200.000 PNS fiktif

Ditemukan, 200.000 PNS “Fiktif”
(berita lama yang masih menarik: Sabtu, 20 September 2003)

Batam, Kompas – Hasil penelitian ulang terhadap pegawai negeri sipil yang dilakukan Badan Administrasi Kepegawaian Negara bulan Februari sampai Maret 2003 menunjukkan adanya kesalahan data anggota. Jumlah PNS yang terdata lebih banyak 200.000 orang. Nama-nama PNS tersebut terakreditasi di BAKN, tetapi secara fisik orangnya tidak ada.

“Sebelum BAKN (Badan Administrasi Kepegawaian Negara) melakukan pendataan ulang terhadap PNS, data yang dilaporkan kepada Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, jumlah anggota PNS 3,9 juta orang. Tetapi setelah dilakukan pendataan ulang, jumlahnya 3,7 juta orang atau berkurang 200.000 orang. Saya sudah minta BAKN meneliti dan memperbaiki kembali kesalahan pendataan anggota PNS selama ini,” kata Ketua Umum Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), yang juga Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Feisal Tamin ketika membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Korpri di Batam, Jumat (19/9).

Rakernas Korpri yang berlangsung sampai Sabtu ini dihadiri Gubernur Lembaga Ketahanan

Nasional (Lemhannas) Prof Dr Ermaya Suradinata MSi, Wakil Gubernur Riau RA Aziz, Wali Kota Batam Nyat Kadir, dan Ketua Otorita Batam (OB) Ismeth Abdullah. Acara tersebut diikuti Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Korpri 32 Provinsi, minus Gorontalo, Maluku Utara, dan Banten.

Dengan kesalahan data itu, bila dari 200.000 “anggota fiktif” itu selama ini pemerintah harus mengeluarkan gaji Rp 300.000 saja per orang, kata Feisal, lalu uang tersebut diberikan kepada anggota PNS, tentu hal itu akan menambah pendapatan dan sangat bermanfaat bagi pegawai negeri sipil (PNS). Sayangnya hal itu tidak terjadi.

“Justru itu, saya sudah meminta BAKN untuk betul-betul meneliti dan memperbaiki kembali datanya. Kita ada kekeliruan dan kesalahan. Ayo, mari kita perbaiki bersama,” kata Feisal Tamin mengingatkan.

Hal lainnya, ada 500.000 PNS yang datanya berbeda atau tidak sama, seperti soal agama, jenis kelamin, dan nama. Dari jumlah itu, sebanyak 32.000 jenis kelaminnya diketahui berbeda dan 161.000 orang terdata dengan nama yang berbeda.

“Di Palu ada seorang perempuan anggota PNS mempunyai dua data keanggotaan PNS di dua daerah yang berbeda. Ada pula anggota PNS, saat hendak memperbaiki pendataan ulang, yang awal tahun kelahirannya 1963 mengubahnya menjadi 1969, supaya pensiunnya diperpanjang,” ucap Feisal.

“Saat-saat hendak diperbaiki saja masih ada juga anggota PNS yang mau melakukan manipulasi. Kondisi ini sudah tak bisa kita pertahankan lagi,” papar Feisal menambahkan.

Ditanya apakah selisih jumlah PNS dan data yang berbeda itu menunjukkan bahwa praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) masih kental di tubuh aparatur negara, Feisal mengatakan tidak demikian. “Perbedaan data itu bukan menunjukkan telah terjadi praktik KKN. Perbedaan itu menunjukkan, betapa kita dalam bekerja selama ini telah melakukan kekeliruan dan kesalahan sehingga data saja pun bisa berbeda-beda,” katanya.

Dibohongi akrobat politik

Pada kesempatan itu Feisal Tamin selaku Ketua Umum Korpri menegaskan agar PNS sebagai birokrat profesional harus memahami perkembangan dan situasi politik di Tanah Air, agar jangan sampai dibohongi oleh permainan akrobat partai politik. Anggota PNS harus mampu menempatkan dirinya pada posisi netral sebagai pelayan masyarakat.

“Itulah sumbangan dan pengabdian nyata yang diberikan PNS kepada bangsa ini agar pelaksanaan Pemilihan Umum 2004 mendatang berlangsung bukan hanya langsung, umum, bebas, dan rahasia, tetapi juga jujur dan adil. Inilah bukti reformasi yang dilakukan Korpri sebagai abdi bangsa,” katanya mengingatkan. (smn)

referensi
kompas-cetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s