Membangun Industri Kreatif

Membangun Industri Kreatif Indonesia

Opini Media Indonesia: 09 Agustus 2008 10:47 WIB

Berbagai negara saat ini mulai menyadari potensi ekonomi yang dapat dipetik dari kreativitas yang dimiliki masyarakatnya. Kreativitas masyarakat yang telah menyatu dengan budaya dan alam setempat membentuk sesuatu yang unik bagi setiap negara. Kreativitas ini secara awam lebih dikenal dalam wujud beraneka ragam produk kriya (craft), pakaian, tari-tarian, dan seni pertunjukan (performance), film, animasi, komik, dan lain sebagainya. Kesemuanya ini membentuk suatu sektor yang saat ini populer dikenal sebagai industri kreatif.

Banyak pihak sepakat bahwa tidak ada batas yang jelas antara industri kreatif dan industri jenis lainnya. Istilah industri kreatif itu sendiri, menurut hemat penulis, bukanlah suatu istilah yang tepat karena semua jenis industri haruslah kreatif dan tidak ada industri yang tidak kreatif.

Bila kita menelaah pergeseran yang terjadi secara global dari era agro, era industri, era informasi, sampai dengan era ekonomi kreatif saat ini terlihat bahwa pada dasarnya dunia bergeser ke sesuatu parameter yang lebih mendasar secara vertikal dan bukan sekadar perluasan menciptakan sektor baru.

Pentingnya kreativitas seperti halnya pentingnya informasi telah diketahui sejak dahulu. Dengan demikian, istilah kreatif saat ini harus lebih kita maknai sebagai sesuatu yang lebih mendasar yang harus muncul dan dikedepankan di berbagai sektor termasuk sektor agro, industri, dan informasi.

Walaupun tidak ada garis batas yang jelas, pada dasarnya kreativitas yang muncul dapat dipisah menjadi dua aliran (stream) utama yaitu kreativitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi/iptek (knowledge based) dan kreativitas berbasis seni (artistic based). Kedua jenis kreativitas ini dalam kenyataannya menyatu di berbagai produk atau kegiatan. Produk teknologi yang didukung seni ataupun produk seni yang didukung teknologi.

Oleh Richard Mengko Staf ahli Menristek

Industri kreatif

Industri kreatif menurut definisi yang digunakan Inggris sebagai negara yang sangat aktif menata industri kreatifnya adalah ‘industri yang berawal dari kreativitas dan kemampuan individu yang memiliki peluang menciptakan lapangan pekerjaan dan nilai tambah melalui eksplorasi HaKI’.

Dari berbagai pandangan yang muncul, sangat terlihat bahwa yang dimaksud dengan industri kreatif adalah industri yang nilai dari produk ataupun kegiatan yang dihasilkan lebih ditentukan oleh kreativitas penciptanya. Ambillah sebagai contoh lukisan ataupun produk kriya. Dengan bahan baku yang sama, suatu produk bisa memiliki nilai yang sangat variatif tergantung dari kreativitas yang dituangkan pada produk tersebut.

Dalam definisi ini, kreativitas dan kemampuan individu menjadi fokus utamanya, dengan berpegang teguh bahwa kreativitas dapat muncul pada siapa pun tanpa memandang umur atau golongan. Dengan prinsip ini, sangatlah penting melakukan berbagai usaha untuk dapat menjaring dan menumbuhkan beraneka ragam kreativitas yang dimiliki masyarakat.

Inggris memasukkan sebanyak 13 sektor dalam kelompok industri kreatif (pembagian ini juga menjadi acuan untuk mengukur industri kreatif Indonesia saat ini) yaitu periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fesyen, film dan video, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbit dan percetakan, layanan komputer dan peranti lunak, serta televisi dan radio.

Pembagian sektor di atas, memperlihatkan adanya kerancuan antara mengukur kreativitas, bentuk media, serta kanal distribusi yang digunakan. Ambillah sebagai contoh sektor televisi dan radio. Parameter apa yang akan kita ukur? Jumlah stasiun, jumlah program atau lainnya? Bukankah televisi dan radio hanyalah suatu media yang menyalurkan konten seperti halnya media cetak? Apa hubungan kesemuanya ini dengan kreativitas?

Kelompok diskusi yang dikoordinasi oleh Kementerian Riset dan Teknologi pernah menelaah hal ini dan mengusulkan suatu pembagian yang dirasakan akan lebih tepat untuk mendorong kreativitas individu di masyarakat yaitu kelompok yang menciptakan konten kreatif, apa pun media yang digunakan (film, karya sastra, musik, animasi), kelompok produk kreatif (lukisan, fesyen, kriya, struktur artistik), kelompok pertunjukan kreatif (tari, teater) serta kelompok iptek kreatif (permainan interaktif, {games]). Pembagian ini tentunya masih dapat disempurnakan lebih lanjut di masa mendatang, tetapi setidaknya penekanan terhadap hal kreatif lebih dapat terlihat.

Mesin kreatif bangsa

Bila kita telaah rantai produksi yang terjadi pada industri kreatif, dengan mudah terlihat bahwa pada dasarnya ada dua tahap utama. Pertama adalah menghasilkan kreativitas yaitu kemampuan seseorang atau kelompok untuk berimajinasi tentang sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain (dalam bentuk suatu rancangan atau konsep) dan yang kedua adalah mewujudkan nya dalam suatu produk atau kegiatan. Bagian kedua ini pada umumnya menjadi bagian dari kegiatan suatu industri tertentu. Lihat gambar rantai produksi kreativitas menjadi inovasi

Rantai ini memperlihatkan pada kita, bahwa kemampuan seseorang untuk berpikir dan menciptakan hal-hal yang kreatif menjadi sangat penting sebagai masukan untuk industri. Usaha untuk mendorong kreativitas masyarakat tentunya berbeda dengan usaha untuk mendorong industri yang menyerap kreativitas tersebut. Yang perlu kita sadari kreativitas dapat dihasilkan oleh siapapun tanpa mengenal batas wilayah, umur ataupun golongan.

Menyadari hal ini, sangatlah penting untuk mendorong kemampuan masyarakat (individu) untuk mampu berkreasi dan menjadi bagian dari kreativitas bangsa di semua sektor industri.

Dua hal penting untuk mendorong tumbuhnya budaya kreatif yaitu pertama, penggunaan internet dan berbagai saluran informasi untuk dapat memetik dan mempelajari kreativitas dunia, kedua, menciptakan pasar domestik yang menyenangi dan menyerap berbagai produk kreatif ini. Kedua hal ini harus dapat ditumbuhkan menjadi bagian dari kehidupan sehari hari menjadi budaya kreatif.

Modal bangsa

Gaya hidup manusia senantiasa bergeser, berubah seiring dengan waktu, kemajuan pemikiran manusia, teknologi, interaksi antar bangsa dsb. Seperti bentuk ungkapan: “tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri.” Disinilah kontribusi dari kreativitas bangsa.

Melestarikan warisan budaya yang kita miliki tentunya bukan berarti kita harus menghambat berbagai kreativitas dan perubahan tetapi harus lebih kita maknai sebagai upaya untuk memberi jalan pada perubahan berikutnya membentuk rantai perjalanan budaya bangsa yang tentunya bukan untuk meruntuhkan tetapi untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya jangan juga kita hanya berpangku tangan pasrah pada komunitas global untuk mengikis keunikan budaya yang kita miliki. Contoh perubahan demikian dengan mudah dapat kita pelajari dari apa yang terjadi di bidang musik dengan adanya warna musik tahun 50-an, 60-an, 70-an, 80-an dan seterusnya.dengan warna dan unsur keindahannya masing-masing, dimana setiap perubahan bukanlah berarti meniadakan keindahan sebelumnya.

Sudah tidak ayal lagi dan bahkan telah merasuk menjadi bagian pemikiran dari setiap insan Indonesia, bahwa negara kita merupakan negara yang kaya akan berbagai produk budaya dari Merauke hingga Sabang, sebagai hasil kreativitas dari generasi pendahulu kita. Suatu kebanggaan yang telah melekat sejak lahirnya Republik ini, sejajar dengan kebanggaan memiliki wilayah lautan luas dan belasan ribu pulau tropis, garis pantai terpanjang di dunia dengan berbagai kekayaan alamnya. Suatu warisan kekayaan budaya yang mampu menghasilkan aneka ragam tarian, pakaian daerah, produk kriya, lukisan, pahat, patung, ukiran, musik dan lagu, kuliner, karya sastra, dan lain sebagainya membentuk modal bangsa yang besar sekali, paduan kekayaan alam dan budaya tropis.

Mampukah manusia Indonesia mengembangkan semua kekayaan ini untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa? Tidak banyak bangsa didunia dan mungkin tidak ada yang memiliki modal kekayaan demikian besar seperti yang kita miliki. Jadi, tidak ada pilihan, kita harus mampu! Jangan bangun industri kreatif yang tidak kreatif…

sumber: mediaindonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s