belajar menghargai

Kerja riset beda dengan kerja makloon. Kerja riset seringkali membutuhkan biaya yang tidak bisa diprediksi, tergantung keluasan pengembangannya, juga ketersediaan tools yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Sementara kerja makloon biaya lebih bisa diprediksi. Bahkan para pengusaha, yang ingin untung buuuesarrrr, cenderung mengkompresss dan menekan biaya produksi, melalui upah semurah mungkin.

Sayangnya kerja makloon pada jaman sekarang ini tidak mudah untuk bertahan lama. Perkembangan penggunaan teknologi (karena ada riset dari pesaing) membuat bisnis makloon menjadi mudah kehilangan dayasaing. Sementara, kalau ada anak bangsa yang mulai belajar riset dan menghasilkan produk komputitif, bukan suatu sikap yang haram kalau ada pengusaha berduit yang diam-diam ‘mencuri’ atau ‘mengakali’-nya….

Padahal, riset adalah pembentuk keunggulan suatu komunitas, bahkan dalam skala besar pembentuk keunggulan suatu bangsa, dalam mempertahankan jatidirinya.

salam,

wa


Keadilan bagi Periset
Janji Kebijakan Insentif bagi Peneliti

riset

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman naik ke dalam kokpit pesawat Wise (Wing in Surface Effect) “Belibis” dengan kode SDJ A2B, yang dibuat untuk menghormati salah satu inovatornya, yaitu almarhum Prof Said D Jenie, mantan Kepala BPPT, pada pembukaan Ritech Expo 2008 di MGK Kemayoran, Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/8).

Sabtu, 9 Agustus 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Pemerintah di tengah keterbatasan kemampuan anggaran sekarang ini bertekad memperbaiki kesejahteraan para peneliti Indonesia. Di sisi lain, diharapkan orang tetap mengembangkan ide-ide inovatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Empat menteri sudah ditugaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk merumuskan kebijakan dan aturan yang adil dan baik bagi kesejahteraan para peneliti. Empat menteri itu adalah Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menneg Ristek), Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Menteri Keuangan.

Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono saat menghadiri Puncak Peringatan Ke-13 Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Tahun 2008 dan Peresmian Pembukaan Ritech Expo 2008 di Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/8).

Dalam acara itu, hadir sejumlah menteri terkait, di antaranya, Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman. Seusai acara, Presiden Yudhoyono melakukan teleconference dengan sejumlah peneliti dan direksi BUMN mengenai produk yang dihasilkan melalui riset dan teknologi di Kemayoran dan Denpasar, Bali.

”Jangan sampai ada istilah, begitu menjadi peneliti, mereka bergelut dengan ’litbang’, yaitu hidupnya ’sulit berkembang’ karena insentif dan jenjang karier dan penghargaan lain yang jauh dari memadai,” kata Presiden.

Presiden Yudhoyono memberikan contoh, peneliti yang bertahun-tahun telah mengembangkan varietas padi yang akhirnya menemukan varietas baru yang mampu meningkatkan produksi.

”Ketekunan peneliti mengembangkan varietas padi seperti itu harus dihargai,” ujar Presiden.

Saat kunjungan kerja di sebuah balai penelitian varietas padi di Sukamandi, Subang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, menurut Presiden, ada seorang peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang mengkhawatirkan nasib dan kehidupan para peneliti.

”Setelah berdialog, saya menugaskan sejumlah menteri untuk menindaklanjuti,” katanya.

Presiden juga meminta semua pihak agar mendorong dan menyambut ide-ide baru, termasuk ide-ide yang ”gila”, yang inovatif dan tak ragu untuk mengembangkannya.

”Bill Gates, waktu berdiskusi dengan saya, mengatakan, yang diperlukan itu adalah kekuatan imajinasi. Melamun, membayangkan, berhayal itu, konon sebuah embrio penemuan-penemuan besar,” tuturnya.

Sejumlah peneliti mengungkapkan, penghargaan pemerintah terhadap karya dan individu peneliti masih kurang. Penghargaan tak hanya dalam bentuk gaji peneliti, tetapi juga besaran anggaran yang dikucurkan.

Mereka menyambut positif bila pemerintah serius meningkatkan insentif. ”Sistem internal yang ada juga harus diubah secepat mungkin,” kata Manajer Laboratorium Mitigasi Bencana dan Teknologi Geo Sistem Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Fadli Syamsudin.

Di negara maju seperti Jepang, iklim peneliti dilingkupi suasana kondusif. Mereka fokus pada penelitian, tanpa disibukkan hal-hal administratif dan birokratis.

Di sana, peneliti Indonesia menghasilkan publikasi dalam jurnal-jurnal ilmiah dan karya mereka pun dipatenkan. Sejumlah peneliti lulusan Jepang mengatakan, tak perlu persis seperti Jepang, ”Mulailah dari dana penelitian yang cepat cair,” kata peneliti penginderaan jauh BPPT M Evri. (GSA/HAR)

kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s