Buah Kesalahan 20 Tahun Terakhir

krisis pangan global, Minggu, 4 Mei 2008 | 01:02 WIB

Kemelut pangan global kini memunculkan opini soal kesalahan kebijakan global, yang sudah tertanam lama. Ahli terakhir yang menyampaikan itu adalah Olivier de Schutter, warga Perancis yang menjabat sebagai penasihat Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang pangan.

Ia baru saja menggantikan Jacques Diouf sebagai Ketua FAO (badan PBB yang menangani pangan dan pertanian). Diouf baru saja mengingatkan bahwa perang sipil bisa meletus di sejumlah negara akibat krisis pangan.

Schutter adalah juga seorang profesor hukum dan aktivis hak asasi manusia. Schutter menyampaikan unek-uneknya dalam wawancara dengan harian Perancis, Le Monde, edisi Jumat (2/5).

Ia mengatakan, krisis pangan global sekarang ini adalah buah dari kesalahan kebijakan yang sudah berlangsung selama 20 tahun, sebuah kebijakan yang dicanangkan kekuatan dunia.

Schutter mengatakan, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) menyepelekan pentingnya investasi di sektor pertanian. Salah satu contohnya adalah desakan dua lembaga itu kepada negara berkembang untuk menghasilkan komoditas berorientasi ekspor, dengan mengabaikan ketahanan pangan.

Pernyataan Schutter ini sangat mengena dengan kasus Indonesia, yang setelah krisis ekonomi tahun 1997, Indonesia dipaksa memenggal kekuasaan Bulog. Akibatnya, terjadi kekacauan manajemen pangan karena semuanya diserahkan ke sektor swasta.

Padahal krisis ekonomi sangat jauh bersentuhan dengan urusan kebutuhan pokok di Indonesia. Akan tetapi kebijakan IMF, dengan pembubaran Bulog, dituruti saja. Kini rakyat termiskin megap-megap akibat krisis pangan, yang bagai tsunami, yang datang diam-diam (silent tsunami).

Istilah silent tsunami ini dipopulerkan oleh Program Pangan Dunia PBB (WFP). Bayangkan, setidaknya ada 120 juta orang kelaparan karena pangan mahal dan langka.

Komersialisasi pertanian, dorongan investor besar untuk terjun di sektor pertanian, telah mengabaikan kepentingan rakyat banyak di sejumlah negara. Semua yang diproduksi adalah komoditas yang bernilai ekspor, bukan berbasis kebutuhan rakat di negara berkembang.

Schutter mencanangkan agar dunia ini kini siap dengan tatanan dunia baru, ditandai dengan berakhirnya era pangan murah.

Berlangsung sampai 2015

Di situs The Wall Street Journal, Jim O’Neill, Kepala Goldman Sachs Group Inc.’s menyebutkan bangkitnya Bric termasuk sebagai salah satu pemicu kenaikan harga pangan. Bric adalah singkatan dari Brasil, Rusia, India, dan China.

Adalah kebangkitan Bric, sebagai pemicu kenaikan pangan. Masalahnya, Bric—berpenduduk 2,9 miliar dunia, hampir setengah dari penduduk dunia—juga mendadak mengonsumsi pangan dengan porsi yang jauh lebih besar dari beberapa dekade sebelumnya.

Hanya saja, kata O’Neill, kebangkitan Bric tersebut luput dilihat sebagai salah satu penyebab lain kenaikan harga pangan. Adalah Bric, yang juga merupakan tulang punggung utama kenaikan permintaan pangan, di samping ulah spekulan di pasar komoditas, konversi biji-bijian ke biofuel.

Masih menurut O’Neill, booming harga pangan yang dimulai tahun 2005 masih akan berlanjut hingga 2015. ”Kita masih belum separuh jalan soal kenaikan krisis komoditas pangan yang diperkirakan akan berlanjut hingga 2015,” kata O’Neill.

Goldman Sachs mendasarkan analisisnya pada prediksi kemajuan ekonomi Bric, yang akan mendominasi dunia pada 2050. Hal ini dimungkinkan karena Bric memiliki penduduk muda, kaya energi, kaya sumber tenaga kerja, baik sebagai pekerja kasar maupun ilmuwan modern. Semua gejala ini sudah terlihat sekarang dengan kebangkitan ekonomi Rusia, kemajuan teknologi informasi India, kemajuan ekspor manufaktur China, dan kebangkitan visi Brasil.

Sudah berulang kali diutarakan bahwa Bric adalah kekuatan ekonomi masa depan. Namun, setiap kali juga terjadi kegagalan untuk mengantisipasi, apa yang akan terjadi, atau apa implikasi dari kemajuan Bric itu, yang kini sudah membuat pangan mahal.

Schutter mengatakan, ”Kegagalan mengantisipasi krisis sekarang adalah sebuah keadaan yang tak bisa dimaafkan. ”Namun, kegagalan yang dimaksudkan Schutter adalah kegagalan dalam 20 tahun terakhir ini, atau setidaknya sejak 1978.

”Kita telah membayar mahal atas kesalahan selama 20 tahun. Tak ada yang dilakukan untuk mencegah spekulasi di bursa komoditas atas komoditas pertanian, meski sudah diprediksikan bahwa investor akan berpaling ke komoditas pertanian jika bursa saham mengalami kelesuan,” kata Schutter.

Pendahulu Schutter, Jacques Diouf, pekan ini mengatakan bahwa para pemimpin dunia telah abai pada peringatan FAO, yang disampaikan pada dekade 1980-an.

Pada dekade itu, kata Diouf, FAO sudah memprediksi akan terjadi katastrofe pangan. Alasannya, di semua negara berkembang hanya tersedia stok pangan untuk delapan hingga 12 pekan saja. Pasokan biji-bijian juga sudah berada pada tingkat terendah pada dekade 1980-an.

Namun industrialisasi pertanian, yang didorong untuk tujuan komersialisasi, malah dipergencar. Itulah sebabnya Schutter mengatakan bahwa persoalan pangan sekarang adalah satu hal yang tak bisa dimaafkan. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Referensi:

[1] Buah Kesalahan 20 Tahun Terakhir
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/04/01024245/buah.kesalahan.20.tahun.terakhir

[2] Food crisis payback for ’20 years of mistakes’: UN expert, May 2, 2008
http://afp.google.com/article/ALeqM5g_qT_TSRVy7Tv2T9ayTr9VOynkwA

[3] Forget oil, the new global crisis is food
http://www.financialpost.com/story.html?id=213343

[4] Biofuels not behind higher food costs, Reuters  Published: Thursday, May 08, 2008
http://www.financialpost.com/story.html?id=213343

[5] FREEING THE WORLD OF HUNGER
http://www.wfp.org/aboutwfp/introduction/index.asp?section=1&sub_section=1

2 thoughts on “Buah Kesalahan 20 Tahun Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s