jump to navigation

ada apa dengan supertoy … September 15, 2008

Posted by witart in diagnosis, pangan.
Tags: , , ,
add a comment

A. Di Balik Kasus Padi Super Toy
Oleh Suyamto : Senin, 15 September 2008 | 00:18 WIB

Belakangan ini kita disuguhi berita tentang pro dan kontra padi Super Toy. Di satu pihak, petani dirugikan karena tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Tetapi, kita perlu memberi penghargaan kepada petani/masyarakat yang kreatif mengutak-atik padi agar menjadi tanaman yang lebih baik.

Di balik itu semua, sebelum disebar ke masyarakat, ada tata cara dan aturan yang harus diikuti sebelum melepas varietas dan menyertifikasi benih.

Proses pembuatan

Varietas unggul adalah varietas tanaman yang resmi dilepas pemerintah (Menteri Pertanian). Varietas itu memiliki keunggulan dalam hasil atau sifat lainnya. Untuk dapat menghasilkan varietas unggul, dilakukan serangkaian penelitian dan pengujian.

Varietas unggul dapat dihasilkan melalui penyilangan antartetua terpilih sesuai target/sifat yang diinginkan. Cara ini umum dilakukan di balai-balai penelitian. Cara penyilangannya pun dilakukan melalui kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penyilangan disebut galur dan jumlahnya bisa ribuan. Galur-galur itu lalu diobservasi, diseleksi, diuji daya hasil pendahuluan, diuji daya hasil lanjutan/uji multilokasi. Akhirnya, beberapa galur harapan akan terpilih dan diusulkan menjadi calon varietas unggul.

Selain persilangan, pemuliaan tanaman dapat dilakukan dengan radiasi (seperti dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional/Batan), atau menggunakan bioteknologi modern (marka molekuler, transfer gen, dan lainnya). Hasil kegiatan ini juga masih berupa galur, kemudian mengikuti proses seperti diuraikan di awal. Dari situ akan terpilih beberapa galur harapan yang siap diusulkan menjadi varietas unggul.

Mengapa varietas unggul harus dilepas pemerintah?

Pelepasan varietas merupakan pengakuan pemerintah sekaligus jaminan bagi masyarakat pada suatu varietas baru hasil pemuliaan atau introduksi. Aturan pelepasan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan, dan Penarikan Varietas.

Dalam aturan itu dinyatakan, varietas akan dilepas bila memiliki keunggulan tertentu serta tidak merugikan masyarakat dan lingkungan. Permentan ini merupakan implementasi UU No 12/1992 tentang Budidaya Tanaman dan Peraturan Pemerintah No 44/1994 tentang Perbenihan Tanaman.

Calon varietas berupa galur/hibrida/mutan/transgenik/ varietas lokal yang diusulkan untuk dapat dilepas harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu stabil dalam karakter, seragam (homogen), serta memiliki keunggulan yang nyata dibanding dengan varietas unggul yang telah dilepas sebelumnya.

Calon varietas unggul harus diuji melalui serangkaian pengujian di laboratorium maupun lapangan. Pengujian lapangan dilakukan dalam satu atau dua musim, di beberapa lokasi pengembangan. Jumlah lokasi pengujian disesuaikan jenis tanamannya. Untuk padi, paling tidak 16 lokasi dalam dua musim tanam.

Untuk calon varietas transgenik, selain memenuhi ketentuan sesuai prosedur baku, juga harus memenuhi ketentuan keamanan pangan dan keamanan hayati. Agar dapat dilepas sebagai varietas unggul, varietas lokal harus memenuhi ketentuan, selain menjadi varietas yang sudah berkembang di masyarakat dan mempunyai keunggulan, juga telah dibudidayakan lebih dari lima tahun waktu panen.

Setelah melalui proses seleksi dan pengujian, calon varietas terpilih diajukan ke Badan Benih Nasional (BBN). Penilaian layak tidaknya calon varietas itu dilepas sebagai varietas unggul dilakukan Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V), tim ini di bawah BBN.

Apabila disetujui, Ketua BBN mengusulkan pelepasan varietas kepada Menteri Pertanian untuk dapat diterbitkan SK Pelepasan Varietas. Apabila telah dilepas, varietas siap dikomersiilkan dan dikembangkan kepada masyarakat.

Sertifikasi benih

Peredaran atau distribusi benih adalah rangkaian penyebaran benih di suatu wilayah di mana benih yang dapat diedarkan atau disalurkan kepada masyarakat adalah benih bina yang varietasnya telah dilepas oleh pemerintah dan wajib diberi label/besertifikat. Benih (contoh padi nonhibrida) dibagi beberapa kelas benih yakni benih penjenis (BS) dengan label kuning, benih dasar (BD) dengan label putih, benih pokok (BP) dengan label ungu dan benih sebar (BR) dengan label biru. Benih penjenis diproduksi oleh pemulia/lembaga yang memiliki varietas unggul, sementara BD, BP, dan BR diproduksi Balai Benih, BUMN, swasta, maupun penangkar benih. Kelas-kelas benih itu tidak berlaku untuk varietas hibrida.

Sertifikasi benih dilakukan untuk menjamin mutu benih yang beredar, sertifikat benih ini dikeluarkan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) yang ada di tiap provinsi dan/atau oleh produsen benih sendiri jika sudah menerapkan sistem manajemen mutu (SMM). Jadi, BPSB tidak akan memberikan sertifikat/label benih varietas-varietas yang belum dilepas.

Suyamto Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan; Ketua Tim Penilai dan Pelepas Varietas, Deptan


B. Hikmah di Balik Super Toy HL-2
Oleh Gatot Irianto : Senin, 15 September 2008 | 00:19 WIB

Hikmah apa yang berada di balik kontroversi dan polemik Super Toy HL-2? Paling tidak ada dua manfaat yang bisa dipetik. Pertama, masyarakat dididik bagaimana menghasilkan varietas unggul dengan risiko finansial dan sosial yang harus ditanggung inventor. Kedua, kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam merakit varietas baru dengan bahan induk (tetua) yang amat menakjubkan.

Masyarakat bisa mengetahui betapa panjang dan lama sebuah varietas padi unggul dihasilkan, termasuk biaya, tenaga, dan waktu. Sebagai gambaran, satu varietas baru dihasilkan dari screening terstruktur 40-50 galur (calon varietas) sehingga seorang pemulia padi (perakit varietas baru) harus menyiapkan kombinasi persilangan yang banyak untuk diuji di lapangan.

Diperlukan koleksi plasma nutfah (bank gen) yang memadai agar pemulia padi dapat mengintegrasikan sifat-sifat unggul untuk mengatasi berbagai masalah budidaya. Ketahanan terhadap cekaman lingkungan (kekeringan, kebanjiran), daya hasil yang tinggi, umur pendek, tahan hama dan penyakit utama (penggerek batang, wereng batang coklat), rasa pulen, kandungan vitamin tinggi, dan banyak lagi.

Menariknya, Super Toy HL-2 dihasilkan oleh seorang petani lulusan STM, padahal tugas itu biasanya dilakukan oleh pemulia (breeder) dengan pendidikan S-2 bahkan S-3.

Lokal genius varietas unggul

Penggunaan tetua tanaman padi lokal oleh Tauyung Supriyadi dalam pengembangan Super Toy HL-2 dimaksudkan agar kearifan lokal (local wisdom) yang ada pada varietas unggul lokal, seperti Rojolele, Pandan Wangi, dan varietas lain dapat diintegrasikan untuk menghasilkan galur unggul baru (calon varietas). Harapannya, integrasi beberapa kearifan lokal dapat menghasilkan genius lokal (local genius) sehingga spektrum adaptasi agroekosistemnya lebih luas.

Galur hasil silangan varietas Rojolele, Pandan Wangi, dan silangan lain kemudian diuji daya adaptasi dan daya hasilnya di lapangan sampai sifat unggul yang dihasilkan stabil kinerjanya. Berdasarkan pengalaman, diperlukan 4-6 tahun sebuah galur untuk mencapai stabilitas produktivitas dan daya adaptasinya. Untuk padi irigasi harus diuji di 12 lokasi berbeda agroekosistem.

Setelah stabil, lalu dilakukan uji multilokasi minimal di dua musim: musim hujan dan kemarau. Setelah mantap, pemulia bisa mengusulkan calon varietas dengan deskripsi tanamannya kepada Badan Benih Nasional (BBN) untuk dilepas.

Deskripsi, antara lain, memuat sifat unggul calon varietas baru, misalnya produktivitas, ketahanan terhadap hama dan penyakit, rasa, kandungan vitamin, ciri-ciri morfologi.

Selanjutnya BBN meminta Tim Pelepasan Varietas untuk menilai dokumen yang diusulkan pemilik calon varietas. Jika memenuhi syarat, seperti ditetapkan dalam pelepasan varietas, Kepala BBN membuat rekomendasi kepada Menteri Pertanian untuk dapat melepas varietas itu kepada masyarakat. Prosedur ini untuk melindungi petani dari pemalsuan sehingga benih yang ditanam benar-benar sesuai deskripsinya.

Pemuliaan partisipatif

Kemampuan masyarakat dalam menghasilkan varietas unggul baru harus diapresiasi karena merupakan kekayaan intelektual tidak ternilai. Kearifan lokal dan local genius ini merupakan benteng pertahanan kemandirian produksi benih dan pangan yang kini sedang digempur oleh perusahaan multinasional (MNC).
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian telah dan terus mendorong kearifan lokal dan genius lokal dalam program pemuliaan partisipatif (participatory breeding) baik untuk komoditas tanaman pangan, hortikultura, sayuran, buah-buahan, peternakan, dan perkebunan.

Selain dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak secara nasional, hal itu juga dapat meningkatkan mutu genetik komoditas pertanian. Melalui program pemuliaan partisipatif dengan melibatkan petani secara in situ, Indonesia secara build in melakukan natural protection atas serbuan benih dan bibit impor MNC, bahkan belakangan kian mencemaskan dominasinya.

Peningkatan ketergantungan atas benih produksi MNC akan memosisikan membawa Indonesia kian terjebak masalah pangan. Mengingat bidang garapan pemuliaan partisipatif amat luas, diperlukan sumber daya manusia, dana, dan waktu besar. Kita memerlukan banyak Tauyung agar sumber daya genetika nasional bisa dieksplorasi maksimal guna mencapai swasembada pangan bahkan ekspor pangan.

Satu hal yang belum dapat dilakukan pemerintah hingga kini adalah pemberian penghargaan terhadap pemulia. Ketimpangan ini pernah dikemukakan seorang profesor yang kebetulan pemulia dengan membandingkan penghargaan yang diterima atlet olahraga dengan gemerlap hadiah seusai tampil sebagai juara.

Sementara itu, seorang pemulia berjuang 7-8 tahun dan belum tentu menghasilkan varietas unggul baru. Kalaupun berhasil, begitu varietas unggul dilepas, peneliti tidak mendapat penghargaan selayaknya. Inilah gambaran nasib pemulia yang kurang beruntung di negeri agraris yang banyak menggunakan jasanya.

Gatot Irianto Kepala Badan Litbang Pertanian

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.