Jangan keasyikan main air (banjir)

Hati-hati… Leptospirosis Berjangkit

Catatan:

  1. Antibiotik cepat menuntaskan leptospirosis. Kalau penanganannya telat, bisa menimbulkan kematian. ……..[1]
  2. Leptospirosis kumannya mudah mati dengan desinfektan. Tapi bisa bertahan berminggu-minggu di air keruh …[1]
  3. Penyakit ini disebabkan urine tikus yang masuk ke tubuh manusia melalui luka. ……………………….[2]
  4. Kita imbau, jika membersihkan bekas banjir memakai sarung tangan dan sepatu karet ……………………[2]
  5. Penyakit ini disebabkan bakteri leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia…………..[2][1]
  6. Khusus yang terjadi di daerah banjir seperti Jakarta, penularannya melalui air kencing tikus…………..[2][2]
  7. Urine tikus yang mengandung bibit penyakit leptospirosis dapat mencemari air di kamar mandi atau makanan yang tidak disimpan pada tempat yang aman…………………………………………….[2][2]
  8. Penyakit ini ditandai demam menggigil, pegal linu, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, batuk kering, mual, muntah, sampai mencret-mencret. Orang sering mengira itu gejala masuk angin, flu, atau typhus…………………………………………………….[2][3]
  9. Penyakit ini menyerang hati, ginjal, paru-paru, otak (kalau terlambat)…………………….[2][3]
  10. Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi ……………[2][5]
  11. Leptospirosis bukan penyakit ganas, selagi masih dini. Obatnya mudah didapat dan murah. Hanya saja di awal-awal kasusnya mungkin luput didiagnosis. ……………………………………….[2][6]
  12. Pencegahan : menjaga kebersihan lingkungan. Basmi sarang tikus, agar tak ada tempat sedikitpun untuk berkembangbiaknya bakteri leptospira yang bisa mematikan…………[2][7]
  13. Kuman leptospira mampu bertahan hidup bulanan di air dan tanah, dan mati oleh desinfektans (lisol) “lisolisasi” seluruh permukaan lantai, dinding, dan bagian rumah yang tercemar air kotor banjir yang mungkin sudah berkuman leptospira, dianggap cara mudah dan murah mencegah “mewabah”-nya leptospirosis. ……………..[2][7]
  14. Hygiene perorangannya dilakukan dengan menjaga tangan selalu bersih. Selain terkena air kotor, tangan tercemar kuman dari hewan piaraan yang sudah terjangkit penyakit dari tikus atau hewan liar. Hindari berkontak dengan kencing hewan piaraan …………[2][7]

Sumber artikel:
[1] 2 Orang Kena Leptospirosis, Dinkes Sediakan Antibiotik
Syarif Hidayatullah – detikcom, 09/02/2007 14:05 WIB
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/09/time/140525/idnews/740353/idkanal/10

Jakarta – Selain infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan diare, penyakit leptospirosis kini menghantui korban banjir di Jakarta. Sudah 2 orang yang terkena penyakit akibat terkena air kencing tikus ini.

Untuk mencegahnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau warga meminta antibiotik ke posko medis.

“Antibiotik cepat menuntaskan leptospirosis. Kalau penanganannya telat, bisa menimbulkan kematian. Kita dapat tambahan obat-obatan dari Depkes dan Kimia Farma,” ujar Wakil Kepala Dinkes DKI Jakarta dr Salimar Salim di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (9/2/2007).

Salimar juga menyarankan agar warga tidak mengonsumsi bahan-bahan makanan yang terendam banjir. Sebab, kuman penyebab leptospirosis bisa tahan berminggu-minggu di air keruh.

“Leptospirosis kumannya mudah mati dengan desinfektan. Tapi bisa bertahan berminggu-minggu di air keruh,” kata Salimar.

Hingga hari ke-8 pascabanjir, tercatat 2 korban banjir positif terkena leptospirosis. 2 Warga tersebut dirawat di RSUD Tarakan “Ini yang ditakuti. Makanya masyarakat harus hati-hati,” tandasnya.

[2] Awas! Bahaya Penyakit Leptospirosis Pascabanjir
Iqbal Fadil – detikcom, 06/02/2007 08:42 WIB
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/06/time/084243/idnews/738620/idkanal/10

Jakarta – Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta meminta warga yang terkena banjir berhati-hati ketika membersihkan bekas banjir. Sebab Berbagai penyakit mengintai korban banjir. Salah satunya adalah leptospirosis alias kencing tikus.

Penyakit ini disebabkan urine tikus yang masuk ke tubuh manusia melalui luka. Menurut Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Salimar Salim, penyakit ini menyebabkan demam tinggi dan nyeri sendi.

“Kita imbau, jika membersihkan bekas banjir memakai sarung tangan dan sepatu karet,” kata Salimar di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin 5 Februari kemarin.

Apa sebenarnya leptospirosis dan apa gejala serta akibatnya jika orang terkena penyakit ini. Berikut informasi seputar leptospirosis yang dihimpun detikcom, Selasa (6/2/2007) dari berbagai sumber:

[2][1] Apa itu penyakit leptospirosis (Penyakit Kencing Tikus)?

Penyakit ini disebabkan bakteri leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia. Bakteri ini mempunyai ratusan serotipe. Nama-nama serotipe ini sebagian diambil dari nama penderita atau tempat di Indonesia, seperti, serotipe harjo, mankarso, naam, sarmin, djasiman, sentot, rachmati, paijan, bangkinang, dan binjei.

[2][2] Bagaimana penularannya pada manusia?

Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Namun khusus yang terjadi di daerah banjir seperti Jakarta, penularannya melalui air kencing tikus.

Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui: permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung (misalnya saat mencuci muka). Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi setitik urine tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum manusia.

Urine tikus yang mengandung bibit penyakit leptospirosis dapat mencemari air di kamar mandi atau makanan yang tidak disimpan pada tempat yang aman.

Sejauh ini tikus merupakan reservoir (sumber) dan sekaligus penyebar utama penyebab leptospirosis. Beberapa jenis hewan lain (sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing) dapat terserang leptospirosis, tetapi potensi hewan-hewan ini menularkan leptospirosis ke manusia tidak sehebat tikus. Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien.

[2][3] Seperti apa gejala-gejala penyakitnya?

Penyakit ini ditandai demam menggigil, pegal linu, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, batuk kering, mual, muntah, sampai mencret-mencret.

Orang sering mengira itu gejala masuk angin, flu, atau typhus, sehingga pengobatannya pun tradisional, biasa, seperti dikerok menggunakan uang logam, kemudian dibalur obat gosok dan minum obat sakit kepala.

Bila semakin parah, gejala yang disebut di atas tidak mereda, justru muncul nyeri luar biasa pada sejumlah bagian badan, sehingga membuat penderita tidak sanggup duduk atau berdiri. Jika pada tahapan ini tidak diobati gejala bertambah parah dan tampak lebih khas.

Oleh karena penyakit ini menyerang hati, pada stadium lanjut muncul gejala penyakit kuning. Kulit dan putih mata menjadi kekuningan, selain tampak pula mata merah layaknya sedang sakit mata. Demam, kuning dan mata merah, dianggap khas pada leptosprirosis . Adakalanya terjadi perdarahan. Bunyi para-paru abnormal, dan kemungkinan kulit meruam merah.

Gejala leptospirosis menjadi lebih berat jika tidak diobati atau obatnya salah alamat. Selain komplikasi ke hati menimbulkan gejala penyakit kuning, komplikasi ke selaput otak menimbulkan gejala nyeri kepala, kejang-kejang, leher kaku, dan penurunan kesadaran. Komplikasi ke ginjal umumnya bersifat fatal. Angka kefatalan penyakit leptospirosis mencapai 5 persen, artinya 5 dari setiap 100 kasus bisa tewas.

[2][4] Siapa saja yang rentan tertular?

Lazimnya penyakit ini terjadi di daerah pertanian dan menyerang kelompok orang tertentu (occupational disease), seperti petani yang bekerja di sawah, pekerja perkebunan, pekerja rumah potong hewan, serta pekerja lain yang selalu kontak langsung dengan urine maupun jaringan hewan seperti dokter hewan, pekerja laboratorium, mantri hewan.

Penularan leptospirosis pada petani dapat dimengerti karena tikus sawah umumnya tinggal di pematang sawah sehingga urine tikus tersebut mencemari air sawah dan menulari petani lewat luka atau goresan kulit sewaktu mempersiapkan sawah untuk menanam padi.

[2][5] Risiko kematian akibat penyakit ini?

Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 2,5 sampai 16,45 persen atau rata-rata 7,1 persen. Bahkan pada penderita berusia di atas 50 tahun, risiko kematian lebih besar, bisa mencapai 56 persen. Pada penderita yang sudah mengalami kerusakan hati yang ditandai selaput mata berwarna kuning, risiko kematian akibat leptospirosis lebih tinggi lagi.

[2][6] Pengobatannya?

Kalau Anda terserang leptospirosis, itu bukan berarti akhir dari segalanya. Leptospirosis bukan penyakit ganas. Obatnya mudah didapat dan murah. Hanya saja di awal-awal kasusnya mungkin luput didiagnosis.

Selain antibiotika golongan penicilline, kuman juga peka terhadap streptomycine, chloramphenicol dan erythromycine. Harga jenis antibiotika klasik ini tergolong tidak tinggi, selain mudah didapat, bahkan di Puskesmas sekali pun.

Jika diobati selagi masih dini, prognosis leptospirosis umumnya baik. Bisa lain nasib pasien jika terapi terlambat diberikan. Sudah disebut komplikasi leptospirosis paling jelek jika sudah merusak ginjal, selain hati, dan otak.

[2][7] Langkah pencegahan yang bisa dilakukan?

Antara lain dengan menjaga kebersihan lingkungan. Tempat-tempat yang kemungkinan bisa dijadikan tempat bersarangnya tikus, segera dibersihkan agar tak ada tempat sedikitpun untuk berkembangbiaknya bakteri leptospira yang mematikan.

Kuman leptospira ini mampu bertahan hidup bulanan di air dan tanah, dan mati oleh desinfektans seperti lisol. Maka upaya “lisolisasi” seluruh permukaan lantai, dinding, dan bagian rumah yang diperkirakan tercemar air kotor banjir yang mungkin sudah berkuman leptospira, dianggap cara mudah dan murah mencegah “mewabah”-nya leptospirosis.

Selain sanitasi sekitar rumah dan lingkungan, higiene perorangannya dilakukan dengan menjaga tangan selalu bersih. Selain terkena air kotor, tangan tercemar kuman dari hewan piaraan yang sudah terjangkit penyakit dari tikus atau hewan liar. Hindari berkontak dengan kencing hewan piaraan.

Biasakan memakai pelindung, seperti sarung tangan karet sewaktu berkontak dengan air kotor, pakaian pelindung kulit, beralas kaki, memakai sepatu bot, terutama jika kulit ada luka, borok, atau eksim. Biasakan membasuh tangan sehabis menangani hewan, ternak, atau membersihkan gudang, dapur, dan tempat-tempat kotor. (bal/bal)

[3] Bagi yang sedang dibanjiri, jangan keasyikan main air

http://www.kompas.co.id/ver1/Metropolitan/0702/09/054656.htm

[3][1] AKIBAT INTERAKSI DENGAN AIR KOTOR TERUS MENERUS : Kencing Tikus : Leptospirosis

Korban banjir yang terus berinteraksi dengan air genangan, yang berperan sebagai media penularan penyakit Leptospirosis, yang disebabkan kencing tikus itu. Kondisi pasien penyakit ini, saat ini amat lemah, sulit diajak berbicara, bagian ginjal sudah rusak, dan kesadaran semakin menghilang karena bagian otaknya telah mengalami gangguan.

[3][1][1] Tiga stadium Leptospirosis…

  • stadium satu dengan gejala panas tinggi, sakit otot, mual, muntah, dan mata merah.
  • stadium dua, kerusakan ginjal.
  • stadium ketiga, terberat karena telah menyerang otak dan sulit disembuhkan.

Korban banjir dan relawan harus waspada karena bibit penyakit ini dapat masuk melalui pori-pori tubuh, tidak hanya dari kulit terbuka karena luka. Penyakit ini pun tidak hanya disebarkan melalui kencing tikus, tetapi juga anjing, babi, kucing, kerbau, dan tupai ketika secara tidak sengaja air kotor atau air banjir masuk ke tubuh manusia.

Dianjurkan agar secepat mungkin memakan antibiotik amoxicilin jika merasakan gejala klinis leptospirosis dan langsung memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit.

[3][1][2] AKIBAT JENTIK : Demam berdarah

Selain leptospirosis, demam berdarah dengue (DBD) masih menghantui masyarakat Jakarta. Di Menteng pada Kamis kemarin ada 17 warganya terjangkit DBD. Penyakit itu kembali merebak diduga karena banyaknya genangan air pascabanjir di kawasan itu.

Kepala Seksi Penyakit Menular Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat, Endang ER, menyatakan telah menerima laporan itu dan sudah mendatangkan juru pemantau jentik. Nyamuk penyebar DBD
berasal dari tiga rumah kosong yang digenangi air bekas banjir. Saat ini sudah dilakukan pemberantasan nyamuk dan jentiknya juga pembersihan lingkungan. (NEL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s