sinergikan hasil penelitian

Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri
Opini Media Indonesia : Kamis, 14 Agustus 2008 10:08 WIB

Perkembangan media informasi yang begitu cepat seperti media cetak, televisi, radio memungkinkan kita untuk mendapatkan berbagai macam informasi ekonomi dan politik dalam waktu yang relatif singkat dan bahkan sering kali kita bisa mendapatkan informasi secara real time peristiwa-peristiwa penting di berbagai daerah dan belahan dunia. Lalu mengapa kita jarang mendengar berita tentang kolaborasi antara lembaga litbang dan industri untuk menghasilkan inovasi yang membanggakan ?

[database hasil penelitian menganggur / membusuk ?]
Kalau kita tengok database yang ada di berbagai lembaga litbang, banyak sekali informasi hasil-hasil penelitian yang masih tersimpan di berbagai lembaga litbang atau perguruan tinggi. Dalam Direktori Teknologi BPPT pada 2007, tercatat tidak kurang 200 informasi hasil riset, dalam Directory Agrotech-IPB edisi 2007, tidak kurang terdapat 60 informasi hasil riset berbasis paten siap penetrasi pasar. Prestasi mereka dalam mengembangkan penelitian di berbagai bidang tersebut seharusnya mampu memberikan nilai tambah bagi setiap rantai produksi dalam menghasilkan produk-produk yang inovatif.

[miskin tindak lanjut]
Namun, sering kali kita dengar bahwa hasil karya mereka banyak yang berhenti pada proses penelitian dan jarang yang menjadi produk jadi di tengah-tengah kita. Padahal bangsa kita yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dengan berbagai budaya memiliki potensi untuk tumbuh dan mengembangkan inovasi dan dengan jumlah populasi yang lebih dari 200 juta merupakan pasar yang besar bagi produk-produk inovasi.

[indikator inovasi di berbagai negara]
Kalau kita simak berbagai indikator terkait dengan kemampuan inovasi suatu negara, terlihat bahwa daya serap teknologi di tingkat perusahaan di Indonesia (dengan indeks 4,5) lebih rendah daripada beberapa negara tetangga seperti Thailand (5,3), Malaysia (5,8), dan Singapura (6). Begitu juga kerja sama litbang dan industri, kolaborasi litbang universitas, dan perusahaan pada tahun 2006 di Indonesia (dengan indeks 2,8), lebih rendah jika dibandingkan dengan China (3,9), Thailand (4,2), dan Malaysia (4,9) (sumber World Bank).

Banyak kendala yang dihadapi untuk membangun kolaborasi antara lembaga litbang dan industri, salah satunya adalah adanya perbedaan kepentingan dan sudut pandang antara pelaku riset dan pelaku usaha. Produk-produk riset lahir dari lingkungan dan budaya yang lebih fleksibel dan masih memungkinkan adanya kesalahan-kesalahan dalam penelitian, sementara itu budaya di sektor produksi lebih mengedepankan pentingnya nilai tambah.

Dukungan pemerintah [ada insentif berdasar PP 20/2005 & PP 35/2007]

Untuk mendorong peningkatan pemanfaatan hasil-hasil penelitian, Pemerintah telah mengeluarkan PP 20 Tahun 2005 tentang alih teknologi kekayaan intelektual. Pemerintah juga telah mengeluarkan insentif bagi Industri melalui PP No 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan, Inovasi, dan Difusi Teknologi.

[fleksibilitas dalam PP 23/2005]
Sementara itu, untuk mengatasi kendala tentang aturan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang sering kali dikeluhkan dalam upaya mendorong kolaborasi antara lembaga litbang dan industri, pemerintah telah mengeluarkan PP No 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan dan Badan Layanan Umum yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan dalam pengelolaan keuangannya untuk menerapkan praktik-praktik bisnis yang sehat.

[bagaimana dengan penerapan kebijakan pemerintah itu ?]
Dengan telah dikeluarkannya berbagai kebijakan tersebut, mengapa interaksi dan kolaborasi antara lembaga litbang dan industri belum juga berjalan seperti yang diharapkan?

[empat komponen sistem pendorong inovasi]
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita simak kembali sistem yang dibutuhkan untuk mendorong berkembangnya kemampuan inovasi nasional. Secara umum sistem tersebut terdiri dari empat komponen utama yaitu sistem pendidikan dan litbang, sistem industri, sistem politik dan framework condition yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pelaku dalam sistem inovasi.

[belum ada kerjasama yang harmonis]
Namun demikian, meski kita telah memiliki institusi pendidikan dan penelitian yang handal yang mampu menghasilkan penelitian-penelitian terkini dan didukung kebijakan seperti insentif pajak dan regulasi lainnya, bila jembatan penghubung antara penghasil dan pengguna riset tersebut masih lemah, proses inovasi sering kali tidak bisa berjalan dengan baik. Hal ini karena masih adanya gap, perbedaan sudut pandang, dan kepentingan antara lembaga litbang dan industri. Untuk itulah, keberadaan intermediator yang mampu menjembatani dan mempertemukan kepentingan dari lembaga litbang dan industri menjadi suatu keharusan.

Peran intermediasi [belajar dari jepang]

Keberhasilan Jepang menjadi salah satu negara adidaya dalam bidang teknologi salah satunya karena adanya interaksi dan sinergi antara pelaku industri, pelaku penelitian dan pemerintah sebagai pembuat regulator. Sementara itu, dari studi yang dilakukan Kementerian Negara Riset dan Teknologi bersama dengan Kementerian Federal Urusan Pendidikan dan Penelitian Republik Federasi Jerman (BMBF) dalam Program Periskop (tahun 2002) yang mungkin masih relevan untuk kondisi saat ini, disebutkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya daya saing inovasi daerah antara lain lemahnya interaksi antara pelaku-pelaku utama dalam menghasilkan produk inovasi.

Salah satu rekomendasi yang dikeluarkan dari program tersebut adalah perlunya pengembangan suatu lembaga intermediasi (seperti bussiness technology center-BTC) di daerah yang mampu menjembatani komunikasi dan kolaborasi antara lembaga litbang dan industri khususnya industri yang berbasis pada kluster unggulan daerah.

[apa khabar BTC di daerah ?]
Sejalan dengan roadmap Pengembangan Kompetensi Inti Industri Daerah (yang telah dikeluarkan Departemen Perindustrian), keberadaan lembaga intermediasi/BTC tersebut bisa menjadi sentra informasi hasil-hasil riset dan titik temu (meeting point) antara lembaga litbang dan industri dalam upaya mendorong pemanfaatan hasil-hasil riset untuk meningkatkan nilai tambah dan memperpanjang rantai nilai perusahaan di daerah.

Dengan demikian, melalui peran BTC, pengembangan berbagai komoditas unggulan seperti kakao yang menjadi prioritas komoditas unggulan dari beberapa Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Timur, NTT, dan Papua diharapkan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi daerah tersebut.

Sejalan dengan semangat kebangkitan bangsa yang telah digaungkan 100 tahun, momen ini menjadi sangat relevan bagi kita semua untuk bahu-membahu mendorong terjalinnya kolaborasi antara lembaga litbang dan industri untuk membangkitkan budaya inovasi di kalangan masyarakat. Jika melihat potensi yang kita miliki, Indonesia bisa melakukannya.

Oleh Santosa Yudo, Kementerian Negara Riset dan Teknologi

sumber : media indonesia

Komentar:
Database hasil penelitian sudah ada, kenapa tidak dimanfaatkan ? Seperti biasa, budaya kebijakan kita miskin tindak lanjut. Sudah ada kebijakan tentang insentif dan fleksibilitas bagi inovasi [berdasar PP 20/2005, PP 35/2007 dan PP 23/2005]. Namun ketika upaya inovasi kita dibandingkan dengan upaya inovasi negara lain, ternyata kalah dengan Thailand, Singapura, dan Malaysia. Sementara sinergi penelitian, juga kalah.

Empat lokomotif inovasi di negeri ini, sepertinya jalan sendiri-sendiri. Kita sudah berusaha belajar dari Jepang, yang artinya kita sudah menyediakan anggaran (dan realisasinya) untuk mengirim (sejumlah) orang ke sana. Namun bagaimana hasilnya ?.

Sungguh, untuk meningkatkan kualitas, ternyata kita menghadapi kompleksitas. termasuk rendahnya budaya sinergi antar individu maupun instansi. Kenapa yah ?

Apakah perlu pemberdayaan ‘wasit’ untuk lebih meningkatkan sinergi penelitian antar individu maupun antar instansi ?

salam,

wa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s