Membangun Potensi Anak Bangsa

Opini: MediaIndonesia: Kamis, 21 Agustus 2008 08:48 WIB

SALAH satu upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah serta menambah wawasan peserta didik, ialah dengan menjalankan pola pengembangan bakat dan minat siswa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Setiap tahun, sejak 2001 Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional mengadakan kompetisi Olimpiade Sains Nasional (OSN), sebagai salah satu alat untuk mengukuhkan penguasaan siswa terhadap ilmu-ilmu dasar. Ajang berskala nasional itu diikuti oleh pelajar-pelajar berbakat dan berprestasi pada jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA.

Hasil pendidikan yang memiliki nilai kompetisi nasional dan internasional tentu akan dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya yang sangat dominan adalah input. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud dengan input adalah siswa. Dengan segala macam kemampuan dan bakat yang dimilikinya, siswa akan berproses menjadi sumber daya manusia yang bermutu melalui proses pendidikan.

Oleh karena itu, siswa yang memiliki standar mutu yang tinggi ketika masuk sebuah sekolah akan menentukan mutu proses pembelajaran maupun hasilnya (output). Paradigma seperti itu pula yang diyakini oleh panitia penyelenggara OSN.

Untuk mendapatkan calon peserta olimpiade nasional, panitia penyelenggara telah mengembangkan suatu sistem dan mekanisme seleksi. Mekanisme seleksi dibuat lewat beberapa tahapan. Mekanisme itu berlaku untuk setiap jenis olimpiade. Namun, modifikasi dapat dilaksanakan sesuai karakteristik keilmuan tiap-tiap bidang studi.

Hal itu dibuat agar hasil seleksi nantinya benar-benar menjadi duta pendidikan dalam olimpiade internasional. Untuk itu seleksi diselenggarakan secara terbuka dan adil, serta terlepas dari latar belakang sosial-ekonomi, jenis kelamin, suku, maupun agama,

Selain untuk menemukan bibit-bibit asal daerah, tahapan seleksi yang diselenggarakan dari kabupaten/kota hingga provinsi itu juga untuk menggugah kesadaran pemerintah terhadap arti penting pendidikan secara umum. Hal itu diakui masih banyak kendala dan hambatan.

Selain faktor finansial, mungkin ada kendala yang berkaitan dengan mutu sekolah. Adalah suatu kenyataan bahwa mutu sekolah antarkota atau kabupaten yang ada di seluruh Indonesia itu tidak sama. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap materi yang telah dicantumkan dalam kurikulum nasional, tampaknya masih banyak siswa sekolah dari kota atau kabupaten yang belum mampu bersaing atau tidak memiliki kompetensi untuk berprestasi. Selanjutnya, prestasi pada hakikatnya dapat ditingkatkan melalui kompetisi. Semakin ketat kompetisi, semakin tinggi pula motivasi untuk berprestasi. OSN merupakan salah satu strategi dan metode peningkatan prestasi yang sangat efektif. Untuk menunjang prestasi yang lebih tinggi, calon peserta olimpiade yang berhasil lulus seleksi di tingkat kabupaten/kota akan mengikuti kompetisi di tingkat provinsi.

Setelah itu seleksi nasional sebagai puncak dari proses kompetisi bagi calon duta intelektual Indonesia. Setiap bidang studi akan menentukan strategi dan sasaran seleksi berbeda-beda. Untuk tingkat SD/MI, bidang yang diperlombakan adalah matematika dan IPA.

Tingkat SMP/MTs, adalah bidang matematika, fisika, dan biologi. Sedangkan pada SMA/ MA, bidang matematika, fisika, biologi, kimia, komputer/Informatika, astronomi, dan ekonomi.

Keberadaan olimpiade nasional memang bukan satu-satunya indikator yang dapat dipergunakan mengukur mutu pendidikan antardaerah dan antarsekolah. Namun, penggunaan data peserta olimpiade untuk menyusun rekomendasi kebijakan dan program peningkatan mutu sekolah adalah langkah yang tepat.

Rekomendasi

Keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade internasional adalah memberikan kesempatan kepada pelajar Indonesia untuk berprestasi dan menguji kemampuan dalam bidang Iptek di tingkat nasional maupun internasional, membangun manusia bangsa yang tangguh dan mempunyai identitas nasional, serta meningkatkan peran serta bangsa Indonesia di tengah perubahan dunia.

Pengalaman dalam olimpiade tentu menjadi sejarah yang positif bagi dunia pendidikan. Membangun image yang positif dalam pergaulan internasional merupakan keharusan. Ketika kondisi ekonomi, politik, budaya, dan tata nilai semakin sulit dilakukan oleh Indonesia, maka kompetisi di sektor pendidikan justru dapat berbicara di masyarakat dunia dan memberi semangat baru.

Secara nasional, seluruh tahapan seleksi dan pembinaan olimpiade internasional telah membawa bangsa kita kepada suatu pemikiran, kebijaksanaan, dan program pembangunan pendidikan di Tanah Air. Oleh karena itu, beberapa hal berikut ini dapat dijadikan pertimbangan dan rekomendasi dalam pembinaan olimpiade internasional dan peningkatan wawasan keilmuan di kalangan siswa.

Desentralisasi pendidikan sebagai konsekuensi dari pelaksanaan UU Nomor 22/1999 perlu mengutamakan pemerataan mutu pendidikan di jenjang SD, SMP, dan SMA atau yang sederajat.

Tiga strategi kewilayahan dapat dikembangkan untuk mengantisipasi kesenjangan mutu pendidikan.

  • Pertama, merumuskan kebijakan pendidikan nasional yang mendukung daerah tertinggal di wilayah Indonesia Timur. Bentuk intervensi, finansial maupun manajemen pendidikan, masih diperlukan oleh pemerintah pusat untuk daerah itu. Untuk berpartisipasi dalam seleksi Olimpiade Sains Nasional memerlukan suatu bentuk kolaborasi antara Departemen Pendidikan Nasional dan Pemerintah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota secara lebih intensif.
  • Kedua, melakukan peningkatan kemampuan terhadap wilayah provinsi yang mutu pendidikannya dalam kategori sedang berkembang. Ada potensi finansial yang besar di daerah yang termasuk kategori berkembang itu. Oleh karenanya pemasyarakatan program perlu dilakukan agar kegiatan Olimpiade Sains Nasional dipahami oleh badan-badan penyandang dana lokal.
  • Ketiga, peran universitas di setiap provinsi juga belum kelihatan dalam mempersiapkan siswa maupun rekayasa mutu sekolah dalam jangka panjang. Sejauh mana kapasitas dan sumber dana lokal dapat difungsikan untuk menyukseskan kegiatan olimpiade tentu masih perlu penelitian.

Dengan otonomi daerah, peranan dari pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan diharapkan akan lebih peduli terhadap siswa yang berprestasi untuk tahun mendatang.

Secara teknis, sistem dan mekanisme seleksi maupun pembinaan sudah cukup mantap. Perbaikan materi dan pembinaannya memang masih diperlukan, agar bisa mengikuti perubahan yang terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. Secara praktis keterpaduan antara kemampuan dan kecepatan itu masih perlu dimantapkan sebagai prioritas pembinaan siswa sebelum berangkat ke arena olimpiade internasional. Ekspansi kegiatan dan penyelenggaraan kompetisi berprestasi sangat tepat untuk dijadikan model pembinaan mutu siswa.

Di masa depan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi akan terus berkembang. Sekolah sebagai salah satu lembaga bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia telah menerima amanat untuk mengubah tantangan supaya menjadi peluang yang berguna bagi generasi muda.

Apakah olimpiade internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan budaya kompetisi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional kita? Kita semua juga yang akan menjawabnya.

Oleh Dr Sungkowo Direktur Pembinaan SMA Depdiknas

sumber : mediaindonesia

One thought on “Membangun Potensi Anak Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s