bank sampah menekan DBD December 1, 2008
Posted by witart in diagnosis, wawasan.Tags: bank sampah, Chikungunya, DBD, malaria
trackback
Membersihkan sampah dari lingkungan kita, adalah salah satu cara jitu untuk mengusir nyamuk penyebab DBD, malaria, maupun Chikungunya. Cara lain adalah menanam pohon Lavanda di halaman rumah kita atau pot di teras.
Sebelum terkena DBD, kita biasanya lengah dengan ancaman penyakit itu. Jadi tidak salahnya mencegahnya.
Awalnya untuk Menekan DBD
Penyakit : Senin, 1 Desember 2008 | 02:04 WIB
Meski lebih banyak berkecimpung sebagai dosen di Politeknik Kesehatan Yogyakarta, di tangan Bambang Suwerda-lah Bank Sampah Gemah Ripah muncul. Awalnya, bapak tiga anak itu memiliki gagasan membangun bengkel kesehatan lingkungan di kampungnya.
Ide sederhana itu dilatarbelakangi tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya. Dalam benaknya, dengan membentuk bengkel kesehatan lingkungan, ia bisa mengajak warga lebih peduli pada kebersihan lingkungan.
![]() Aedes_aegypti |
”Kalau bicara soal kebersihan jelas tidak bisa lepas dari masalah sampah. Karenanya, saya mengajak masyarakat untuk mulai mengumpulkan sampah dan memilah-milah. Awalnya, respons masyarakat tidak terlalu bagus karena mereka menilai sampah adalah urusan ringan yang tak perlu dibuat serius,” katanya.
Respons warga tersebut membuat pria kelahiran Sleman, 9 Juli 1969, itu harus berpikir keras. Suatu saat ia melihat tayangan televisi yang mempertontonkan aktivitas sebuah komunitas dalam membangun bank sampah. ”Namun, konsep mereka baru sebatas mengumpulkan, lalu mengolah menjadi produk yang lebih bermanfaat,” katanya.
Istilah bank sampah, membuatnya langsung teringat pada aktivitas perbankan. Meski latar belakang pendidikannya teknik lingkungan, Bambang mencoba mengadopsi konsep bank konvensional pada bank sampah. ”Waktu itu saya kepikiran bagaimana mengelola sampah seperti mengelola uang di bank. Gagasan itu akhirnya saya lontarkan kepada kelompok dan mereka menerimanya,” katanya.
Setelah digagas cukup matang, momentum peringatan dua tahun gempa pun dimanfaatkan untuk me-launching gerakan bank sampah. Pada masa awal, banyak masyarakat masih bingung dengan konsep tersebut sehingga gerakan bank sampah kurang berjalan efektif. Setidaknya satu bulan kemudian, masyarakat mulai bisa menerima.
Kesibukannya di bank sampah tidak membuat Bambang melupakan tugasnya sebagai pengajar. Lulusan S-2 Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu harus membagi waktunya. Pada pagi hari sebelum mengajar ia menyempatkan diri datang ke lokasi bengkel, lalu melanjutkan pada sore hari hingga malam.
”Saya senang bisa membantu masyarakat. Tidak hanya membuat pendapatan mereka bertambah, tetapi saya juga senang bisa menekan angka DBD di Desa Bantul,” ujarnya. (ENY)
sumber : kompasCetak
sumber lain :
[1] demam berdarah [a]
[2] chikungunya
[3] nyamuk aedes aegypti
[4] demam berdarah [b]
[5] demam berdarah [c]

assalakualaikum. setelah saya membaca profil bapak tentang usaha bank sampah, saya sangat tertarik dengan pandangan itu. saya ingin lebih jauh mengerti sedalam-dalamnya tentang sank sampah. dalam usaha itu kira-kira bapak memakai sistem seperti apa? dan kira-kira memakai Strategi apa? maaf ya pak, saya mahasiswi dari STAIN KEDIRI. saya ingin lebih jauh mengetahui bank sampah untuk bahan Skripsi .
selamat…selamat…pak bambang. Menjadi manfaat bagi orang lain seperti ini tidaklah mudah. Penuh pjuangan dan motivasi. Tapi ..you do it!!! Bank sampah sangat inspiratif pak. Semoga bisa berlaku di tempat lain ya pak. Aamin. Wiwin-praktisi kesehatan masyarakat-di mataram
Gerakan masyarakat Bantul dalam penanganan limbah domestik dari rumah tangga sangat inspiratif dan kiranya segala upaya ini dapat membuat masyarakat di daerah seluruh Indonesia mengikuti gerakan tersebut.Saya pun berupaya untuk menerapkannya di keluarga sendiri dengan harapan dapat memberikan contoh bagi lingkungan kami, lakukan yang terbaik untuk bumi kita untuk generasi penerus nanti. Lingkungan Sehat dan Nyaman terbebas dari berbagai bibit penyakit.