasa ga bertangung jawabnya akan tugas yg sudah disepakati..

    Tanggung jawab yang sudah disepakati, seringkali keseimbangannya berubah, ketika harga kebutuhan hidup naik tidak terkendali… eh maksudnya dikendalikan oleh para pialang saham dan investor gombal

    dan Akademik ga bisa berbuat banyak.. kenapa ya? mungkin takut kehilangan dosen yg udah punya nama diluar walaupun ga bertanggung jawab atau takut kehilangan dosen yg bersedia dibayar murah? entahlah itu paradigma baru kali ya..

    lebih sibuk mencari pengakuan dari luar sebagai bukti kampus maju dari pada pengakuan jujur mahasiswanya sendiri.. buktinya sibuk dengan istilah akreditasi, sertifikasi, kerja samalah.. dan berbagai macam..

    padahal urusan di dalam lebih amburadul..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s