Imagine : made in indonesia

Ketika anak-anak muda itu diberi ajang lomba, ternyata mereka bisa berprestasi, bahkan tingkat dunia. Adakah ajang berprestasi yang disediakan oleh senior-seniornya sendiri di negeri ini ?

Mungkin belum tersentuh untuk peduli… Mungkin sudah ada, tapi sekedar menghabiskan anggaran…

Walau orang luar sudah bisa menghargai sdm-sdm muda itu, mudah-mudahan itu kelak (entah kapan) akan memberi inspirasi kepada para senior yang suka melancong untuk mengunduh (atau memetik atau men-download atau apa pun terminologinya) berbagai barang import di luar. Dan kalau sempet memeriksa labelnya, ternyata label itu berbunyi :

…. made in indonesia …..

salam,

wa

Imagine Cup 2008
Menggugah Kepedulian, Mencegah Pembiaran
Wisnu Nugroho, Kamis, 10 Juli 2008 | 03:00 WIB

Perjalanan panjang, melelahkan, penuh pengorbanan tapi mengasyikkan itu dimulai akhir tahun 2007. Imagine Cup yang diadakan tiap tahun oleh Microsoft Corporation sejak 2003 menjadi pintu untuk memulai langkah awal, langkah yang penting.

Adalah Arief Widhiyasa, mahasiswa Fakultas Teknik Informatika Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB) yang memiliki mimpi itu.

Tahun 2008, bertema lingkungan hidup, Imagine Cup diikuti lebih dari 200.000 pelajar dari lebih 100 negara. Setelah serangkaian ujian dan penjurian, 370 pelajar dalam 122 tim dari 61 negara bersaing di babak final internasional di Paris, Perancis, 3-8 Juli 2008.

Dengan teknologi yang tengah dipelajarinya, Arief ingin memberi solusi atas masalah lingkungan hidup di sekitarnya. Ia berdikusi dengan Ella M D Mustika, teman satu program studi di STEI-ITB untuk menerjemahkan sejumlah ide.

Ide makin berkembang setelah Dimas Yusuf Danurwendajuga dari program studi di STEI-ITB bergabung. Untuk memvisualisaikan ide mereka, ide solutif soal lingkungan hidup, tiga mahasiswa semester enam ini mengajak bergabung teman seangkatan mereka di Fakultas Senirupa dan Desain ITB, Erga Ghaniya.

“Tim Antarmuka terbentuk selama pengerjaan proyek ini. Antarmuka adalah terjemahan atas kata interface,” ujar Ella.

Eksplorasi ide dan penerjemahannya kemudian melibatkan Dwi Hendratmo Widiantoro, dosen mereka di STEI-ITB.

Mencegah pembiaran

Persoalan lingkungan yang ingin mereka jawab, ditemukan dari wawancara dengan warga, Wahana Lingkungan Hidup, dan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Pengalaman harian anggota tim juga menjadi referensi. Dimas yang berasal dari Samarinda, Kalimantan membawa contoh kasus.

“Lingkungan hidup makin rusak karena pembiaran dan keterlambatan penanganan oleh aparat yang bertanggung jawab. Itu terjadi karena informasi minim dan kerja aparat tidak terawasi publik,” ujar Ella, analis dan juru bicara tim.

Arief dan Dimas sebagai teknisi dan programer tim lantas menciptakan sistem piranti lunak sebagai jawaban. Tim Antarmuka ingin menciptakan teknologi untuk mencegahnya. “Kami ingin melibatkan warga dan mendorong aparat melaksanakan tanggung jawabnya,” ujar Arief.

Sistem pelaporan warga, dokumentasi, dan publikasi kepada warga lantas dibangun. Warga bisa membuat laporan lewat telepon, SMS, internet, dan aplikasi mobile. Sistem mengklasifikasi berdasar kategori, kemendesakan, dan lokasi.

Laporan diteruskan secara otomatis ke otoritas yang bertanggung jawab, yang akan meresponsnya. Persoalan dan respons aparat akan dipublikasikan lewat website. “Setelah terprogram dan selesai visualisasinya, sistem ini kami beri nama Butterfly,” ujar Erga.

Butterfly menjadi juara nasional menyisihkan 8 tim lain dari seluruh Indonesia. Butterfly lalu terbang ke Paris, Perancis. Selama seminggu, Butterfly diuji puluhan juri.

Mati raga

Di Paris mereka mati raga. Keindahan dan keramahan Paris di musim panas terpaksa “diabaikan”. Menara Eiffel “yang nampak dari kamar hotel” tak menarik perhatian.

Tim menggunakan kamar 2103, tempat Arief dan Dimas menginap, sebagai ruang kerja. Sejam sebelum penjurian, mereka siap di kamar 2103. Rapi dengan baju batik.

Butterfly dipresentasikan dan diuji tiga kali. Pada dua ujian kategori desain piranti lunak, Butterfly gagal juara. Pada kategori paling bergengsi ini Tim Soak Australia menang. Programer tim ini adalah pelajar asal Indonesia, Dimaz Pramudya.

Pada ujian kategori Rural Innovation Award, Butterfly mengalahkan empat tim lain (Kolumbia, India, Afrika Selatan, dan Mesir). Mereka merebut hadiah uang tunai 10.000 dollar AS dan bergabung dengan para peneliti Microsoft Reserch Center di Bangalore, India untuk mengembangkan sistemnya agar menjangkau seluruh dunia.

“Kita bisa. Kemenangan ini adalah buktinya,” ujar Arief sesaat seusai menerima hadiah dalam acara yang dihadiri ribuan pelajar di Museum Louvre, Paris. Ia bertekad ikut Imagine Cup 2009 di Mesir. Selain di kategori desain piranti lunak, juga kategori game developmment.

Hidup adalah kompetisi. Begitu anggota Tim Antarmuka memaknainya. Saat kelas II SMP, Arief juara satu kompetisi matematika se-Bali. Ia ikut Olimpiade Informatika Internasional di Polandia (2005).

Dimas saat SMA meraih medali emas Olimpiade Sains Nasional di Balikpapan. Tahun 2005, ia meraih medali perunggu Olimpiade Matematika Internasional di Meksiko.

Ella dan Erga tidak jauh berbeda juga meraih prestasi nasional dan internasional untuk bidang yang mereka gemari. Menjadi juara di Imagine Cup adalah capaian tertinggi.

Kemenangan ini menjadi hiburan atas masa-masa sulit selama enam bulan berkutat untuk merealisasikan ide dan membuktikan sebagai yang terbaik di tingkat dunia. Mereka ingin segera menerapkannya…

Keterangan gambar
Dimas, Arief, Ella, dan Erga adalah tim Antarmuka Institut Teknologi Bandung yang meraih Imagine Cup 2008 untuk kategori Rural Innovation Award dengan sistem desain peranti lunak (software) Butterfly.

Referensi:
ref-1
ref-2
ref-3

Every day of your life is a page of your history (books).
Source: (Arabic)

Disalin dari : Newsgroups itb77

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s